Iman, Butuh Bukti Bukan Sekedar Teori

iman

Sekte Murjiah menyatakan bahwa iman itu konstan. Iman sifatnya tetap, tidak berkurang tidak pula bertambah. Perbuatan maupun ucapan tidak ada hubungannya dengan iman. Seseorang bisa saja mengucapkan atau melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang dia percayai, tapi hal itu tidak mengurangi kepercayaannya sedikitpun. Jadi, menurut murjiah, maksiat itu tidak mengurangi iman sama sekali. Asalkan masih yakin kepada Allah, berarti iman masih utuh.

Wajar saja jika murjiah beranggapan demikian. Mereka memaknai iman hanya sebagai kumpulan persepsi dan pengetahuan yang dipercayai benar. Sekadar kepercayaan tentu tidak akan berubah selagi tidak ada faktor yang merusak kepercayaan tersebut. Ucapan dan perbuatan manusia tidak ada kaitannya dengan kepercayaan ini. Masalahnya, iman bukanlah sekadar pengetahuan yang telah direkam dalam pikiran semata. Iman adalah sebuah kesatuan antara pengetahuan yang dibenarkan dan diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan segala konsekuensi dari keyakinan ini diimpelemntasikan oleh perilaku dan sikap (anggota badan).

Beriman bahwa Allah Mahakuasa dan Maha peberi Rezeki dan Allah akan memberi ganti yang lebih baik bagi siapapun yang meninggalkan sumber rezeki haram demi mencari ridho-Nya, Allah akan beri ganti sumber rezeki yang halal dan baik. Iman kepada hal ini butuh bukti. Buktinya dengan meninggalkan pekerjaan yang bersumber dari harta ribawi dan yakin ada usaha lain yang lebih berkah. Berhenti membohongi pelanggan dan berbuat jujur serta yakin bahwa jujur pasti mujur. Meninggalkan jual beli barang haram dan percaya bahwa jual beli yang halal jauh lebih menenangkan.

Jika ada yang mengaku beriman bahwa rezeki ada di tangan Allah dan Allah melarang mencari rezeki haram, tapi nekat mencari rezeki haram, kepercayannya layak dipertanyakan. Mengapa dia nekat padahal katanya percaya rezeki di tangan Allah dan beriman kepada syariat-Nya? jawabannya hanya akan berputar pada dua hal; pertama, dia tidak benar-benar yakin bahwa setelah meninggalkan yang haram dia akan mendapat ganti yang nilainya setara atau lebih baik. Jikae demikian, bukankah berarti kepercayaan dan keyakinannya kepad akekuasaan Allah tidak utuh? Atau bahkan hilang?  Kedua, dia yakin akan mendapat ganti enggan untuk berganti dari yang haram menuju yang halal. Jika demikian, bukankah berarti keyakinannya pada syariat Allah tidak utuh atau bahkan hilang?

Sebuah kepercayaan itu harus diuji dan dibuktikan. Seseorang tentu saja tidak bisa menyatakan percaya lalu layak dipercaya dan mendapat kepercayaan. Menyatakan beriman lalu dibiarkan begitu saja berbuat sesukanya tanpa berusaha membuktikan keimanannya. Tanpa bukti, kepercayan dan keyakinan yang diklaim bisa jadi tidaklah utuh adanya atau bahkan hanya omong kosong belaka.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS: al-‘Ankabuut Ayat: 2)

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”(QS: al-‘Ankabuut Ayat: 3)

Ada kisah unik tentang bahwa iman itu bukan sekadar sekumpulan pengetahuan yang dipercayai tapi keyakinan yang memang bisa dibuktikan. Doktor Saad Syarief menceritakan kisahnya saat di Afghanistan, “ Saat itu, waktu maghrib tiba. Saya shalat di Afghanistan sebagai imam. Lalu datanglah pesawat melintas di atas kami dan menjatuhkan bom di area dekat tempat shalat kami. Melihat jatuhnya bom tersebut, saya langsung tiarap. Namun rupanya, tak satupun orang-orang Afghan yang menjadi makmum bergerak. Bahkan salah satu dari mereka maju menggantikan saya dari posisi imam, lalu menyelesaikan shalat jamaah. Saya merasa sangat malu. Imam yang tadi menggantikan saya, selesai shalat maghrib bangun dan menjama’ dengan shalat Isya, padahal pesawat masih terus berseliweran di atas kami. Orang-orang itu masih bergeming dari tempatnya, dan seperti tidak merasa terganggu padahal kepulan debu bom membumbung di atas kepala mereka. Mereka menyelesaikan shalat, membaca tasbih dan masih menjalankan shalat sunnah. Mereka mencela saya, “Anda berdiri di hadapan Allah, mengapa masih takut dengan apa yang ada di hadapan manusia?” (Fie Qolbi bin Ladin ar Rajul wal Ailah, Mustofa al Anshari)

