Kultum Ramadhan: Mengenyam Lezatnya Shalat Malam

29

Shalat malam, inilah tradisi syar’I para shalihin sepanjang zaman. Tidak disebut julukan shalih, melainkan ia menjaga kebiasaan shalat malam, Tak mereka tinggalkan amal mulia ini. Amal yang dengannya derajat seseorang ditinggikan, doa-doanya dikabulkan, dosa-dosa diampunkan, terlepas pula ikatan ikatan setan, penyakit fisik tersingkirkan, ketenangan hati didapatkan dan jalan menuju jannah dimudahkan.

Dan pada beberapa ayat Allah juga menyebutkan bahwa salah satu karakter penghuni jannah adalah orang yang mengdiupkan waktu malamnya untuk shalat  ketika mereka masih di dunia.

 

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴿١٦ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah 16-17)

Yang dimaksud dengan apa yang mereka lakukan di sini adalah shalat maliam; sebagaimana yang disebutkan oleh ibnu Katsir rahimahullah. Ibnul Qayyim rahimahullah juga memberikan catatan menarik tentang ayat ini, “Cobalah renungkan bagaimana Allah membalas shalat malam yang mereka lakukan secara sembunyi dengan balasan yang Dia rahasiakan sebelumnya, yakni yang tidak diketahui oleh semua jiwa. Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan shalat malam diganti dengan kesenangan jiwa di dalam Surga.”

Baca Juga: Panen Pahala Di Bulan Mulia

Kebiasaan ini membuahkan kenikmatan dan kelezatan yang tidak dirasakan oleh orang-orang yang tidak melaziminya. lbnu al-Munkadir rahimahullah berkata, “Di dunia ini tidak tersisa lagi kelezatan selain pada tiga hal; shalat malam, bertemu dengan saudara seiman dan shalat berjamaah.” Hal yang hampir sama diungkapkan oleh Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu dan yang lain.

Shalat malam senantiasa istimewa. Namun di bulan Ramadhan ia makin luar biasa. Tak ada yang berkurang sedikit pun dari keutamaan yang didapat di luar Ramadhan. Yang ada justru bonus-bonus istimewa dan pahala spesial yang Allah sediakan bagi orang yang antusias manghidupkan shalat malam di bulan Ramadhan.

 

ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa meiakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).

Maksud qiyam Ramadhan, secara khusus, menurut Imam Nawawi adalah shalat tarawih. Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih itu bisa mendatangkan maghfirah dan bisa menggugurkan semua dosa; tetapi dengan syarat karena bermotifkan iman; membenarkan pahala-pahala yang dijaniikan oleh Allah dan mencari pahala tersebut dari Allah. Bukan karena riya’ atau sekadar mengikuti kebiasaan orang.

Maka antusias para salaf untuk menghidupkan malam makin menjadi. Bukan sekadar orang perorang, tetapi semangat yang dimiliki secara serentak oleh masyarakat zaman itu. Saib bin Yazid berkata,

“Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu pernah menyuruh Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari agar memimpin shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan 11 raka’at. Maka sang qari’ membaca dengan ratusan ayat, hingga kami bersandar pada tongkat karena sangat lamanya berdiri. Maka kami tidak pulang dari tarawih, melainkan hampir menjelang fajar.” (Fathul Bari, lbnu Hajar al-Asqalani)

Nafi’ bin Abdullah bin Umar juga menyebutkan, “Saya mendengar lbnu Abi Mulaikah berkata, ‘Saya mengimami masyarakat pada malam Ramadhan dengan membaca dalam satu rekaat surat Fathir (45 ayat) atau yang setara dengannya. Pun begitu belum pernah sampai kepadaku satu pun yang mengeluhkan keberatannya.” (Riwayat lbnu Abi Syaibah).

Sedangkan Abu al-Asyhab bercerita, “Abu Raja’ mengkhatamkan bersama kami (makmum) pada shalat tarawih setiap sepuluh hari sekali.”

Baca Juga: Puasa, Obesitas dan Tanda Kiamat

Ini menunjukkan antusias para salaf daIam menjaIankan shalat tarawih di bulan Ramadhan. Hanya saja. mereka tetap menjaga kondisi para makmum. Ketika tak ada keluhan dari para makmum. mereka memanjangkan shalatnya. Maknanya, jika kita diminta menjadi Imam, tidak sepantasnya kita memanjangkan shaIat sementara makmum banyak yang mengeluhkannya.

Dianjurkan untuk tetap menyertai Imam hingga selesainya shaIat, karena barang siapa melaksanakan shalat Tarawih berjamaah bersama Imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya pahala seperti orang yang melakukan qiyamul lail semalam penuh. Rasulullah bersabda,

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda:

 

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

 “Sesungguhnya barangsiapa yang shalat (Tarawih) bersama imam sampai ia selesai, maka dituIis untuknya pahala qiyamul IaiI satu malam penuh.” (HR. An-Nasai no. 1605, At-Tirmidzi, aI-Albani mengatakan shahih)

Hadits ini menjadi koreksi atas kebiasaan di antara kita yang bersemangat untuk menghidupkan malam, lalu memilih pulang sebelum Imam menyelesaikan shalat witir. Meksipun maksudnya baik, yakni ingin menambah shalat lagi sebelum witir. Tapi apakah tambahan shalat yang dilakukan ini benar-benar semalam suntuk? Atau hanya beberapa menit saja? Padahal dengan meninggalkan Imam sebelum selesai, maka ia tidak tercatat sebagai orang yang menjalankan shalat semalam suntuk. wallahu a’lam.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan/Materi Kultum