Bahagia Di Penghujung Usia

369

Dr. Sayid Husain Al-Afanie dalam bukunya AI-Jazaau min Jinsil Amal menceritakan kehidupan seorang ahli qiraat di lembaga Majma’ Malik al-Fahd li al-Mushhaf asy-Syarîf. Beliau adalah syaikh Amir asy-Sayyid Utsman. Selama tujuh tahun beliau kehilangan pita suaranya. Namun begitu, beliau tetap mengajar qiraah dengan memberikan isyarat kepada para muridnya untuk membenarkan bacaan. Sebelum meninggal, beliau sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Ketika beliau terbaring di ranjang rumah sakit, perawat dan pasien lain terkejut sebab mereka mendengar syaikh Amir duduk dan membaca al-Qur’an dengan suara yang nyaring dan merdu padahal beliau telah kehilangan pita suaranya. Selama tiga hari beliau menghatamkan al-Qur’an, sampai kemudian Allah mencabut nyawanya.
Alangkah bahagianya ia yang mengakhiri hidupnya dengan bahagia. Ia diberi taufiq untuk melakukan semua yang dapat mendatangkan ridha Allah ta’ala. Ia isi hari-harinya dengan semangat melakukan ketaatan, hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi terbaik. Happy ending, husnul khatimah.

Tanda-Tanda Husnul Khatimah

Husnul khatimah memiliki beberapa tanda, di antaranya mengucapkan dua kalimat syahadat saat tutup usia. Rasulullah bersabda:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah (pahala) Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa bershadaqah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga. (HR Imam Ahmad dan selainnya).”
Inilah kalimat yang Allah ambil sumpah atas manusia. Kalimat yang disebut sebagai al-urwatul wutsqa (tali yang kuat), kaimat hasanah, al-qauluts tsabit (perkataan yang kokoh), dan kalimat thayyibah.
Tanda lainnya, ia meninggal dalam keadaan beramal shalih.  Allah menjadikan amal shalih beraneka rupa, melipatkan pahalanya, menjadikan berkah umurnya, dan menghapuskan dosa. Di antara manusia ada yang meninggal dalam sujudnya. Ada yang meninggal saat bertalbiah. Ada yang meninggal saat puasa. Itu semua anugerah Allah untuk siapa saja yang dikehendakinya.
Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, Rasulullah bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah memanfaatkannya.” Para sahabat bertanya,”Bagaimana Allah akan memanfaatkannya?” Rasulullah menjawab:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ

”Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal.” [HR Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al Hakim dalam Mustadrak).
Untuk itu para salaf berlomba. Begitu bersemangatnya mereka mengejar khusnul khatimah ini. Malik bin Dinar radhiyallahu anhu pernah berkata, “Demi Allah, kalu saja aku sanggup untuk tidak tidur, aku tidak akan tidur.” Ditanyakan kepadanya, “Mengapa begitu, ya Abu Yahya?” ia berkata, “Aku khawatir malaikat maut menjemputku sementara aku sedang tidur. Aku ingin ia mendatangiku saat aku sedang beramal shalih.” Beliau takut jika penutup amalnya bukanlah kebaikan. Padahal, Rasulullah pernah bersabda:

يُبْعَثُ كُلَّ عَبْدٍ عَلَى مَامَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai kondisi ketika ia mati.” (HR. Muslim).
Kita tidak tahu kapan kematian datang menyapa. Persiapan untuk menyambutnya haruslah disiapkan setiap masa. Sebab, siapa yang berbuat jujur kepada Allah di dunia dan melakukan amal yang diridhai-Nya, Allah akan meneguhkan saat berjumpa dengan-Nya.
Meninggal dengan kening berkeringat juga merupakan tanda husnul khotimah. Buraidah bin al-Hashib menuturkan bahwa Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

مَوْتُ المُؤْمِنِ بِعِرْقِ الجَبِيْنِ. رَواه أحـمد والترمذي

“Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening”.

