Setiap orang punya cara berbeda dalam menyambut Ramadan. Bagaimana sambutannya tergantung cara pandangnya terhadap Ramadan. Dan bulan Sya’ban adalah waktunya melakukan sambutan.
Orang-orang yang shalih menyambut Ramadan dengan ketaatan. Bulan Sya’ban yang hadir tepat sebelum Ramadan merupakan waktu ‘shiyam qobliyah’ sebelum shiyam wajib. Seperti halnya shalat, waktu yang menyertainya, baik sebelum maupun sesudahnya adalah waktu yang tepat untuk mengiringinya dengan ibadah sunah. Dalam hadits riwayat ‘Aisyah dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sering menghabiskan bulan Sya’ban dengan shiyam sunah.
Shiyam di bulan Sya’ban memiliki keutamaan yang besar. Disebutkan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan ghaflah, bulan di saat manusia banyak yang lalai dan melewatkanya begitu saja. Tidak menggunakannya untuk menyambut Ramadan dengan ibadah. Mereka sibuk dengan dunia, dan tahu-tahu Ramadan telah tiba.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latahiful Maarif menjelaskan bahwa menggunakan waktu-waktu yang dilalaikan manusia untuk beribadah memilik banyak faidah. Di antaranya dapat mendatangkan cinta Allah. Shalat tahajud memiliki keutamaan karena dilakukan saat kebanyakan manusia sedang tidur. Ibadah semacam ini seperti pelita yang tetap menyala di hari yang telah gelap. Keutamaan lainnya, bisa lebih ikhlas dan lebih khusyuk.
Lain orang shalih, lain pula orang awam. Kebanyakan orang, biasanya lebih fokus mencari uang. Apalagi jika jenis pekerjaannya merupakan pekerjaan yang omsetnya menurun atau bahkan tidak bisa dilakukan di bulan Ramadan. Oleh karenanya, sebelum Ramadan tiba, usahanya pun ‘digas’ agar incomenya maksimal. Nanti saat Ramadan tiba, diharapkan sudah punya sangu dan tidak kekurangan.
Ada pula yang justru puncak kesibukannya adalah di bulan Sya’ban. Beberapa pedagang ada yang sedang sibuk-sibuknya bekerja, memproduksi, dan memaksimalkan stok di bulan Sya’ban untuk menyambut ‘pasar’ Ramadan. Tahu sendiri, di Indonesia khususnya, Ramadan adalah bulan pasaran dan puncak konsumerisme. Milyaran transaksi terjadi di bulan ini, khususnya menjelang Iedul Fitri. Rugi sekali kalau sampai Ramadan tiba, stok barangnya tidak ada.
Repotnya, kesibukan ini tidak berhenti di bulan Sya’ban saja. Jika Sya’ban adalah bulan persiapan, maka Ramadan adalah waktunya berjualan, dan menjelang Iedul Fitri adalah puncaknya pemasukan. Akibatnya, Sya’ban dan Ramadan pun berlalu begitu saja. Rekening bank terisi berdigit-digit tapi catatan kebaikan sangat sedikit.
Dosa, sih, tidak. Cuma sayang sekali jika pasar pahala dan pembebasan dari neraka kita lewatkan begitu saja demi mencari keuntungan dunia. “Kan, labanya bisa kita sedekahkan…?” Benar. Pahala sedekah memang luar biasa. Tapi kenikmatan tilawah saat sedang lapar, berkahnya tarawih bersama kaum muslimin, dan indahnya ibadah di bulan suci tetap tidak bisa didapatkan dengan sedekah. “Cari uang kan juga ibadah.” Tepat sekali, tapi tentunya sesuai proporsinya, karena mencari nafkah dengan serakah itu beda.
Lain lagi sambutan yang dilakukan ahli maksiat. Sebelum Ramadan tiba, maksiatnya dipol-polkan dengan alasan sebentar lagi Ramadan. Makanya selagi masih belum puasa, puas-puasin dulu. Aneh sebenarnya. Memangnya maksiat apa, sih, yang benar-benar tidak bisa dilakukan di bulan Ramadan? Mengapa pula harus dipuas-puaskan sebelum Ramadan?
Bagi yang terbiasa minum minuman keras, berzina, dan melakukan aneka maksiat lainnya, bukankah Ramadan sama sekali bukan penghalang? Mau minum, ya minum saja. Yang sukanya pacaran justru punya alasan ketemu dan jalan-jalan dengan alasan buka bersama, bukan?
Tapi mungkin beginilah yang terjadi ketika hawa nafsu ketemu iman di dalam kalbu. Di satu sisi, hawa nafsu menginginkan maksiat, di sisi lain iman masih berusaha membendung dan menahan dengan puasa dan penghormatan terhadap bulan suci. Akibatnya, Ramadan memang bisa menahan hawa nafsu meski hanya sementara.
Sayangnya, hawa nafsu itu licik. Sebelum Ramadan tiba, dia mendesak dipuaskan, seakan-akan dia akan berhenti saat Ramadan. Namun saat Ramadan tiba, dia akan tetap merengek minta jatah dengan memberi berbagai alasan. Akhirnya, sebelum Ramadan dosanya berlipat, dan saat Ramadan nafsu tetap bermaksiat dan ketaatan pun banyak yang terlewat.
Pola pikir yang berbahaya adalah yang sengaja menumpuk dosa sebelum Ramadan karena mengira Ramadan mampu mencuci dosanya tanpa sisa. Inilah si aghrur. Manusia yang tertipu. Memang benar bahwa rahmat Allah sangat luas dan ampunan-Nya terbuka lebar saat Ramadhan. Namun tidak selayaknya keluasan rahmat-Nya kita lecehkan dengan seenaknya bermaksiat, menihilkan rasa takut dan takzhim, sembari merasa yakin kita akan diistimewakan meski sebelumnya telah mengecewakan.
Ramadan adalah bulan ampunan, tapi Ramadan bukanlah bulan yang mampu memberi pengampunan. Dzat yang mengampuni adalah Dzat yang sama dengan yang kita maksiati. Hamba yang baik adalah hamba yang tunduk, taat dan menghormati, bukan hamba yang suka berkhianat dan melanggar larangan namun terlalu pede akan jadi hamba yang diistimewakan. Nastahgfirullahal azhim.
Semoga Allah berikan kemampuan kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Sya’ban ini dengan kebaikan. Mengampuni dosa-dosa kita dan seluruh kaum muslimin, menghamparkan rahmat-Nya, dan mempertemukan kita dengan bulan mulia, bulan Ramadan. Amin.
(Redaksi/Majalah Risalah Hati)
