Bagaimana Wanita Salaf Mengisi Hari-harinya

60

Qiyamullail, adalah sunnah paling utama yang akan mengokohkan seorang muslimah di atas jalan hidayah, menerangi jalannya, serta menambah imannya. Shalat yang tiada seorang pun tahu kecuali Allah. Utama, karena dikerjakan di waktu kebanyakan orang lalai. Berat, karena sesuatu yang utama akan menuntut kesabaran dalam menjalaninya. Ia merupakan pesan sang Nabi mulia saat pertama kali langkahnya menapak kota Madinah,

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَام، وَأَطْعِمُوا الطَّعَام، وَصِلُوا الأَرْحَام، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَام، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلَام

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikan makan mereka yang kelaparan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah di saat manusia terlelap di gelapnya malam, niscaya kalian akan masuk syurga dengan aman.” (HR. Ibnu Majah)

Inilah waktu terbaik, saat di mana Allah turun ke langit dunia, di sepertiga malam terakhir, siapakah yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, hingga Aku beri apa yang dia minta, siapa yang meminta ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni. Begitu termaktub dalam hadits qudsi, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Ada banyak sekali contoh wanita salaf yang senantiasa menghidupkan malam-malamnya, dengan shalat, dzikir, taubat, istighfar, tilawah, dan amalan shalih lainnya. Mengisi hari-harinya dengan ketaqwaan dan kecintaan kepada Rabb-nya. Betapa luar biasa kegigihan mereka dalam ibadah. Hati mereka lembut dengan linangan air mata khashyah kepada-Nya. Lelah tak dirasa, bosan apatah lagi, hingga akhir hayat mereka. Mari kita tengok sebagian kisah mereka, mereguk keindahan bebungaan yang mekar dan mewangi, di taman penghambaan kepada Yang Maha Kuasa.

Nisa’ul lail

“Wanita malam”, mungkin terdengar di telinga sebuah makna negatif. Namun hakikatnya adalah kebalikan dari itu. Karena siapapun yang menghidupkan malamnya, ia layak disebut dengan ahlul lail. Adalah istri Habib Abu Muhammad al-Farisi, –semoga Allah merahmati keduanya-, ia yang senantiasa membangunkan suaminya di malam hari, “Bangunlah wahai kekasih hatiku, ketahuilah, bahwa sesungguhnya jalan ini begitu panjang, namun perbekalan kita sangatlah sedikit. Kafilah orang-orang yang shalih telah mendahului kita, sedang kita masih tertinggal di sini.

Beginilah sejatinya seorang istri shalihah, cintanya kepada sang suami begitu tulus. Ia ingin agar sang kekasih adalah kekasihnya juga kelak di syurga-Nya. Bukankah Rasul saw juga menganjurkan hal itu, dalam sabdanya:

رَحِمَ اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فصَلَّى فَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا المَاء، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاء

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki, bangun di tengah malam kemudian shalat, kemudian ia bangunkan istrinya, dan jika ia enggan untuk bangun, ia cipratkan sedikit air ke mukanya. Dan semoga Allah merahmati wanita yang bangun malam kemudian shalat, kemudian ia bangunkan suaminya, dan jika ia enggan bangun, ia cipratkan sedikit air ke mukanya.” (HR. Abu Daud)

Inilah jalan para wanita malam dan laki-laki malam, yang menjadikan malam-malamnya indah dengan munajat, terang dengan doa dan taubat.

Hunaidah

Dikisahkan oleh Amir bin Aslam dari ayahnya, bahwa di kampungnya ada seorang wanita shalihah bernama Hunaidah. Ia selalu bangun di sepertiga malam atau di pertengahan malam. Ia juga membangunkan suami, anak dan budaknya. “Ayo bangunlah kalian, ambil air wudhu, dan shalatlah!” ia terus melakukan hal ini selama hidupnya hingga wafatnya. Sepeninggalnya, sang suami melihatnya dalam mimpinya, ia berkata: “Jika engkau ingin menikahiku lagi kelak di syurga-Nya, maka jadikan kebiasaanku saat hidup kebiasaanmu juga.”

Sang suami betul-betul melakukan apa yang menjadi kebiasaan istrinya dahulu hingga wafatnya. Setelah wafatnya, ia mendatangi putra pertamanya dalam mimpinya seraya berkata, “Wahai putraku, jika engkau ingin berkumpul kembali dengan kami di syurga-Nya, maka jadikan kebiasaan kami dahulu sebagai kebiasaanmu bersama keluargamu juga.”

Sang anak juga bersungguh-sungguh menjadikan kebiasaan kedua orangtuanya sebagai kebiasaanya bersama keluarganya hingga wafatnya. Mereka dikenal di masyarakat sebagai keluarga “Qawwamun”, yang senantiasa shalat malam.

Air mata sayyidah Aisyah ra

Dikisahkan oleh Al-Qasim bin Muhammad, ia bertutur: “Setiap pagi, aku memulai kegiatanku dengan mengunjungi bibiku, Aisyah, menyapanya dengan salam. Pernah suatu pagi, aku mendapatinya sedang shalat, bertasbih dan membaca ayat

فَمَنَّ اللهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُوْم

“Para penghuni syurga berkata: “Sungguh, kami dahulu berada di tengah keluarga kami yang selalu takut akan adzab Allah.” (QS. Ath-Thur: 27)

Ia terus mengulanginya sembari menangis. Aku menantinya hingga aku bosan berdiri, akhirnya aku pergi ke pasar untuk membeli keperluanku. Kemudian saat aku kembali, aku mendapatinya masih dalam keadaan sebagaimana aku tinggalkan tadi.”

Semoga Allah merahmatimu wahai Shiddiqah binti Shiddiq, sungguh, air mata berharga yang akan menjadi pemberat timbangan di sisi Allah kelak, karena ianya keluar dari hati yang mengetahui Allah dan takut kepada-Nya. Dan inilah dzikir, khalwat, dan tafakkur yang menjadi ciri khas para shahabiyah di sekitar Rasul.

Zajlah, ratu tanpa mahkota

Ada banyak yang menyaksikan kesungguhannya dalam ibadah. Hingga salah satu dari mereka menyarankannya agar tidak terlalu memaksakan dirinya. Namun, tengoklah jawabannya, “Tidak perlu mengasihani diri dalam hal ibadah. Karena sesungguhnya dunia ini adalah tempat mengumpulkan bekal. Tempat berlomba-lomba dalam kebaikan. Maka barangsiapa yang berlalu satu hari darinya dalam kesia-siaan, dia tidak akan pernah bisa mengulanginya kembali. Demi Allah, aku akan shalat untuk-Nya semaksimal kekuatan tubuhku. Aku akan puasa sepanjang hidupku untuk-Nya, dan aku akan terus menangis karena-Nya hingga kering air mata.”

Sungguh, tekadnya begitu kuat, hingga Allah menganugerahkan kepadanya hati seorang ratu, meski tanpa mahkota, jiwa yang kaya raya meski tanpa gelimang harta. Maka, barangsiapa beribadah kepada Allah dengan rasa ini, sungguh Allah akan membimbing dengan taufik-Nya, hingga mampu memaksimalkan waktu yang ada dalam ketaatan kepada-Nya. Karena kewajiban seorang hamba lebih banyak daripada waktu yang ia punya, maka siapa yang menyia-nyiakannya, sungguh ia telah durhaka terhadap hari-harinya, juga mendzalimi dirinya.

Nafisah binti Hasan

Beliau adalah cucu keluarga mulia Ali bin Abi Thalib. Nafisah binti Al-Hasan bin Zaid bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Tahun 208 Hijriyah adalah hari-hari terakhirnya di dunia. Di hari wafatnya ia tengah berpuasa. Semua orang menyarankan ia agar berbuka, namun ia menjawab: “Kalian sungguh mengherankan, tiga puluh tahun sudah aku berdoa kepada-Nya agar aku bisa menemui-Nya dalam keadaan berpuasa. Lalu, apakah sekarang aku akan berbuka? Tidak, sekali-kali tidak.” Kemudian ia membaca surah Al-An’am hingga sampai kepada ayat

لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِندَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Orang-orang mukmin akan mendapatkan negeri akhirat yang aman di sisi Tuhan mereka. Allah adalah Tuhan yang menjadi pelindung orang-orang mukmin, karena mereka telah beramal shalih.” (QS. Al-An’am: 127)

Tak lama, ia kemudian membaca kalimat syahadat, dan pergi menghadap Rabb-nya. Ah, betapa indah kematiannya, kematian yang membuat iri mereka yang masih hidup, yang menginginkan agar amal terbaiknya adalah ketika ruh menghadap Rabb-nya.

Sebelum kita akhiri, mari kita simak kalimat indah yang diucapkan oleh seorang wanita tua dari Bani Abdul Qais, “Beribadahlah engkau kepada Allah sebanyak nikmat yang Ia berikan untukmu, sejumlah kebaikan yang Ia anugerahkan kepadamu. Jika engkau tidak sanggup, maka beribadahlah sebanyak Ia tutupi kesalahan dan dosa-dosamu. Jika engkau tidak mampu, maka beribadahlah karena rasa malumu kepada-Nya. Dan jika engkau tidak sanggup, beribadahlah karena berharap pahala-Nya. Jika engkau tidak mampu juga, maka beribadahlah karena takut akan siksa-Nya. Karena seorang yang mencintai, takkan bosan bermunajat dengan yang ia cintai.”

Semoga Allah merahmati mereka semua. Serta menguatkan kita agar mampu menapaki jejak langkah mereka dalam kebaikan dan taqwa, menuju keridhaan Rabb yang Maha Mulia.

Oleh: Redaksi/Wanita