Ibunda Para Ulama

Orang-orang hebat tak pernah jauh dari rahim yang taat. Maka sungguh benar makna syair di atas. Bahwa seorang ibu yang taat, shalihah, akan mencetak sebuah bangsa, yang nantinya akan membentuk sebuah peradaban luhur. Dan itu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, yang dapat dilakukan sesaat saja. Ta’dib, pendidikan, adalah perpaduan dari kesabaran panjang, perjuangan berat, kesungguhan tak kenal lelah, dan doa yang tak pernah putus menggetarkan langit.

Mari berkenalan dengan mereka, para ibunda shalihat, yang dari rahim mereka, lahirlah para ulama Islam. Sejarah menuangkan tinta emasnya mengabadikan keharuman nama mereka, yang telah berhasil mencetak sebuah bangsa, membentuk peradaban dengan ilmu dan pekerti yang luhur.

Ibunda Imam Malik

Beliau lah yang memakaikan baju bagus kepada putranya, Malik, memakaikan ‘imamah (penutup kepala yang lazim di Arab), lalu memotivasi putranya, “Pergilahke Rabi’ah (Rabi’ah Ar-Ra’yi, guru Imam Malik), bergurulah kepadanya, ambillah adabnya sebelum ilmunya!”

Adab sebelum ilmu. Masya Allah! Betapa beliau faham, bahwa ilmu tidak berarti apa-apa tanpa adab yang baik.

Dan adab ini betul-betul ter-shibghah dalam diri Imam Malik. Kelak, beliau sangat menghormati ilmu, memuliakan haditshadits Rasulullah ﷺ, dengan memakai pakaian bagus dan memakai wewangian setiap kali hendak mengajar.

Imam Malik juga pernah menegur murid-muridnya saat ada yang meninggikan suara di majlis beliau. Beliau menganggap bahwa itu sama seperti meninggikan suara di hadapan Rasul. Padahal Allah melarang para shahabat untuk meninggikan suara di hadapan Rasul.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٢﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.”  (QS. Al-Hujurat: 2)

Kelak, Imam Malik akan menjadi Imam Dar Al-Hijrah (Imamnya kota Madinah). Penulis kitab hadits Al-Muwaththo’, kitab yang menjadi dasar utama dan inti dari kitab-kitab hadits berikutnya.

Ibunda Imam Sufyan Ats-Tsauri

“Anakku, tuntutlah ilmu. Dan ibu akan mencukupimu dengan hasil memintal.” Itulah ucapan Ibunda Sufyan Ats-Tsauri saat putranya ragu.

Ingin menuntut ilmu, namun keyatiman dan kemiskinan menjadi kendala. Wasiat beliau kepada putranya, “Anakku, jika kamu menulis 10 huruf, lihatlah apakah hatimu bertambah khusyu’, lembut dan elok? Jika kamu tidak mendapatkannya, ketahuilah bahwa ilmu itu akan membahayakanmu, dan tidak membawa manfaat bagimu.”

Ilmu yang bermanfaat, itulah yang ditekankan oleh beliau. Ilmu yang menjadikan seseorang semakin dekat dengan Rabb-nya, hati bertambah takut, dan iman serta taqwa yang meningkat. Beliau juga yakin, bahwa Allah akan mencukupi hamba-Nya yang bersungguhsungguh karena-Nya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Kelak, putranya akan menjadi Amirul Mukminin fil Hadits (pemimpin kaum mukmin dalam hadits).

Ibunda Imam Asy-Syafi’i

Asy-Syafi’i kecil lahir di Gaza, Palestina. Yatim, miskin. Usia 2 tahun, sang ibunda membawanya ke Makkah, kampung halaman keluarga ayah.

Keyatiman, kemiskinan bukanlah suatu penghalang dari seseorang menjadi mulia dengan ilmu. Beliau yakin akan hal ini. Dalam asuhan sang ibunda, Asy-Syafi’i hafal Qur’an usia 7 tahun. Hafal kitab AlMuwaththo’ karya Imam Malik (gurunya) usia 13 tahun.

Kelak, Asy-Syafi’i menjadi salah satu Imam Madzhab yang diikuti. Beliau diberi gelar Nashir Al-Haq Wa As-Sunnah (penolong kebenaran dan sunnah Nabi). Penulis 140 kitab.

Madzhabnya menjadi rujukan muslimin hingga kini. Bahkan, madzhab beliau dipakai oleh sebagian besar dari kita, muslimin Indonesia.

