Hukum Zakat Profesi

Banyak masyarakat menanyakan tentang hukum zakat profesi. Sebagian kalangan menyatakan bahwa zakat profesi tidak ada dalam Islam, karena tidak ada dalil yang menjelaskannya. Sebagian lain mengatakan bahwa zakat profesi terdapat dalam Islam. Bagaimana sebenarnya? Tulisan di bawah ini menjelaskannya:

Pengertian Zakat Profesi

Yang dimaksud dengan zakat profesi adalah zakat dari penghasilan yang didapat dari keahlian tertentu, seperti dokter, arsitek, guru, penjahit, da’i, mubaligh, pengrajin tangan, pegawai negeri dan swasta. Penghasilan seperti ini di dalam literatur fiqh sering disebut dengan al-mal al mustafad (harta yang didapat).

Sebagian kalangan yang berpendapat bahwa zakat profesi itu tidak terdapat dalam ajaran Islam, mengatakan bahwa zakat profesi tidak ada pada zaman Rasulullah, yang ada adalah zakat mal (zakat harta). Kalau kita renungkan, sebenarnya zakat profesi dengan zakat mal itu hakikatnya sama, hanya beda dalam penyebutan. Karena siapa saja yang mempunyai harta dan memenuhi syarat-syaratnya, seperti lebih dari nishab dan berlangsung satu tahun, maka akan terkena kewajiban zakat. Baik harta itu didapat dari hadiah, hasil suatu pekerjaan ataupun dari sumber-sumber lain yang halal.

Sebagian kalangan yang mengingkari adanya zakat profesi disebabkan mereka tidak setuju dengan cara penghitungannya yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. Padahal para ulama yang mewajibkan zakat profesi berbeda pendapat di dalam cara penghitungannya, tidak semuanya mengqiyaskan kepada zakat pertanian. Kalau mereka tidak setuju dengan satu cara, mestinya bisa memilih cara lain yaitu dengan mengqiyaskannya kepada zakat emas, dan tidak perlu menolak mentah-mentah zakat profesi.

Dasar Zakat Profesi

Adapun dasar diwajibkan zakat profesi adalah firman Allah:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang – orang yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak mendapatkan bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman bersedekahlah (keluarkanlah zakat) dari apa yang baik- baik dari apa yang kalian usahakan“ (QS. Al-Baqarah: 267)

Dalam Muktamar Internasional Pertama tentang Zakat di Kuwait pada tanggal 29 Rajab 1404 H, yang bertepatan dengan tanggal 30 April 1984 M, para peserta sepakat akan wajibnya zakat profesi jika sampai pada nishab, walaupun mereka berbeda pendapat tentang cara pelaksanaannya.

Pembagian Harta Penghasilan

Harta penghasilan bisa dibedakan menjadi dua bagian:

Pertama: Penghasilan yang berkembang dari kekayaan lain, misalnya uang hasil panen padi, dan telah dikeluarkan zakatnya 5% atau 10 %, maka harta tersebut tidak perlu dizakati kembali pada tahun yang sama, karena harta asalnya sudah dizakati, hal ini untuk mencegah terjadinya dua kali zakat.

Kedua: Penghasilan yang berasal dari pekerjaan tertentu yang belum dizakati, seperti gaji, upah, honor dan sejenisnya. Maka harta tersebut harus terkumpul selama satu tahun dan dikurangi kebutuhan pokok. Jika sampai nishab, maka wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 % menurut pendapat yang lebih benar.

Ketentuan Zakat Profesi

Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan cara mengeluarkan zakat profesi:

Pendapat Pertama: zakat profesi ketentuannya diqiyaskan kepada zakat perdagangan, artinya nishab, kadar dan waktu mengeluarkannya sama dengan zakat perdagangan. Nishabnya senilai 85 gram emas, kadarnya 2,5 persen dan waktu mengeluarkan setahun sekali setelah dikurangi kebutuhan pokok.

Sebagai contoh: Seorang pegawai swasta berpenghasilan setiap bulannya Rp. 10.000.000 Kebutuhan pokoknya Rp. 3.000.000 maka cara penghitungan zakatnya adalah :

Rp.10.000.000 – Rp.3.000.000 = Rp.7.000.000

Rp.7.000.000 X 12 bulan = Rp 84.000.000

Rp. 84.000.000 X 2,5 % = zakat yang harus dikeluarkan (Rp.2.100.000 pertahun atau 175.000 perbulan.)

Pendapat kedua: zakat profesi diqiyaskan kepada zakat pertanian. Artinya setiap orang yang mendapatkan uang dari profesinya langsung dikeluarkan zakatnya, tanpa menunggu satu tahun terlebih dahulu. Tetapi besarnya mengikuti zakat emas, yaitu 2,5 %.

Contoh: Seorang pegawai swasta berpenghasilan setiap bulannya Rp. 3.000.000, maka cara penghitungan zakatnya adalah :

Rp. 3.000.000 X 2,5 % = Rp. 7.500

Jika di jumlah dalam satu tahun berarti: Rp. 7.500 X 12 = Rp. 90.000

Kalau kita perhatikan contoh di atas, ada beberapa catatan yang perlu mendapatkan perhatian:

Pertama: uang yang berjumlah Rp. 3.000.000 tersebut langsung terkena zakat, walaupun secara teori belum sampai pada batasan nishob, 20 Dinar = 85 gram emas = Rp. 42.500.000 (kurs emas Rp. 500.000/gram). Mereka mengqiyaskan kepada zakat pertanian, yaitu setiap panen harus dikeluarkan zakatnya.

Kedua: di sisi lain mereka tidak memperhitungkan nishab, padahal jika mau mengqiyaskan kepada zakat pertanian, harus ditentukan nishabnya terlebih dahulu, yaitu 5 wasaq = 653 kg.

Ketiga: di sisi lain juga, mereka menentukan besaran uang zakat profesi yang harus dikeluarkan dengan mengqiyaskan kepada zakat emas, yaitu 2,5 %. Disinilah letak kerancuannya karena mereka mengqiyaskan zakat profesi kepada dua hal, pertama: mengqiyaskan kepada zakat pertanian dalam tata cara pengeluarannya dan mengqiyaskan kepada zakat emas dalam menentukan besaran uang yang dizakati.

Ditambah lagi, ketika mengqiyaskan zakat profesi kepada zakat pertanian, mereka juga tidak konsisten, karena tidak menentukan nishab, padahal zakat pertanian itu ada ketentuan nishabnya.

Tentunya pendapat kedua ini sangat lemah dari sisi dalil dan sangat merugikan dan membebani para pegawai, khususnya yang berpenghasilan pas-pasan.

Tetapi anehnya, justru inilah yang banyak diterapkan di lembaga-lembaga pemerintahan dan swasta. Mereka dipotong gajinya sebanyak 2,5 % tiap bulannya, padahal sebagian pegawai ada yang gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Walaupun hal ini menguntungkan fakir miskin, tetapi merugikan dan mendhalimi pegawai yang gajinya pas-pasan.

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, bisa kita simpulkan bahwa zakat profesi diakui oleh syariah dan mempunyai landasan dari al-Qur’an dan sunnah sebagaimana yang tersebut di atas. Zakat profesi hanya sebuah istilah, kalau tidak setuju dengan istilah ini, bisa menyebutnya dengan zakat maal.

Adapun cara pengeluarannya dan besaran uang yang harus dikeluarkan dari zakat profesi ini mengikuti tata cara dan besaran dalam zakat emas, dan harus sudah melalui waktu satu tahun. Wallahu A’lam.

Qatar, 17 Sya’ban 1433 H/ 10 Juli 2012

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Hukum Mendonorkan Organ Tubuh

Donor artinya derma atau sumbangan. Donor organ tubuh berarti mendermakan organ tubuh untuk orang lain demi kepentingan medis. Secara medis donor organ tubuh adalah legal asal sesuai prosedur. Namun menurut syariat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pembahasan ini bisa dibagi menjadi empat hal:

 

Pertama, Donor Organ Yang Bisa Pulih

Di antara anggota tubuh yang bila diambil, bisa pulih kembali adalah darah, yang selanjutnya lebih dikenal dengan donor darah. Donor darah dilakukan manakala pasien kekurangan darah akibat operasi, kecelakaan, kebakaran, persalinan, gagal ginjal, kanker darah dan lainnya.

Secara syar’i hukum donor darah adalah boleh untuk kepentingan yang sifatnya darurat (Fatawa Kibar Ulama al Ummah, hal. 939 ) Alasannya:

 

     1.Menjaga Jiwa (hifdzu an nafs). Donor darah dapat membantu kesembuhan dan menghindarkan pasien kehabisan darah yang bisa menyebabkan kematian. Dalilnya:

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. “  (Qs Al Maidah : 32)

     Dalam ayat ini, Allah SWT memuji setiap orang yang memelihara kehidupan orang lain, maka dalam hal ini, para pendonor darah dan dokter yang menangani pasien adalah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Allah SWT, karena memelihara kehidupan seorang pasien, atau menjadi sebab hidupnya pasien dengan ijin Allah SWT.

Firman Allah swt:

 ” Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya…” (Qs. Al Baqarah: 172)

     Ayat di atas menunjukkan diangkatnya dosa bagi orang yang terpaksa memakan yang haram karena keadaan darurat, donor darah adalah termasuk di dalamnya.

 

     2.Donor darah, secara umum, tidak menyebabkan madharat pada pendonor karena darah diproduksi oleh tubuh dan berganti secara berkala.

     Dibolehkannya donor darah kepada seseorang harus memenuhi empat syarat:

1.Sang pasien memang benar-benar membutuhkan darah tersebut, dan harus ada rekomendasi dari dokter.

2.Tidak ada cara pengobatan lain kecuali dengan memasok darah.

3.Darah tersebut tidak membahayakan pasien.

4.Pasien mengambil darah secukupnya. Ini sesuai dengan kaidah fikih yang berbunyi ” Apa-apa yang diperbolehkan karena darurat, maka itu diukur sesuai kadarnya “. (As Suyuti, al- Asybah wa An Nazha’ir, hal. 84).

5.Pasien mendapatkan donor darah secara gratis. Jika tidak mendapatkannya secara gratis, maka dibolehkan baginya untuk membeli darah tersebut, dan dosanya akan ditanggung oleh yang menjual, karena menjual darah hukumnya haram, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist bahwasanya Rasulullah SAW melarang seseorang untuk menjual darah. (Shahih Bukhari, Juz II, hal 8).

Imam Nawawi berkata: “Sebagaimana diharamkan mengambil upah dari (perbuatan haram), maka diharamkan juga untuk memberikan upah kepadanya. Akan tetapi dibolehkan memberikan upah(kepada sesuatu yang haram), jika dalam keadaan darurat ” (Raudhoh At Tholibin, Juz V, hal : 194-195). Hal ini sesuai dengan permasalahan membeli darah karena darurat. 

Kemudian, bagaimana hukum mendonorkan darah untuk disimpan di bank-bank darah seperti PMI atau rumah sakit untuk dipakai dalam peristiwa – peristiwa yang mendadak?

Jawabannya adalah boleh, karena maslahatnya lebih besar daripada madharatnya. 

 

Kedua, Donor Organ Tubuh Yang Bisa Menyebabkan Kematian

Ada beberapa organ tubuh, yang jika diambil, akan menyebabkan kematian seseorang, misalnya; limpa, jantung, ginjal dan otak. Maka mendonorkan organ-organ tubuh tersebut kepada orang lain hukumnya haram, karena termasuk dalam katagori bunuh diri. Allah berfirman,

“..dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. ” (Qs. Al Baqarah: 195).

Juga dengan firman Allah swt :

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (Qs. An Nisa: 29).

 

Ketiga, Donor Organ Tubuh Tunggal

Organ tunggal bisa jadi memang organ tersebut hanya satu seperti rahim dan lidah, ada juga yang pada asalnya ganda tapi karena salah satunya rusak atau tidak berfungsi sehingga menjadi tunggal, misalnya mata atau ginjal yang tinggal satu. Mendonorkan organ-organ seperti ini hukumnya haram, walaupun hal itu kadang tidak menyebabkan kematian. Karena, kemaslahatan yang ingin dicapai oleh pasien tidak kalah besarnya dengan kemaslahatan yang ingin dicapai pendonor. Bedanya jika organ tubuh tadi tidak didonorkan, maka maslahatnya akan lebih banyak, dibanding kalau dia mendonorkan kepada orang lain.

     Akan tetapi ada organ tubuh tunggal yang jika diambil tidak membahayakan pendonor dan bermanfaat bagi pasien, yaitu rahim. Maka donor rahim hukumnya boleh, tetapi harus terpenuhi beberapa syarat tertentu, diantaranya adalah;

  1. Indung telur pasien masih bisa berfungsi sehingga rahim yang akan diambil dari pendonor bermanfaat baginya.
  2. Rahim pendonor harus steril dari sel telur dan sel sperma lama yang masih hidup, sehingga pencampuran nasab bisa dihindari.
  3. Pemindahan rahim tersebut tidak membahayakan bagi pendonor.

 

Keempat, Mendonorkan Salah Satu Organ

Jika donor salah satu organ tubuh tersebut tidak membahayakan pendonor dan kemungkinan besar bisa menyelamatkan pasien, maka hukumnya boleh, seperti seseorang yang mendonorkan salah satu ginjalnya. Alasannya, bahwa seseorang masih bisa hidup, bahkan bisa beraktifitas sehari-hari sebagaimana biasanya meski hanya menggunakan satu ginjal saja. Hanya saja pemindahan ginjal dari pendonor ke pasien tersebut jangan sampai membahayakan pendonor itu sendiri.

Syeikh Bin Baz – rahimahullahu – Mufti  Saudi Arabia (Fatawa Kibar Ulama Ummah, hal. 941) menjelaskan, “Tidak apa-apa mendonorkan ginjal, jika memang sangat dibutuhkan, karena para dokter telah menyatakan bahwa hal tersebut tidak berbahaya baginya, dan dalam sisi lain, bisa bermanfaat bagi pasien yang membutuhkannya. Pendonornya insyaallah akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, karena perbuatan ini termasuk berbuatan baik dan menolong orang lain agar terselamatkan jiwanya, Sebagaimana firman Allah  :

” dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik “  (Qs Al Baqarah: 192)

Dan Rasulullah bersabda:

” Dan Allah akan selalu membantu hamba-Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya ” )  HR Muslim no 2699 ).  

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain an-Najah, MA

 

Baca Juga: 

Hukum Arisan Dalam Islam

Hukum Bank ASI

Hukum Menyusui Orang Yang Sudah Dewasa

 

Rincian Pemanfaatan Bunga Bank

Banyak masyarakat yang bertanya tentang pemanfaatan dari bunga bank, apakah haram secara mutlak, atau boleh dimanfaatkan untuk kepentingan umum?

 

Hukum Bunga Bank

Sebelum menjawab pertanyaan di atas perlu disampaikan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Fatwanya Nomor 1 Tahun 2004, tentang Bunga (Interest atau Fa’idah) telah menyatakan keharaman Bunga Bank. Diantara bunyi fatwa tersebut adalah sebagai berikut:

“(1). Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  , yakni riba nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang termasuk salah satu bentuk riba, dan riba haram hukumnya.

(2). Praktek pembungaan tersebut hukumnya adalah haram, baik dilakukan oleh Bank, Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.”

         

Rekening di Bank Konvensional

Jika kita mengetahui bahwa bunga bank adalah riba, maka tidak boleh membuka rekening di bank-bank yang masih menggunakan sistem riba di dalamnya, yaitu bank-bank konvensional.

Bagaimana kalau dia seorang PNS atau pegawai kantor yang tidak mendapatkan gaji kecuali melalui bank konvensional, apakah boleh membuka rekening di bank tersebut? Jawabannya: kalau memang tidak mendapatkan uang tersebut kecuali melalui bank konvensional, maka dalam keadaan seperti ini hukumnya dibolehkan karena darurat, dan darurat membolehkan yang pada asalnya haram. Ini sesuai dengan firman Allah:

 

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Baqarah: 173 )

Dan sesuai dengan kaidah fiqh,

 

 الضرورات تبيح المحظورات

“Dalam keadaan darurat membolehkan sesuatu yang (pada dasarnya) dilarang.” (as-Suyuti, al-Asybah wa an-Nadhair, hlm. 83)

Sebagaimana pada ayat di atas, kedaruratannya tidak boleh dicari-cari (غَيْرَ بَاغٍ) dan tidak boleh berlebihan dalam menggunakannya (وَلَا عَادٍ). Oleh karenanya setelah mendapatkan uang tersebut, harus segera dipindahkan ke rekening Bank Syariah.

 

Di dalam Fatwa Majelis Ulama Nomor 1 Tahun 2004, tentang hukum bermu’amalah dengan Lembaga Keuangan Konvensional:

1. Untuk wilayah yang sudah ada kantor atau jaringan Lembaga Keuangan Syari’ah dan mudah dijangkau, tidak dibolehkan melakukan transaksi yang didasarkan kepada perhitungan bunga.

2. Untuk wilayah yang belum ada kantor atau jaringan Lembaga Keuangan Syariah, diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip dharurat atau  hajat.

 

arrisalahnet arrisalahnet aarrisalahnet arrisalahnet Rincian Halal-Haram Dalam Memanfaatkan Bunga Bank

 

Memanfaatkan Uang Riba

Orang yang menyimpan dan membuka rekening di Bank Konvensional tidak lepas dari beberapa keadaan:

Keadaan Pertama: Dia membuka rekening karena keinginannya sendiri, dan mencari keuntungan darinya, karena menganggap bunga yang dia dapat dari Bank Konvensional jauh lebih tinggi daripada kalau dia menyimpan di Bank Syariah. Sebagian orang beralasan karena service dan fasilitasnya lebih bagus dari Bank Syariah.

Keadaan seperti ini bukumnya haram, karena tidak ada darurat di dalamnya. Seandainya uang hasil bunga dari riba disalurkan kepada kepentingan sosialpun, dia tetap berdosa.

Keadaan Kedua: Dia membuka rekening karena darurat, sebagaimana yang dijelaskan di atas. Hukumnya boleh sebatas kebutuhan saja.

Keadaan Ketiga: Dia membuka rekening atau menyimpan uang di Bank Konvensional bertahun-tahun lamanya karena ketidaktahuannya tentang keharaman riba, kemudian dia mulai paham karena belajar dan mengaji, kemudian ingin bertaubat dari riba. Inilah yang dimaksud dalam fatwa para ulama bahwa uang hasil riba ( yang sudah terlanjur), dianjurkan untuk diambil dan disalurkan kepada kemashlahatan umat Islam, seperti pembangunan jalan, pembangunan wc umum, perbaikan jembatan, bantuan korban bencana alam dan sejenisnya.

Ada dua pertanyaan terkait poin ketiga di atas:

1. Kenapa bunga riba dianjurkan untuk diambil, bukankah itu uang haram. Apakah tidak lebih baik dibiarkan saja di Bank Konvensional?

Jawabannya: dianjurkan diambil karena kalau dibiarkan tersimpan di Bank Konvensional, maka akan menjadikan keuntungan bagi merekadan akan dipergunakan untuk membesarkan Bank tersebut dan melanggengkan sistem riba. Seakan-akan orang yang membiarkan bunganya di bank tersebut, telah membantu bank untuk membesarkan sistem riba, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 2.

Maka dengan mengambil bunga dari bank , kemudian disalurkan kepada kemaslahatan umat Islam, telah melemahkan bank yang menggunakan sistem riba.

2.Kenapa bunga tersebut disalurkan kepada kemashlatan umat Islam?

Jawabannya, karena bunga bank tersebut diambil dari orang-orang yang berutang kepada bank tersebut, sedang kita tidak tahu siapa saja mereka itu. Oleh karenanya, bunga tersebut kita kembalikan kepada kemashlatan umat Islam.

Adapun kriteria kemaslahatan umat Islam adalah setiap manfaat yang bisa dinikmati oleh umat Islam secara umum, tidak terbatas pada seseorang, seperti membangun jembatan, memperbaiki jalan umum yang rusak, mendirikan wc dan toilet umum, membantu korban bencana alam dan lain-lainnya.

Apakah boleh disalurkan untuk pembangunan masjid?  Para ulama berbeda pendapat, sebagian melarangnya, dan sebagian lain membolehkannya, karena masjid termasuk kepentingan umat Islam secara umum. Imam an-Nawawi berkata di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (9/351) menukil perkataan Imam al-Ghazali: “Jika (uang haram) tersebut tidak diketahui pemiliknya, dan susah untuk mencarinya, maka hendaknya disalurkan kepada kemashlahatan umum umat Islam,  seperti membangun jembatan, penghubung jalan, mendirikan masjid, dan perbaikan jalan menuju ke Mekkah  dan hal-hal serupa yang merupakan kemashlatan umat Islam. Jika tidak bisa juga, maka dibagikan kepada para fakir miskin.” 

 

Pertanyaannya, bukankah uang riba adalah uang haram, kenapa boleh diinfakkan kepada fakir miskin? Bukankah infak itu harus dari harta yang halal, sebagaimana firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ 

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (Qs. al-Baqarah: 267)

 

Jawabannya, menyalurkan uang hasil riba kepada mashlahat umum dan kepada fakir miskin tidak masuk dalam katagori “infak“ sebagaimana yang diperintahkan Allah pada ayat di atas, tetapi masuk dalam katagori membersihkan uang haram dari diri kita dan disalurkan kepada yang bermanfaat. Sekali lagi bukan berniat infak, tetapi berniat untuk membuang harta haram, tetap tetap bermanfaat bagi orang banyak.

Hal itu juga karena tidak ada cara lain untuk membersihkan uang haram tersebut dari diri kita, kecuali dengan cara di atas. Uang tersebut, tidak boleh dibakar atau disobek, atau dibuang ke laut, karena termasuk dalam tindakan mubadzir  yang dilarang oleh Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:

 

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا 

 “..dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Qs. al-Isra’: 26-27)

 

Tidak boleh juga dibiarkan di Bank Konvensional, karena akan menguatkan mereka dan membudayakan riba.  

Berkata Imam an-Nawawi berkata di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (9/351 : ” Hal itu, karena kita tidak boleh memusnahkan uang haram tersebut dan membuangnya ke laut, maka tidak ada cara lain kecuali disalurkan kepada kemaslahatan umat Islam. “

Apakah fakir miskin yang menerima uang haram itu termasuk dalam katagori orang-orang yang memakan uang haram juga?

Jawabannya, bagi fakir miskin tidak termasuk haram. Para ulama meletakkan sebuah kaidah fiqh yang berbunyi,

ما كان محرما لكسبه، فإنما إثمه على الكاسب لا على من أخذه بطريق مباح من الكاسب

“Harta yang didapat dengan cara haram, maka  dosanya bagi yang berbuat, bukan bagi yang mengambil darinya dengan cara yang benar.”

Ini seperti uang hasil riba, maka dosanya bagi yang bertransaksi dengan cara riba, bukan bagi yang mendapatkan dari orang tersebut dengan cara yang benar. Artinya orang yang bekerja di Bank Konvensional itu membeli makanan dari sebuah warung, maka uang yang didapat dari pemilik warung tersebut halal, walaupun itu berasal dari uang riba. Karena pada hakikatnya yang haram itu bukan pada uangnya, tetapi pada cara mendapatkannya.

Ini berbeda dengan barang yang dzatnya haram, seperti khamr, babi, dan narkoba, maka kita tidak boleh menerimanya, atau disalurkan kepada orang miskin. Wallahu A’lam.

Oleh: Dr. Ahmad Zain an-Najah

 

Materi Fikih Lainnya: 

 

Berpuasa Untuk Mayit

Orang-orang yang meninggalkan puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, Nadzar, dan yang lainnya, kemudian meninggal dunia, mereka terbagi dalam 3 golongan :

Golongan Pertama: Orang yang tidak berpuasa karena meremehkan ajaran Islam, padahal dia mampu berpuasa. Orang seperti ini telah melakukan perbuatan dosa besar, karena meninggalkan salah satu rukun Islam. Jika dia meninggal dunia, maka wali dan kerabatnya tidak boleh berpuasa untuknya.  

Golongan Kedua: Orang yang tidak berpuasa karena udzur, seperti sakit dan safar, kemudian meninggal dunia dalam keadaan sakit atau safar, atau kemudian meninggal dunia pada waktu Idul Fitri, sehingga tidak bisa mengqadha’ puasanya. Dalam keadaan seperti ini, kewajiban berpuasa atasnya menjadi gugur, dan dianggap tidak ada utang puasa atasnya.  Maka, tidak boleh berpuasa untuk si mayit tersebut. Ini merupakan kesepakatan para ulama.

Golongan Ketiga: Orang yang tidak berpuasa karena suatu udzur, seperti sakit, safar, dan haid, kemudian sembuh dari sakitnya, atau telah datang dari safarnya, atau telah bersih dari haidnya, tetapi dia tidak langsung meng-qadha’ puasanya, padahal ada waktu dan kesempatan, hanyasaja dia mengundur-undurkannya sehingga meninggal dunia, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, apakah walinya berkewajiban berpuasa untuknya atau cukup membayarkan fidyah?

 

Pendapat Pertama: Disunnahkan wali (kerabat) mayit berpuasa untuknya. Jika tidak mampu berpuasa, maka boleh membayarkan fidyah untuknya. Ini adalah pendapat Thawus, Hasan Bashri, Zuhri, Qatadah, Abu Tsaur dan  Syafi’i dalam al-Qaul al-Qadim. (An-Nawawi, al-Majmu’: 6/368 dan Syarh Shahih Muslim, 8/25)

Mereka berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut:

 

Pertama: Hadits ’Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“ Barang siapa yang meninggal dunia, sedangkan dia  mempunyai kewajiban berpuasa, maka hendaknya walinya berpuasa untuknya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas bersifat umum mencakup semua puasa, kemudian dikhususkan hanya pada puasa wajib, seperti puasa Ramadhan dan Nadzar, sebagaimana di dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang akan disebutkan kemudian.

 

Kedua: Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا؟ قَالَ: ” نَعَمْ، قَالَ: فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى “

“ Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku meninggal dunia, dan dia mempunyai kewajiban satu bulan berpuasa, apakah saya bisa membayarkan puasa untuknya?” Beliau bersabda: “Ya.” Lalu bersabda: “Utang kepada Allah lebih pantas lagi untuk dibayarkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Pendapat Kedua: Tidak ada kewajiban berpuasa untuknya, tetapi yang wajib hanyalah membayarkan fidyah untuknya. Ini pendapat mayoritas ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’i di dalam al-Qaul al-Jadid. ( al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an : 2/ 285)

Mereka berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut :

 

Pertama: Hadits  Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

 مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعِمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“ Barang siapa yang meninggal, sedangkan dia mempunyai kewajiban puasa satu bulan Ramadhan, maka hendaklah (walinya) memberi makan untuknya, setiap harinya  satu orang miskin.”  (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Baihaqi dan Daruquthni.)

 

Tanggapan: Hadist di atas tidak sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hadits mauquf yang berhenti sampai Ibnu ‘Umar saja.   Berkata Tirmidzi : “ Hadist Ibnu ‘Umar kita tidak mengetahuinya marfu’ kecuali dari jalan ini. Dan yang shahih bahwa hadits ini mauquf.”

 

Kedua: Atsar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya ia berkata,  

لاَ تَصُومُوا عَنْ مَوْتَاكُمْ وَأَطْعِمُوا عَنْهُمْ.

“ Janganlah berpuasa untuk orang yang meninggal dunia, tetapi bayarlah makanan untuk mereka. “ ( HR. Baihaqi )

 

Tanggapan: Dalil kedua ini, bukanlah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , tetapi hanya pendapat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu saja. Dan ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih.

Berkata Baihaqi di dalam as-Sunan al-Kubra (4/256): “ Adapun riwayat dari keduanya (Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah) yang melarang berpuasa untuk mayit adalah pendapat yang perlu dikritisi. Sedangkan hadits-hadits yang marfu’ lebih shahih sanadnya, dan lebih masyhur para perawinya. Bahkan Bukhari dan Muslim telah menyebutkannya di dalam kitab shahih mereka. Seandainya Imam Syafi’i rahimahullahu mengetahui jalan-jalan haditsnya dan hadist-haditsnya yang semitsal, tentunya beliau tidak akan menyelesihinya insya Allah Ta’ala. Wa Billahi at-Taufiq. “ 

Berkata an-Nawawi di dalam  Syareh Shahih Muslim (8/25-26) :

“ Adapun hadits yang menjelaskan bahwa orang yang mati dan mempunyai kewajiban puasa, maka dibayarkan fidyah untuknya, adalah hadits yang tidak shahih. Seandainya hadits tersebut shahih, maka bisa digabung dengan hadits-hadits ini ( hadits ‘Ibnu Abbas di atas), yaitu dengan mengatakan dibolehkan kedua-duanya. Karena sesungguhnya yang berpendapat boleh berpuasa untuk mayit, mereka juga membolehkan membayarkan fidyah untuknya. Dari sini diketahui, bahwa  pendapat yang benar adalah boleh berpuasa untuk mayit dan boleh juga membayarkan fidyah untuknya. Walinya memilih salah satunya. “ 

 

Pendapat Ketiga: Tidak boleh membayarkan puasa Ramadhan untuk mayit, tetapi boleh membayarkan puasa Nadzar untuk mayit. Ini adalah pendapat Hanabilah. (Ibnu Qudamah, al-Mughni : 4/398 )

Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata, 

جاءت امرأة إلى النَّبي صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله ، إن أمي ماتت وعليها صوم نذر، أفأصوم عنها؟ قال: “أفرأيت لو كان على أمك دين فقضيته، أكان يؤدي ذلك عنها”؟ قالت: نعم. قال: “فصومي عن أمك

“Datang seorang perempuan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku meninggal dunia, dan dia mempunyai kewajiban puasa nadzar, apakah saya meng-qadhakan untuknya?” Beliau bersabda: “ Apakah jika ibumu mempunyai utang, kemudian engkau bayarkan utangnya, apakah itu dianggap sah ? Dia menjawab : Iya. Kemudian beliau bersabda : Berpuasalah untuk ibumu.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas menunjukkan bahwa yang boleh dibayarkan puasanya hanyalah puasa nadzar, bukan puasa Ramadhan.

 

Tanggapan: Terdapat riwayat lain dari hadits Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan bahwa yang ditanyakan adalah puasa Ramadhan, sebagaimana yang disebutkan oleh pendapat pertama. Ini menunjukkan bahwa kedua-duanya ( puasa Ramadhan dan Nazar) bisa dibayarkan oleh walinya.

Berkata Muhammad al-Amin al-Mukhtar asy-Syenqithi di dalam Adhwau al-Bayan (18/280) :  “ Perbedaan riwayat di dalam hadits ini tidak termasuk idhthirab (riwayat yang kacau), karena berbeda kejadiannya ; seorang perempuan bertanya kepada beliau, kemudian dijawabnya, dan seorang laki-laki bertanya kepada beliau, dan dijawabnya sama dengan jawabannya kepada perempuan tadi. Inilah yang diterangkan oleh para ulama.

Dan ini adalah nash yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjelaskan secara gamblang kebolehan menggabungkan sesuatu yang sejenis karena alasan hukumnya sama.” 

Berkata Ibnu Daqiq al-‘Ied  di dalam Ihkamu al-Ahkam (1/280) : “ Adapun hadits Ibnu ‘Abbas, disebutkan di dalamnya secara mutlak bahwa ibu laki-laki tersebut meninggal dunia, sedang dia ada kewajiban puasa Ramadhan, dan tidak disebutkan puasa Nadzar. Dan ini menunjukkan bahwa kebolehan mewakili puasa untuk mayit, tidak terbatas pada puasa nadzar saja. Inilah yang disampaikan Syafi’iyah dengan mengambil dari al-Qaul-al-Qadim dan ini berbeda dengan pendapat Ahmad.”  

 

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa pendapat yang lebih kuat, adalah pendapat pertama yang membolehkan, bahkan menganjurkan kerabat mayit untuk berpuasa untuknya. Berkata an-Nawawi di dalam  Syareh Shahih Muslim (8/25) :

“ Dan ini pendapat yang shahih dan terpilih yang kami menyakininya. Dan pendapat ini shahihkan juga oleh para  peneliti dari kalangan sahabat-sahabat kami (Syafi’iyah) yang menggabungkan antara fikih dan hadits. Ini semua berdasarkan hadist-hadits shahih dan jelas.“ Wallahu A’lam.

Oleh: Dr. Ahmad Zain an-Najah

 

Fikih Lainnya: 

 

Hukum Menghadiri Walimah Orang Kafir

Pengertian Walimah

Walimah secara bahasa berasal dari al-Walmah yang berarti sesuatu yang telah sempurna dan terkumpul. (Majma’ al-Lugah al-‘Arabiyah, al-Mu’jam al-Washith, 2/1057) Makanan dalam pernikahan disebut walimah, karena kedua pasangan suami istri berkumpul dan telah menyempurnakan agamanya.

Adapun makna walimah secara istilah adalah setiap makanan yang disediakan karena pernikahan. Berkata Imam Syafi’i: “ Walimah bisa digunakan untuk setiap makanan yang disediakan karena peristiwa yang menggembirakan “ (Ibnu Qasim al-Ghazzi, Fathu al-Qarib, hal. 76)

Menurut pendapat Imam Syafi’i di atas, walimah mencakup walimah nikah, walimah khitan, walimah safar, walimah karena menempati rumah baru, walimah karena khatam al-Qur’an dan seterusnya. 

Hukum Menghadiri Walimah

Hukum menghadiri walimah pernikahan menurut madzhab syafi’i hukumya fardhu ain kecuali terdapat udzur. Adapun menghadiri walimah selain pernikahan seperti walimah khitan, walimah safar, hukumnya mustahab.  ( lihat al-Khatib asy-Syarbini, al-Iqna’, 2/427 )

Dalilnya adalah hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,

إِذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا

“Jika salah satu di antara kalian diundang untuk menghadiri walimah, maka hendaknya dia hadir.” (HR. Bukhari no. 4878 dan Muslim no. 1429).

Yang dimaksud walimah pada hadits di atas adalah walimah pernikahan. Pada hadits tersebut terdapat perintah dan hukum asal dari perintah adalah wajib.

Baca Juga: Pesta Pernikahan Tidak Islami

Ini dikuatkan dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

            شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ ، يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا ، وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا ، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوَةَ ، فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ

“Sejelek-jelek makanan adalah makanan pada walimah yang datang dicegah, dan justru yang tidak mau datang malah diundang. Siapa yang tidak mendatangi undangan tersebut, maka ia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari no. 5177 dan Muslim no. 1432 dan lafadh di atas adalah miliknya).

Hukum Menghadiri Walimah Orang Kafir

Perayaan atau pesta yang diselenggarakan orang kafir, terbagi menjadi dua bagian,

Pertama: Perayaan Keagamaan, seperti perayaan hari Natal (Kristen), Nyepi ( Hindu), Waisak ( Buddha), Imlek (Cap Go Meh) , maka tidak boleh menghadirinya, bahkan tidak boleh juga mengucapkan selamat untuk acara tersebut.

Berkata Ibnu Qayyim (w.751) di dalam Ahkam Ahli adz-Dzimmah (3/211): “Adapun mengucapkan selamat untuk hari raya agama orang kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama.”

Kesepakatan ini juga disampaikan oleh Imam adz-Dzahabi (w. 748) di dalam Tasyabbuh al Khasis bi Ahli al-Khamis (hal. 28)

Kedua: Perayaan khusus untuk pribadi mereka, seperti pernikahan, kelahiran anak, kesembuhan dari penyakit dan yang sejenisnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mendatangi walimah pernikahan orang kafir, 

Pendapat Pertama, mengatakan tidak boleh menghadiri undangan walimah orang kafir. Ini pendapat sebagian ulama Syafi’iyah dan ini yang dipilih oleh Abu Bakar al-Hishni di dalam Kifayatu al-Akhyar (hal. 376). Mereka beralasan bahwa mendatangi walimah orang kafir termasuk dalam katagori mencintai mereka. Hal ini dilarang, sebagaimana firman Allah, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. “( Qs.al-Mumtahanah:1)

Begitu juga firman Allah,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, ( Qs.al-Mujadilah: 22 )

Begitu juga hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا، وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ

“Janganlah bersahabat kecuali dengan orang beriman. Janganlah yang memakan makananmu melainkan orang bertakwa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Hadist ini Hasan sebagaimana di dalam Shahih al Jami’ : 2/7341)

Pendapat Kedua, mengatakan tidak wajib menghadiri undangan walimah orang kafir. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Berkata Abu Bakar al-Hishni di dalam Kifayatu al-Akhyar  hal. 376 : “  Syarat ke tujuh : hendaknya yang mengundang adalah seorang muslim. Jika yang mengundang orang kafir dzimmi, maka tidak wajib untuk mendatanginya, sebagaimana pendapat mayoritas ulama. “

Kemudian mereka berselisih tentang hukumnya, apakah boleh atau makruh ?

Sebagian mengatakan bahwa menghadiri undangan walimah orang kafir hukumnya makruh. Ini pendapat madzhab Hanbali. (al-Mardawai, al-Inshaf : 8/236)

Sebagian yang lain mengatakan bahwa menghadiri walimah orang kafir hukumnya boleh, bahkan menjadi sunnah jika diharapkan keislamannya dengan syarat hatinya tidak boleh cenderung kepadanya. Ini madzhab Syafi’iyah (Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, 6/371)

Syarat-syarat Kebolehan

Adapun syarat-syarat kebolehan menghadiri walimah orang kafir sebagaimana disebutkan para ulama adalah sebagai berikut,

Pertama: Berniat untuk berdakwah

Kedua: Tidak ada kemungkaran atau acara maksiat, seperti dangdutan, menampilkan wanita-wanita yang membuka aurat, bercampur baur laki-laki dan wanita dan lain-lain, kecuali jika datang sebelum acara dimulai atau sesudah acara selesai.

Ketiga: Tidak boleh mendoakan mereka dengan berkah tetapi mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.

Keempat: Dihindari untuk mendatangi undangan pendeta atau tokoh agama tertentu, karena sulit untuk mendakwahi mereka, bahkan kedatangan seorang muslim pada acara mereka, merupakan kebanggaan dan kemenangan mereka.

Jika dikatakan, bukankah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjunguk orang Yahudi ketika sedang sakit untuk mendakwahinya.

Baca Juga: Harga Mati Keshalihan Pasangan

Jawabannya, bahwa beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk anak kecil Yahudi yang pernah membantu beliau, sehingga lebih mudah untuk didakwahi dan terbukti beliau berhasil. Ini berbeda jika menghadiri para pendeta atau tokoh agama mereka. ( Majmu’ al-Fatawa Syekh al-‘Utsaimin 3/47)

Kesimpulan

Menghadiri walimah orang muslim, hukumnya wajib, barang siapa yang tidak mendatanginya, dia berdosa, kecuali  ada udzur. Jika di dalam walimah tersebut terdapat kemungkaran dan maksiat atau walimah hanya dikhususkan orang-orang kaya saja, maka tidak wajib hadir. Begitu juga jika walimahnya berlangsung lebih dari satu hari.

Adapun menghadiri walimah orang kafir, jika diniatkan untuk berdakwah dan muamalat, hukumnya boleh dengan syarat-syarat tertentu yang disebutkan di atas.

Jika mengadiri walimah orang kafir tidak ada niat dakwah dan muamalat, hukumnya haram, karena termasuk di dalam katagori mencintai mereka. Selain itu akan lebih banyak mendatangkan kemadharatan daripada kemaslahatan. Wallahu A’lam. 

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Pasar Kecapi, 9 Rajab 1438 H/ 6 April 2017 M

 

Tema  Terkait: Pernikahan, Fikih Kontemporer, Akidah

 

 

.

 

 

Hukum Mencukur Dan Menggundul Rambut Bagi Wanita

Ada beberapa hukum terkait dengan rambut bagi wanita.

Pertama : Dibolehkan wanita memendekkan rambutnya  dengan syarat-syaratnya.

Dalilnya adalah hadist Abu Salamah bin Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu, anak susu dari Ummu Kultsum binti Abu Bakar, saudara perempuan Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata :

كَانَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْخُذْنَ مِنْ رُؤُسِهِنَّ حَتَّى يَكُوْنَ كَالوَفْرَةِ

Adalah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil (memendekkan) rambut mereka hingga seperti al-wafrah.” (HR. Muslim no.726)

Al-Wafrah sebagaimana yang disebutkan dalam Syarah Shahih Muslim (5/3) adalah rambut yang panjangnya sampai tidak melebihi ke kedua telinga. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Yang diketahui secara umum bahwa kebiasan wanita-wanita Arab, mereka senang memanjangkan rambut mereka dan menjalinnya. Adapun yang dilakukan oleh istri-istri Nabi ini (yaitu memendekkan rambut) bisa jadi setelah wafatnya beliau n, karena mereka tidak lagi berdandan dan merasa tidak butuh untuk memanjangkan rambut mereka, hal ini untuk mempermudah perawatan rambut.”

Berkata Imam an-Nawawi di dalam Syareh Shahih Muslim(5/4), “ Apa yang disebutkan oleh al-Qadhi ‘Iyadh bahwa istri-istri Nabi melakukan hal itu setelah wafatnya beliau, bukan pada waktu hidupnya beliau, dan yang juga disampaikan oleh ulama-ulama lainnya, adalah sesuatu yang benar. Jangan sampai dikira mereka melaksanakan tersebut pada masa hidupnya Nabi. Dan hadits di atas menunjukkan bolehnya para wanita memendekkan rambut mereka. Wallahu A’lam.”

Keterangan al-Qadhi ‘Iyad dan Imam an-Nawawi di atas menunjukkan bahwa rambut tetap menjadi mahkota dan kebanggaan kaum wanita, termasuk wanitawanita Arab. Juga menunjukkan bahwa mereka memanjangkan rambut untuk tujuan kecantikan dan keindahan yang akan mereka pamerkan di depan para suami. Karena laki-laki biasanya menyukai wanitawanita yang berambut panjang.

Berkata Ibnu Rajab di dalam Syareh Shahih al-Bukhari(1/248) : “ Pemberitahuannya tentang keadaan rambut istri-istri Rasulullah menunjukkan bahwa beliau (Abu Salamah bin Abdurrahman) melihat rambutnya (Aisyah). Dan ini tidak ada perselisihan di dalamnya bagi yang menjadi mahramnya, kecuali apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beliau memakruhkannya. “

Kedua : Wanita dilarang untuk menggundul rambutnya.

Dalilnya adalah hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda:

“Untuk wanita (dalam ibadah haji) tidak ada menggundul rambut, tetapi hanya memendekkan rambut.” (HR. Abu Dawud dengan Sanad Hasan)

Para ulama memberikan alasan larangan tersebut, diantaranya :

  • Ketiga : Wanita yang menggundul rambutnya termasuk perbuatan yang menyerupai laki-laki, makanya dilarang dalam Islam.
  • Pertama : Menggundul rambut bukanlah kebiasaan para istri sahabat dan tabi’in serta orang-orang yang datang sesudahnya.
  • Kedua : Larangan wanita menggundul rambutnya pada waktu Haji dan Umrah menunjukkan bahwa selain waktuwaktu tersebut larangannya lebih kuat.
  • Keempat : Wanita yang menggundul rambutnya termasuk perbuatan mutslah (membabat habis suatu anggota tubuh), karena rambutnya termasuk inti dari keindahan wanita. Dengan menggundulnya, berarti menjadikan bentuknya buruk dan seakan-akan menjadikannya cacat.

Ketiga : Wanita dilarang memendekkan rambutnya dengan mengikuti model rambut laki-laki.

Ini sesuai dengan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya ia berkata :

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat kaum lelaki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai lelaki.” (HR. Bukhari)

Yang dilarang di sini adalah mengikuti model rambut laki-laki di lingkungannya. Di Indonesia umpamanya, kebanyakan laki-laki berambut pendek, maka wanita muslimah dilarang memotong rambutnya hingga pendek menyerupai rambut laki-laki. Sebaliknya wanita dibolehkan memendekkan rambutnya dengan model rambut wanita pada umumnya. Jika dia mempunyai suami, maka hendaknya disesuaikan dengan keinginan suami, karena salah satu tujuan wanita berhias adalah mendapat ridha suami.

Keempat : Wanita dilarang memendekkan rambutnya dengan mengikuti model rambut wanita kafir.

Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari kaum tersebut.” ( HR. Abu Daud dan dishahihkan Ibnu Hibban )

Bagaimana batasan rambut yang menyerupai model wanita kafir ? Jawabannya, jika model tersebut menjadi ciri khas mereka. Adapun jika model rambut tersebut sudah bukan lagi ciri khas mereka, tetapi menjadi model umum bagi wanita, maka hal ini tidak dilarang selama tidak melanggar aturan-aturan rambut dalam Islam.

Jika suatu model rambut tertentu sudah menjadi ciri khas kelompok tersebut, maka tidak boleh meniru model tersebut. Ini bukan masalah rambut panjang atau pendek atau yang tidak mempunyai rambut, karena semua itu tidak mempengaruhi pahala di akhirat, tapi yang diperhitungkan adalah niatnya. Wallahu A’lam

Hukum Mengonsumsi Obat Penunda Haid

Obat penunda haid bisanya digunakan oleh seorang wanita agar bisa melaksanakan umrah dan haji dengan sempurna atau shiyam Ramadhan sebulan penuh. Untuk ini, perlu kita bahas lebih lanjut mengenai hukum dan implikasi penggunaan obat tersebut.

Hakikat Obat Penunda Haid

Obat Penunda Haid adalah obat yang bisa dipakai untuk menunda atau mempercepat datangnya haid tergantung kepada keinginan wanita yang bersangkutan. Salah satu obat jenis ini yang populer adalah Primolut N.

Primolut N berbentuk tablet,tidak  boleh digunakan sembarangan, karena harus tahu indikasi, kontraindikasi, dan efek samping yang bisa ditimbulkannya. Oleh karenanya untuk mengkonsumsinya harus dengan resep dokter. Bahan aktif yang terkandung dalam Primolut N tablet adalah Norethisterone. Ini merupakan bentuk sintetis dari progesteron, hormon yang secara alami terdapat dalam tubuh wanita yang terutama berhubungan dengan siklus menstruasi dan kehamilan. Ringkasnya, obat ini dapat memajukan atau memundurkan haid pada wanita.

 

Hukum Mengkonsumsi Obat Penunda Haid

 

Pertama : Mengkonsumsi Obat Penunda Haid dalam Ibadah Puasa Ramadhan.

Yang perlu digarisbawahi bahwa haid adalah ketentuan Allah yang ditetapkan kepada wanita, sebagaimana di dalam hadits,

هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah pada anak-anak wanita Adam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, hendaknya setiap muslimah menerima ketetapan tersebut dengan sepenuh hati. Ini terwujud dalam keterangan di bawah ini ;

  1. Mengkonsumsi obat penunda haid tidak akan menambah pahala dan tidak pula menambah kebaikan. Karena Allah telah menetapkan haid bagi wanita dengan hikmah dan tujuan yang baik, bukan untuk merendahkan wanita.
  2. Menggunakan obat tersebut justru menyebabkan haid wanita menjadi tidak teratur, sehingga membingungkannya, apakah dia sedang haid atau tidak, karena datang dan perginya haid jadi tidak menentu.
  3. Dari sisi hukum fiqh, pada dasarnya segala sesuatu adalah mengkonsumsi obat penunda haid hukumnya boleh selama tidak membahayakan bagi wanita tersebut
  4. Mengkonsumsi obat tersebut harus seizin suami karena akan menganggu kesuburan dan berpengaruh pada kehamilan.
  5. Jika seorang wanita berpuasa karena dalam keadaan suci akibat pengaruh obat penunda haid, maka puasanya tetap sah. Berkata ad-Dasuqi di dalam al-Hasyiah ‘Ala asy-Syareh al-Kabir (1/168) :“ Kesimpulannya, bahwa seorang wanita jika menggunakan obat penunda haid dari waktunya yang biasa, Maka dia dihukumi suci (dengan obat ini) pada waktu yang biasanya datang haid kepadanya.”
  6. Jika wanita haid meninggalkan sholat, puasa, membaca al-Qur’an, dan ibadah-ibadah lain yang sejenis, dengan niat melaksanakan perintah Allah, maka akan mendapatkan nilai ibadah yang tidak kalah besar pahalanya dengan pahala wanita lain yang berpuasa dan  melaksanakan sholat.
  7. Mengkonsumsi obat penunda haid mirip dengan usaha merubah ciptaan Allah atau ketetapan Allah kepada wanita. Setiap usaha ke arah itu, akan menyebabkan kerusakan dan ketidak seimbangan dalam hidup yang terwujud dalam efek samping yang ditimbulkan dari obat tersebut.
  8. Diantara efek samping dari penggunaan obat penunda haid adalah; Insomnia, rontok rambut, menambah berat badan, depresi, pusing,  perubahan libido, perubahan siklus menstruasi, sakit kepala dan mual, bahkan bisa menyebabkan kemandulan.

Kedua : Hukum Menggunakan Pil Penunda Haid pada Ibadah Haji.     

Hukum menggunakan pil penunda Haid pada ibadah Haji agak berbeda dengan hukum menggunakannya pada ibadah Ramadhan. Letak perbedaannya, bahwa pengunaan pada bulan Ramadhan bukan termasuk darurat, karena tidak menimbulkan kepayahan, justru itu adalah keinginan wanita untuk memayahkan diri sendiri dalam beribadah pada bulan Ramadhan.

