Faktor-Faktor Runtuhnya Sebuah Peradaban

arrisalahnet Faktor-Faktor Runtuhnya Peradaban

Abdur-Rahman bin Muhammad bin Khaldun al-Hadhramiy (1332-1406) yang lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun, salah seorang ahli sejarah dan sosiologi muslim dari Tunisia mengatakan bahwa “Setiap peradaban itu bangkit dan musnah”. Selanjutnya dia memaparkan bahwa kebangkitannya dimulai dengan fanatisme dan semangat untuk menuntut ilmu, setiap peradaban akan sampai pada puncak kejayaannya dan yang menjatuhkannya adalah degradasi moral dan hilangnya semangat menuntut ilmu, sekalipun memiliki kekayaan berlimpah dan tentara yang kuat, akan jatuh juga. Senada dengan itu, Arnold Toynbe sejarawan Inggris (1889-1975) itu menyimpulkan tentang faktor-faktor yang menyebabkan punahnya suatu bangsa. Sebuah bangsa akan eksis ketika berhasil menghadapi tantangan alam dan iklim sehingga peradabannya akan tumbuh, sebaliknya akan punah ketika tantangan yang dihadapi lebih besar dibandingkan kemampuan untuk mengatasinya.

Baca Juga: Negara Gagal 

Dalam studi sejarahnya Toynbe mengkomparasikan berbagai bangsa dengan kemajuan peradabannya dari waktu ke waktu, mulai dari Yunani dan Romawi kuno, suku Maya, imperium-imperium di India dan China, termasuk dinasti- dinasti dalam Islam. Semua mengalami fase kebangkitan, kejayaan, surut dan hancur. Tidak ada yang selamat dari ‘hukum besi sejarah’ tersebut. Secara lebih terinci Ibnu Khaldun menggambarkan siklus tersebut : kelompok pertama adalah generasi yang membangun dinasti dengan penuh perjuangan demi memantapkan sendi-sendi peradabannya, kelompok kedua adalah generasi yang menikmati kestabilan dari pondasi yang diletakkan oleh generasi yang pertama, generasi ketiga adalah yang membawa peradaban dinasti itu mulai merosot dan runtuh, yakni yang mulai mengidap degradasi moral, memperturutkan kesenangan hawa nafsu, menindas rakyat dan mengesampingkan keadilan.

Jika telah mulai masuk fase yang ketiga, maka mau tidak mau, suka tidak suka, peradaban telah memasuki masa senja dan mendekati tenggelamnya. Indikator yang paling kuat dari  fase ‘decline’ (keruntuhan, kehancuran) sebuah peradaban adalah degradasi moral dan hilangnya keadilan. Dua hal tersebut merupakan faktor primer keruntuhan peradaban. Faktor-faktor sekunder seperti merosotnya semangat menuntut ilmu, bekunya kreativitas, cerderung konsumtif dan pudarnya produktivitas, merupakan faktor-faktor sekunder yang mempercepat proses keruntuhan itu.

Kedhaliman Menggantikan Keadilan

Telah kita ketahui bahwa keadilan merupakan poros keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan. Selama keadilan tegak di bumi, maka keterbatasan sarana kehidupan yang dihadapi manusia tidak membahayakan, sebab keadilan itu akan mencegah sekelompok masyarakat ‘memakan’ sekelompok yang lain. Tetapi jika keadilan tidak tegak,… “la akala an-nas ba’dluhum ba’dlon (sekelompok manusia pasti akan memakan terhadap sebagian yang lain)”.  Efek kenetiknya akan merambat membentuk mata rantai penghancur peradaban itu ; orang-orang kaya semakin gemar menumpuk harta dengan cara yang dhalim dan tidak mau berbagi dengan orang miskin, orang yang miskin memandang orang kaya dan kekayaan dengan mata menyala disertai sikap iri, dengki dan doa yang buruk, para ahli agama menjadi rusak orientasinya sehingga ilmunya tidak menjadi suluh, akan tetapi menjadi alat untuk meraih harta, kedudukan dan kesenangan sementara.

