Catatan Harian Juru Dakwah

7

Mungkin tak ada yang lebih sibuk dari seorang da’i. Dia harus menyiapkan bahan yang hendak disampaikan, jam terbang yang begitu padat dengan acara kajian dan dakwah, di samping tanggung jawab menafkahi keluarga tentu saja tak lepas dari pundaknya. Bukan saja dia harus berkonsentrasi terhadap nasib diri dan keluarganya, namun juga berbagi pikiran untuk kesejahteraan umat di dunia dan akheratnya, nasib Islam dan masa depannya.

Terkadang, da’i yang super sibuk tersebut tidak bisa mengatur waktu secara proporsional. Ketimpangan pada satu sisi berefek pada ketidakseimbangan jalannya roda pada sisi yang lain. Perhatian da’i secara berlebih kepada aktivitas dakwah, memperpadat acara demi acara namun melupakan hak diri dan keluarganya bakal menimbulkan efek buruk di belakangnya. Bukan saja terlantarnya kebutuhan diri dan keluarga, namun juga kehidupan ruhani dan kelangsungan dakwahnya.

 

Kebiasaan Orang Shalih

Dalam aspek amal dan ketaatan, tak dikisahkan tentang seorang shalih, pahlawan Islam atau seorang alimpun melainkan ia memiliki kebiasaan shalat malam, dzikir, tertib shalat jama’ah dan akrab dengan kitabullah. Sedangkan kita, seringkali kedodoran menjaga rutinitasnya. Shalat jama’ah kadang terlambat, dzikir pagi sore tak terpikir, tilawah Qur’an keteteran, shalat malam tak dibiasakan lantaran telah ‘terkuras’ tenaga dan waktunya untuk dakwah. Bagaimana kita hendak mengobati umat jika ruhnya sekarat? Bagaimana kita kuasa menanggung beratnya rintangan jika benteng pertahanan jiwa begitu rapuh? Bagaimana pula kita mampu merobohkan musuh sedang kekuatan hati nyaris lumpuh?

 

Shalat Jama’ah

Jangan salahkan umat jika mereka menjauh dan tidak mau belajar kepada kita lantaran keteledoran kita terhadap shalat jama’ah. Karena mereka ingin belajar dari orang yang baik agamanya, sedangkan shalat jama’ah merupakan indikasi yang paling utama. Umar bin Khathab mengatakan perihal shalat jama’ah, “Barangsiapa yang meremehkan shalat, maka sungguh untuk urusan selainnya pasti lebih meremehkan.”

Seringkali para da’i mendidik umatnya untuk mengesampingkan urusan ini, mereka menyelenggarakan acara-acara pengajian hingga menabrak waktu-waktu shalat, atau asyik berceramah meski terdengar suara iqamah. Itupun setelahnya pendengar dibiarkan pulang, padahal telah satu jam lewat dari masuknya waktu shalat. Bagaimana dia serius memikirkan agama jika urusan shalat dia remehkan?

Jika Ibnu Ummi Maktum yang buta, rumahnya jauh dari masjid dan sulit jalannya tidak diberi keringanan oleh Nabi untuk shalat di rumah ketika mendengar adzan, maka alasan apa yang hendak kita utarakan untuk tidak mendatangi shalat jama’ah? Padahal kita melihat, sehat dan mendengar adzan bahkan tidak hanya sekali.

Bahkan karakter paling menonjol dari orang munafik pada zaman sahabat adalah meninggalkan shalat jama’ah. Maka alangkah tidak layak jika keteledoran ini menjadi kebiasaan seorang da’i.

 

Shalat Malam

Allah telah mempersiapkan Nabi dan para sahabatnya dengan ibadah yang kuat berupa wajibnya qiyamul lail pada awalnya. Hingga pada akhirnya mereka teguh menghadapi ujian, tegar menghadapi kendala dan musuh-musuh dakwah. Bahkan musuh-musuh mensifatkan mereka dengan kalimat, “Seandainya mereka berhasrat untuk menghancurkan gunung niscaya mereka mampu.”

