Tidak Mau Tinggal dengan Mertua

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, saya menikah dan tinggal terpisah dengan rumah keluarga saya. Ada banyak masalah di antara istri dan ibu saya, sehingga mereka tidak bisa tinggal di satu rumah. Di satu sisi saya mencintai istri dan ingin agar dia bahagia, tapi di sisi lain saya ingin menjadi anak yang berbakti kepada orangtua.

Ustadz, orangtua saya meminta kami agar tinggal bersama mereka. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus mematuhi orang tua dan menceraikan istri jika dia tidak mau ikut tinggal bersama, atau saya harus lebih mengutamakan istri dan keluarga kecil saya?

Atas nasihat ustadz, saya sampaikan Jazakumullah khaira jazaa’.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang bingung

Di bumi Allah

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang dirahmati Allah, saya bisa memahami dilema yang sedang Anda alami atas dua keinginan sama-sama sulit. Di mana Anda berkeinginan kuat agar keduanya bisa berjalan beriringan dengan harmonis. Tetapi jika dua hal memang tidak bisa dipadukan, bukankah tidak bijaksana jika kita memaksakannya?

Dalam hal ini yang perlu Anda pahami pertama adalah wajibnya ketaatan dan pelayanan istri kepada suami adalah terhadap diri suami itu saja, bukan kepada keluarga besar suami. Sehingga jika Anda berkeinginan untuk membawa istri masuk ke dalam keluarga besar dan melayani mereka, Anda harus membicarakannya baik-baik sebelumnya. Hal ini agar istri menerimanya dengan ridha dan ikhlas sehingga mudah menjalankannya sebagai tambahan kebaikan baginya.

Namun di sisi lain, Anda juga harus memahami besarnya hak orang tua, terutama ibu atas diri Anda. Sehingga yang diperlukan adalah pembagian waktu yang baik, serta komunikasi yang sehat. Anda jelaskan kepada keduanya bahwa masing-masing memiliki hak atas diri Anda dan hal itu bukanlah untuk dipertentangkan.

Anda tidak bisa memaksa istri untuk tinggal bersama ibu Anda jika dia tidak ikhlas menerimanya. Namun hal itu hendaknya tidak menjadi penghalang untuk berbakti kepada ibu Anda. Carilah tempat yang tidak terlalu jauh sesuai kemampuan Anda agar tetap bisa mengunjungi dan berbakti kepada orang tua. Jangan menyerah untuk terus mengkomunikasikan pilihan Anda agar orangtua dan istri bisa mengerti dan ridha. Katakanlah bahwa hal itu justru demi kebaikan semua pihak.

Jangan lupa berdoa kepada Allah agar memberikan yang terbaik dan kemampuan untuk menyelesaikan maslah Anda dalam keridhaan-Nya.

Selamat mencoba dan sukses selalu.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Oleh: Triasmoro Kurniawan/Konsultasi Keluarga

Selalu Kena Marah Ibu Mertua, Bagaimana Solusinya?

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ustadz, saya punya masalah dengan ibu mertua. Beliau selalu marah-marah dan kurang terima dengan berbagai hal yang saya lakukan. Padahal, insyaallah, saya selalu berusaha menjalankan tugas dengan baik, karena saya anak desa yang terbiasa dengan urusan kerumahtanggaan. Beliau sering marah dan menyinggung perasaan saya. Sayangnya, tipikal suami saya pendiam dan sering mengalah dengan ibu. Padahal satu dua kali saya juga butuh pembelaannya, sebab beberapa hal menurut saya sangat menyinggung perasaan. Apa memang birrul walidain itu harus seperti itu, Ustadz? Kalau iya, mungkin kesabaran saya yang kurang. Atas masukannya saya ucapkan terima kasih.

Muslimah, Jogja

 

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ukhti yang shalihah, persoalan yang muncul antara mertua dengan menantu adalah masalah yang sangat lazim. Ketidakcocokannya bisa karena kurangnya komunikasi, pengetahuan keagamaan yang lemah, hingga soal perbedaan selera dalam berbagai hal. Meski tidak mudah, bukan berarti tidak bisa diselesaikan. Semoga Allah memudahkan urusan Ukhti.

Yang pertama, cobalah bersyukur kepada Allah atas kesempatan beramal shalih dengan ibu mertua. Sebuah kesempatan langka yang tidak semua menantu mendapatkannya. Anggaplah beliau sebagai ibu sendiri agar lebih mudah memahami sikap dan tindakannya. Termasuk perasaan terikat dengan putra kesayangan, yang lahir dari rahimnya, kini terbagi kecenderungannya dengan Ukhti sebagai isteri. Kelak, Ukhti akan mengerti, insyaallah.

Perbaikilah pola komunikasi dengan cara yang lemah lembut agar terbentuk saling pengertian. Hormati, muliakan, cintai, dan sayangi beliau dengan tulus. Insyaallah hal itu bisa melunakkan hatinya. Sering-seringlah meminta nasihat atas suatu masalah agar Ukhti bisa melihat sudut pandang beliau. Selain akan membuat Ukhti bertambah luas wawasan, hal itu juga bisa menjadi masukan bagi suami untuk bersikap jika ternyata pandangan beliau menyimpang dari ajaran agama islam. Bagaimanapun, beliau berasal dari zaman dan pola pendidikan yang berbeda.

Jangan lupa untuk mempelajari selera beliau tentang suatu hal. Sebab selera seseorang terhadap sesuatu, akan sangat berpengaruh terhadap penilaiannya. Jadi bukan hanya soal selesai dikerjakan, tapi juga tentang bentuk dan tampilannya.

Selain itu, ingatkanlah suami tentang tanggung jawabnya untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah terbebas dari campur tangan orang lain. Juga tentang kewajibannya untuk bersikap adil dengan timbangan syariat. Bisa menegur siapapun yang berbuat zhalim dan melanggar syariat dengan cara yang baik.

Dan kalau ternyata pilihannya adalah berpisah tempat tinggal, maka jangan lupakan silaturahmi dengan sering berkunjung. Syukur sambil membawa oleh-oleh. Juga jangan lupa mendoakan kebaikan bagi beliau secara khusus. Semoga bermanfaat!

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Oleh: Ust. Tri Asmoro/Konsultasi Keluarga

 

Baca Konsultasi Lainnya Juga: 

Pernah Dinodai Oleh Pacar dan Takut Memutusnya, Apa Solusinya?

Tidak Tahan dengan Kelakuan dan Penampilan Istri

Saya Rajin Beribadah, Tapi Jodoh tak Juga Kunjung Datang

 


Ingin berlangganan Majalah Islami tentang keluarga dan seluk-beluknya? Hubungi Keagenan Majalah ar-risalah terdekat di kota Anda, atau hubungi kami di nomer: 0852 2950 8085