majalah risalah.hati/teladan keluarga dalam al-quran

Berkeluarga adalah fitrah bagi manusia dan Keluarga adalah karunia Allah yang sangat agung. Allah berfirman,

وَاللّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.” (QS. An-Nahl: 72)

Di ayat lain Allah mengabarkan bahwa keluarga adalah dermaga ketenangan, kecintaan dan kasih sayang. kita pun demikian, akan merasa tenang dan penuh kasih sayang ketika bisa berkumpul dan bersama-sama dengan seisi keluarga. Suami akan tenang karena bisa menyalurkan kebutuhan biologisnya pada pasangannya. Sang istri merasa dikasihi dan disayangi karena ada pemimpin rumah tangga yang menjamin kebutuhannya. Anak-anak merasakan kehangatan karena mendapat perhatian dari dua tokoh panutannya; ayah dan ibunya. Orang tua pandangannya sejuk karena melihat putra-putrinya menggemaskan dan membanggakan.

Karunia ini harus kita jaga. Karena karunia yang dijaga akan lestari dengan kebaikannya. Dan karunia yang tidak dijaga akan lari. Seorang Ahli ilmu berkata, ‘nikmat yang disyukuri akan lestari. Dan nikmat yang dikufuri akan hilang dan pergi.’

Menjaganya dengan mengajak setiap anggota keluarga agar senantiasa beribadah kepada Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Menjaganya agar tetap utuh dengan menjauhi hal-hal yang berpotensi merusak keutuhan keluarga. Karena Iblis tak rela melihat sebuah keluarga utuh dan samara.

Allah telah mengabarkan beberapa gambaran keluarga teladan dalam al-Quran. Setidaknya ada tiga keluarga yang bisa kita teladani. Keluarga yang masing-masing memiliki kelebihan dalam hal kebaikan.

Keluarga Syuaib

Keluarga pertama adalah Nabi Syuaib dan kedua putrinya. Nabi Syuaib sangat menjaga putri-putrinya. Dia mendidik dengan pendidikan akhlak sebagaimana mestinya wanita harus bersikap. Putri-putrinya pun tumbuh dengan memiliki iffah dan menjaga diri dari lelaki yang bukan mahramnya. Allah menyebutkan ketika dua gadis itu keluar untuk mengambil air di sumur untuk meminumi gembalanya, mereka mendapati para lelaki sedang berdesak-desakan, mereka pun menahan diri tidak mau ikut berdesak-desakan dan hanya menunggu sampai kumpulan para lelaki penggembala itu pergi. Mereka berkata, “Kami tidak memberi minum ternak kami sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka, sementara ayah kami adalah orangtua yang sudah lanjut usia’.”

Mereka, perempuan, menggembala karena ayah mereka berdua telah tua renta. Jadi mereka tidak keluar rumah kecuali untuk kebutuhan yang penting.

Nabi Musa pun membantu mereka. Usai dibantu, kedua gadis itu bertolak pulang.  Tak berani berkata-kata. Kejadian itu disampaikan kepada ayah mereka, dan ayah mereka mengundang Nabi Musa untuk datang ke rumah.

Salah satu dari keduanya berjalan pelan dengan malu-malu tanpa menggoda menghampiri Nabi Musa dan mengundangnya untuk datang ke rumah. Dia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami”.

Gadis itu mengundang Nabi Musa atas permintaan ayahnya, bukan atas keinginannya sendiri. Karena seorang wanita tak layak mengundang seorang pria asing masuk ke rumahnya. Singkat cerita Nabi Musa memilih gadis itu untuk dinikahi karena iffahnya dan karena berasal dari keluarga yang baik dan shalih.

Syuaib memberikan teladan bagi para keluarga agar mendidik anak gadisnya untuk memiliki ‘iffah dan menjaga diri dan kehormatannya. Di zaman yang penuh fitnah ini, tugas mendidik anak gadis agar sesuai fitrahnya lebih berat daripada sebelumnya.

Keluarga Lukman

Ibnu Abbas berpendapat Lukman adalah seorang penggembala kulit hitam, tubuhnya lagi pendek yang berasal dari Negeri Habasyah. Ada yang berpendat dia seorang tukang kayu. Meski demikian namanya diabadikan dalam al-Quran. Predikat ini bukan tanpa dasar. Dia disebut dalam al-Quran karena kebijaksanaanya, terutama dalam membangun keluarga dan anak-anaknya. Makanya dia dijuluki Lukman al-Hakim, lukman yang bijaksana.

Allah menyebutkan pendidikan yang Lukman ajarkan pada keluarganya hingga menjadi keluarga yang luar biasa. Lukman mengajarkan pendidikan iman, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah..”. Pendidikan berbakti,  “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya..”. Pendidikan takwa, “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya)..”. Pendidikan amal shalih dan akhlak, “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu…”, dan pendidikan sosial, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh…”, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.”

Mendidik keluarga tak cukup dengan kasih sayang, namun juga harus membimbing dengan bimbingan yang kompleks, di awali dengan pendidikan keyakinan agar keturunan kita kokoh beriman kepada Allah, lalu pendidikan amal shalih, akhlak dan muasyarah.

Keluarga Ali Imran

Ali Imran dinisbatkan kepada Imran bin Ma’tsam. Dia adalah keturunan Nabi Sulaiman bin Dawud alaihimassalam. Dan keturunan orang beriman terakhir dari bani Israil. Namanya diabadikan menjadi salah satu nama surat dalam al-quran. Dia dipilih Allah menjadi keluarga yang melebihi umat selainnya di masanya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).” (QS Ali Imran: 33)

Imran dan istrinya, Hanna, telah menyiapkan generasi terbaik yang shalih dan taat kepada Allah. Mereka bernazar agar anak yang dikandung mereka menjadi hamba yang salih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Mereka berdoa agar Allah menjaga dan mendidik anaknya. Nazar mereka tidak sia-sia, Allah menjaga anaknya dan mendidik anaknya dengan menjadikan Nabi Zakariya sebagai gurunya. Kelak anaknya menjadi hamba yang paling bertakwa dan menjadi pimpinan ahli surga dari kalangan wanita.

Ali Imran mendapat keistimewaan Allah karena membangun pendidikan keluarga dengan bercita-cita mendekatkan diri kepada Allah. Ali Imran mengajarkan kepada setiap keluarga muslim untuk menyiapkan generasi muslim sedari dini dengan perencanaan yang matang. Dimulai sejak anak masih di dalam kandungan, bahkan sebelum menikah.

Kita semua ingin memiliki keluarga yang shalih dan menyenangkan pandangan. Kita bisa mengaca kepada para teladan di atas. Setelah berusaha, jangan lupa berdoa, sebagaimana Nabi Ibrahim senantiasa berdoa untuk keshalihan dirinya dan keturunannya, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

Semoga Allah memudahkan kita dalam membina keluarga. Aamiin.

(Redaksi/Majalah Risalah hati)

By REDAKSI