Baca juga : Hukum Menggauli Wanita Haid

Berbeda penggunaannya pada ibadah haji, di dalamnya terdapat tujuan untuk menghilangkan kepayahan dari dirinya dalam ibadah, karena jika dia tidak mengkonsumsi obat tersebut, mengakibatkan wanita tidak bisa melaksanakan salah satu rukun Haji, yaitu Thawaf Ifadhah. Jika dia pulang bersama rombongan ke tanah air, dia masih harus  menyempurnakan haji pada tahun berikutnya dan ini sangat berat bagi seorang wanita, khususnya yang tinggal di Indonesia. Di dalam Kaidah Fiqh disebutkan; المشقة تجلب التيسير (Kepayahan itu bisa mengundang Kemudahan.)

Namun demikian, maka perlu diperhatikan keterangan sebagai berikut :

  • Wanita  yang sedang haid masih bisa melaksanakan kegiatan ibadah haji, sebagaimana wanita lain yang tidak haid, seperti Sa’i, Mabit di Mina dan Muzdalifah, Wukuf di Arafah, melempar Jumrah dan lain-lain, hanya saja dia tidak boleh Thawaf. Ini berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang haji kecuali Thawaf di Ka’bah sampai engkau suci.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Thawaf  Ifadhah bagi wanita haid bisa dilaksanakan pada hari-hari Tasyriq, atau pada hari-hari lain selama bulan Dzulhijjah, bahkan sampai waktu yang tidak terbatas untuk menyempurnakan ibadah hajinya. Sebagian ulama membolehkan Thawaf Ifadhah dalam keadaan haid, jika darurat sekali, dengan menggunakan pembalut, agar darahnya tidak tercecer mengotori masjid, walaupun hal ini masih menjadi perselisihan para ulama.


Kesimpulan

Dari keterangan di atas bisa disimpulkan sebagai berikut,

  • Haid adalah ketetapan Allah bagi wanita, di dalamnya mengandung banyak hikmah dan pelajaran. Wanita Muslimah hendaknya ridha dengan ketetapan ini dan tidak perlu menyusahkan diri dengan mengonsumsi pil penunda haid saat Ramadhan.
  • Khusus pada ibadah Haji dan Umrah, sebagian ulama membolehkan seorang wanita mengkonsumsi obat tersebut untuk menghindari kepayahan yang lebih berat, dan ini masuk dalam katagori darurat, tidak ada pilihan lainnya. Wallahu A’lam.

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA`

Hukum Menggauli Wanita Haid

Pengertian Haid

Di dalam Syareh Shahih Muslim (3/204), an-Nawawi menyebutkan bahwa haid secara bahasa adalah sesuatu yang mengalir, seperti kalimat (hadha al-wadi, yaitu lembah itu mengalir airnya). Adapun secara istilah artinya darah yang keluar dari kemaluan wanita dalam keadaan sehat, bukan karena melahirkan. (At-Taqrib, Abus Syujak)

Hukum Menggauli Wanita Haid

Dasar utama dalam masalah ini adalah firman Allah, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid.Katakanlah,’Haid itu adalah suatu kotoran’.Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari  wanita di waktu haid,dan janganlah kamu mendekati mereka,sampai mereka suci.Apabila mereka telah bersuci,maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu” (Qs. al-Baqarah, 222).

Para ulama sepakat bahwa seorang laki-laki tidak boleh menggauli istrinya yang sedang haid dengan cara berjima’, dan itu merupakan dosa besar. Berkata an-Nawawi  di dalam Syarh Shahih Muslim (3/204) : “ Menggauli istri (pada saat haid) di kemaluannya hukumnya haram menurut kesepakan kaum muslimin dengan dalil nash al-Qur’an dan Sunnah yang sahih. Berkata para sahabat kami, “ Seandainya seorang muslim menyakini bolehnya berjima’ dengan dengan wanita haid, maka dia telah kafir murtad…Jika dia berjima’ dengannya secara sengaja, padahal tahu dalam keadaan haid dan tahu keharamannya, dan atas pilihannya sendiri, maka dia telah melakukan dosa besar.“

          Tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukum menggaulinya selain berjima’ .

Pendapat Pertama,  suami tidak boleh menggauli sedikitpun dari badan wanita haid, artinya seluruh badannya haram bagi suaminya. Ini riwayat dari Ibnu Abbas dan Ubaidah as-Salmani. Mereka beralasan dengan keumuman ayat di atas yang memerintahkan menjauhi wanita haid secara mutlak dengan tidak merincinya.

Jawabannya, keumuman ayat di atas telah dijelaskan oleh beberapa hadits yang akan disebutkan kemudian. Al-Qurthubi di dalam tafsirnya (3/87)  menyatakan bahwa pendapat ini aneh, dan jauh dari kebenaran. Hal yang sama juga disampaikan an-Nawawi di dalam Syareh Shahih Muslim (3/205).

Pendapat Kedua, menyatakan bahwa suami boleh menggauli dengan seluruh badan istrinya yang haid kecuali yang berada diantara pusar dan lutut. Ini pendapat Abu Hanifah dan Malik. Dalil mereka sebagai berikut,

Pertama, hadist Aisyah radhiyallahu’anha ia berkata,

وَكَانَ يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ

Rasulullah memerintahkan kepadaku agar memakai kain sarung kemudian aku memakainya dan beliau menggauliku.” (HR. Bukhari, 300)

Kedua, hadits Maimunah radhiyallahu’anha ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُبَاشِرَ نِسَاءَهُ فَوْقَ الإِزَارِ وَهُنَّ حُيَّضٌ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggauli istri-istrinya di atas sarung sedangkan mereka haid,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat ketiga menyatakan bahwa suami boleh menggauli dengan seluruh badan istrinya yang haid, kecuali tempat keluarnya darah haid, yaitu kemaluannya. Ini pendapat asy-Syafi’I yang shahih. An-Nawawi mengatakan bahwa pendapat ini paling kuat dalilnya. Adapun dalilnya sebagai berikut :

Pertama, hadist Aisyah radhiyallahu’anha bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda :

اِصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا اَلنِّكَاحَ

   “Lakukanlah segala sesuatu (terhadap isterimu yang haid) kecuali menikah (jima’)” (HR. Muslim, 302)

Kedua,  diriwayatkan dari Masruq, bahwa beliau berkata,

سألت عائشة ما يحل للرجل من امرأته إذا كانت حائضًا؟ قالت: كلّ شيء إلاّ الجماع.

“ Saya bertanya kepada Aisyah tentang batasan laki-laki menggauli istrinya ketika haid ? Beliau berkata : “ Boleh semuanya kecuali jima’ “ ( Abdur Razaq di al-Mushannaf, 7439, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 1/220)

Jawaban atas dalil-dalil pendapat kedua, bahwa perbuatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas menunjukkan sesuatu yang dianjurkan, bukan sesuatu yang wajib.  Kemudian jika terdapat pertentangan antara perbuatan dan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka yang didahulukan adalah perkataannya, sebagaimana yang ditetapkan para ulama ushul fiqh.

Kesimpulannya, bahwa batasan laki-laki menggauli istrinya yang haid diperinci terlebih dahulu :

Pertama, jika laki-laki tersebut tidak bisa menahan syahwatnya, sebaiknya tidak menggauli istrinya dalam keadaan haid, kecuali antara pusar dan lutut, dan memerintahkan istrinya untuk menutup daerah tersebut dengan kain. Ini untuk menjaga agar dirinya tidak terjerumus ke dalam perbuatan haram.

Kedua, jika laki-laki tersebut mampu menahan syahwatnya, dibolehkan untuk menggauli istrinya di bagian manapun juga dari anggota badannya kecuali jima’.  Wallahu A’lam.

Hukuman bagi yang Menggauli Wanita Haid

Apakah seseorang yang mendatangi istrinya (berjima’ ) dalam keadaan haid diharuskan membayar kaffarat sebagai penebus dosa yang ia lakukan ?  Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

Pendapat Pertama, wajib membayar kaffarat. Ini pendapat asy-Syafi’I yang lama (al-Qadim) dan riwayat dari Ahmad. Mereka beralasan dengan hadis Ibnu Abbas radhiyallallahu ‘anhuma,

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada  orang yang mendatangi isterinya dalam keadaan haid untuk bersedekah dengan satu dinar atau setengahnya.”(HR. Ahmad,2121 dan an-Nasai,9105)

BACA JUGA : Status Darah Keguguran

Dalam riwayat lain Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara mauquf, bahwa beliau berkata, ”Jika dia menggauli istrinya di awal keluarnya darah, maka hendaklah bersedekah satu dinar,dan jika di akhir keluarnya darah, maka setengah dinar.”

Pendapat Kedua, dia tidak wajib membayar kaffarat. Ini pendapat  mayoritas ulama, termasuk pendapat asy-Syafi’I yang baru (al-Jadid) dan kuat. Alasannya bahwa hadits yang menyebutkan kaffarat lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran. Berkata an-Nawawi  di dalam Syareh Shahih Muslim (3/205: “ (Hadist Ibnu Abbas ) di atas adalah hadist lemah menurut kesepakatan al-Huffadh.”

Batasan Waktu Larangan.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa larangan menggauli wanita haid, dimulai ketika adanya darah haid dan berakhir ketika wanita tersebut bersih dari haid dan mandi. Ini berdasarkan firman Allah :

وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“ Janganlah kamu mendekati mereka,sampai mereka suci.Apabila mereka telah bersuci,maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu” (Qs. al-Baqarah, 222)

Kalimat ( apabila mereka telah bersuci) maksudnya bersuci dengan mandi, jika ada air, atau dengan tayamum jika tidak ada air.

Sebagian ulama, seperti Abu Hanifah membolehkan seorang laki-laki menggauli istri yang sudah bersih dari haid dengan berhentinya darah walaupun belum mandi, ini berlaku jika haidnya sampai sepuluh hari. Di dalam Tafsir Ibnu Katsir (1/587) disebutkan bahwa Mujahid, Ikrimah dan Thawus membolehkannya dengan syarat berwudhu terlebih dahulu. Wallahu A’lam,

Hukum Membayar Fidyah Bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Para ulama sepakat bahwa wanita hamil dan menyusui jika khawatir akan keselamatan dirinya, maka keduanya boleh tidak berpuasa Ramadhan dan menqadha’ puasanya pada bulan lain. Berkata Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni (3/80) : “ Kami tidak mengetahui perbedaan para ulama dalam masalah ini, karena keduanya dianggap seperti orang yang sakit yang khawatir terhadap keselamatan dirinya “

Tetapi para ulama berbeda pendapat jika wanita hamil dan menyusui tidak berpuasa karena khawatir terhadap janin dalam kandungannya atau anak yang sedang disusuinya, serta tidak khawatir terhadap dirinya sendiri, apakah dia harus mengqadha’ puasanya saja, atau disertai dengan membayar fidyah ?

Membayar Fidyah & Menqadha’ Puasa

Pendapat Pertama : Keduanya harus menqadha’ puasa dan membayar fidyah. Ini pendapat shahih dalam madzhab Syafi’i dan perkataan Imam Ahmad.

Berkata Abu Bakar al-Hashni asy-Syafi’i di dalam Kifayatu al-Akhyar (1/205) : “ Jika wanita hamil dan menyusui khawatir dengan  berpuasa akan membahayakan mereka berdua, seperti jatuh sakit, maka keduanya boleh tidak berpuasa, tetapi harus mengqadha’nya, sebagaimana kewajiban orang yang sakit. Ini berlaku umum, anaknya ikut terkena sakit atau tidak, sebagaimana yang disebutkan Qadhi Husain, dan tidak perlu membayar fidyah. Tetapi jika mereka berdua khawatir terhadap anaknya, seperti terjadi keguguran bagi wanita hamil dan berkurangnya susu bagi wanita yang menyusui, maka keduanya boleh tidak puasa, tetapi harus mengqadha dan membayar fidyah menurut pendapat yang paling dhahir. “

Dalil mereka sebagai berikut :

Pertama : Firman Allah,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“ Dan wajib bagi orang-orang yang mampu menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”(Qs.al-Baqarah : 184)

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang mampu berpuasa, kemudian berbuka karena suatu hal, maka harus membayar fidyah. Berkata Ibnu Abbas : “ Ayat di atas diturunkan kepada laki-laki dan wanita yang sudah tua, padahal mereka kuat berpuasa, tetapi dibolehkan tidak berpuasa dan harus membayar (fidyah) setiap harinya dengan memberi makan satu orang miskin. Begitu juga wanita hamil dan menyusui jika khawatir terhadap anaknya, maka boleh berbuka dan membayar fidyah. “ (Riwayat Abu Daud, 2317)

Jawabannya, bahwa ayat di atas telah dimansyukh (dihapus) hukumnya dengan firman Allah,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“ Barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,”(Qs.al-Baqarah : 185)

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya (1/499) : “ Ayat di atas menunjukkan kewajiban puasa Ramadhan bagi yang muqim dan sehat, memberikan keringanan bagi yang musafir dan sakit, serta kewajiban  membayar fidyah bagi orang yang sudah lanjut usia, yang tidak mampu lagi berpuasa. “

Wanita hamil dan menyusui yang mampu berpuasa maka wajib baginya berpuasa, jika tidak mampu maka boleh tidak berpuasa, tetapi mengqadha di hari lain, seperti orang yang sakit.

Kedua : Puasa adalah ibadah yang di dalamnya terdapat kewajiban mengqadha’ dan membayar kaffarah yang besar ( bagi yang menggauli istrinya di siang bulan Ramadhan), maka boleh diwajibkan di dalamnya qadha’ dan kaffarah kecil (bagi wanita hamil dan menyusui ) sebagaimana ibadah haji.  (al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir (3/293)

Wjib Menqadha’ Puasa Saja

Pendapat Kedua : Wanita menyusui wajib mengqadha’ dan membayar fidyah, sedangkan wanita hamil hanya mengqadha’ puasa saja. Ini pendapat Malik dalam riwayat yang lebih benar (lihat Ibnu Juzai, al-Qawanin al-Fiqhiyah, 101, al-Qurthubi, al-Jami’ Liahkam al-Qur’an, 2/193) dan salah satu pendapat dari madzhab Syafi’i.

Mereka beralasan bahwa wanita yang menyusui bisa menyewa wanita lain untuk menyusui anaknya, maka dia tidak perlu meninggalkan puasanya. Adapun wanita hamil tidak bisa mewakilkan kehamilannya kepada orang lain, sehingga dia hanya berkewajiban mengqadha’ saja.

Begitu juga kekhawatiran wanita hamil terhadap janinnya seperti kekhawatiran terhadap salah satu anggota badannya yang sakit, maka berkewajiban mengqadha’ saja, sebagaimana orang sakit.

Tidak Perlu Membayar Fidyah

Pendapat Ketiga : Bagi wanita hamil dan menyusui hanya berkewajiban mengqadha’ saja dan tidak ada kewajiban membayar fidyah sama sekali. Ini pendapat Abu Hanifah (lihat al-Maushili, al-Ikhtiyar, 1/174, al-Kasani, Badai’ ash-Shonai’,2/97) dan  salah satu pendapat madzhab Syafi’i , serta madzhab adh-Dhahiriyah (Ibnu Hazm, al-Muhalla, 4/410)

Dalil mereka sebagai berikut :

Pertama : Hadist Anas bin Malik ,

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ ، وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ

“ Sesungguhnya Allah telah menggugurkan dari musafir setengah shalat. Dan (menggugurkan) dari musafir,wanita hamil dan menyusui puasa.” ( HR. Abu Daud, 2056, dan Nasai, 2276)  

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mewajibkan wanita hamil dan menyusui untuk membayar fidyah.

Kedua : Udzur wanita hamil dan menyusui seperti udzurnya orang sakit, sehingga boleh meninggalkan puasa dan mengqadha’ saja, tanpa membayar fidyah.

Ketiga :  Kewajiban membayar fidyah diberlakukan untuk orang yang tidak mampu mengqadha’ puasa saja, maka bagi wanita hamil dan menyusui yang masih mampu berpuasa, jika meninggalkan puasa, hendaknya mengqadha’ saja.

Keempat : Tidak berrkumpul pengganti dan yang diganti dalam satu waktu, sebagaimana tayamum dan wudhu, begitu juga tidak berkumpul antara kafarah dan qadha’ puasa. (as-Sarkhasyi, al-Mabsuth, 3/99)

Kelima : Tidak boleh mewajibkan seseorang untuk membayar sejumlah harta kecuali ada perintah dari al-Qur’an dan hadits, di sini tidak ada dalil dari al-Qur’an dan haditsnya. Kita harus hati-hati dalam masalah ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ ، وَأَمْوَالَكُمْ ، وَأَعْرَاضَكُمْ ، حَرَامٌ عَلَيْكُمْ

“ Maka sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram bagi kalian (untuk mengambilnya tanpa hak) “ (HR. Bukhari dan Muslim )

Keenam : Pendapat ini sesuai dengan ruh kemudahan di dalam Islam dan tidak membebani masyarakat dengan sesuatu yang belum tentu mereka memilikinya.

 

baca juga: Mengakhirkan Qadha’ Puasa

Kesimpulan :

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah wanita hamil dan menyusui jika tidak berpuasa Ramadhan karena khawatir terhadap dirinya sendiri maupun khawatir terhadap bayi atau janinnya, maka tidak ada kewajiban baginya kecuali mengqadha’ puasa pada bulan lain sebanyak puasa yang dia tinggalkan. Jika dia tidak mampu berpuasa, maka dia wajib membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin dari setiap puasa yang ditinggalkannya. Sehingga tidak berkumpul antara qadha’ dan fidyah. Wallahu A’lam.

Hukum Keputihan Menurut Islam

Salah satu masalah yang sering ditanyakan para wanita adalah hukum keputihan menurut islam, apakah suci atau najis ?  Seandainya suci apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Tulisan di di bawah ini menjelaskannya :

Pengertian Keputihan

Keputihan menurut KBBI adalah penyakit pada  kelamin wanita yang ditandai dengan keluarnya lendir putih yang menyebabkan rasa gatal. Menurut Wikipedia, keputihan pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu keputihan normal (fisiologis) dan keputihan abnormal (patologis). Keputihan fisiologis adalah keputihan yang biasanya terjadi setiap bulannya, biasanya muncul menjelang menstruasi atau sesudah menstruasi ataupun masa subur. Keputihan patologis dapat disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur atau juga parasit

Hukum Keputihan Menurut Islam

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum keputihan :

Pendapat Pertama : Keputihan hukumnya najis. Ini pendapat Abu Yusuf dan Muhammad al-Hasan dari Hanafiyah, dan madzhab Malikiyah, dan asy-Syairazi pengarang kitab (al-Muhadzab dan at-Tanbih), al-Bandaniji dari madzhab Syafi’i, al-Qodhi Abu Ya’la, dari madzhab Hanbali, dan beberapa ulama lainnya.

Berkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (2/570) :

رطوبة الفرج ماء أبيض متردد بين المذي والعرق , فلهذا اختلف فيها ثم إن المصنف رحمه الله رجح هنا وفي التنبيه النجاسة , ورجحه أيضا البندنيجي

“ Rhutubatu al-Farji ( Keputihan yang keluar dari kemaluan)  bentuknya seperti cairan putih, diperselisihkan statusnya, apakah disamakan dengan madzi atau al-‘Irq (semacam keringat). Karena itu, para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Kemudian, penulis (asy-Syairazi) dalam kitab ini (al-Muhadzab) dan kitab at-Tanbih, cenderung berpendapat bahwa keputihan hukumnya najis. Pendapat ini dipilih juga al-Bandaniji. “

Ad-Dimyati di  dalam  I’anatut Tholibin (1/86) membagi cairan yang keluar dari kemaluan menjadi tiga bagian : (1) apabila cairan tersebut keluar dari bagian yang wajib dicuci ketika beristinja’, yaitu bagian yang nampak ketika jongkok, maka hukumnya suci.(2) . apabila cairan tersebut keluar dari kemaluan bagian dalam, yaitu yang  tidak terjangkau alat kelamin laki-laki ketika bersenggama, maka hukumnya najis. (3) apabila cairan tersebut keluar dari bagian yang tidak wajib dicuci ketika beristinja’, tetapi terjangkau alat kelamin laki-laki ketika bersenggama, maka hukumnya suci menurut pendapat yang lebih benar.

Kesimpulan dari dalil-dalil pendapat pertama adalah sebagai berikut :

Pertama : Hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata :

يا رسول الله إذا جامع الرجل المرأة فلم ينزل ؟ قال : يغسل ما مس المرأة منه ثم يتوضأ ويصلي

“ Wahai Rasulullah, jika seorang laki-laki menggauli istrinya, tetapi tidak keluar air maninya ? Beliau bersabda : “Hendaknya dia mencuci apa yang mengenai kemaluan istrinya, kemudian berwudhu dan sholat. “ ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Dalam hadits di atas, walaupun kewajiban berwudhu sudah dihapus dengan kewajiban mandi bagi yang menggauli istri, tetapi perintah mencuci kemaluan setelah berhubungan hukumnya tetap dan belum dihapus. Hal ini menunjukkan bahwa keputihan hukumnya najis, karena dia berada di dalam kemaluan perempuan. (lihat al-Majmu’ : 2/570)

Jawabannya, bahwa kemaluan wanita dibagi menjadi dua, tempat keluar air kencing, dan tempat keluar anak. Keputihan keluar dari tempat keluarnya anak, bukan dari tempat keluarnya air kencing, sehingga tidak bisa dihukumi najis, sebagaimana air mani.

Kedua : Keputihan hanya terjadi pada zaman sekarang, belum terjadi pada zaman dahulu, maka tidak terdapat riwayat yang menjelaskan tentang keputihan.

Jawabannya, bahwa tidak adanya riwayat yang menjelaskan tentang keputihan, justru menunjukkan kesuciannya, seandainya ia najis tentunya Rasulullah akan menjelaskannya walau hanya dalam satu hadits.

Ketiga : Mengqiyaskan keputihan dengan air madzi yang sama-sama keluar dari kemaluan, dan kedua-duanya bukan dari unsur terciptanya anak, maka kedua-duanya najis.

Pendapat Kedua : Keputihan hukumnya suci. Ini pendapat Ulama Hanafiyah, dan pendapat yang benar dari madzhab Syafi’i yang dikuatkan oleh al-Baghawi, ar-Rafi’i dan an-Nawawi, dan pendapat yang benar dari madzhab Hanbali yang dikuatkan oleh al-Mardawai dan Ibnu Qudamah.

Berkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (2/570) :

وقال البغوي والرافعي وغيرهما : الأصح : الطهارة، وقال صاحب الحاوي في باب ما يوجب الغسل : نص الشافعي رحمه الله في بعض كتبه على طهارة رطوبة الفرج

“ Sementara al-Baghawi dan ar-Rafi’i serta yang lainnya berpendapat bahwa menurut pendapat yang benar keputihan adalah suci.Penulis kitab al-Hawi di dalam bab : Hal-hal yang mewajibkan mandi junub, berkata, “Imam as-Syafi’i telah menegaskan dalam sebagian kitabnya bahwa keputihan wanita statusnya suci.”

Ibnu Qudamah berkata di dalam al-Mughni( 2/65 ) :

وفي رطوبة فرج المرأة احتمالان : أحدهما , أنه نجس ; لأنه في الفرج لا يخلق منه الولد , أشبه المذي . والثاني : طهارته ; لأن عائشة كانت تفرك المني من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو من جماع , فإنه ما احتلم نبي قط , وهو يلاقي رطوبة الفرج , ولأننا لو حكمنا بنجاسة فرج المرأة , لحكمنا بنجاسة منيها ; لأنه يخرج من فرجها , فيتنجس برطوبته . وقال القاضي : ما أصاب منه في حال الجماع فهو نجس ; لأنه لا يسلم من المذي , وهو نجس . ولا يصح التعليل , فإن الشهوة إذا اشتدت خرج المني دون المذي , كحال الاحتلام

“ Dalam permasalahan Rhutubatu al-Farji ( Keputihan yang keluar dari kemaluan) terdapat dua kemungkinan, yang pertama, keputihan hukumnya najis karena berada di kemaluan yang bukan unsur terciptanya seorang anak, seperti madzi. Yang kedua, keputihan hukumnya suci, karena Aisyah pernah mengerik air mani dari baju Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bekas hubungan suami istri, karena tidak ada seorang nabi pun yang mengalami mimpi basah. Sehingga disimpulkan bahwa air mani tersebut bercampur Rhutubatu al-Farji (keputihan yang keluar dari kemaluan). Jika kita menghukumi keputihan sebagai cairan najis, seharusnya kita juga berpendapat najisnya air mani wanita, karena keluar dari kemaluannya, sehingga menjadi najis ketika bercampur dengan keputihan  yang ada di dalamnya. Adapun al-Qadhi Abu Ya’la berpendapat, apa-apa yang terkena cairan basah dari kemaluan ketika hubungan suami istri hukumnya najis, karena tidak lepas dari madzi, sedangkan madzi hukumnya najis. Pendapat seperti itu tidak benar. Karena syahwat ketika memuncak, akan keluar air mani tanpa disertai keluarnya air madzi, seperti ketika seseorang bermimpi basah.”

Kesimpulan dari dalil-dalil pendapat kedua sebagai berikut :

Pertama : Pada dasarnya segala sesuatu itu suci, sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa hal itu najis.

Kedua : Keputihan adalah sesuatu yang sering dialami kaum wanita, jika hal itu dianggap najis, maka akan menyusahkan mereka. Ini sesuai dengan Kaidah Fiqh : المشقة تجلب التيسير  ( Kepayahan itu menyebabkan adanya kemudahan)

Ketiga : Keputihan banyak menimpa kaum wanita, tetapi tidak ada satu riwayatpun dari hadits yang menjelaskannya. Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat pada zaman nabi tidak menganggap keputihan ini adalah sesuatu yang perlu dirisaukan dan tidak pula menganggapnya najis.

Keempat : Keputihan ini seperti keringat yang keluar dari kulit, sehingga hukumnya suci.

Kelima : Keputihan hukumnya seperti air mani, sedangkan air mani hukumnya suci, karena Aisyah pernah mengerik air mani dari baju Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bekas hubungan suami istri, padahal air mani tersebut telah bercampur dengan keputihan. Ini menunjukkan bahwa keputihan hukumnya suci.

Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa keputihan hukumnya suci, sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Wallahu A’lam

Apakah Keputihan Membatalkan Wudhu ?

Para ulama yang berpendapat sucinya keputihan, ternyata berbeda pendapat apakah keputihan membatalkan wudhu atau tidak ?

Pendapat Pertama, bahwa keputihan membatalkan wudhu. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, termasuk Ibnu Taimiyah di dalam Majmu al-Fatawa ( 21/221) . Mereka beralasan bahwa keputihan  seperti angin yang keluar dari dubur, walaupun tidak najis tetapi tetap membatalkan wudhu. Alasan lain, bahwa setiap yang keluar dari salah satu dua lubang, maka membatalkan wudhu.

Jika keputihan ini keluar terus menerus, maka dihukumi seperti darah istihadhah atau seperti penderita keluarnya air kencing terus menerus. Bagi wanita yang keadaannya seperti ini, maka dianjurkan berwudhu ketika sudah memasuki waktu sholat. ( lihat juga Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin : 1/284)

Pendapat Kedua, bahwa keputihan tidak membatalkan wudhu. Ini pendapat Ibnu Hazm dan salah satu pendapat Ibnu Taimiyah dalam Ikhtiyarat (hal.27). Alasannya bahwa tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa keputihan membatalkan wudhu.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat mayoritas ulama bahwa hukum keputihan menurut islam suci, tetapi jika terasa keluar, maka hal itu membatalkan wudhu. Wallahu A’lam.

Hukum Ta’ziyah dan Mensholatkan Pelacur, Gay dan Lesbian

Para Pelacur, Gay dan Lesbian termasuk dalam katagori Fasik. Dan fasik secara bahasa berasal dari ‘fasaqa ‘ yang artinya keluar. Orang Arab menyebutkan : “ Fasaqa ar-Rutabu “ (Kurma basah yang terkelupas dari kulitnya ). Maka Orang Fasik adalah seorang muslim yang banyak meninggalkan ( keluar ) dari ajaran-ajaran Islam dengan melakukan dosa- dosa besar, seperti berzina, mencuri, membunuh orang tanpa hak, minum khamr dan perbuatan sejenis. Atau yang melakukan dosa-dosa kecil yang sangat banyak dan secara terus menerus. ( ar-Raghib al-Ashfahani(W.502 H), al-Mufradat fi Gharibi al-Qur’an, hlm.380 ) 

Salah satu ayat al-Qur’an yang menyebutkan lafadh fasik yang berarti “keluar” adalah firman Allah :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

 

“ Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia keluar (durhaka )dari perintah Tuhannya.  Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim.( Qs. al-Kahfi : 50)

 

Mayoritas ulama mengatakan bahwa ta’ziyah disunnahkan untuk orang yang meninggal dunia dalam keadaan fasik dan bermaksiat. Sebagian kecil dari ulama asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa ta’ziyah untuk orang fasik hukumnya makruh. ( Nihayatu al-Muhtaj : 3/13, Hasyiatu al-Qalyubi :1/432)

Adapun dalil disunnahkan ta’ziyah untuk mereka adalah sebagai berikut :

Pertama : Keumuman hadist-hadist yang menunjukkan anjuran dan keutamaan ta’ziyah  untuk kaum muslimin yang terkena musibah secara umum. Dan belum ada dalil yang membatasi ta’ziyah khusus orang-orang yang taat saja.

Kedua : orang yang fasik ahli maksiat termasuk dalam katagori muslim selama tidak melakukan hal-hal yang menyebabkannya keluar dari Islam. Diantara dalilnya adalah firman Allah :

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

“ Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.’ (Qs.al-Hujurat: 9)

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya ( 7/374 ) :

 فسماهم مؤمنين مع الاقتتال. وبهذا استدل البخاري وغيره على أنه لا يخرج من الإيمان بالمعصية وإن عظمت، لا كما يقوله الخوارج ومن تابعهم من المعتزلة ونحوهم

“ Mereka masih disebut orang-orang beriman walaupun saling berperang. Dengan ayat ini, al-Bukhari dan lainnya berdalil bahwa seseorang tidak keluar dari keimanan dengan maksiat walaupun berupa dosa besar, tidak seperti yang dikatakan oleh al-Khawarij dan pengikutnya seperti al-Mu’tazilah dan sejenisnya. “

Begitu juga firman Allah :

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ

 

“  Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).” (Qs. al-Baqarah : 178)

 

Ayat di atas menunjukkan bahwa seorang muslim yang dengan sengaja membunuh  orang muslim lainnya masih disebut saudara, yaitu saudara seiman. Ini menunjukkan bahwa dosa besar tidak mengeluarkan seseorang dari keimanan.

 

Berkata Syekh Abdul Aziz bin Baz di dalam Majmu’ Fatawanya : “ Tidak apa-apa, bahkan dianjurkan untuk berta’ziyah, walaupun yang mati adalah  pelaku maksiat seperti bunuh diri atau yang lainnya. Begitu juga dianjurkan berta’ziyah kepada keluarga yang salah satu anggotanya dihukum qishas karena membunuh orang lain, atau dirajam sampai mati karena berzina padahal dia sudah menikah, begitu juga peminum khamer yang mati karenanya. Maka tidak dilarang untuk berta’ziyah kepada keluarganya, dan tidak dilarang pula  mendo’akannya untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah. “

 

Hukum Mensholatkan Orang Fasik

 

Boleh mensholatkan orang fasik atau ahli maksiat yang meninggal dunia, karena dia masih dianggap muslim. Diantara dalilnya adalah hadist Zaid bin Khalid al-Juhani  radhiyallahu ‘anhu :

 

 أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تُوُفِّىَ يَوْمَ خَيْبَرَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ ». فَتَغَيَّرَتْ وُجُوهُ النَّاسِ لِذَلِكَ فَقَالَ « إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ». فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ لاَ يُسَاوِى دِرْهَمَيْنِ.

                “ Bahwa seorang laki-laki dari sahabat nabi meninggal dunia dalam perang Khibar. Maka mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliaupun bersabda :“Sholatkanlah teman kalian.” Maka wajah para sahabat berubah(merasa aneh) dengan pernyataan tersebut. Maka beliaupun bersabda :“Sesungguhnya sahabat kalian telah melakukan kecurangan di jalan Allah.” Kemudian kami periksa barangnya, maka kami dapatkan dompet miliknya orang Yahudi yang harganya tidak sampai dua dirham.“(HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Berkata Syu’aib al-Arnauth : Ini hadist shahih )

Hadist di atas menunjukkan kebolehan mensholatkan orang yang berbuat curang (mengambil ghanimah sebelum dibagi) dalam perang. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam memilih untuk tidak mensholatkannya sebagai bentuk teguran kepadanya dan kepada siapa saja yang berbuat seperti perbuatannya.

Ibnu Abdil Bar al-Maliki di dalam al-Istidzkar(5/85) berkata : “ Hadist di atas merupakan dalil bahwa imam dan para pemimpin agama tidak menshalatkan pelaku dosa. Akan tetapi tidak boleh juga melarang shalat jenazah terhadapnya. Bahkan dia harus menyuruh orang lain. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alihi wa sallam : ‘Shalatkanlah teman kalian.”

 

Ini dikuatkan dengan hadist Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu :

 أُتِيَ اَلنَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ, فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ

 

“ Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam didatangkan kepadanya seorang laki-laki yang bunuh diri dengan anak panah, maka beliau tidak mensholatkannya.” ( HR. Muslim )

Selain orang fasik dan ahli maksiat, beliau juga tidak mau mensholatkan orang yang mempunyai utang dan belum melunasinya sampai meninggal dunia, sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

 

أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ اَلْمُتَوَفَّى عَلَيْهِ اَلدَّيْنُ, فَيَسْأَلُ: ” هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ مِنْ قَضَاءٍ? ” فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ وَفَاءً صَلَّى عَلَيْهِ, وَإِلَّا قَالَ: ” صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ ” فَلَمَّا فَتَحَ اَللَّهُ عَلَيْهِ اَلْفُتُوحَ قَالَ: ” أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ, فَمَنْ تُوُفِّيَ, وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ

“ Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam suatu ketika dihadirkan kepadanya seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan punya utang. Maka ditanyakan:“ Apakah meninggalkan sesuatu untuk membayar utangnya ?“ Jika dijawab bahwa ada yang ditinggalkan untuk membayarnya, maka beliau mensholatkannya, jika tidak, maka beliau bersabda:“ Sholatlah kalian untuk saudara kalian ini.“ Ketika terjadi pembukaan kota-kota, beliau bersabda : “ Saya lebih berhak ( untuk membantu ) kaum muslimin daripada mereka sendiri, maka barang siapa yang meninggal dunia dan mempunyai utang, maka saya yang bertanggung jawab untuk membayarnya.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Akan tetapi jika orang fasik atau pelaku tersebut sudah bertaubat dan dihukum oleh pemerintah Islam, maka beliaupun ikut mensholatkannya. Seperti dalam hadist  Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu :

 

أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ جَاءَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاعْتَرَفَ بِالزِّنَا فَأَعْرَضَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ قَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِكَ جُنُونٌ قَالَ لَا قَالَ آحْصَنْتَ قَالَ نَعَمْ فَأَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا أَذْلَقَتْهُ الْحِجَارَةُ فَرَّ فَأُدْرِكَ فَرُجِمَ حَتَّى مَاتَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرًا وَصَلَّى عَلَيْهِ

“Bahwa seseorang yang berasal dari suku Aslam datang kepada nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan mengaku telah berbuat zina, nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak menanggapinya, sehingga dia bersaksi kepada dirinya empat kali, maka nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya kepadanya : “ Apakah anda sudah gila ?” Dia menjawab :“Tidak”, Nabi bertanya : “Apakah anda sudah menikah “? Dia menjawab :‘Ya‘, maka beliaupun memerintahkan agar orang tersebut dirajam di musholla (tempat lapang), ketika batu-batu menimpanya, diapun lari, dan berhasil ditangkap lagi dan dirajam sampai mati. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berkata tentangnya dengan sesuatu yang baik dan mensholatkan jenazahnya.“ ( HR. Bukhari, 6820)

Memang ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak mensholatkannya, tetapi Imam Ahmad ketika ditanya masalah ini, beliau mengatakan :

 

لا يعلم أن النبي – صلى الله عليه وسلم – ترك الصلاة على أحد إلا على الغال وقاتل نفسه.

“ Tidak diketahui bahwa nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak mau mensholatkan jenazah sahabatnya kecuali orang yang mencuri harta rampasan perang dan yang melakukan bunuh diri. (al-Hasan ash-Shan’ani( 1276H), Fathu al-Ghaffar, 2/721)

 

Hal ini dikuatkan dengan hadist Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu :

 

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهِىَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَىَّ فَدَعَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلِيَّهَا فَقَالَ « أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَائْتِنِى بِهَا ». فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّى عَلَيْهَا يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ « لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى

 “ Bahwa seorang wanita dari Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan hamil karena zina. Wanita itu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Rasulullah, aku telah melanggar sesuatu yang menyebabkan hukuman rajam, maka tegakkanlah hukuman tersebut atas diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil wali wanita tersebut, lalu beliau berkatanya : “Berbuat baiklah pada wanita ini dan apabila ia telah melahirkan, maka bawalah dia kepadaku.”Maka diapun melaksanakan perintah tersebut. Setelah itu beliau memerintahkan agar wanita diikat pakaiannya dengan erat dan dilaksanakan hukuman rajam. Kemudian beliaupun mensholatkannya. Saat itu Umar berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau mensholatkannya wahai Nabi Allah, padahal dia telah berbuat zina?” Beliau bersabda, “Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang jika taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapati taubat yang lebih baik dari seseorang mengorbankan jiwanya karena Allah Ta’ala?”  (HR. Muslim)

Hukum Mentalqin Mayit Setelah Dikubur

Para ulama sepakat bahwa mentalqin orang yang mau meninggal dunia hukumnya sunnah, berdasarkan hadist  Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ

“ Talqinkan orang yang mau mati dengan La Ilaha illa Allah “ ( HR. Muslim, 916 )

 

Tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukum mentalqin mayit setelah dikubur :

Pendapat Pertama : Mentalqin mayit setelah dikubur hukumnya dianjurkan. Ini adalah riwayat dari Abu Hanifah dan Malik,  dan pendapat Ibnu al-Arabi dan al-Qurthubi dari madzhab Maliki, sebagian dari asy-Syafi’iyah, dan sebagian besar dari al-Hanabilah. Adapun dalil-dalil mereka adalah :

Pertama : Atsar dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu bahwa dia pernah berkata :

إِذَا أَنَا مُتُّ، فَاصْنَعُوا بِي كَمَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نصْنَعَ بِمَوْتَانَا، أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:”إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ، فَسَوَّيْتُمِ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ، فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلا يُجِيبُ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْتَوِي قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانَ بن فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَقُولُ: أَرْشِدْنَا رَحِمَكَ اللَّهُ، وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ، فَلْيَقُلْ: اذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا، فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ وَاحِدٌ مِنْهُمْا بِيَدِ صَاحِبِهِ، وَيَقُولُ: انْطَلِقْ بنا مَا نَقْعُدُ عِنْدَ مَنْ قَدْ لُقِّنَ حُجَّتَهُ، فَيَكُونُ اللَّهُ حَجِيجَهُ دُونَهُمَا”، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ؟ قَالَ:”فَيَنْسُبُهُ إِلَى حَوَّاءَ، يَا فُلانَ بن حَوَّاءَ”

“Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kami lakukan pada orang yang meninggal dunia. Beliau bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu sudah kalian ratakan kuburannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian berdiri pada sisi kepala kubur, lalu hendaklah dia berkata : Wahai Fulan anaknya Fulanah, karena dia akan mendengarnya meskipun tidak bisa menjawab. Kemudian katakan : Wahai Fulan bin Fulanah, maka dia akan duduk sempurna. Kemudian katakan Wahai Fulan anaknya Fulanah, maka dia akan berkata : “Berilah aku petunjuk, semoga Allah merohmati kalian.” Lalu hendaklah dia katakan : “Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia ini yaitu syahadat bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Allah dan Muhammad adalah seorang hamba dan utusan Nya, dan engkau ridla Allah sebagai Rabbmu, Islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai nabimu, al-Qur’an sebagai imammu. Karena salah seorang dari malaikat Munkar dan Nakir akan mengambil tangan yang lainnya seraya berkata : Pergilah, tidak usah duduk pada orang yang sudah di talqinkan hujjahnya.” Dengan ini semua maka Allah akan menjadi hujjahnya dalam menghadapi keduanya.” Lalu ada salah seorang yang bertanya : “Wahai Rasulullah, Bagaimana kalau tidak diketahui nama ibunya ? maka Rasulullah bersabda : “Nasabkanlah kepada Hawa’ , katakan Fulan bin Hawa.” ( HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, 7995 )

          Berkata Ibnu Hajar al-Atsqalani ( W.852 H)  di dalam at-Talkhis al-Habir ( 2/311) : “ Isnadnya bagus dan dikuatkan oleh adh-Dhiya’ di dalam al-Ahkam “ Berkata Ibnu al-Mulqin (W.804 H) di dalam al-Badru al-Munir (5/334) : “ Isnadnya saya tidak tahu cacatnya.”

          Kedua : Hadist Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata :

أنَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ وَقَالَ: “اِسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ, فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ”

 “ Bahwasanya Rasulullah jika telah selesai menguburkan mayit, maka beliau berdiri padanya dan bersabda : “ Mohonlah ampun untuk saudara kalian, dan mohonlah kemantapan baginya, karena dia sekarang ditanya.” (HR. Abu Daud, 3221 dan al-Baihaqi.  Berkata Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/370) : Sanadnya shahih, dan disepakatai oleh adz-Dzahabi)

Ketiga : Atsar Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata :

إذَا دَفَنْتُمُونِي أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا يُنْحَرُ جَزُورٍ وَيُقَسَّمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ، وَأَعْلَمَ مَاذَا أُرَاجِعُ رُسُلَ رَبِّي .

“ Jika kalian sudah menguburkanku dan kalian telah menutupku dengan tanah, maka berdirilah kalian di sekitar kuburku selama waktu menyembelih kambing dan membagi-bagikan dagingnya, hingga aku merasa tenang dengan keberadaan kalian, dan aku mengetahui, apa yang harus aku jawab di hadapan uusan Allah (Para Malaikat-Nya ). ( AR. Muslim )

 

Keempat : Apa yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dari Rasyid bin Sa’ad dan Dhamrah bin Habib dan selain keduanya, bahwa mereka berkata :

 إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ  كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُقَالَ لِلْمَيِّتِ عِنْدَ قَبْرِهِ: يَا فُلَانُ قُلْ: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ قُلْ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ  ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قُلْ: رَبِّي اللَّهُ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ، وَنَبِيِّ مُحَمَّدٌ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ،

          “ Jika kuburan seorang mayit sudah ditutup dengan tanah, dan manusia sudah meninggalkannya, mereka menganjurkan agar dikatakan kepada si mayit : “ wahai fulan katakanlah (saya bersaksi tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah) 3 x, dan katakanlah (Rabbku adalah Allah, agamaku adalah Islam, nabiku adalah Muhammad) kemudian barulah dia pergi. “

Kelima : Berkata Syekh al-Abdari al-Maliki ( W. 897 H) di dalam at-Taj wa al-Iklil (2/238)  : Berkata Ibnu al-Arabi di dalam al-Masalik : “ Jika seorang mayit dimasukkan ke dalam kuburan, maka dianjurkan untuk ditalqinkan waktu itu. Ini adalah perbuatan para sholihin yang terpilih dari penduduk Madinah, karena hal itu sesuai dengan firman Allah (“Dan berilah peringatan, karena  sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”) Dan seorang hamba sangatlah membutuhkan untuk diingatkan tentang Allah ketika ditanya oleh Para Malaikat. “

          Keenam : Berkata Imam al-Qurthubi di dalam at-Tadzkiratu bi Ahwali al-Mauta wa Umuri al-Akhirati (1/110): (Bab Tentang Manusia Setelah Kematiannya ) beliau menyebutkan bahwa hal ini sudah diamalkan di Qordova, yaitu mentalqin mayit. Dan beliau menukil pendapat gurunya Abu al-Abbas al-Quthubi tentang kebolehan mentalqin mayit, yaitu perkataannya : “ Seyogyanya seorang mayit dibimbing ketika sudah dimasukan dalam kuburannya dan diingatkan : Katakanlah bahwa Allah adalah Rabb-ku )

          Ketujuh : Berkata Imam an-Nawawi di dalam al-Majmu’ ( 5/267) :

فَهَذَا الْحَدِيثُ وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا فَيُسْتَأْنَسُ بِهِ وَقَدْ اتَّفَقَ عُلَمَاءُ الْمُحَدِّثِينَ وَغَيْرُهُمْ عَلَى الْمُسَامَحَةِ فِي أَحَادِيثِ الْفَضَائِلِ وَالتَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ وَقَدْ اُعْتُضِدَ بِشَوَاهِدَ مِنْ الْأَحَادِيثِ كَحَدِيثِ ” وَاسْأَلُوا لَهُ الثبيت ” وَوَصِيَّةِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَهُمَا صَحِيحَانِ سَبَقَ بَيَانُهُمَا قَرِيبًا وَلَمْ يَزَلْ أَهْلُ الشَّامِ عَلَى الْعَمَلِ بِهَذَا فِي زَمَنِ مَنْ يُقْتَدَى بِهِ وَإِلَى الآن

“ Hadist ini ( Abu Umamah ) walaupun dhaif, tetapi bisa dijadikan dalil permulaan. Dan para ulama hadits dan yang lainnya telah sepakat bahwa boleh toleran ( di dalam penggunaan hadist dhaif) dalam masalah keutamaan, motivasi dan peringatan. Apalagi dikuatkan dengan hadist-hadits lain seperti hadist memohon untuknya  keteguhan, begitu juga wasiat Amru bin Ash, keduanya adalah hadits shahih, yang sudah diterangkan sebelumnya. Begitu juga penduduk Syam telah mengamalkan ( talqin) ini pada zaman di mana orang-orangnya bisa dijadikan teladan dan itu sampai sekarang. “

 

Pendapat Kedua : Mentalqin mayit setelah dikubur hukumnya boleh.  Ini riwayat dari Abu Hanifah dan sebagian dari Hanabilah. Berkata Ibnu Taimiyah  dalam Majmu’al-Fatawa ( 24/296) dan al-Fatawa al-Kubra (3/25) :

 

 

هذا التلقين المذكور قد نقل عن طائفة من الصحابة: أنهم أمروا به, كأبي أمامة الباهلي وغيره, وروي فيه حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم لكنه مما لا يحكم بصحته; ولم يكن كثير من الصحابة يفعل ذلك, فلهذا قال الإمام أحمد وغيره من العلماء: إن هذا التلقين لا بأس به، فرخصوا فيه ولم يأمروا به.

“ Talqin yang disebut di atas telah dinukil dari sebagian sahabat dan mereka menyuruhnya, seperti Abu Umamah al-Bahili dan yang lainnya, dalam masalah ini terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi tidak shahih, begitu juga sebagian besar sahabat tidak melakukannya. Makanya Imam Ahmad dan ulama lainnya menyatakan bahwa talqin semacam ini tidak apa-apa. Mereka membolehkannya tetapi tidak memerintahkannya. “

 

Pendapat Ketiga : Mentalqin mayit setelah dikubur hukumnya Bid’ah. Berkata al-Izz Ibnu Abdussalam di dalam al-Fatawa (hlm. 71) : “ Tidak ada hadits shahih dalam masalah talqin, maka hukumnya bid’ah.” Berkata ash-Shon’ani di dalam Subulus Salam (2/113-114 ) :“ Kesimpulan dari perkataan para imam yang mentahqiq ( masalah ini ) bahwa hadist tentang talqin adalah dhaif, dan mengamalkannya adalah bid’ah,  dan jangan terpengaruh dengan banyaknya orang yang mengamalkannya. “

 

Mereka beralasan bahwa hadist Abu Umamah di atas adalah hadist dhaif, sebagaimana yang disebutkan oleh ulama hadits, diantaranya adalah Ibnu Qayyim di dalam Tahdzib Sunan Abu Daud ( 2/454) dan Zadu al-Ma’ad (1/523), al-Haitsami di dalam Majma’ az-Zawaid (3/ 45) ,  Ibnu Sholah di dalam al-Adzkar( h.174), al-Iraqi di dalam Takhrij Ahadits al-Ihya’ ( 4/420) dan yang lainnya.

Kesimpulan :

Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa bahwa perbedaan ulama dalam masalah talqin mayit sesudah dikuburkan disebabkan beberapa hal :

Pertama : Perbedaaan di dalam menghukumi hadist Abu Umamah di atas, sebagian menshahihkannya, seperti Ibnu Hajar, Ibnu Mulqin  dan adh-Dhiya’. Sebagian lain mendhaifkannya, seperti al-Haitsami, Ibnu Qayim, dan Ibnu Sholah.

Kedua : Perbedaan apakah hadits dhaif boleh diamalkan dalam keutamaan amal dan motivasi atau tidak . Sebagaimana Imam an-Nawawi yang mendhaifkan hadits tetapi membolehkan untuk dipakai dalam masalah talqin. Sedangkan ulama lain tidak membolehkannya.

Ketiga : Perbedaan di dalam menyikapi kebiasaan masyarakat dahulu yang tidak diingkari oleh para ulama, seperti kebiasaan penduduk Madinah, Syam dan Qordava, dan apakah bisa dijadikan dalil untuk mengamalkannya sekarang, walaupun kebiasaan tersebut berdasarkan hadits dhaif.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa mentalqin mayit setelah dikubur sebaiknya kita tinggalkan, karena banyak ulama hadits yang mendhaifkan hadits tersebut dan agar kita berada pada posisi yang aman. Walaupun begitu, kita tetap menghormati pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa talqin mayit setelah dikubur hukumnya mustahab (dianjurkan). Wallahu A’lam.