Ibunda Imam Al-Bukhari

Al-Bukhari lahir di Bukhara, Samarkand. Anak kecil yatim yang pernah buta. Sang ibunda tak pernah putus mendoakannya di sepertiga malam. Hingga suatu malam, sang ibunda berjumpa dengan Nabi Ibrahim as dalam tidurnya, “Wahai ibu, sungguh Allah telah mengembalikan kedua mata putramu karena kamu sering berdoa kepada-Nya.” Keesokan harinya, penglihatan Al-Bukhari benar-benar telah kembali.

Bahagia dengan kembalinya penglihatan putranya, sang ibunda mewakafkan hidup putranya untuk ilmu. Usia 16 tahun, sang ibunda mengajaknya umrah ke Makkah bersama saudaranya. Seusai umrah, Al-Bukhari menetap di Makkah untuk menuntut ilmu. Sementara ibundanya kembali pulang bersama saudaranya.

Kelak, Al-Bukhari menjadi Syaikh AlMuhadditsin (gurunya para ahli hadits). Kitab beliau, Shahih Al-Bukhari, menjadi kitab rujukan paling shahih setelah Al-Quran.

Sungguh, doa seorang ibu untuk kebaikan dan keshalihan putra-putrinya adalah kendaraan terbaik bagi mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Jimat keramat yang menjaga mereka sepanjang hidup.

Karena seyakin apapun kita terhadap upaya kita, kita tetap tidak sanggup menggenggam hidup kita sendiri. Lebih-lebih kehidupan anak-anak kita, cucu kita dan keturunan kita selanjutnya. Maka kepada Allah lah kita sungkurkan kening, mengakui kehinaan diri dan memohon penjagaan-Nya dengan penuh harap. Allah sebaik-baik penjaga, sebaik-baik pelindung hamba-Nya. Allahu a’lam

Oleh: Redaksi/Keluarga

Khutbah Jumat: Bekal Hidup Setelah Mati

الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ، فهدى القلبَ الحائرَ إلى طريقِ أولي البصائرِ، وأشهدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبينا محمداً عبدُ اللهِ ورسولُه، أنقى العالمينَ سريرةً وأزكاهم سيرةً، (وعلى آله وصحبِه ومَنْ سارَ على هديهِ إلى يومِ الدينِ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Marilah senantiasa kita panjatkan syukur kepada Allah atas setiap nikmat yang dikaruniakan kepada kita. Syukur secara lisan dengan mengucapkan Alhamdulillah dan menyebut-nyebut bahwa nikmat tersebut dari Allah, maupun secara amal. Dengan cara menggunakan seluruh karunia Allah untuk kebaikan dan menjalankan syariatnya sebaik-baiknya. Bukan untuk melanggar larangan-Nya. Itulah hakikat syukur yang sempurna.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, juga kepada keluarga, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunah beliau.

Selanjutnya marilah kita tingkatkan ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah. Karena takwalah yang menentukan mulianya seseorang dihadapan Allah. Adapun kedudukan, jabatan, kesuksesan, keturunan dan kecerdasan tidak akan bernilai jika tidak diiringi dengan ketakwaan. Takwa adalah berhati-hati dalam menjalankan kehidupan agar jangan sampai menginjak ranjau setan. Bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban dan meningkatkan kewaspadaan pada hal-hal yang diharamkan.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa mengingat dan meneliti kembali bekal yang kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian. Manfaat besar akan kita dapatkan jika kita melihat sisi kurang perbekalan yang mesti kita siapkan. Karena ini akan memacu kita untuk menutup kekurangan dan memperbanyak amal ketaatan. Tapi jika kita ujub, merasa telah mencapai derajat tertentu dalam keimanan, merasa telah memiliki banyak tabungan kebaikan, hal ini akan membuat kita terpedaya.

 

Jamaah shalat jumat Rahimakumullah,

Imam Syafi’i memberikan tips supaya kita tidak cepat berbangga dengan amal yang telah kita tunaikan atau dosa yang mampu kita tinggalkan. Beliau berkata, “Jika kamu khawatir terjangkiti ujub, maka ingatlah tiga hal; ridha siapa yang kamu cari, kenikmatan manakah yang kamu cari, dan dari bahaya manakah kamu hendak lari. Maka barang siapa merenungkan tiga hal tersebut, niscaya dia akan memandang remeh apa yang telah dicapainya.”

 

Jamaah shalat jumat Rahimakumullah,

Mari kita jawab tiga pertanyaan tersebut, lalu kita selami kedalaman makna dari nasihat tersebut.

Pertama, ridha siapa yang kamu cari? Tentu jawaban idealnya adalah ridha Allah, tapi  bagaimana penerapannya? Kita lihat apa yang kita lakukan setiap hari. Adakah setiap langkah, gerak-gerik, diam dan bicara, terpejam dan terjaganya mata kita selalu demi meraih ridha-Nya? Bahkan kegigihan dan pengorbanan manusia untuk mendapatkan ridha atasan, kekasih, atau untuk mendapat kewibawaan di kalangan masyarakat seringkali lebih hebat dari usahanya untuk menggapai ridha Allah.

Kedua, Kenikmatan manakah yang kamu cari? Tentu kita akan menjawab, “kenikmatan jannah.” Sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّة

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jannah.” (HR. Abu Dawud)

Tapi, sudahkah layak usaha yang kita lakukan sehari-hari itu diganjar dengan pahala jannah yang penuh dengan kenikmatan? Berapa waktu yang kita pergunakan untuk beribadah kepada Allah bandingkan dengan keinginan kita untuk mendapatkan kenikmatan jannah.

Banyak orang rela bekerja 8 jam sehari untuk mendapatkan rumah mewah sepuluh atau belasan tahun kemudian. Tapi, adakah rumah itu lebih mewah dari rumah dijannah yang digambarkan oleh Nabi, “Batu-batanya dari emas dan batu-bata dari perak?” Manakah yang lebih luas, rumah dambaannya, ataukah rumah di jannah yang disebutkan oleh Rasulullah,

طُولُهَا سِتُّونَ مِيلاً

“Panjangnya sejauh 60 mil.” (HR. Muslim)

Kita bisa bayangkan berapa waktu yang mesti kita pergunakan setiap harinya agar kita mendapatkan rumah sebesar dan seindah itu? Barangsiapa merenungkan hal ini, niscaya akan menganggap bahwa amalnya belum seberapa. Belum sepadan antara usaha yang dilakukan dengan balasan yang dijanjikan oleh Allah bagi orang mukmin di jannah.

Ketiga, dari bahaya manakah kita hendak lari? Tentu kita akan menjawab, “Dari siksa api neraka”, sebagaimana hal ini juga menjadi permohonan yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah,

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّار

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” (HR. Abu Dawud)

Masalahnya, adakah perbuatan yang kita lakukan setiap harinya sudah mencerminkan kondisi orang yang menghindar dari bahaya neraka yang amat dahsyat? Ataukah keadaan kita seperti yang digambarkan oleh seorang ulama salaf ketika memperhatikan banyak orang terlelap di waktu malam tanpa shalat, “Aku heran dengan jannah, bagaimana manusia bisa tidur lelap sedangkan katanya ia sedang memburunya. Dan aku heran terhadap neraka, bagaimana bisa manusia tidur nyenyak, sementara ia mengaku tengah lari dari bahayanya?”

Mungkin kita pernah melihat orang yang takut ditimpa suatu penyakit, takut ditangkap aparat, takut di PHK dari suatu perusahaan, takut dirampok dan lain-lain. Merekapun bertindak ekstra hati-hati dan waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Padahal itu semua tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ancaman neraka.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Tidak diragukan lagi, jika kita memikirkan ketiga perkara di atas, kita akan merasa, betapa amal kita masih jauh dari sempurna, masih jauh dari yang semestinya. Sehingga kita tak layak untuk ujub dan berbangga. Selayaknya kita menghitung kembali perbekalan kita, meneliti agar tak satupun tercecer, dan kita memilah dan memilih, mana yang harus dibawa, dan mana pula yang harus ditinggal.

 

Jamaah shalat jumat Rahimakumullah,

Semangat untuk beramal adalah baik. Namun, setiap amal harus didahului dengan ilmu yang benar. Jika tidak, bisa jadi bekal yang dibawa keliru. Perumpamaan orang yang beramal tanpa didasari ilmu, ibarat seorang musafir yang membawa onggokan kerikil dalam perjalanan. Ia menyangkan beban berat yang ia bawa akan membantunya dalam perjalanannya, ternyata hanya menjadi beban yang memberatkan. Sebagaimana seseorang yang  melakukan banyak amal yang tidak dicontohkan oleh Nabi maupun diajarkan oleh syariat sementara ia mengira amal tersebut akan menambah pahala baginya. Allah mengabarkan nasib orang yang keliru membawa bekal di akhirat kelak,

“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya’.” (QS. Al Kahfi :104)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan ayat ini, “Ini adalah kondisi orang memiliki banyak amal, akan tetapi dia lakukan bukan untuk Allah atau tidak mengikuti sunnah Rasulullah.”

Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan tujuan dan tindakan. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kebaikan kepada kita dan menganugerahkan kekuatan untuk melaksanakannya. Dan Allah tunjukkan keburukan kepada kita serta kekuatan untuk menghindarinya.

 

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

   الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

  هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْنَ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْماً: (( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا )

   اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ :(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Oleh: Majalah ar-risalah