Shalat malam adalah kebiasaan orang shalih. Rasanya kita malu kepada Allah, ketika orang menyebut kita orang shalih namun tidak memiliki kebiaaan yang dilazimi orang shalih. Nabi bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلْإِثْمِ

“Hendaknya kalian mengerjakan shalat alam, karena itulah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia dapat mendekatkan dirimu kepada Allah, pelebur kesalahan, pencegah dari dosa.” (HR. Tirmidzi, Abu Isa berkata, “Inilah hadist paling shahih yang melalui jalur Abu Idris dari Bilal)

Tatkala Abu Hanifah berjalan dan mendengar orang saling berbisik, “Inilah orang yang tidak pernah tidur di waktu malam (karena shalat malam)”. Maka beliau bergumam, “Ya Allah aku malu kepada-Mu, orang-orang memiliki prasangka baik kepadaku padahal aku tidaklah memilikinya.” Sejak itu beliau selalu menghidupkan malanya untuk shalat.

 

Melazimi Dzikir

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan, bagaimana halnya jika ikan dikeluarkan dari air?” tentulah ikan akan mati, sebagaimana hati akan gersang bila kering dari dzikir, akan mati jika terlalu lama kosong dari mengingat Allah. Pentingnya dzikir kepada Allah ditunjukkan oleh perbuatan Nabi yang mengajarkan kepada kita dzikir-dzikir tertentu setiap hendak melakukan sesuatu, dari bangun pagi hingga bangun pagi yang berikutnya.

Nabi membuat perumpamaan antara orang yang rajin berdzikir dengan yang lali:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan yang tidak berdzikir kepada-Nya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan yang mati.” (HR. Al-Bukhari)

Hati yang hidup dan lisan yang sehat tak pernah merasa bosan untuk berdzikir, bahkan merasa kehilangan jika lupa atau tak bisa mengerjakannya.

Al-Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama besar dan juru dakwah yang handal memiliki kebiasaan tidak keluar masjid seusai shalat shubuh melainkan setelah mataharai terbit, beliau menyibukkan dengan dzikir dan membaca Al-Qur’an. Beliau bergumam, “inilah sarapan pagiku, tubuhku akan lunglai tak berdaya jika melewati pagi tanpa amalan ini.” Ya, beliau merasakan lesu ketika terlewatkan dzikir pagi sebagaimana lesunya kita tatkala terlewat dari sarapan pagi.

 

Tilawah Al-Qur’an

Diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk dibaca di samping diamalkan dan diajarkan. Sehingga dalam banyak ayat Allah memerintahkan untuk membacanya, begitupula Nabi banyak memberikan motivasi untuk itu. Beliau bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu pahala kebaikan, setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kali, aku tidak mengatakan bahwa alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. Al-Bukhari)

Dengan fadhilah ini pula, para sahabat antusias untuk membaca dan bahkan menghafalkannya. Umumnya para sahabat mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali, paling lama 30 hari dan paling cepat 3 hari sekali, kecuali pada kesempatan-kesempatan utama seperti bulan Ramadhan.

Jika apa yang kita dakwahkan adalah Al-Qur’an, bagaimana kita jenuh membacanya? Tentu di sana, di hati kita ada penyakit yang bersemayam di dalamnya. Karena beningnya hati menimbulkan kerinduan untuk senantiasa dekat dengan kalam Rabbnya. Ustman bin Affan yang syahid di saat mendekap mushaf Al-Qur’an yang dibacanya pernah berkata, “kalaulah hati kita jernih, tentulah tidak akan bosan membaca kalamullah.”

Segala amal tersebut (dengan taufik Allah) ketika telah menjadi kebiasaan, insya Allah tidak akan terasa berat dan bahkan menjadi penghibur jiwa dan pelipur lara. Sungguh ini bukanlah mengada-ada atau berpura-pura. Nabi sendiri menyuruh Bilal menghibur dengan shalat. Beliau bersabda, “arihna bish-shalah ya Bilal”, wahai Bilal hiburlah diri kita dengan shalat! Muhammad bin Munkadir rahimahullah berkata, “Tiada kelezatan dunia yang melebihi tiga hal, yakni shalat malam, berkumpul dengan saudara dan shalat jama’ah.” Umar juga mengatakan yang serupa dan ditambah “jihad fii sabilillah.

Bahkan kenikmatan berma’rifah dan beribadah kepada Allah inilah jannah di dunia yang dikatakan oleh syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Di dunia ada jannah, barangsiapa yang tidak memasukinya, maka sulit baginya memasuki jannah akheratnya.” Wallahu a’lam

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Dakwah