Puasa, Obesitas dan Tanda Kiamat

puasa dan obesitas

Ramadhan kembali hadir menjumpai kita. Selain merupakan moment tepat untuk memperbaiki ruhani, Ramadhan juga menjadi bengkel bagi jasmani. Ungkapan   “Shumuu tashihhu” memang berasal dari hadits dhaif atau lemah.  Namun, testimoni para ahli kesehatan meyakinkan bahwa shaum Ramadhan berpengaruh besar bagi perbaikan jasmani, jika dilaksanakan dengan baik dan benar.

Salah satu fenomena yang paling sering kita jumpai pasca melaksanakan shaum Ramadhan adalah turunnya berat badan. Kalau ada yang berat badannya justru bertambah setelah shaum, ya, semoga saja itu memamg salah satu bentuk berkah shaum, bukan karena meningkatnya porsi makan akibat dendam setelah seharian ditahan.

Bagi beberapa orang, berat badan yang susut dapat berdampak baik bagi kesehatan. Berkurangnya berat badan berarti menyusutnya timbunan lemak dalam tubuh. Dan seperti diketahui, tumpukan lemak berpotensi besar memicu munculnya berbagai macam gangguan kesehatan. Lebih-lebih bagi yang mengalami obesitas atau berat badan terlalu berlebih. Menurunnya timbangan badan boleh jadi menjadi anugerah istimewa baginya.

Obesitas tidak bisa lagi disebut tanda kemakmuran dan kesejahteraan. Sebaliknya, obesitas justru menjadi sinyal bahaya bagi si empunya. Timbunan lemak memberi tekanan pada pembuluh darah dan organ dalam. Kerja organ vital seperti jantung, ginjal dan lainnya  pun bertambah berat. Seakan-akan organ-organ ini dipaksa kerja rodi karena harus bekerja ekstra. Dalam kurun waktu lama, organ akan “kelelahan” dan  rentan mengalami gangguan akibat penurunan fungsi. Penyakit-penyakit berat pun mengincar, gangguan jantung, diabetes karena fungsi pankreas menurun, gangguan ginjal dan lainnnya.

Dari aspek psikis, obestitas cenderung memicu rasa malas. Tumpukan lemak membuat organ gerak menjadi berat untuk melakukan aktivitas. Jangankan lari, berjalan beberapa puluh meter saja sudah bisa bikin ngos-ngosan dan peluh bercucuran. Olahraga pun menjadi aktivitas yang menyiksa dan tidak menyenangkan. Setelah olahraga ditinggalkan, aktivitas harian yang dipilih pun kebanyakan bukan aktivitas yang menuntut banyak gerak. Bagi yang kurang peduli akan pentingnya waktu; menonton TV, bermain game dan komputer sembari ngemil dan tidur menjadi menu aktivitas favorit. Aktivitas-aktivitas yang sama sekali tidak menjanjikan masa depan yang baik bagi pelakunya.

Karenanya, bagi yang terkena obesitas, hendaknya menggunakan moment Ramadhan ini untuk memaksimalkan usaha guna mengurangi lemak di badan. Setelah terbantu dengan shaum pada siang hari, tugas yang harus diemban adalah mendisiplinkan diri untuk menjaga pola makan pada malam hari. Kuncinya benar-benar ada pada diri sendiri. Jika tidak disiplin dan sabar,  yang terjadi justru bisa sebaliknya, bukannya turun malah bertambah “endut” saja. Pasalnya, sajian buka dan sahur seringnya justru lebih wah dari hari biasa. Tidak sedikit yang biasanya jarang menyediakan lauk daging, saat Ramadhan daging jadi sering nagkring di piring. “yah..Sekali-kali, biar nggak kekurangan gizi” alasannya. Nah, kalau tidak hati-hati, sajian-sajian ini bisa menjadi “petaka’ bagi penderita obesitas.

Agar lebih semangat, kiranya hadits Nabi berikut ini layak direnungkan, Rasulullah bersabda,

إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ ، وَيَشْهَدُونَ ، وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ

“ Sungguh, setelah kalian akan ada orang-orang yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, suka memberi saksi padahal tidak diminta bersaksi, bernadzar tapi tidak menepati, serta bermunculannya orang-orang gendut.” (HR. Bukhari Muslim)

Ulama menjelaskan, fenomena munculnya manusia-manusia gendut (as siman) disebutkan bersama fenomena-fenomena buruk. Ini menandakan, ada yang tidak baik dalam hal ini. Di dalam Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar menjelaskan as siman adalah orang-orang yang suka berlebihan dalam makan dan minum yang merupakan penyebab dari kegemukan. Beliau juga menukil penjelasan Ibnu at Tien bahwa hadits ini mencela rasa suka terhadap makan dan minum yang menyebabkan gemuk, bukan semata mencela orang-orang berbadan gendut. Imam ibnu Bathal mengatakan di dalam syarh-nya bahwa itu hanyalah kinayah atau sindiran atas kesukaan mereka terhadap dunia dan jauhnya mereka dari akhirat, mereka makan di dunia seperti ternak dan tidak mencontoh para salaf yang tidak mengambil dari dunia melainkan sedikit dan menahan hasrat hingga bisa dilampiaskan di akhirat.

Kesimpulannya, hadits ini sebenarnya lebih mencela sifat daripada wujud. Yakni sifat orang-orang yang malas, suka makan dan minum berlebihan dan terlalu menuruti keinginan. Bukan semata mencela orang-orang yang gendut, karena obesitas itu kadangkala juga bisa diakibatkan oleh faktor genetis atau turunan.Namun begitu, sebagian lain tidak menampik bahwa makna “bermunculannya as siman” memang hadir dalam bentuk munculnya manusia-manusia dengan berat badan terlalu berlebih. Pasalnya, kegemukan juga cenderung memunculkan kemalasan. Kesimpulannya, as siman menjadi tercela karena malasnya, bukan murni karena berta badannya.

Nah, bagi para penderita obesitas, tidak perlu merasa takut secara berlebihan terhadap celaan dalam hadits ini. Meskipun berat badan berlebih tapi ibadahnya jauh lebih rajin dari yang berbadan biasa, berdiri tahajudnya lebih lama dari yang badannya ideal, qanaahnya lebih kuat dan lebih mampu menata waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, tentu tidak ada yang patut dicela darinya. Tapi jika ternyata benar bahwa tumpukan lemak yang ada bukan lain adalah anugerah dari kemalasan yang selama ini secara konsisten dijalani, atau tumpukan itu makin membuat ibadah sebagai aktivitas yang membebani, maka hadits ini patut untuk direnungi kembali.

Semoga, Ramadhan kali ini menjadi momen perubahan bagi kita semua. Dari yang buruk menjadi baik, atau dari yang baik menjadi yang lebih baik. Amin.

 

(Taufik Anwar)

%d bloggers like this: