10 Penghalang Hidayah

12

Hidayah teramat mahal harganya. Karena upah dari seseorang yang tercelup tinta hidayah adalah jannah. Tak mungkin jannah diharga rendah, sedangkan kenikmatan di dalamnya amat abadi tiada tertandingi. Maka, banyak orang yang susah payah untuk mendapatkan hidayah. Tapi, ada juga yang dengan mudahnya, hanya karena satu-dua kalimat nasihat dari saudaranya, ia tergugah dan mendapatkan hidayah.

Waliyadzubillah bagi mereka orang-orang yang hingga ajalnya belum mendapatkan hidayah. Mungkin berikut inilah sebab mengapa mereka belum mendapatkannya.

 

PERTAMA: LEMAHNYA ILMU

kebodohan inilah yang menyebabkan terhalangnya kebanyakan orang-orang kafir untuk masuk Islam. Mereka tidak mengenal Islam dengan baik ditambah lagi dengan rasa benci terhadapnya. Sebagaimana dikatakan, “Manusia akan menjadi musuh ketika mereka bodoh.”

Kebodohan juga menyebabkan orang yang mengaku muslim membenci syari’at Islam, memusuhi pembelanya dan mencintai musuh-musuhnya.Patut disesalkan, kebodohan terhadap hakekat Islam yang tengah melanda kaum mulsimin hari ini. Bahkan diantara mereka berkata, “Apabila saya bertaubat kepada Allah, dan kembali ke jalan Allah kemudian beramal shalih maka rizki akan menajdi sempit bagiku dan akan mempersulit pekerjaanku. Jika aku kembali dalam kemaksiatan dan mengikuti kemauan hawa nafsuku justru rizki akan mengalir kepadaku dan banyak orang yang membantuku.” Ini adalah tipe orang yang beribadah kepada Allah semata-mata karena perut dan hawa nafsunya.

Kalaupun seseorang mengalami hal itu, Allah Maha Mengetahui ketulusan dan kesabaran hambaNya. La ilaha illallahu, berapa banyak kerusakan yang timbul karena terpedaya oleh ahli ibadah yang jahil, orang yang mengaku beragama namun tidak memiliki ilmu tentang agamanya dan orang yang dianggap  berilmu padahal dia tidak memahami hakekat dien dengan benar. Tidakkah anda membaca firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al Hajj :11)

Subhanallahu, betapa fitnah yang besar  ini telah menghalangi orang-orang untuk menegakkan hakekat agama ini dengan sebab bodoh terhadap urusan dien, bodoh terhadap hakekat nikmat yang dia cari dan untuknyalah dia bekerja keras. Seberapa besar nikmat dunia jika dibandingkan dengan nikmat akherat? Adapun perintah dan larangan sebenarnya adalah rahmat dari Allah dan juga sebagai benteng (dari mafsadah-pent). Allah menjadikan kesusahan di dunia bagi orang-orang yang beriman hingga mereka tidak merasa betah dan gandrung terhadap dunia dan mereka menggantungkan harapannya kepada akherat.

 

 KEDUA: TIDAK MAU MENGAMALKAN ILMUNYA

Terkadang seseorang memiliki pengetahuan yang sempurna, akan tetapi dia meninggalknnya karena kegersangan hatinya. Allah berfirman :

وَلَوْ عَلِمَ اللهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَّهُم مُّعْرِضُونَ

“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka-mereka dengar itu).” (QS Al Anfaal 23)

Seperti tanah yang keras yang dibasahi air, maka hal itu tidak dapat menjadikan tumbuhnya tanaman lantaran tanah tersebut tidak dapat menerima (menyerap) air. Ketika hati itu keras, maka tidak dapat menerima nasehat sedangkan hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras. Demikian halnya keika hati itu sakit, maka tidak ada kekuatan padanya dan tekadpun menjadi lemah, sehingga ilmu tidak berpengaruh terhadapnya. Sifat mereka sebagaimana yang Allah sifatkan :

وَإِذَا ذُكِرَ اللهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاْلأَخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS Az Zumar 45)

 

KETIGA: HASAD DAN SOMBONG

Kesombongan menyebabkan iblis tak sudi mentaati Allah. Kesombongan juga menyebabkan orang-orang Yahudi tidak mau beriman kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, padahal mereka mengenal Nabi,  menyaksikannya dan mengenali pula tanda-tanda kenabian beliau.  Allah berfirman :

الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al Baqarah: 147)

Penyakit ini pula yang menyebabkan Abdullah bin Ubai bin Salul terhalang untuk beriman, demikian pula dengan Abu Jahal, yang mana ketika seseorang bertanya kepadanya sebab yang menghalangi dirinya mengimani Nabi padahal dia mengetahui bahwa beliau benar-benar seorang Nabi, maka Abu Jahal menjawab, “Kami berlomba dengan Bani Hasyim dalam hal kehormatan, hingga tatkala kami berlomba laksana kuda yang sedang bertanding tiba-tiba mereka (Bani Hasyim) berkata, “ Diantara kami ada seorang Nabi, lantas kapan kita akan mendapatkannya? Demi Allah aku tidak mau mengimaninya.”

Demikian halnya dengan orang-orang musyrik seluruhnya, pada dasarnya mereka tidak meragukan kebenaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan bahwa kebenaran berada dipihak beliau, akan tetapi rasa hasad dan sombong menyebabkan mereka tetap kafir dan membangkang.

 

KEEMPAT: TAKUT KEHILANGAN JABATAN

Seringkali manusia dihadapkan pada dua pilihan, antara tunduk kepada kebenaran atau kerajaan dan jabatan, lalu dia lebih condong kepada kedudukan sebagai raja dan jabatan. Sebagaimana keadaan Heraklius diakhir perbincangannya dengan dengan Abu Sufyan dia mengatakan, “Jika apa yang engkau katakan itu benar, niscaya dia akan menguasai tanah yang aku injak ini, dan kalau saja aku bisa selamat untuk menemuinya niscaya dengan susah payah aku akan menjumpainya, kalau saja aku berada di sisinya, niscaya akan aku basuh kedua telapak kakinya.” Maksudnya adalah dia tidak kuasa untuk menjumpai Nabi karena ia takut akan nasib hidupnya dan khawatir akan kehilangan jabatannya sebagai raja. Dan tiada yang selamat dari penyakit ini melainkan orang dijaga oleh Allah semacam raja Najasyi.

Inilah penyakit yang menjangkiti Fir’aun beserta antek-anteknya. Allah berfirman :

فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ

“Dan mereka berkata:”Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?”(QS Al Mukminun 47)

Diriwayatkan bahwa tatkala Fir’aun hendak mengikuti Musa dan membenarkannya dia bermusyawarah dengan Haman sebagai mentrinya. Maka Haman berkata,”Apakah tuan ingin menjadi hamba yang menyembah kepada selain tuan setelah tadinya orang lain yang menyembah tuan?” Maka Fir’aun memilih riyasah (jabatan) daripada hidayah.

 

KELIMASYAHWAT DAN HARTA BENDA

Inilah yang menyebabkan kebanyakan ahli kitab menolak iman karena mereka takut jika kahilangan pangan dan harta yang mana kaum mereka mengirimkan upeti kepada mereka. Adalah orang-orang kafir Quraisy mencegah seseorang dari iman karena dapat mencegah dari melampiaskan syahwatnya. Mereka mengatakan kepada orang-orang yangsuka berzina,”jika kamu Isalm maka Islam melarang perbuatan zina.”

Meraka juga berkata kepada orang yang suka dengan minuman khamr, ”sesunguhnya Islam melarang khamr.” Dengan slogan ini pula mereka menghalang-halangi Al A’sya seorang penyair yang hendak masuk Islam, mereka mengabarkan bahwa Islam mengharamkan khamr. Maka dia kembali pulang padahal dia telah berjalan menuju Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu dalam perjalanan pulang unta yang ditungganginya membantingnya hingga menyebabkan ia jatuh dan mati.

