Tetaplah Berdoa Meski Ijabah Belum Menyertainya

Tetaplah Berdoa Meski Ijabah Belum Menyertainya

Syaikh Khalid bin Sulaiman Ar Rabi’ dalam kitabnya, Min Ajaaibid Du’a’ berkisah: Ada seorang ibu yang senantiasa mendoakan anaknya yang banyak melakukan perbuatan dosa. Di suatu malam ia melakukan shalat tahajud dengan khusyu’, memohon kepada Allah supaya buah hatinya dijadikan sebagai anak yang shalih dan bermanfaat baginya di dunia dan akherat. Tanpa terasa waktu Subuh pun tiba, terdengar suara muadzin ‘asshalatu khairum minan naum.’

Saat itulah terdengar suara langkah kaki turun dari lantai atas. Suara kaki itu semakin mendekati kamar dan akhirnya masuk ke dalamnya. Ibu itu pun mengangkat kepalanya dan didapatinya anak yang  tadi didoakan, tangannya basah oleh air wudhu. Diciumnya kepala buah hatinya yang akan berangkat menunaikan shalat Subuh. Dipandanginya sosok buah hatinya itu dengan mata sembab oleh air mata. Dan sejak itu pula buah hatinya terus berada dalam ketaatan.

Kisah di atas adalah salah satu contoh dari sekian banyak pengaruh dari sebuah doa. Ibnu Qayyim rhm. Berkata, “Doa merupakan sarana paling kuat untuk mencegah musibah maupun mendatangkan apa yang diinginkan.”

Pentingnya Doa

Sebagai hamba yang lemah, manusia senantiasa membutuhkan pertolongan Allah. Bahkan setiap hela nafas dan derap langkahnya tidak bisa terlepas dari pertolonganNya. Salah satu upaya yang bisa ditempuh agar bisa mendapatkan pertolongan dari Allah adalah melalui doa.

Begitu sombongnya manusia, jika merasa tidak membutuhkan Allah karena mengandalkan kekuatan dan kecerdasan yang dimilikinya sehingga tidak mau berdoa. Rasulullah saw saja sebagai manusia pilihan Allah terus berdoa kepadaNya di malam perang Badar, begitu mengetahui jumlah pasukan musuh lebih banyak dan persenjataan mereka lebih lengkap. Beliau berdoa dengan sungguh-sungguh hingga selendang beliau terjatuh. Akhirnya Allah pun mengabulkan doanya.

Ternyata para Nabi sebelum Muhammad saw sudah melazimi doa dalam setiap masalah yang dihadapinya. Disebabkan doa, Nabi Nuh beserta orang-orang yang beriman bersamanya diselamatkan oleh Allah dan orang-orang kafir ditenggelamkan. Nabi Yunus selamat dari perut ikan paus setelah tiga malam berada dalam kegelapannya, disebabkan oleh doa. Karena doa pula, kesulitan yang menimpa Nabi Ayyub diangkat oleh Allah. Dan Nabi Musa pun diselamatkan oleh Allah karena doa yang dilantunkannya.

Para salaf shalih juga terbiasa berdoa untuk kebaikan diri, keluarga dan kaum muslimin. Juga secara khusus mendoakan orang yang telah berjasa terhadap dirinya dan umat Islam. Kabarnya, Imam Ahmad selalu mendoakan ustadznya, Imam Syafi’i setelah menunaikan shalat. Pernah beliau berkata kepada putra Imam Syafi’i, “Ayahmu termasuk enam orang yang aku doakan setiap selesai shalat. Ka’ab bin Malik selalu mendoakan As’ad bin Zurarah setiap kali mendengar adzan Jum’at. Ketika ditanya alasannya, Ka’ab menjawab, “Karena saya teringat jasa beliau, beliaulah orang yang pertama kali mengimami shalat Jumat di Madinah.”

Mereka juga berdoa untuk kebinasaan musuh-musuh Allah yang selalu berusaha menghalangi tegaknya Islam di muka bumi. Rasulullah saw, selama satu bulan penuh mendoakan kebinasaan untuk Ri’al, Dzakwan dan ‘Usyayah yang telah mengekskusi para sahabatnya di sumur Ma’unah. Bilal bin Rabah memiliki kebiasaan yang menakjubkan.

Setiap waktu sahur menjelang adzan Subuh, sambil menunggu masuknya waktu, ia berdiri untuk berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku memuji-Mu dan memohon pertolongan-Mu untuk kehancuran  orang-orang Quraisy dalam menegakkan dien-Mu.” Setelah itu barulah ia mengumandangkan adzan.

Ketika doa belum dikabulkan

Sangat mungkin ada diantara kita yang sudah berdoa kepada Rabbnya, memohon sesuatu, ia terus berdoa dan terus berdoa, namun selama itu doanya belum dikabulkan oleh Allah. Lalu saat itu juga ia berhenti berdoa dan berputus asa, merasa doanya tidak akan terkabul selamanya. Padahal Rasulullah telah bersabda:

 يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَا أَوْ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

            Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tak tergesa-gesa hingga mengatakan, ‘Aku telah berdoa kepada Rabbku, namun tidak atau belum juga dikabulkan untukku.’ (HR. Muslim)

Ada banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan terkabulnya sebuah doa. Dan mesti kita yakini bahwa Allah memiliki hikmah di balik keterlambatan ini. Boleh jadi hamba yang berdoa tersebut belum memenuhi syarat terkabulnya doa, seperti menghadirkan hati, waktu yang kurang tepat atau tidak memperhatikan adab ketika berdoa.

Bisa jadi karena dosa yang telah ia kerjakan sehingga menjadi penghalang terkabulnya doa. Bisa jadi juga Allah mengabulkan dalam bentuk yang lain, yaitu dijauhkan dari sesuatu yang buruk yang akan menimpanya. Atau boleh jadi Allah akan menyimpan pahala doa itu dan kelak akan mendapatkan balasannya di akherat.

Atau, mungkin saja terhalangnya kita dari ijabah karena memang Allah ingin agar kita terus-menerus memohon dan bersimpuh di hadapan-Nya. Tsabit rhm. pernah berkata, “Tidaklah seorang mukmin berdoa kepada Allah dengan satu doa kecuali malaikat Jibril diutus untuk memenuhi kebutuhannya, lalu Allah berfirman, ‘Janganlah kamu bersegera mengabulkan doanya. Sungguh Aku suka mendengar suara hamba-Ku yang mukmin’.”

Maka, marilah kita terus berdoa, karena doa adalah ibadah. Jika toh Allah belum mengabulkan permintaan kita, kita tetap akan mendapat pahala karenanya. (abu hanan)

%d bloggers like this: