Tragedi Ar-Raji’

357

Kekalahan dalam perang Uhud menyebabkan pamor yang kurang menyenangkan bagi kaum Muslim. Wibawa mereka menjadi luntur di hadapan musuh. Orang-orang Yahudi dan munafik mulai berani menampakkan permusuhannya secara terang-terangan.  Madinah dikepung marabahaya dari segala penjuru. Tetapi semua marabahaya tersebut justru menjadi hikmah tersendiri bagi kaum Muslim untuk mengembalikan pamor yang sempat surut.

Belum genap dua bulan setelah perang Uhud, Bani Asad berani menggelar persiapan untuk menyerang Madinah di bawah pimpinan Thalhah dan Salamah, anak Khuwailid. Persiapan mereka diketahui oleh mata-mata Madinah dan segera informasi tersebut disampaikan kepada Rasulullah.  Seketika itu pula Rasulullah mengirim pasukan sebanyak seratus lima puluh personil di bawah komando Abu Salamah. Abu Salamah langsung menyerang Bani Asad di perkampungan mereka sebelum mereka berangkat menyerang Madinah. Mendapat serangan yang tak disangka-sangka tersebut, Bani Asad pun kocar-kacir menyelamatkan diri mereka masing-masing. Alhasil, pasukan Muslim mendapatkan rampasan perang yang banyak, berupa kambing dan unta milik Bani Asad. Setelah itu pasukan Muslim kembali ke Madinah dalam keadaan utuh dengan membawa rampasan perang tanpa harus berperang. Karena mengalami inveksi pada luka yang diderita dari perang Uhud, Abu Salamah meninggal dunia tak lama setelah peristiwa tersebut. Peristiwa penyerangan ini terjadi pada awal bulan Muharam di tahun ke-4 H.

Tragedi ar-Raji’

Pada bulan Shafar di tahun yang sama, beberapa orang dari Adhal dan Qarah datang kepada Rasulullah mengabarkan bahwa di tengah kaumnya ada beberapa orang Muslim. Mereka meminta gara dikirim beberapa orang yang sanggup mengajarkan Islam kepada mereka. Rasulullah pun mengutus sepuluh orang dengan Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin rombongan.

Setibanya di ar-Raji’, pangkalan air milik Bani Hudzail, para utusan yang memang sejak awal berniat menipu kaum Muslim itu bekerja sama dengan perkampungan Bani Lahyan. Seratus pemanah dari Bani Lahyan mengejar sepuluh utusan Rasulullah tersebut. Menyadari bahwa bahaya mengintai para utusan Rasulullah tersebut, mereka berusaha menyelamatkan diri dengan mendaki tempat yang lebih tinggi.

Para pemanah yang mengepung mereka berkata, “Kami berjanji dan bersumpah tak akan membunuh seorang pun di antara kalian asal kalian turun.”

Rombongan itu menolak tawaran yang mereka anggap hanya jebakan tersebut. Mereka bertempur dengan gagah berani hingga gugur dan menyisakan Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinnah. Akhirnya Khubaib dan Zaid di bawa ke Makkah dan di jual kepada penduduk Makkah, padahal keduanya banyak menghabisi para pembesar Quraisy di perang Badar.

Khubaib dimasukkan ke dalam penjara setelah di beli oleh Hujair bin Abu Ilhab, namun kemudian orang-orang Quraisy sepakat untuk membunuh Khubaib. Untuk membunuh Khubaib, orang Quraisy sepakat untuk menyalibnya di luar tanah suci Makkah. Sebelum di salib, Khubaib meminta kesempatan untuk mendirikan salat dua rakaat saja, dan dikabulkan. Selesai salat, Khubaib berkata dengan nyaring, “Ya Allah, hitunglah bilangan mereka, binasakanlah mereka semua dan jangan Engkau biarkan seorang pun di antara mereka tetap hidup.”

Setelah orang-orang Quraisy membunuh dan menyalib jasad Khubaib, mereka menunjuk beberapa orang untuk menjaga jasad Khubaib supaya tidak diambil oleh kaum Muslim. Tetapi atas ijin Allah, Amr bin Umayyah mampu mengakali para penjaga dan mengambil jasad Khubaib untuk dikuburkan. Sedangkan Zaid bin Datsinnah dibeli oleh Shafwan bin Umayyah untuk dibunuh, karena Zaid telah membunuh ayahnya di perang Badar.

Sementara itu, orang-orang Quraisy mengutus beberapa orang untuk memotong sebagian tubuh Ashim bin Tsabit untuk memastikan kematiannya, karena Ashim membunuh banyak pembesar Quraisy di perang Badar. Karena sebelumnya Ashim pernah bersumpah kepada Allah untuk tidak bersentuhan dengan orang-orang Musyrik dan tidak membiarkan dirinya disentuh oleh orang-orang Musyrik, Allah mengutus sekumpulan lebah yang melindungi jasad Ashim sehingga utusan orang Quraisy tersebut sama sekali tak bias mnyentuh jasad Ashim. Ketika Umar bin Khattab mendengar hal ini, dia berkata, “Allah menjaga hamba yang Mukmin setelah meninggal dunia, sebagaimana Dia menjaganya sewaktu masih hidup.”

(Amirullah)