Tanda yang lain lagi adalah meninggal pada malam Jumat atau siangnya.
Abdullah bin Amru meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum`at atau malam Jum`at, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur”. [HR Ahmad dan Tirmidzi]

Tanda husnul khatimah lainya adalah mati syahid di medan jihad di jalan Allah, atau mati saat menempuh perjalanan untuk peperangan di jalan Allah, mati karena tertimpa sakit tha’un (pes), atau mati karena tenggelam. Dalilnya adalah hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapakah orang yang syahid menurut kalian?” Para sahabat menjawab,”Orang yang terbunuh di jalan Allah, maka ia syahid”. Rasulullah bersabda,”Kalau begitu, orang yang mati syahid dari umatku sedikit,” mereka bertanya,”Kalau begitu, siapa wahai Rasulullah?” Beliau n menjawab,”Orang yang terbunuh di jalan Allah, ia syahid. Orang yang mati di jalan Allah, maka ia syahid. Orang yang mati karena sakit tha’un, maka ia syahid. Barangsiapa yang mati karena sakit perut, maka ia syahid. Dan orang yang (mati) tenggelam adalah syahid”.

itulah beberapa tanda husnul khatimah. Namun, kepastian bahwa ia adalah penghuni surge merupakan hak mutlak Allah. Bukan berarti orang yang tidak memiliki tanda tersebut ia meninggal dalam kondisi suul khatimah. Itu semua merupakan hal ghaib yang hanya diketahui oleh Allah.
Langkah Meraih Husnul Khatimah
Istiqamah adalah kunci husnul khatimah. Allah memuji orang-orang yang istiqamah dalam firmannya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni jannah. Mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13-14). Ia teguh dalam memegang aqidah ahlussunnah wal jamaah.
Sementara orang yang menyimpang dari jalan kebenaran dan melakukan penyelewengan, mereka akan ditimpa musibah berupa akhir yang buruk. Iblis yang semula disebutkan dalam jajaran para malaikat di langit akhirnya dilaknat oleh Allah lantaran penentangannya kepada al-Haq. Hendaknya kita berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar diwafatkan dalam keadaan beriman dan bertakwa. Kita juga perlu memperbaiki diri karena Allah akan memberikan taufik kepada orang yang mencari kebenaran.

Godaan setan menjelang kematian

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pernah bercerita, sebagaimana dikisahkan oleh Al-Qurthubi dalam kitab at-Tadzkirah. “Aku hadir saat ayahku tengah menanti ajal,” kisahnya. “Tiba-tiba beliau pingsan kemudian tersadar sambil berkata dengan menggerakkan tangannya, ‘tidak akan, tidak akan…’ Hal itu dilakukan berkali-kali. Maka aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang terlihat dihadapanmu ayah?’ Beliau menjawab, ‘Setan berdiri didepanku sambil menggigit jarinya dan mengatakan, ‘Wahai Ahmad, aku akan menggodamu.’ Maka aku katakana, ‘Tidak akan sampai aku mati.’
Setan akan senantiasa berusaha menggoda dan menyesatkan manusia. Setan telah bersumpah dihadapan Allah, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shad: 82-83). Rayuan setan akan semakin menghebat kala berada pada detik-detik menjelang kematian. Setan tahu bahwa bahwa saat itu adalah saat penutupan amal perbuatan dan akhir masa hidup di dunia. Setan akan menyerunya kepada ideology lain yang bertentangan dengan Islam sehingga tidak ada kesempatan lagi baginya untuk bertaubat.
Berbahagialah mereka yang mampu menepis godaanya. Oleh karenanya Rasulullah mengajarkan kepada kita sebuah doa sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sebuah hadits Shahih dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda,

إِنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ كُلُّهَا بَيْنَ أَصْبَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ، ثُمَّ قَالَ رَسُوْلَ اللهِ : اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu.” Wallahu a’lam [Bahri]