Adalah merupakan ‘hukum kauniy’ bahwa ketika keadilan melemah pasti kedudukannya diganti dengan menguatnya kedhaliman, semakin surutnya keadilan adalah ‘mekar’-nya kedhaliman. Hingga ketika keadilan hilang, bertahta-lah kedhaliman. Penguasa adalah wasit yang harus adil. Ketidakadilan penguasa dan ketidakhadirannya membela yang didhalimi, sudah cukup membuat rusaknya harmoni dan keseimbangan. Apalagi ketika penguasa justru yang berbuat dhalim, keseimbangan dan harmoni itu akan runtuh. Terlebih ketika perbuatan dhalim itu obyeknya adalah rakyat, orang yang lemah yang tidak mempunyai pembela selain Allah. Nabi bersabda dalam sebuah hadits qudsiy:

قال النبي صلى الله عليه وسلم : يقول الله تعالى: اِشْتَدَّ غَضَبِيْ عَلَى مَنْ ظَلَمَ مَنْ لَا يَجِدْ لَهُ نَاصِراً غَيْرِيْ.

Nabi shallalLahu ‘alayhi wa sallam bersabda, Allah berfirman : “Sangat besar kemurkaan-Ku terhadap orang yang berbuat dhalim kepada pihak yang tidak memiliki penolong selain-Ku” [Imam Ath-Thabraniy].

Degradasi Moral dan Memperturutkan Syahwat

Faktor primer kedua yang membawa peradaban memasuki lembah kehancuran adalah ketika para pemegang kekuasaan sudah mengejar kesenangan hidup, bermoral rendah dan memperturutkan syahwat. Kerendahan tersebut tidak jarang diperagakan secara terang-terangan, diketahui oleh rakyat dan selalu menjadi bahan berita yang diburu awak media. Lebih buruk lagi jika pertunjukan kerendahan moral dari kelas penguasa tersebut disertai rasa bangga pada diri mereka. Akhlaq para pemimpin merupakan ‘model’ yang akan ditiru oleh rakyatnya, jika pemimpin berakhlaq baik maka rakyat mempunyai figur yang bisa dicontoh, namun jika mereka rusak, maka kerusakan itu akan ditiru dengan cepat oleh rakyatnya.

Baca Juga: Hilir Sekularisme Merusak Moral Bangsa 

Hari ini pertunjukan ketidakadilan, degradasi moral dan perburuan syahwat tersebut dilakukan tanpa rasa sungkan, diperparah dengan massif-nya pemberitaan yang jangkauannya mencapai tempat-tempat terpencil di muka bumi. Para awak media yang hidup dari mengorek dan mengulik segala sesuatu dari sumber berita telah dilatih untuk membahas sesuatu ‘in deep’ (secara mendalam), dari mulai gaya busana, kendaraan favorit, makanan hobi, destinasi wisata dan segala halnya tanpa ada yang tersisa dari sorotan. Pertunjukan perburuan kesenangan itu menjadi model dan obyek ‘imitasi’ (peniruan) dari mereka yang memiliki penopang untuk mengejarnya, sementara bagi yang tidak memiliki sarana pendukung untuk mengejar, menjadi simpanan keinginan, dan atau deposit dendam yang sewaktu-waktu bisa meledak. Simpanan dendam itu akan diperagakan orang-orang tertindas tersebut saat terjadi kerusuhan sosial, saat para penguasa itu terjungkal.

Allah telah memperingatkan dengan peringatan sangat keras agar tidak menjadi orang yang ‘dipinjam’ oleh-Nya untuk merealisasika ‘taqdir kauniy’-Nya :

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ.

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang dhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.[Ibrahim : 42].

Bukankah ‘awam al-fana’ al-hadloriy (faktor-faktor penyebab keruntuhan peradaban) yang dijelaskan tanda-tandanya oleh Ibnu Khaldun di atas telah di depan mata kita?? (Redaksi/Akhir Zaman/Peradaban

 

Tema Terkait: Pemikiran, Akhir Zaman, Peradaban 

%d bloggers like this: