Category: Imtihan Syafi’i

  • Kekhilafahan dan Keutamaan Ash-Shiddiq

    وَنُثْبِتُ الْخِلَافَةَ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلًا لِأَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، تَفْضِيلًا لَهُ وَتَقْدِيمًا عَلَى جَمِيعِ الْأُمَّةِ (102) Kita menetapkan kekhalifahan sepeninggal Rasulullah saw; yang pertama kepada Abu Bakar ash-Shiddiq—semoga Allah meridhainya—sebagai bentuk pemuliaan terhadap beliau dan pengutamaan atas seluruh umat manusia. Matan ke-102 ini menerangkan akidah Ahlussunnah wal […]

  • Mencintai Sahabat Syarat Tak Sesat

    وَحُبُّهُمْ دِيْنٌ وَإِيْمَانٌ وَإِحْسَانٌ وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَنِفَاقٌ وَطُغْيَانٌ (101) Mencintai para sahabat adalah dien, iman, dan ihsan. Membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan, dan tindakan melampaui batas. Matan ke-101 ini memuat satu prinsip Ahlussunnah wal Jamaah yang mesti dimengerti dan diwujudkan oleh setiap muslim yang mengaku sebagai Ahlussunnah wal Jamaah. Prinsip yang dibangun di atas pondasi […]

  • Membenci Para Pencela Sahabat

    Perang Pertama

    وَنُبْغِضُ مَنْ يُبْغِضُهُمْ وَبِغَيْرِ الْخَيْرِ يَذْكُرُهُمْ وَلاَ نَذْكُرُهُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ (100) Kami membenci orang-orang yang membenci para sahabat dan menyebut mereka dengan selain kebaikan. Kami tidak menyebut mereka dengan selain kebaikan. Para sahabat Nabi adalah generasi terbaik setelah para nabi dan rasul. Allah yang Mahatahu telah mengetahui hati mereka dan memilih mereka untuk menjadi sahabat […]

  • Haji dan Jihad sampai Kiamat

    وَالْحَجُّ وَالْجِهَادُ مَاضِيَانِ مَعَ أُولِي اْلأَمْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ بَرِّهِمْ وَفَاجِرِهِمْ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ لاَ يُبْطِلُهُمَا شَيْءٌ وَلاَ يَنْقُضُهُمَا (83) Haji dan jihad dilaksanakan bersama pemimpin kaum muslimin, baik yang shalih maupun yang fajir, sampai hari Kiamat. Tidak ada sesuatu pun yang membatalkan atau menggugurkan keduanya. Seperti matan sebelumnya, matan ke-83 ini membahas perkara fikih yang […]

  • Mendahulukan Wahyu, Mengikuti Sunnah

    وَنَرَى الْمَسْحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ كَمَا جَاءَ فِي اْلأَثَرِ (83) Menurut kami, boleh mengusap kedua khuff ketika bepergian maupun mukim, sebagaimana tersebut dalam atsar. Khuff adalah sejenis sepatu yang terbuat dari kulit dan menutupi seluruh bagian kaki yang wajib dibasuh saat wudhu (menutupi mata kaki). Sedangkan yang dimaksud dengan “mengusap” adalah menyentuh sesuatu […]

  • Tahu Diri Tidak Tahu

    وَنَقُوْلُ اللهُ أَعْلَمُ فِيْمَا اشْتَبَهَ عَلَيْـنَا عِلْمُهُ  (82) Kami katakan, “Allah lebih tahu,” untuk berbagai hal yang kami tidak benar-benar mengetahuinya. Menurut Ahlussunnah wal Jamaah, seorang mukmin tak boleh mengatakan apa yang tidak diketahuinya. Jika ia mengetahui sesuatu, ia boleh mengatakannya. Jika tidak, ia harus diam dan menjaga lisannya. Seorang mukmin tidak boleh berkata-kata dalam […]

  • Ayat-ayat Cinta, Ayat-ayat Benci

    وَنُحِبُّ أَهْلَ الْعَدْلِ وَاْلأَمَانَةِ وَنَبْغُضُ أَهْلَ الْجَوْرِ وْالْخِيَانَةِ (81) Kami mencintai orang-orang yang adil dan amanah, membenci orang-orang yang lalim dan khianat Penempatan matan ini setelah matan yang menjelaskan prinsip wajib taat kepada ulil amri walaupun mereka lalim sungguh tepat. Meskipun kita tetap berkeyakinan sah dan tetap pula mengerjakan shalat di belakang para penguasa lalim […]

  • Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah

    وَنَتَّبِعُ السُّـنَّـةَ وَالْجَمَاعَةَ وَنَجْـتَنِبُ الشُّذُوْذَ وَالْخِلاَفَ وَالْفُرْقَةَ (80) Kami mengikuti Sunnah dan Jamaah; menjauhi syudzudz, khilaf dan furqah. Dari semua prinsip Ahlussunnah wal Jamaah, inilah prinsip yang paling mendasar. Prinsip untuk mengikuti Sunnah dan Jamaah serta menjauhi syudzudz, khilaf dan furqah. Dengan prinsip ini Ahlussunnah wal Jamaah mengidentifikasi diri dan menegaskan diferensiasi mereka, lalu menyiarkannya […]

  • Kewajiban Menjauhi Thaghut

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut.”(QS. An Nahl;36). Ayat ini merupakan dalil yang jelas bahwa para rasul diutus kepada semua umat manusia dan agama yang dibawa para rasul hanya satu. Ayat ini juga menunjukkan keagungan tauhid yang telah diwajibkan terhadap setiap umat. Allah mewajibkan […]

  • Menaati Penguasa Zhalim (Bukan Kafir)

    (79) Kami tidak berpandangan: boleh memberontak terhadap para imam dan ulil amri kami walaupun mereka berbuat zhalim. Kami tidak berdoa untuk keburukan mereka, pun tidak menarik tangan dari ketaatan kepada mereka. Salah satu prinsip dan akidah Ahlussunnah Waljamaah terkait dengan eksistensi mereka sebagai Ahluljamaah adalah menaati penguasa atau imam yang memimpin mereka dalam berislam secara […]

  • Muslim Terpidana Mati

    وَلَا نَرَى الْقَتْلَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ السَّيْفُ (78) Kami tidak berpandangan: boleh membunuh salah seorang dari umat Muhammad saw, kecuali terhadap orang yang wajib dibunuh. Pada asalnya, darah seseorang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat haramditumpahkan. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim haram untuk ditumpahkan, […]

  • Tidak Sembarang Memvonis

    وَلاَ نُنَزِّلَ أَحَداً مِنْهُمْ جَنَّةً وَلاَ نَاراً، وَلاَ نَشْهَدُ عَلَيْهِمْ بِكُفْرٍ وَلاَ بِشِرْكٍ وَلاَ بِنِفَاقٍ مَا لَمْ يَظْهَرْ مِنْهُمْ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ، وَنَذَرُ سَرَائِرَهُمْ إِلَى اللهِ تَعَالَى (78) Kami tidak memastikan salah seorang dari mereka sebagai penghuni surga atau neraka. Kami pun tidak memvonis mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama pada diri mereka […]

  • Menjadi Makmum Pendosa & Menyalatinya

    (77) Kami berpendapat, bermakmum di belakang Ahli Kiblat yang bajik atau durjana adalah sah; dan kami tetap menyalati orang yang meninggal dunia di antara mereka. Pada hari ‘Utsman bin ‘Affan radiyallahu ‘anhu dikepung oleh para pendosa, beliau tidak diperkenankan pergi ke masjid untuk mengimami shalat. Seseorang dari para pendosalah yang akhirnya maju menjadi imam menggantikan […]

  • Dosa dan Penebus Dosa

    (76) Apabila para pelaku dosa besar di antara umat Nabi Muhammad saw meninggal dunia sebagai orang-orang yang bertauhid dan masuk neraka, mereka  tidak akan kekal di dalamnya meskipun mereka belum bertaubat (dari dosa besar yang mereka lakukan) setelah mereka berjumpa Allah sebagai orang-orang yang bermakrifah. Kedudukan mereka tergantung kepada kehendak dan keputusan Allah. Jika Allah […]

  • Iman kepada Para Rasul

    وَنَحْنُ مُؤْمِنُوْنَ بِذَلِكَ كُلِّهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَنُصَدِّقُهُمْ كُلَّهُمْ عَلَى مَا جَاءُوْا بِهِ (75) Kami beriman kepada semua (rukun iman) itu. Kami tidak membedakan antara para Rasul-Nya. Kami membenarkan mereka semua, membenarkan ajaran mereka semua. Matan ini diawali dengan penegasan bahwa pilar iman atau rukun iman yang enam menurut Ahlussunnah wal Jamaah […]