Ibunda Para Ulama

163

Orang-orang hebat tak pernah jauh dari rahim yang taat. Maka sungguh benar makna syair di atas. Bahwa seorang ibu yang taat, shalihah, akan mencetak sebuah bangsa, yang nantinya akan membentuk sebuah peradaban luhur. Dan itu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, yang dapat dilakukan sesaat saja. Ta’dib, pendidikan, adalah perpaduan dari kesabaran panjang, perjuangan berat, kesungguhan tak kenal lelah, dan doa yang tak pernah putus menggetarkan langit.

Mari berkenalan dengan mereka, para ibunda shalihat, yang dari rahim mereka, lahirlah para ulama Islam. Sejarah menuangkan tinta emasnya mengabadikan keharuman nama mereka, yang telah berhasil mencetak sebuah bangsa, membentuk peradaban dengan ilmu dan pekerti yang luhur.

Ibunda Imam Malik

Beliau lah yang memakaikan baju bagus kepada putranya, Malik, memakaikan ‘imamah (penutup kepala yang lazim di Arab), lalu memotivasi putranya, “Pergilahke Rabi’ah (Rabi’ah Ar-Ra’yi, guru Imam Malik), bergurulah kepadanya, ambillah adabnya sebelum ilmunya!”

Adab sebelum ilmu. Masya Allah! Betapa beliau faham, bahwa ilmu tidak berarti apa-apa tanpa adab yang baik.

Dan adab ini betul-betul ter-shibghah dalam diri Imam Malik. Kelak, beliau sangat menghormati ilmu, memuliakan haditshadits Rasulullah ﷺ, dengan memakai pakaian bagus dan memakai wewangian setiap kali hendak mengajar.

Imam Malik juga pernah menegur murid-muridnya saat ada yang meninggikan suara di majlis beliau. Beliau menganggap bahwa itu sama seperti meninggikan suara di hadapan Rasul. Padahal Allah melarang para shahabat untuk meninggikan suara di hadapan Rasul.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٢﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.”  (QS. Al-Hujurat: 2)

Kelak, Imam Malik akan menjadi Imam Dar Al-Hijrah (Imamnya kota Madinah). Penulis kitab hadits Al-Muwaththo’, kitab yang menjadi dasar utama dan inti dari kitab-kitab hadits berikutnya.

Ibunda Imam Sufyan Ats-Tsauri

“Anakku, tuntutlah ilmu. Dan ibu akan mencukupimu dengan hasil memintal.” Itulah ucapan Ibunda Sufyan Ats-Tsauri saat putranya ragu.

Ingin menuntut ilmu, namun keyatiman dan kemiskinan menjadi kendala. Wasiat beliau kepada putranya, “Anakku, jika kamu menulis 10 huruf, lihatlah apakah hatimu bertambah khusyu’, lembut dan elok? Jika kamu tidak mendapatkannya, ketahuilah bahwa ilmu itu akan membahayakanmu, dan tidak membawa manfaat bagimu.”

Ilmu yang bermanfaat, itulah yang ditekankan oleh beliau. Ilmu yang menjadikan seseorang semakin dekat dengan Rabb-nya, hati bertambah takut, dan iman serta taqwa yang meningkat. Beliau juga yakin, bahwa Allah akan mencukupi hamba-Nya yang bersungguhsungguh karena-Nya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Kelak, putranya akan menjadi Amirul Mukminin fil Hadits (pemimpin kaum mukmin dalam hadits).

Ibunda Imam Asy-Syafi’i

Asy-Syafi’i kecil lahir di Gaza, Palestina. Yatim, miskin. Usia 2 tahun, sang ibunda membawanya ke Makkah, kampung halaman keluarga ayah.

Keyatiman, kemiskinan bukanlah suatu penghalang dari seseorang menjadi mulia dengan ilmu. Beliau yakin akan hal ini. Dalam asuhan sang ibunda, Asy-Syafi’i hafal Qur’an usia 7 tahun. Hafal kitab AlMuwaththo’ karya Imam Malik (gurunya) usia 13 tahun.

Kelak, Asy-Syafi’i menjadi salah satu Imam Madzhab yang diikuti. Beliau diberi gelar Nashir Al-Haq Wa As-Sunnah (penolong kebenaran dan sunnah Nabi). Penulis 140 kitab.

Madzhabnya menjadi rujukan muslimin hingga kini. Bahkan, madzhab beliau dipakai oleh sebagian besar dari kita, muslimin Indonesia.

Ibunda Imam Al-Bukhari

Al-Bukhari lahir di Bukhara, Samarkand. Anak kecil yatim yang pernah buta. Sang ibunda tak pernah putus mendoakannya di sepertiga malam. Hingga suatu malam, sang ibunda berjumpa dengan Nabi Ibrahim as dalam tidurnya, “Wahai ibu, sungguh Allah telah mengembalikan kedua mata putramu karena kamu sering berdoa kepada-Nya.” Keesokan harinya, penglihatan Al-Bukhari benar-benar telah kembali.

Bahagia dengan kembalinya penglihatan putranya, sang ibunda mewakafkan hidup putranya untuk ilmu. Usia 16 tahun, sang ibunda mengajaknya umrah ke Makkah bersama saudaranya. Seusai umrah, Al-Bukhari menetap di Makkah untuk menuntut ilmu. Sementara ibundanya kembali pulang bersama saudaranya.

Kelak, Al-Bukhari menjadi Syaikh AlMuhadditsin (gurunya para ahli hadits). Kitab beliau, Shahih Al-Bukhari, menjadi kitab rujukan paling shahih setelah Al-Quran.

Sungguh, doa seorang ibu untuk kebaikan dan keshalihan putra-putrinya adalah kendaraan terbaik bagi mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Jimat keramat yang menjaga mereka sepanjang hidup.

Karena seyakin apapun kita terhadap upaya kita, kita tetap tidak sanggup menggenggam hidup kita sendiri. Lebih-lebih kehidupan anak-anak kita, cucu kita dan keturunan kita selanjutnya. Maka kepada Allah lah kita sungkurkan kening, mengakui kehinaan diri dan memohon penjagaan-Nya dengan penuh harap. Allah sebaik-baik penjaga, sebaik-baik pelindung hamba-Nya. Allahu a’lam

Oleh: Redaksi/Keluarga