Wanita Terbaik yang Tidak Akan Muncul lagi dalam Pentas Sejarah

Wanita Terbaik yang Tidak Akan Muncul lagi dalam Pentas Sejarah

Dia beriman kepada Nabi saw di saat semua orang kafir kepadanya, membenarkan risalah beliau di saat semua orang mendustakannya. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan beliau di saat semua orang enggan memberinya, dan wanita yang memberi keturunan kepada beliau.

Seorang wanita yang berpikiran matang, cerdas, pandai menjaga kesucian dan terpandang. Sehingga sejak masa jahiliyah, orang-orang menyematkan gelar Ath Thahirah (wanita yang suci) kepadanya. Ia adalah Khadijah radiyallahu ‘anha, Istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, ibunya orang-orang mukmin.

Allah memberikan karunia pada rumah tangga yang barokah tersebut berupa kebahagiaan dan nikmat yang melimpah, dan mengaruniakan kepada keduanya putra-putri yang bernama, Al Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum, dan Fatimah radiyallahu ‘anhum.

Khadijah ra adalah seorang istri yang mencintai suaminya, berdiri mendampingi Nabi saw untuk menolong, menguatkan dan membantunya dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman, sehingga dengan hal itulah Allah swt meringankan beban NabiNya. Setiap pendustaan, penolakan dan hal-hal yang tidak disukai ditemui Nabi di luar rumah dapat terobati ketika sampai di rumah dengan adanya Khadijah ra yang meneguhkan pendiriannya, menghibur dan membenarkannya. Yang kemudian ayat-ayat al Qur’an juga meneguhkan Rasulullah saw dengan firman Allah :

Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (QS. Al Mudatsir : 1-7)

Sejak saat itu, beliau berkata kepada sang istri bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang telah habis. Khadijah ra turut mendakwahkan Islam di samping suaminya.

Mulailah ujian keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya, akan tetapi khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar dan kuat, beliau wujudkan firman Allah :

“Alif laam miim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al Ankabut : 1-2)

Allah memilih kedua putra Khadijah ra yang masih kecil, yang bernama Abdullah dan Al Qasim untuk menghadap Allah ta’ala, sedang Khadijah ra tetap bersabar. Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah ra, karena putrinya hijrah bersama suaminya Utsman bin Affan ra ke negri Habasyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik.

Sebelumnya, Khadijah ra juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa suaminya tercinta ketika berdakwah di jalan Allah. Semakin bertambah berat ujian semakan bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Begitulah sayyidah mujahidah tersebut mengambil suaminya Rasulullah saw sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paing nyata tentang keteguhannya diatas iman.

Suatu ketika kabilah Qurays (kecuali bani hasyim dan bani Muthalib) sepakat untuk mengisolasi dan memberikan embargo kepada Rasulullah saw beserta para pendukungnya (baik yang muslim maupun yang kafir) keluar dari Makkah ke Syi’ib. Mereka juga sepakat untuk menulis akta kesepakatan antara seluruh kabilah Qurays untuk tidak mengadakan hubungan pernikahan dan tidak mengadakan jual beli, serta tidak menerima opsi damai dan tidak menaruh simpati atas penderitaan yang akan mereka alami kecuali mereka menyerahkan Rasulullah saw untuk dibunuh.

Khadijah ra tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin, beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau. Dari dalam syi’ib selalu terdengar tangisan kaum wanita dan anak-anak kecil karena kelaparan, kondisi mereka sangat memprihatinkan, sampai-sampai terpaksa memakan dedaunan dan kulit. Hingga berakhirlah pemboikotan yang berlangsung selama tiga tahun yang beliau hadapi dengan penuh iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh sayyidah Khadijah ra telah mencurahkan segala kemampuan untuk menghadapi ujian tersebut di saat berumur 65 tahun.

Selang 6 bulan setelah usai pemboikotan dan 3 tahun sebelum Nabi saw  hijrah wafatlah Khadijah ra, jiwa yang tenang itu membumbung ke angkasa menuju hariban Rabbnya. Ia telah memberikan teladan yang luar biasa dalam memperjuangkan dakwah kepada Allah dan jihad di jalanNya. Ia telah mendampingi Rasulullah saw selama 25 tahun sebagai seorang istri  yang bijaksana, berpikiran matang dan rela mengorbankan apa saja demi mendapatkan keridhaan Allah dan RasulNya. Karena itulah beliau berhak mendapatkan salam dari Rabbnya, mendapatkan kabar gembira dengan rumah di jannah yang terbuat dari bambu (yang bertatakan intan, mutiara dan berlian). Tidak ada kesusahan di dalamnya dan tidak ada pula keributan di dalamnya.

Saudaraku, itulah ibunda kita, Khadijah ra. Teladan yang tidak akan muncul lagi dalam pentas sejarah. Perjalanan hidupnya merupakan perjalanan kesucian, kehormatan, kemurahan hati, pengorbanan dan persembahan. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap islam dan kaum muslimin.

%d bloggers like this: