Imam Al-Bukhari: Imam Para Pakar Hadits Sepanjang Zaman

36

Namanya terlalu masyhur untuk dikenalkan, ilmunya terlalu luas untuk diukur, keutamaannya terlampau banyak untuk dibilang, lebih banyak dari bilangan kerikil dan pasir. Perjalanan hidupnya yang mengagumkan membuat tak seorangpun jemu untuk menelusuri lebih jauh siapakah gerangan sesungguhnya pemilik kitab yang paling shahih setelah kitabullah ini.

Beliau adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim. Lahir pada saat “sayyidul ayyaam”, usai shalat jum’at tanggal 13 Syawal 194 H. Badannya kurus, perawakannya sedang, kulit kecoklatan (sawo matang), sedikit makan, pemalu, dermawan dan zuhud. Tumbuh dalam keluarga yang pantas diteladani dalam hal ilmu dan wara’, terutama kehati-hatiannya dalam makan. Ayahnya berkata, “Didalam hartaku tidak terdapat uang yang haram ataupun syubhat sedikitpun.”

Sifat wara’ dari orang tua tersebut ternyata membuahkan keberkahan dengan lahirnya anak manusia yang pada gilirannya menjadi Imam para pakar hadits, dan tak seorang manusia hingga hari ini melainkan membutuhkan ilmunya.

Tanda-tanda kecerdasannya telah nampak ketara semenjak kecil, terutama daya hafalnya yang luar biasa. Belum genap usia sepuluh tahun, beliau sudah banyak menghafal hadits. Bahkan setelah berumur 16 tahun beliau sudah hafal kitab-kitab Abdullah bin Mubarak dan Waki’ bin Al-Jaraah.

Baca Juga: Sejarah Kemunculan Hadits Maudhu’

Bakat itu semakin memuncak ketika dipupuk dengan kesungguhan beliau dalam mencari hadits. Ketika beliau berumur 16 tahun, beliau pergi haji bersama ibu dan saudaranya. Setelah berhaji keduanya kembali ke Bukhara sementara Al-Bukhari memutuskan tinggal di Mekah. Sejak itulah pengembaraan memburu hadits dimulai. Beliau merantau ke seluruh negeri-negeri Islam untuk mendapatkan hadits. Tidak kurang dari 1.080 ulama di seluruh negeri Islam yang beliau datangi. Beliau berkata, “Saya telah pergi ke Syam, Mesir, Jazirah dua kali, ke Bashrah empat kali dan saya bermukim di Hijaz selama enam tahun, dan tak terhitung lagi berapa kali saya pergi ke Kufah dan Baghdad untuk menemui hadits.” Di Baghdad inilah beliau sering menemui Imam Ahmad bin Hambal, Imam Madzhab yang dikatakan Ar-Raazi, “Adalah Ahmad bin Hambal hafal 1 juta hadits.”

Semakin gigih beliau mencari ilmu sedangkan ilmu pun serasa cocok bersemayam di dalam jiwanya yang agung.

Terkadang untuk mencari sebuah hadits, tak segan-segan beliau rela menjual kendaraan dan barang berharga miliknya demi menemui ulama yang menyimpan hadits. Meski tidak selalu orang yang ditujunya benar-benar layak untuk diambil haditsnya.

Pernah suatu hari beliau mendatangi seseorang yang katanya memiliki hadits. Beliau menjumpainya di saat kudanya lari. Lalu dia pamerkan wadah makanan untuk kuda itu. Imam Bukhari bertanya, “Apakah dalam wadah itu betul-betul ada makanan untuk kuda itu?” Orang itu menjawab, “Tidak, ini hanyalah siasat untuk mengelabui dia supaya kuda itu mau kembali.” Dengan kecewa Imam Bukhari berpaling sambil berkata, “Aku tidak mengambil hadits dari orang yang berani menipu binatang.”

Begitulah, siang hari beliau berburu ilmu, bermalam bersama ilmu pula. Sudah menjadi kebiasaan beliau, ketika terlintas suatu ilmu dibenaknya di tengah malam beliau bangun menyalakan lampu lalu menulisnya, kemudian lampu itu dimatikan. Sebentar kemudian beliau ulangi lagi yang demikian itu, beliau mengulangi yang demikian itu hingga dua puluh kali dalam semalam.

Ilmu yang masuk ke dalam jiwanya demikian melimpah, namun serasa makin longgar daya tampungnya untuk mewadahinya, kuat mempertahankan apa yang telah dihafalnya. Tentu tidak sebagaimana umumnya kita di zaman ini, bertambahnya hafalan seringkali bersamaan dengan hilangnya sebagian hafalan yang lain karena lupa.

Bukti akan kecerdasan dan kekuatan hafalannya adalah tatkala beliau tiba di Baghdad, ulama hadits berkumpul untuk menguji kemampuannya. Mereka mencampur aduk dan mengoplos sanad dan matan hadits sebanyak 100 hadits. Matan hadits satu ditukar dengan sanad hadits yang lain dan sebaliknya. Sepuluh ulama itu massing-masing mengajukan 10 hadits yang sudah acak tak karuan. Ulama pertama membacakan 10 hadits kepada beliau, setelah selesai Al-Bukhari menjawab, “Aku tidak mengenal matan hadits seperti itu namun jalur sanadnya seperti itu.” Begitu seterusnya sampai penanya yang kesepuluh.

Setelah itu Imam Al-Bukhari kembali kepada penanya pertama dan berkata, “Hadits yang pertama tadi mestinya sanadnya adalah begini..” Hingga seratus hadits mampu beliau posisikan letak sanad dan matannya dengan tepat. Ternyata tak satupun ada kesalahan atau sanad yang tertukar. Maka ulama Baghdad menyatakan kekaguman akan kecerdasan beliau hingga mereka menjuluki beliau dengan Imam Hadits.

 

Kitab Shahih Bukhari yang Luar Biasa

Ada persitiwa mengesankan yang selalu beliau kenang. Persitiwa yang dengannya muncul kitab Shahih Al-Bukhari. Kitab yang disepakati oleh para ulama sebagai kitab paling shahih setelah kitabullah, sehingga hari ini kita tidak mungkin rasanya dapat meneladani Nabi melainkan harus dengan membuka kitab beliau.

Suatu ketika beliau mengikuti majelis syeikhnya Ishaq bin Rahawaih yang tatkala itu beliau berkata kepada para muridnya, “Andai saja di antara kalian ada yang mampu mengumpulkan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah saw dalam sebuah kitab.” Peristiwa tersebut, begitu istimewa bagi beliau meski dianggap sederhana oleh selainnya atau tak lebih sebagai umumnya harapan bahkan dianggap angan-angan. Imam Bukhari bercerita, “Kalimat itu sangat berkesan di hatiku, sehingga aku bertekad untuk mengumpulkan hadits-hadits yang shahih.”

Baca Juga: Hadits ‘Istiqlaaliyah’, Bolehkah Dijadikan Pegangan?

Beliau tidak gegabah memasukkan hadits ke dalam kitab shahihnya. Di samping hati-hati dalam mengambil hadits dari sumbernya, beliau tidak memasukkan satu haditspun melainkan setelah istikharah sebelum menulisnya. Alangkah istimewa kitab shahihnya, alangkah luar biasa penyusunnya.

Abu Zaid Al-Marwazi, seorang ulama pengikut Madzhab Syafi’iyah yang masyhur berkata, “Suatu ketika aku bermimpi ketemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam lalu beliau berkata kepadaku, ”Sampai kapan engkau mempelajari kitab-kitab Syafi’i sedangkan engkau belum mempelajari kitabku?” Aku bertanya, “Apa kitab Anda itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kumpulan hadits Muhammad bin Isma’il (Al-Bukhari). ”Tentu cerita ini tidak menunjukkan kerendahan kitab-kitab Imam Syafi’i, namun keunggulan kitab Shahih Al-Bukhari.

Banyak sanjungan yang disampaikan oleh para ulama masyhur perihal beliau. Di antaranya adalah Abu Bakar bin Khuzaimah berkata, “Di kolong langit ini tidak ada ahli hadits yang melebihi Muhammad bin Isma’il (Al-Bukhari)

Sedangkan Abu Hatim Ar-Raazi berkata, “Khurasan ini belum pernah melahirkan seorang yang melebihi Al-Bukhari, begitupula di Irak.”

Namun beliau bukan saja ahli dalam bidang hadits dan ilmu dien. Beliau juga ahli memanah dan rajin mempelajarinya sebagai i’dad (persiapan) untuk berjihad fii sabilillah. Bahkan ada yang berkata bahwa sepanjang hidupnya hanya dua kali saja anak panahnya meleset dari sasaran.

Demikianlah, perjalanan hidup beliau penuh dengan lembaran indah amal shalih, kenangan ilmu dan teladan bagi umat yang setelahnya dalam kegigihan mencari ilmu dan mengamalkannya.

Hingga datanglah hari di mana Allah berkehendak mencabut sebagian ilmu dengan wafatnya ulama yang tiada bandingnya pada zamannya apalagi generasi yang setelahnya.

Ketika penduduk Samarkand meminta kesediaan beliau untuk tinggal di sana, beliau berangkat menuju ke sana. Beliau mampir di sebuah desa Khartank yang terletak 2 farsakh dari Samarkand untuk mengunjungi sebagian kerabatnya, namun wafat menjemputnya di saat usia beliau sekitar 62 tahun. Semoga Allah membalas kebaikan beliau atas jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin. Wallahu a’lam

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Tsaqafah Islam