Diantara ahli ilmu berkata, “saya telah berdialog dengan beberapa ahli kitab tentang Islam, kebanyakan apa yang terakhir kali mereka katakan kepadaku adalah, “Saya tidak bisa jika harus meninggalkan khamr dan meminumnya, jika saya masuk Islam kalian mencegahku dari minum khamr dan jika aku nekat kalian akan menjilidku.”  Ada pula yang lain berkata setelah aku tawarkan Islam kepadanya, “Memang apa yang anda katakan benar, akan tetapi aku memiliki kerabat yang mempunyai banyak harta. Sedangkan kalau saya masuk Islam, maka aku tidak mendapatkan bagiannya sedikitpun padahal saya ingin mendapatkan warisan darinya.” Tidak diragukan lagi bahwa sikap seperti ini banyak dirasakan di hati kebanyakan orang-orang kafir. Ketika pada diri mereka berhadapan antara kekuatan yang menyeru kepada syahwat dan harta dengan seruan iman yang lemah, maka tidak diragukan lagi bahwa ia akan menyambut seruan syahwat dan harta. Allah berfirman :

وَمَن لاَّ يُجِبْ دَاعِيَ اللهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي اْلأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ أُوْلَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al Ahqaaf: 32)

 

KEENAMLEBIH MENCINTAI KELUARGA KERABAT DAN FAMILI

Mereka memiliki opini bahwa jika dia mengikuti kebenaran sedangkan keluarganya menentangnya maka dia akan dijauhi dan diasingkan oleh mereka. Inilah yang menyebabkan kebanyakan orang kafir tetap dalam kekafirannya karena ingin tetap bersama kaum, keluarga dan familinya. Kedaaan ini pula yang banyak menimpa orang-orang Yahudi dan Nasrani, bagaimana jika mereka memboikot terhadap siapapun yang menyelisihi agamanya sehingga mereka seluruhnya akan memusuhinya? inilah yang menyebabkan keturunan mereka dan orang-orang yang menasabkan diri kepada mereka meninggalkan kebenaran setelah mereka mengetahui namun kemudian merekapun berpaling.

 Barangsiapa yang mulutnya sakit terasa pahit

Maka air yang segarpun baginya terasa pahit

 

KETUJUHCINTA TANAH AIR DAN BANGSA

Sekalipun dia tidak memiliki famili ataupun kerabat, akan tetapi dia berpendapat bahwa jika dia mengikuti Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau orang yang mengikuti kebenaran menuntut dirinya untuk keluar dari kampung dan negerinya menuju negara asing, hingga dia lebih memilih tanah airnya daripada mengikuti kebenaran atau masuk kedalam Islam setelah ia meyakini kebenarannya.

Barangsiapa yang merenungi kisah Salman Radhiyallahu ‘anhu, betapa susah payahnya beliau dalam menapaki jalan untuk mencari kebenaran, niscaya dia akan mengetahui betapa tingginya mujahadah beliau dalam memerangi hawa nafsunya. Beatapa bisa beliau meninggalkan keluarga, famili dan bahakan tanah airnya, lalu berhijrah menuju madinah sehingga beliau dijuluki “Pemburu kebenaran.”  Begitupula yang terjadi pada diri para sahabat yang lain, mereka meninggalkan keluarga, anak-anak dan harta mereka untuk berhijrah menuju kota kediaman Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengharap karunia dari Allah dan keridhaanNya, dan mereka menolong dienullah dan rasulNya. Mereka itulah Ash Shadiquun (orang-orang yang benar).

 

KEDELAPANTAKUT MENINGGALKAN ADAT NENEK MOYANGNYA

Diantara penghalang hidayah adalah seseorang yang khawatir jika dia masuk Islam dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berarti harus meninggalkan dan mencela adat bapak dan nenek moyangnya. Inilah yang menghalangi Abu Thalib dan yang semisalnya dari masuk Islam. Mereka melihat ketika orang-orang masuk Islam lantas mereka akan membodohkan angan-angan bapak-bapak dan nenek moyang mereka. Oleh karena itulah musuh Allah Abu Jahal tatakla melihat Abu Thalib hendak meninggal dia berkata kepadanya, “Apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muthallib?” Hingga kahirnya Abu Thalib mati dalam keadaan memegang agam Abdul Muthalib. Telah kami sebutkan di muka bahwa mereka akan menggoda seseorang dari pintu syahwatnya atau dari pintu ini. Karenanya, Abu Thalib berkata “Kalau saja engkau (Muhammad) tidak mencela agama Abdul Muthallib niscaya saya akan membuat sejuk pandangan matamu.” Dia ulang-ulang pernyataan tersebut dalam sya’irnya:

Aku tahu bahwa agama Muhammad terbaik bagi manusia

            Kalau saja bukan karena agama nenak moyang yang dicela

            Niscaya engkau dapatkan aku menerima dengan sukarela

Ada orang yang berkomentar, “ini adalah kebiasaan suatu kaum lalu dilaksanakan secara turun temurun.” Ini adalah syubhat yang dialami sebagian orang. Belum lama ini aku telah mendengar ketika kami berada di suatu dusun ada orang yang berkata, “Saya idak akan meninggalkan adat bapak dan nenek moyangku.” Allah berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَآأَنزَلَ اللهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لاَيَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَيَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.” (QS Al Maidah 104)

Inilah yang menyebabkan mereka tidak mau masuk Islam atau tidak mau menerima kebenaran padahala dia telah menegtahui dan bahkan meyakininya.

 

KESEMBILANTIDAK RELA MENGIKUTI ISLAM KARENA TELAH DIANUT OLEH MUSUHNYA

Diantara penyebab terhalangnya hidayah adalah seseorang tidak mau mengikuti Islam karena telah dianut oleh orang yang mereka musuhi atau mereka telah lebih dahulu menganutnya. Sebab inipun banyak menghalangi manusia dari mengikuti hidayah padahal mereka telah mengetahuinya. Yang mana seseorang memiliki musuh dan dia membenci tempat tinggalnya dan bumi tempat musuhnya berpijak dan dia bermaksud untuk selalu menselisihi musuhnya. Ketika dia melihat musuhnya telah mengikuti kebenaran, kebenciannya terhadap musuhnya menyebabkan dirinya memusuhi kebenaran dan penganutnya sekalipun terhadap mereka yang tidak ada permusuhan dengannya.

Hal inilah yang menyebabkan orang-orang Yahudi ketika berita tentang datangnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sampai kepada mereka dan orang-orang yang menjadi musuhnya telah mengikuti Nabi, ketika oranng-orang Anshar telah lebih dahulu masuk Islam menyebabkan orang-orang Yahudi tetap memerangi mereka dan mereka tetap berada diatas kekafiran, tetap berada diatas agama Yahudi.

 

KESEPULUHHUBUNGAN PERSAHABATAN, KEBIASAAN DAN TEMPAT ASAL

Kendati hal ini lebih lemah pengaruhnya jika ditinjau secara makna, akan tetapi hal ini merupakan penyebab yang paling umum terjadi atas umat dan merupakan biangnya penyimpangan. Bukan hanya menimpa sebagian besar bahkan nyaris seluruh orang yang menyimpang. Agama “kebiasaan” adalah agama kebanyakan manusia. Berpindah dari apa yang telah menjadi kebiasaan (adat yang umumnya berlaku) adalah bagaikan merubah tabiat dangan tabiat yang baru.

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan atas para Nabi dan RasiNya, khususnya penutup para Nabi dan yang paling utama Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, betapa beliau telah merubah adat istiadat umat dari adat yang bathil meuju iman sehingga terciptalah kebiasaan yang baru dan mereka rela keluar dari adat istiadat dan tabiat yang rusak yang digambarkan oleh Allah :

إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka“. (QS Az Zukhruf 23)

Tidak ada rasa keberatan pada jiwa melainkan hanya  mencabut agama (bathil) seseorang kemudian memindahkannya kepada kebenaran. Semoga Allah membalas  para Nabi dengan balasan yang paling utama diantara balasan yang dikaruniakan kepada umat semesta alam.

 

PENYEBAB DATANGNYA HIDAYAH

Adapun penyebab datangnya hidayah sangat banyak, diantaranya do’a, Al Qur’an, para Rasul dan bashirah akal. Sebagaimana sembuhnya seseorang dari sakitnya adalah karena adanya sebab, maka demikian pula halnya dengan hidayah. Orang yang sakit ketika dia merasa sakit mendorong dirinya untuk mendatangi dokter karena ingin mencari sembuh  dan sehat. Demikian pula dengan hidayah, tiada penghalang darinya melainkan sebab-sebab diatas yang membutakan hati sekalipun tidak buta matanya.

 

Oleh: Redaksi/Tsaqafah Islam