Abdullah bin Mas’ud, Mantan Penggembala yang Menjadi Ulama Terkemuka

21

Siang itu sangat terik. Nampak dari kejauhan dua lelaki dewasa mendekati seorang anak penggembala yang sedang menggembala kambing. Dua lelaki itu tidak lain adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat setianya Abu Bakar RDL. Keduanya yang merasa sangat kehausan berkata pada si penggembala, “Wahai anak muda, tolong perahkan untuk kami susu kambing itu agar rasa haus dan keringnya kerongkongan segera hilang.” Anak muda yang bernama Abdullah bin Mas’ud tersebut menjawab, “Saya tidak bisa melakukannya. Kambing-kambing ini bukan milikku. Sedangkan saya dipercaya merawatnya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, “Tunjukkan padaku kambing yang belum keluar air susunya.” Abdullah bin Mas’ud atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Ummi Abdin pun menunjukkan seekor kambing yang masih kecil.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lantas maju dan mengusap puting susu kambing tersebut dengan menyebut nama Allah. Tiba-tiba puting susu tersebut membesar dan penuh berisi air susu. Satu kejadian yang sangat mengagetkan Abdullah bin Mas’ud. Kemudian beliau bersama sahabatnya meminum susu tersebut , lalu Abdullah juga ikut meminumnya.

Setelah cukup puas, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Kempeslah.” Maka puting susu kambing tersebut kembali mengempes seperti sedia kala.

Melihat kejadian yang menakjubkan tersebut, Abdullah bin Mas’ud tertarik untuk belajar kepada dua orang yang belum begitu dikenalnya. Ia berkata,”Ajarilah saya ilmu yang tadi anda katakan.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau adalah seorang anak muda yang akan diberi ilmu.”

Tak lama setelah peristiwa tersebut, Abdullah bin Mas’ud kemudian mengikrarkan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW. Bahkan ia menawarkan diri untuk menjadi pembantu yang berkhidmat untuk kepentingan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tawaran itupun diterima, dan sejak saat itu Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu hampir tidak pernah berpisah dengan kekasihnya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kesempatan hidup bersama Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak disia-siakan. Ibnu Ummi Abdin berusaha mengambil telaga ilmu yang berada di hadapannya. Bacaan Al Qur`annya pun sangat bagus sehingga Rasululllah n memujinya,” Barang siapa yang ingin membaca Al Qur`an persis seperti ketika ia turun, maka bacalah sebagaimana bacaan Ibnu Ummi Abdin.”

Selain menguasai bacaan Al Qur`an, beliau juga sangat paham tentang tafsir dan makna masing-masing ayat. Beliau pernah berkata, “Demi Allah yang tidak ada ilah selain Dia.Tidaklah ada satu ayat dari ayat-ayat Allah, kecuali saya mengetahui di mana ayat tersebut turun, dan tentang apa diturunkan. Sekiranya saya tahu ada orang lain yang lebih tahu dariku tentang kitab Allah dan memungkinkan untuk sampai padanya, tentulah saya akan mendatanginya.”

Selain ahli ilmu dan ahli ibadah, Abdullah bin Mas’ud juga memiliki keberanian luar biasa untuk menyampaikan yang benar. Tercatat, beliaulah sahabat pertama yang berani membaca Al Qur`an dengan suara keras di hadapan orang-orang Quraisy setelah Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat di Makkah sedang berembuk. Mereka berkata, “Demi Allah, orang Quraisy itu belum pernah mendengar Al Qur`an dibaca dengan suara lantang. Siapa yang berani memperdengarkannya kepada mereka?” Abdullah bin Mas’ud dengan sigap menjawab, “Saya siap memperdengarkan Al-Qur`an pada mereka.” Para sahabat menjawab, “Kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Yang kami inginkan adalah yang memiliki backing kuat dari keluarganya.” Beliau menimpali, “Biarkan saya saja, sesungguhnya Allah-lah yang akan menjaga dan melindungiku.”

Kemudian di pagi yang cerah, Abdullah datang ke Ka’bah dan membaca awal surat Ar-Rahman di maqam Ibrahim. Kontan para pembesar Quraisy marah dan memukulinya sampai babak belur. Abdullah pun datang menemui para sahabatnya. Mereka berkata, “Inilah yang kami khawatirkan atasmu.” Abdullah menjawab, “Demi Allah, sekarang dalam pandanganku tidak ada musuh Allah yang lebih rendah dari mereka, jika kalian menghendaki, besok saya akan lakukan hal yang sama.” Tetapi para sahabat mencegahnya.

Hari-hari berikutnya Abdullah bin Mas’ud tetap setia membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, memakaikan sandal dan melepaskannya, membawa tongkat, menutupi beliau saat buang air, mengambilkan air wudhu dan berbagai pekerjaan lainnya. Beliau juga tidak pernah absen dari medan jihad yang ada. Pantas, meskipun tubuh beliau kecil tetapi bobotnya di hari kiamat teramat berat. Sebagaimana disebutkan bahwa pada suatu hari beliau memanjat pohon untuk mengambil kayu siwak. Ketika ada angin berhembus, tersingkaplah betisnya yang kecil, sehingga para sahabat lain menertawakannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menukas, “Apa yang kalian tertawakan?” Mereka menjawab,”Ya Rasulullah, betisnya sangat kecil.” Beliau bersabda, “Demi yang jiwaku ada pada-Nya,kedua betisnya tersebut lebih berat daripada gunung Uhud pada timbangan hari kiamat.”

Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abdullah bin Mas’ud tetap berkhidmat untuk Islam. Bahkan beliau menjadi rujukan umat karena kedalaman ilmunya. Sebagaimana dipersaksikan salah seorang tabi’in, Masruq yang berkata, “Saya perhatikan bahwa ilmu para sahabat berkumpul pada diri Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud.

Beliau sering memberi wejangan-wejangan berharga kepada orang yang hidup semasa dengannya. Diantara wejangannya ialah, “Sesungguhnya saya sangat benci kepada seseorang yang tidak memiliki aktifitas apapun, tidak melakukan aktifitas keduniaan dan juga tidak melakukan amal untuk akhirat.” Beliau juga berkata, “Barang siapa yang shalatnya tidak memerintahkannya untuk berbuat yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran maka shalatnya tidak menambah baginya kecuali semakin jauh dengan Allah.” Beliau juga menasehati para pencari ilmu, “Ilmu bukan sekedar banyak meriwayatkan tetapi ilmu adalah tumbuhnya rasa takut.”

Pada satu malam, setelah beberapa saat menderita sakit, Abdullah bin Mas’ud menghembuskan nafasnya yang terakhir di kota Madinah dengan lisan basah berdzikir kepada Allah. Kaum muslimin pun berduyun duyun menshalatinya dan mendoakan keberkahan baginya.

Selamat atasmu wahai Ibnu Ummi Abdin. Engkau telah menanam tanaman kebaikan dan amal sholeh. Tentunya sekarang sebagian buahnya telah engkau rasakan. Semoga kami tidak terhalangi untuk menapak jejak kiprahmu.

 

Oleh: Redaksi/Kisah Sahabat