Awal Islamisasi Maluku

202

Maluku pada hari ini merupakan sebuah provinsi yang meliputi bagian selatan Kepulauan Maluku, Indonesia. Sementara itu, bagian utara kepulauan tersebut sejak 1999 menjadi provinsi tersendiri bernama Maluku Utara. Jika mengkaji sejarah, sebenarnya dahulu wilayah yang disebut Maluku justru wilayah yang hari ini menjadi Provinsi Maluku Utara. Dalam kitab Nagarakretagama disebutkan bahwa wilayah pengaruh kerajaan Majapahit meliputi Maluku, Ambwan (pulau Ambon sekarang) dan Wandan (Banda sekarang). Ini artinya Ambon dan Banda tidak termasuk bagian dari Maluku.

Saat VOC berkuasa, pembagian wilayah sesuai keterangan Nagarakretagama masih dipertahankan. Ada tiga wilayah administrasi pemerintahan VOC, yaitu Gouvernement der Molukken yang berpusat di Ternate, Gouvernement van Amboina yang berpusat di Ambon dan Gouvernement van Banda yang berpusat di Banda Neira. Setelah VOC bubar, tepatnya pada 1817, Pemerintah Hindia Belanda menyatukan ketiga pemerintahan tersebut menjadi  Gouvernement der Molukken yang berpusat di Ambon. Hal ini terus bertahan hingga setelah Indonesia merdeka.

Baca Juga: Awal Islamisasi di Banjarmasin 

Pada saat NICA berkuasa, pemerintahan di Maluku sempat dibagi dua keresidenan, yakni keresidenan Maluku Utara dan keresidenan Maluku Selatan. Ini terjadi hingga tahun 1950. Setelah era reformasi, Maluku kembali dipecah menjadi dua mengikuti konsep NICA. Provinsi Maluku wilayahnya mencakup seluruh wilayah bekas keresidenan Maluku Selatan, sedangkan provinsi Maluku Utara wilayahnya juga meliputi seluruh wilayah bekas keresidenan Maluku Utara. (Usman Thalib, Sejarah Masuknya Islam di Maluku, hlm. 12-16) Mengikuti sejarah awalnya, maka istilah Maluku dalam tulisan ini lebih banyak merujuk ke Maluku Utara.

Asal Usul Nama Maluku

Nama Maluku telah dicatat dalam Nagarakretagama (1365) sebagai Maloko. Menurut Pigeaud, diduga bahwa penulis kitab ini mengadopsi nama tersebut dari kebanyakan pedagang Arab yang melakukan kegiatan perniagaan di Nusantara. Pendapat yang populer menyatakan bahwa nama Maluku berasal dari bahasa Arab Jazirah Al-Muluk yang berarti “negeri para raja”. Saat pedagang Arab itu mengunjungi kepulauan Maluku, mereka menemukan banyak raja.

Catatan dari Dinasti Tang (618-906) di Cina menyebutkan suatu kawasan yang digunakan untuk menentukan arah daerah Ho-ling (Kalingga) yang terletak di sebelah baratnya. Kawasan ini bernama “Mi-li-ku” yang diperkirakan sebagai sebutan untuk Maluku. Penulis-penulis Cina dari zaman Dinasti Tang tidak dapat memastikan lokasi sesungguhnya kawasan yang ditunjuk dengan nama tersebut. Pada masa kemudian, barulah diketahui bahwa yang dimaksud dengan “Mi-li-ku” adalah gugusan pulau-pulau Ternate, Tidore, Makian, Bacan dan Moti. (M. Adnan Amal, Kepulauan Rempah-Rempah, hlm. 5-7)

Hubungan dengan Dunia Luar

Disebutnya nama Mi-li-ku dalam catatan dari Dinasti Tang maupun Maloko dalam Nagarakretagama menunjukkan bahwa telah terjalin hubungan antara kawasan tersebut dengan dunia luar. Hubungan itu bahkan telah ada sejak sekian ratus tahun sebelum Masehi. Dalam perdagangan kuno internasional, Kepulauan Maluku sering dikenal sebagai Kepulauan Rempah. Rempah-rempah, seperti cengkih dan pala, dihasilkan dan didatangkan dari Maluku.

Bukti paling awal dari keberadaan cengkih di luar Maluku datang dari penemuan arkeologis yang berasal dari sekitar 1700 SM di situs Mesopotamia, Terqa di Suriah sekarang. Di antara tanaman yang umum tersisa di ruang dapur rumah tangga adalah beberapa cengkih. Oleh karena umumnya cengkih berasal dari Maluku, kehadiran cengkih di rumah tangga kelas menengah di Suriah menunjukkan bahwa sejak zaman awal-awal sudah terdapat jalur perdagangan jarak jauh khusus dalam komoditas rempah yang tidak tahan lama ini. Pada abad 3 SM, rempah ini sudah cukup dikenal di Negeri Cina hingga Kekaisaran Han memerintahkan para bawahan istana untuk mengunyah cengkih agar napas mereka segar dan wangi. K’ang T’ai, satu dari utusan yang dikirim oleh Pemerintah Wu dari Negeri Cina Selatan ke Funan pada abad 3 M, melaporkan bahwa cengkih berasal dari pulau di timur. (Leonard Y. Andaya, Dunia Maluku, hlm. xvii)

Selama berabad-abad, Maluku dengan rempah-rempahnya mempunyai daya tarik bagi banyak bangsa. Orang Jawa menjadi penghubung perdagangan rempah antara Maluku dengan Malaka. Tuban adalah pelabuhan terbesar di Jawa. Kota ini menjadi gudang besar rempah-rempah dari Maluku. Dari sini, rempah-rempah kemudian dibawa ke Malaka untuk dipasarkan ke India hingga Eropa di barat maupun ke Cina di timur. Sementara itu, kebutuhan beras di Maluku disuplai dari Jawa yang dikenal sebagai penghasil beras. (H. Burger, Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia 1, hlm. 33)   

Islam Masuk Maluku

Pengaruh Islam telah hadir di kepulauan Maluku sejak kurun pertama tahun Hijriah. Akan tetapi, kemungkinan besar saat itu Islam hanya dianut oleh musafir Muslim yang singgah di Maluku. Hamka menyatakan bahwa sejak 650M atau 17 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, para pedagang Arab telah membawa cengkih dan pala ke pelabuhan di Teluk Persia untuk kemudian diperdagangkan ke Eropa. Pada masa itu ramai pedagang Arab dan Persia berlayar ke Maluku untuk mencari rempah-rempah. Kemungkinan pedagang Arab itu telah menikah dengan wanita pribumi, berdiam sekian lama atau meninggal di sana. (Sejarah Umat Islam, hlm. 805)

Baca Juga: Sejarah Berhala Arab Jahiliyah

Dalam Hikayat Ternate yang ditulis oleh Naidah disebutkan bahwa pengislaman di sana terjadi pada 643 H (1250 M). Seorang tokoh bernama Jafar Shadik atau Jafar Nuh tiba di Ternate dari Jawa pada Senin 6 Muharam 643 H atau 1250 M. Sementara itu, sumber-sumber Portugis yang tiba di Maluku pada 1512 mencatat bahwa Islam telah ada di Ternate sejak 1460. Hal yang sama dikatakan oleh Tome Pires bahwa Banda, Hitu, Makian dan Bacan sudah terdapat masyarakat Islam sejak kira-kira 50 tahun sebelum Portugis tiba. Diperkirakan pada 1460 atau 1465. Pernyataan dari sumber-sumber Portugis ini memberi kesan kuat bahwa Islam telah melembaga dalam kehidupan masyarakat lokal di beberapa tempat tersebut; bukan bermakna kehadiran Islam untuk pertama kalinya di sana. (Sejarah Masuknya Islam di Maluku, hlm. 22) Wallahu a‘lam. (Redaksi/Hadharah/Sejarah Islam

 

Tema Terkait: Sejarah Islam, Indonesia, Dakwah Islam