3 Anak Tangga dalam Bermawas Diri

310

Hari demi hari kita lalui, terkadang maksiat lebih dominan kita lakukan daripada ketaatan, kadang dengan ijin Allah kita mampu menjalankan beberapa ketaatan dalam beberapa waktu. Masih banyak PR yang perlu kita introspeksi.

Muhasabah laksana pohon. Sebagian orang tidak kesulitan dalam memanjatnya, tapi sebagian yang lain teramat sulit melakukannya. Mereka yang kesulitan tak perlu risau, sebab para pendahulu yang shalih telah mewariskan “tangga” untuk memanjat pepohonan rimbun itu. Tangga tersebut sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim memiliki tiga anak tangga, yaitu;

Anak tangga pertama, timbanglah kebaikan Allah dengan kebaikan kita, lalu bandingkan antara pengabdian kita kepada Allah dengan dosa-dosa yang kita lakukan.

Dengan menimbang kebaikan Allah dengan pengabdian kita, kita akan mengerti bahwa Rabb adalah Rabb dan bahwa hamba adalah hamba. Kita akan mengetahui keagungan Allah dan Ia maha sempurna dan penuh karunia kepada hamba-Nya. setiap kenikmatan adalah anugerah dan setiap musibah adalah keadilan. Untuk memijakkan kaki pada tangga pertama, dibutuhkan tiga hal: ilmu yang dapat membedakan antara haq dan bathil, lalu suuzhan kepada diri sendiri dan yang ketiga membedakan antara nikmat dan fitnah.

Anak tangga kedua, pilahlah antara kewajiban kita untuk beribadah dan taat kepada Allah dengan hak kita. Hak kita adalah semua yang mubah secara syar’i. dengan menunaikan kewajiban, pastilah Allah akan memberikan apa yang menjadi hak kita. Banyak orang yang keliru memandang antara hak dan kewajiban seorang hamba. Sehingga berbuat semena-mena dan acuh terhadap syariat agama. Meninggalkan shalat, berzina dan lain sebagainya. Di sisi lain, ada yang memandang haknya sebagai kewajiban, sehingga larut dalam peribadatan, tapi lupa dengan urusan dunia. Sehingga urusan dunia terbengkalai dengan dalih sibuk beribadah.

Anak tangga ketiga, pahamilah bahwa setiap kebaikan yang kita rasa puas terhadapnya adalah bencana dan bahwa setiap kita menghina seseorang karena maksiat yang dia lakukan, niscaya kita akan melakukan kemaksiatan yang sama suatu hari nanti. Jadi jangan puas terhadap diri sendiri dan jangan pernah mencela orang lain.

Cukuplah sebagai pengingat, bahwa orang-orang alim dan arif senantiasa mengakhiri ibadah yang mereka lakukan dengan ‘istighfar’. Bukan lantaran ikut-ikutan atau latah, tetapi karena ia tahu bahwa ia telah kehilangan sekian persen dari seratus persen yang seharusnya mereka penuhi.

Itulah ketiga anak tangga yang memudahkan kita untuk memanjat pohon muhasabah. Sekarang bila sudah ada tangga, apa mungkin seorang muslim masih mengelak karena tidak bisa memanjatnya?