Ilmu dan amal selayaknya menjadi paduan yang berjalan seiring. Amal tak akan lurus tanpa didasari ilmu, dan ilmu tidak berguna tanpa adanya amal. Kiranya tak ada yang menyangkal kesimpulan ini pada tataran global. Akan tetapi pada tataran yang lebih detil, dan tatkala sudah masuk pada ranah aplikasi seringkali berbeda penafsiran.
Terkadang setan menyerang dengan muslihat yang samar. Di mana ia menghiasi suatu bentuk ibadah secara ghuluw (berlebihan) pada satu sisi, dan pada sisi yang lain menganggap remeh bentuk ibadah yang lain. Hal yang sama terjadi dalam hal ilmu dan amal. Dengan alasan tujuan ilmu adalah untuk diamalkan, maka orang-orang yang merasa telah mengamalkan akhirnya berhenti menyibukkan diri dari belajar, karena tujuan telah tercapai. Di sisi yang lain, dengan seabrek keutamaan ulama yang tersebut dalam banyak nash, akhirnya ada yang mencukupkan diri dan sibuk dengan mencari ilmu lalu kurang perhatian terhadap amal.
Yang Meremehkan Ilmu
Ibnu al-Jauzy menceritakan pengalamannya dalam bukunya yang fenomenal, yakni Shaidul Khatir, “Suatu hari aku menulis suatu bab dari Abbas ad-Duri, saat pulang aku berpapasan dengan seorang sufi yang berkata kepadaku, ”Tinggalkanlah ilmu kertas dan dalamilah ilmu amal.” Aku juga pernah melihat seorang sufi membawa wadah tinta, maka sufi yang lain berkata kepadanya, ”Buang saja tintamu itu.”
Mereka memiliki syiar yang dialamatkan kepada asy-syibli,
Jika mereka menyuruhku membeberkan ilmu kertas
Aku kalahkan mereka dengan ilmu amal!
Sebenarnya, sikap meremehkan ilmu seperti ini merupakan muslihat setan yang samar,
”Dan sesungguhya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya”(QS Saba’ 20)
Tujuan dari bisikan ini adalah, agar orang-orang yang hendak beribadah itu berjalan di tengah kegelapan. Karena ilmu adalah cahaya, ia juga menjadi rambu-rambu yang memandu amal. Bagaimana mungkin seseorang bisa beramal dengan benar tanpa panduan ilmu. Karenanya, Imam al-Bukhari meletakkan bab khusus dalam Shahihnya, “al-ilmu qablal qauli wal ‘amali”, ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.
Target kedua dari setan adalah, supaya ilmu mereka tidak bertambah. Karena belajar akan membuat orang tahu sesuatu yang sebelumnya tak diketahuinya, memperkuat keimanannya dan ma’rifatnya, serta makin memahami celah-celah setan menggoda orang-orang beriman. Oleh sebab itu setan berusaha menutup pintu-pintu tersebut dengan muslihat yang sangat samar, memperlihatkan kepada para ahli ibadah bahwa tujuan utama hidup adalah amal, bukan ilmu itu sendiri. Mereka lupa, bahwa mencari ilmu itu sendiri adalah bagian dari amal.
Cukuplah pujian Allah atas orang berilmu sebagai pedoman,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujadalah 11)
Hanya Menjadi ‘Brangkas’ Ilmu
Barangkali, sikap meremehkan ilmu yang dilakukan sebagian ahli ibadah itu karena melihat fakta, banyak orang-orang yang disibukkan dengan ilmu tapi kosong dari amal. Mereka layaknya ‘brangkas’ ilmu, yang hanya mencari dan mengumpulkan ilmu dan tak menyempatkan diri untuk beramal dan memperbanyak ibadah.
Pernah suatu kali Ummu Darda’ radhiyallahu ‘anha bertanya kepada seorang penuntut ilmu, “Apakah kamu sudah mengamalkan ilmu yang sudah kau ketahui?” Orang itu menjawab, “Belum.” Maka beliau berkata, “Mengapa kamu memperbanyak hujah Allah atas dirimu?”
Sebenarnya, sisi yang beliau tekankan di sini adalah, “Amalkan apa yang sudah kamu pelajari!” dan bukan dari sisi, “Jangan banyak belajar!”
Tak disangkal memang, ada orang yang paham seluk beluk ikhtilaf para ulama, namun malas mengerjakan berbagai ibadah sunnah. Ia paham detil perbedaan ulama tentang tata cara shalat malam, berapa rekaat yang paling utama dikerjakan, bagaimana pula cara pembagian rekaatnya, dua-dua ataukah empat-empat, bagaimana tata cara witirnya, namun ternyata pengetahuan ini tak diimbangi dengan praktiknya. Ia menjadi orang yang malas mengerjakan shalat malam. Tentu saja, bukan seperti ini tujuan ilmu dicari.
Betapa pentingnya amal, hingga para ulama belum menyematkan gelar ‘alim’ kepada seseorang yang meskipun sudah memiliki banyak ilmu tapi belum mengamalkan ilmunya. Syiar mereka adalah, “innamal ‘aalim man ‘amila bimaa ‘amila”, orang alim itu hanyalah orang yang sudah mengamalkan ilmu yang diketahuinya.
Ringkasnya, ahli ibadah hendaknya terus melengkapi ilmunya agar semakin berkualitas amal ibadahnya, begitupun para ulama, hendaknya menyempurnakan karakternya dengan mewujudkan apa-apa yang telah diketahuinya. Oleh karena itu, sebenarnya masing-masing perlu belajar kepada yang lain. Yang alim belajar kepada abid dalam hal kesungguhannya dalam beribadah, sedangkan yang abid belajar kepada ulama tentang keyakinan dan tata cara amal yang disyariatkan. Sehingga Malik bin dinar rahimahullah yang dikenal ahli ibadah rajin belajar kepada Hasan al-bashri yang dikenal sebagai a’lamut taabi’in fil halaali wal haraam’, ulama tabi’in yang paling paham tentang halal dan haram. Dengan percaya diri beliau berkata, “Hasan adalah guru kami.”
Tatkala orang-orang mengunggulkan keilmuan Ahmad bin Hanbal rahimahullah, dengan tawadhu’ beliau mengatakan, ”Tujuan ilmu sebenarnya adalah mencapai apa yang telah dicapai oleh Ma’ruf al-Kurkhi,” yang dikenal sebagai ahli ibadah. Meskipun bagi yang mempelajari biografi Imam Ahamd bin hambal niscaya akan tahu bahwa beliau bukan saja seorang fuqaha’, tapi juga ahli ibadah yang sangat wara’, dan takut kepada Allah.
Semoga Allah jadikan kita termasuk ulama’ aamilun, orang berilmu yang mengamalkan ilmunya. Aamiin. (redaksi)