Sang Doktor diangkat sebagai imam karena pengetahuannya mengenai ilmu agamanya lebih banyak dan lebih mendalam daripada penduduk Afghanistan. Soal bagaimana seseorang harus mempercayai bahwa Allah memiliki nama dan sifat “Maha kuasa”, “Maha Penolong” dan “Maha Selamat “, sang Doktor tentu lebih tahu. Bahkan tahu detail sekaligus tentu saja percaya seutuhnya. Tapi lihatlah ketika kepercayan itu hrus diuji. Terbukti, kumpulan pengetahuan dan kepercayaan dalam hati tidak menjamin kemantapan iman seseorang. Inilah pelajaran yang ingin Beliau sampaikan melalui kisah ini.

Baca juga : Turun Ke Langit Dunia Di Akhir Malam Yang Sepertiga

Masih bersama mujahidin Afghan, mereka membuktikan betapa kuatnya iman mereka terhadap kebesaran dan pertolongan Allah. DR Abdullah Azzam dalam bukunya Tarbiyah Jihadiyah menuturkan,

“Pada waktu mereka (orang Afghan) menghadapi tentara komunis Rusia, kami tanyai mereka: “Bagaimana kalian menghadapi tentara Rusia? Apa kalian kira mampu mengalahkan mereka?”.  Mereka menjawab: “Kami akan mengalahkan mereka, Insya Allah”. “Bagaimana kalian bisa seyakin itu?”Tanya kami lagi. “Siapa yang lebih kuat? Allah ataukah Rusia?” Mereka balik bertanya. “Allah yang lebih kuat.” Jawab kami. Lalu mereka berkata, “Kami beserta Allah, maka kami akan mengalahkan Rusia!”

Allah itu Maha Kuat, maka dari itu Dia tidak akan kalah. Rusia yang akan kalah. Itulah keyakinan Muhammad Umar, sebagaimana diceritakan oleh Muhammad Siddiq, “Pesawat tempur Rusia membombardir kami, lalu kami semua berlindung ke parit-parit pertahanan kecuali seorang lelaki tua. Dia menengadah ke langit seraya berkata, “Ya Rabbi, ya Rabbi, siapa yang lebih kuat? Engkau ataukah pesawat tempur yang membombardir tentara-Mu? Siapa yang lebih besar? Engkau ataukah pesawat tempur itu?” Sementara pesawat tempur musuh menghujani mereka dengan bom. Belum sampai dia menurunkan tangannya, pesawat tempur itu telah jatuh ke bumi. Inilah tauhid yang sebenarnya dikehendaki Allah dari kita.”

Jika iman hanya sebatas pengetahuan dan kepercayan dalam hati tanpa bukti, siapapun akan memilih lari daripada melawan Rusia. Secara logika, mewalan negeri Beruang merah sama saja dengan bunuh diri. Peluang menangnya, menurut hitungan logika, boleh dibilang nol. Rusia punya senjata berat plus amunisinya tentu, logistik, personel dan dukungan negeri komunis lain. Sementara mujahidin Afghan? Senjata, amunisi, logistik, personel semuanya benar-benar tak berimbang. Tapi mereka tetap fight dan akhirnya Rusia harus mengakui kedigdayaan pejuang Afghanistan.

Dari sinilah para ulama ahlus sunah menyatakan, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Surut dan pasang. Iman bertambah, kuat dan membesar jika dibuktikan dengan ketaatan. Sementara iman akan surut, mengecil dan mengkerut saat lisan dan tindakan tak mampu membuktikan dan memilih apa kata nafsu dan setan.

Iman menuntut bukti. Apa yang sudah kita lakukan untuk membuktikan poin-poin iman yang kita yakini? Apa buktinya bahwa kita mengimani bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki? Relakah kita meninggalkan cara-cara haram dalam mencari rezeki? Atau jangan-jangan kita masih ragu kalau-kalau setelah itu akan jatuh miskin?

Apa buktinya bahwa kita mengimani bahwa syariat Allah adalah hukum yang paling adil dan paling layak diterapkan dalam kehidupan? Atau jangan-jangan kita meragukan kesempurnaan syariat-Nya dan relevansinya di jaman ini hingga menggantinya dengan hukum buatan manusia?

Apa buktinya bahwa kita mengimani bahw akhirat itu ada? Adakah kita sudah mempersiapkannya?

Dan masih banyak poin-poin keimanan lain yang menanti pembuktian. Jika kita tidak berupaya membuktikannya dengan ketaatan pada-Nya, Allah akan tetap mendatangkan ujian yang akan membuktikan seberapa besar iman kita kepada-Nya. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita dalam menjaga iman dan membuktikan tuntutan-tuntutannya. Aamiin.