Muslihat Sempurna Nuaim bin Masud Pada Sekutu Ahzab

majalah artikel sejarah islam, muslihat sempurnah di perang ahzab

Terbunuhnya Amr bin Abdi wad tak lantas membuat pasukan ahzab menyerah. Mereka tetap melakukan pengepungan Madinah, bahkan sebuah strategi telah disiapkan untuk mengalahkan Rasulullah dan pasukannya. Pasukan ahzab berencana membujuk bani Quraizhah (salah satu kabilah Yahudi Madinah) untuk melanggar perjanjian dengan Rasulullah.

Strategi tersebut segera dijalankan dengan mengirimkan Huyyai bin Akhthab untuk menemui pimpinan bani Quraizhah dan membujuk supaya bergabung dengan pasukan ahzab. Bani Quraizhah pun setuju untuk menghianati perjanjian damai dengan Rasulullah dan bergabung dengan pasukan ahzab.

Kabar penghianatan tersebut pun sampai kepada Rasulullah. Beliau lalu menugaskan Zubair bin Awwam untuk memastikan kebenaran kabar tersebut. Tak berapa lama Zubair kembali dan membenarkan kabar penghianatan bani Quraizhah.

Baca Juga: Dia Ingin Memilki Nyawa Sebanyak Jumlah Rambutnya

Mengetahui hal tersebut, Rasulullah langsung mengambil dua keputusan penting. Pertama Beliau mengutus Maslamah bin Aslam bersama dengan 500 prajurit untuk menjaga wanita dan anak-anak muslim yang diungsikan di perkampungan bani Haritsah di bagian selatan Madinah. Ketika itu semua pasukan muslim berada di sebelah utara Madinah, sedangkan perkampungan bani Quraizhah berada di sebelah selatan. Sehingga dengan penghianatan tersebut, bani Quraizhah bisa dengan mudah menghabisi wanita dan anak-anak muslim.

Kedua, Rasulullah mengutus Saad bin Muadz, Saad bin Ubadah, Abdullah bin Rawahah, dan Ibnu Jubair mendatangi bani Quraizhah. Keempatnya diutus untuk mengadakan pembicaraan dengan bani Quraizhah. Alangkah terkejut keempatnya ketika bani Quraizhah menolak pembicaraan dan merobek kertas perjanjian seraya mencela Rasulullah.

“Adhl dan Qarah.” Kata keempatnya kepada Rasulullah ketika menemui Rasulullah kembali. Maksudnya adalah bani Quraizhah melakukan penghianatan sebagaimana yang dilakukan Adhl dan Qarah ketika tragedy Raji’.

Mendengar kabar penghianatan bani Quraizhah membuat orang-orang munafik berbalik ke belakang dan keluar dari pasukan muslim. Mereka beralasan bahwa rumah mereka akan menjadi sasaran pasukan ahzab karena berada di selatan Madinah.

Di tengah situasi yang semakin genting tersebut, Nuaim bin Masud datang menghadap Rasulullah. Nuaim berasal dari suku ghatafan, suku yang ikut bergabung dengan pasukan ahzab.

Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah benar-benar masuk Islam. Dan kaumku tidak mengetahui bahwa aku telah masuk Islam. Perintahkanlah kepadaku perintah apa saja yang dapat aku laksanakan!”

Rasulullah menjawab, “Engkau hanya seorang dari pihak kami, kembalilah kepada kaummu! Dan jika kamu sanggup, takut-takutilah mereka bahwa sesungguhnya mereka lemah dan kami kuat. Sesungguhnya perang itu adalah tipu daya.”

Baca Juga: Duel Menegangkan Antara Dua Ahli Pedang

“Saya siap, wahai  Rasulullah. Insya Allah engkau akan segera melihat sesuatu yang menggembirakan,” janji Nu’aim.

Setelah itu, Nu’aim segera berangkat menuju ke kubu Bani Quraidzah, yang telah menjadi sahabat baiknya sampai saat ini. Ia berhasil meyakinkan mereka untuk tidak dalam pertempuran melawan Rasulullah SAW.

“Jangan kalian bantu mereka (Quraiys) memerangi Muhammad sebelum kalian minta jaminan kepada kedua sekutu kalian itu, yakni pemuka-pemuka atau bangsawan-bangsawan terpandang dari mereka sebagai jaminan atas peperangan ini. Sampai kalian memenangkan peperangan ini dan menguasai negeri ini, atau kalian mati bersama-sama dengan mereka,” saran Nu’aim. Bani Quraizhah pun menerima saran itu.

Setelah itu, Nu’aim segera beranjak menuju kubu Quraisy dan Ghathafan di luar Kota Madinah. Ia segera menemui pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb, yang saat itu dikelilingi para pembesar Quraiys. Ia berhasil merayu mereka agar tidak melanjutkan serangan bersama. Nu’aim mengatakan bahwa Bani Quraizhah menyesal memutusan perjanjian dengan Muhammad SAW, dan malah mereka akan membantu Rasulullah menghadapi pasukan Ahzab.

Mendengar penjelasan Nu’aim, Abu Sufyan berkata, “Kau adalah sekutu kami yang baik. Semoga kamu mendapat balasan yang baik pula.”

Hal yang sama dilakukan juga oleh Nu’aim kepada Kaumnya, yakni Bani Ghathafan. Dan setelah yakin bahwa Pasukan Ahzab tidak akan melancarkan serangan apa pun kepada kaum Muslimin. Diam-diam Nu’aim pergi ke Madinah dan bergabung dengan pasukan Rasulullah.

 

Oleh: Redaksi/Tarikh Sahabat

%d bloggers like this: