Khutbah Jumat: Nista Karena Malu Tiada

111

Khutbah Jumat

NISTA KARENA MALU TIADA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

 

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Puji syukur alhamdulillahi rabbil ‘alamin kita ucapkan kepada Allah yang telah memberi kita nikmat kesehatan dan lisan. Semoga karunia tersebut dapat membuat kita bersyukur dengan sebenar-benarnya. Yaitu, menggunakan semua nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para shahabat dan ummatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Amin ya rabbal alamin.

Wasiat takwa kembali khatib sampaikan kepada para jamaah semuanya. Takwa adalah usaha kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah tidak mewajibkan sesuatu melainkan ada manfaatnya bagi manusia. Tidak pula Allah mengharamkan sesuatu, melainkan ada madharat atau bahaya bagi kita. Karena itu, takwa menjadi bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akhirat yang kekal abadi nanti.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Miris dan mengelus dada saat kita melihat dan mendengar fenomena di sekitar kita. Bagaimana kaum wanita berbangga mempertontonkan auratnya. Bagaimana orang-orang sengaja mengumbar auratnya dengan bangganya. Bagaimana tega orang-orang membongkar aib dan rahasianya di layar kaca, hanya semata-mata meramaikan sebuah acara TV swasta. Yang lain lagi berbangga dengan maksiat yang dilakukannya. Mereka pamerkan dosanya dengan topeng kejujuran. Seperti kata-kata, “saya tidak munafik, memang shalat saya masih bolong-bolong…!” Tidak malu-malu lagi pasangan muda-mudi yang berstatus pacar, mengumbar kemesraan di publik. Baik di dunia nyata, maupun di media maya. Dan lebih ngeri lagi banyaknya fenomena anak muda yang sengaja merekam adegan zina, lalu disebarkan ke media masa, wal ‘iyadzu bilah.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Begitulah efek ketika tercabut urat malu pada diri manusia, buah yang muncul hanyalah perbuatan dosa dan nista. Padahal rasa malu adalah unsur yang menyuburkan hati hingga bersemi kebaikan. Tanpanya, keburukanlah yang akan dikomando oleh hati kepada jasadnya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa kata haya’ yang berarti (sifat) malu adalah pecahan dari kata hayatun yang berarti kehidupan, hujan juga disebut haya’ karena di dalamnya ada unsur kehidupan bagi bumi, tumbuhan dan binatang. Barang siapa yang tidak memiliki sifat malu, maka ia mati (hatinya) di dunia dan sengsara di akhirat.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah bahkan berkata dalam kitabnya Miftah Daaris Sa’adah, “Malu adalah akhlak yang paling utama, paling tinggi, paling agung, dan paling banyak manfaatnya. Malu adalah karakter khusus manusia. Maka barangsiapa tidak memiliki sifat malu, maka orang tersebut tidak lain hanyalah memiliki sisi kemanusiaan seperti daging, darah dan badan kasarnya. Tak ada kebaikan sedikitpun padanya. Kalau bukan karena akhlak ini, tidak ada tamu yang dimuliakan, tidak ada janji yang ditempati, tidak ada amanah yang ditunaikan, tidak ada kebutuhan orang lain yang dipenuhi. Juga tidak ada orang yang berusaha mencari yang baik lalu merngedepankannya, tak ada orang yang mewaspadai yang buruk lalu menjauhinya, tak ada yang menutup aurat, dan tidak ada yang mencegah diri dari perbuatan nista. Banyak orang yang tidak melakukan kewajiban-kewajibannya, tidak mempedulikan hak sesama, tidak menjalin silaturahmi dan tidak berbakti kepada orangtua.”

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Ringkasnya, jika rasa malu tiada, maka perbuatan nista menjadi niscaya. Karena telah hilanglah penghalang antara dirinya dengan tindakan amoran maupun maksiat. Karena itulah nabi bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Di antara yang diperoleh manusia dari perkataan (yang disepakati) para nabi adalah, jika kamu tidak memiliki rasa malu maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)

Meski ungkapan hadits tersebut menggunakan fi’il amr (kata perintah), akan tetapi maknanya adalah tahdid atau kalimat untuk menakut-nakuti dan mengancam. Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah apa saja sesukamu. Tapi ingat, sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di akhirat atau kedua-duanya. Seperti firman Allah Ta’ala,

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖإِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿٤٠

“Berbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”(Fushilat/41:40)

Hadits tersebut juga bermakna khabar ataupun penjelasan. Yakni, barangsiapa yang tidak tidak memiliki rasa malu, maka sudah pasti ia akan berbuat sesukanya. Karena di antara sebab paling dominan yang menghalangi seseorang untuk berbuat dosa maupun nista adalah rasa malu.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Tatkala seseorang tidak malu lagi kepada Allah yang menciptakan dirinya, maka dengan santainya dia menikmati rejeki Rabbnya dengan cara yang dimurkai oleh-Nya. Padahal Allah senantiasa mengawasinya.

Tanpa malu seseorang menelantarkan ‘undangan’ Allah untuk shalat begitupun dengan kewajiban lainnya. Padahal ia tahu bahwa diciptakannya ia di dunia adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.

Tidak cukup dengan meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan, bahkan ia tidak merasa bersalah dan tetap merasa tidak malu setelah tercebur dalam kubangan maksiat. Kenapa ia tidak mengikuti nenek moyang manusia; Adam alaihis salam yang sangat malu kepada Allah saat terlanjur berbuat maksiat kepada Penciptanya.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Ka’ab meriwayatkan satu hadits, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Adam alaihissalam adalah seorang yang tinggi seperti pohon kurma yang buahnya tidak terjangkau oleh orang yang memetik buahnya dan berambut lebat. Setelah terjadi kejadian itu (yakni ketika keduanya mendekati pohon yang dilarang oleh Allah), auratnya terlihat. Dia tidak pernah melihatnya sebelumnya. Adam pun berlari dan tiba-tiba kepalanya disambar oleh sebatang pohon surga. “Lepaskan aku!” pintanya. ‘Aku tidak akan melepaskanmu!” kata pohon itu. Allah bertanya, “Apakah kamu lari dari-Ku?” Adam menjawab, “Duhai Rabbku, tidakkah aku malu kepada-Mu?” Kemudian Allah berfirman, “Seseorang yang beriman akan malu kepada Rabbnya atas dosa yang dilakukannya.” Setelah itu Adam mengetahui segala puji bagi Allah jalan keluarnya. Adam tahu bahwa jalan keluarnya adalah istighfar dan taubat kepada Allah.” (HR al-Hakim, beliau mengatakan, “isnadnya shahih tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Adapun efek ketika seseorang tidak malu kepada sesama manusia, maka ia bisa melakukan tindakan nista dalam pandangan manusia, begitupun untuk melakukan dosa dalam pandangan syariat. Seperti orang yang mengumbar dusta dan janji palsu tanpa beban dan tanpa malu.

Padahal, dahulu, orang-orang Jahiliyyah, sangat merasa berat untuk melakukan hal-hal yang nista dalam pandangan manusia karena dicegah oleh rasa malunya. Seperti  yang dialami oleh Abu Sufyan sebelum keislamannya. Ketika bersama Heraklius ia ditanya tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Sufyan berkata,

فَوَ اللهِ ، لَوْ لاَ الْـحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوْا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَلَيْهِ

“Demi Allah Azza wa Jalla, kalau bukan karena rasa malu yang menjadikan aku khawatir dituduh oleh mereka sebagai pendusta, niscaya aku akan berbohong tentangnya.” (HR. Bukhari)

Rasa malu telah menghalanginya untuk membuat kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ia malu jika dituduh sebagai pendusta. Rasanya, sifat ksatria seperti ini pun sudah mulai langka, lantas apakah berarti orang-orang sekarang lebih jahiliyah dari musyrikin Arab terdahulu, na’udzubillah.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة