Kita Pasti Akan Mendatangi Neraka!

36

Suatu hari, ketika Abdullah bin Rawahah sakit, beliau meletakkan kepalanya dipangkuan sang isteri sambil menangis. Sang isteri turut menangis karenanya. Lalu beliau bertanya kepada isterinya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Isterinya menjawab, “Aku melihatmu menangis, maka aku ikut menangis!”. Abdullah berkata, “Sesungguhnya aku ingat firman Allah Ta’ala

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا

“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu”, maka aku tidak tahu apakah aku bisa selamat dari neraka ataukah tidak?!”

Ayat yang beliau maksud adalah firman Allah,

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا(71)ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا(72)

“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang dzalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”, (QS. Maryam:71-72).

Ayat itu menegaskan, bahwa semua manusia akan mendatangi neraka. Ini telah menjadi ijma’ para ulama berdasarkan ayat di atas. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang maksud ‘mendatangi’ neraka.

 

Maksud ‘Mendatangi’ Neraka

Ibnu Abil Izz, penulis Syarah Thahawiyah menyebutkan, “Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud ‘wuruud’ (mendatangi) dalam firman Allah

 وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا

“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu”, apa maksudnya? Pendapat yang paling kuat adalah, berjalan di atas shirath. Allah berfirman, ” Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang dzalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”  Di dalam Ash- Shahih di sebutkan bahwa Nabi saw bersabda,

“Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, neraka tidak akan menyentuh seorangpun yang berbai’at di bawah pohon (Bai’atur ridhwan).”

Lalu Hafshah bertanya, “Wahai rasulullah, bukankah Allah berfirman, “Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu?” Nabi menjawab, “Tidakkah kamu mendengar firman Allah, “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang dzalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”, (QS Maryam: 72)

Nabi mengisyaratkan bahwa mendatangi neraka tidak identik dengan memasukinya. Dan bahwa diselamatkannya seseorang dari keburukan tidak selalu berarti orang tersebut telah ditimpa keburukan.”

Beliau juga mengatakan, “Begitu pula halnya dengan ‘mendatangi’ neraka, mereka melewati di atasnya, yakni di atas Shirath, kemudian Allah menyelamatkan mereka yang bertakwa, dan membiarkan orang-orang yang zhalim berada di dalamnya dalam keadaan berlutut.”

Diriwayatkan dalam hadits yang shahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

يَرِدُ النَّاسُ على النَّارَ، ثُمَّ يَصْدُرُونَ عَنْهَا بِأَعْمَالِهِمْ، فَأَوَّلُهُمْ كَلَمْحِ الْبَصَرِ، ثمَّ كَمَرِّ الرِّيْحِ، ثمَّ كَحضْرِ الْفَرَسِ، ثمَّ كالرَّاكِبِ في رَحْلِهِ، ثمَّ كَشَّدِّ الرَّجُلِ، ثُمَّ كَمَشْيِهِ

“Manusia akan berjalan diatas neraka. Kemudian mereka akan melewatinya sesuai dengan amal perbuatan mereka. Yang paling pertama melewatinya dengan sangat cepat seperti kedipan mata, lalu ada yang seperti hembusan angin, ada yang seperti larinya seekor kuda, ada yang seperti orang naik kendaraan dalam perjalanannya, ada yang dengan berlari dan ada yang seperti berjalan”. (HR Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, dishahihkan oleh al-Albany)

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa maksud mendatangi neraka adalah melewati di atasnya, yakni di atas Shirath, karena Shirath terbentang di atas neraka.

 

Lewat Tanpa Terasa Panas

Ada pula yang berpendapat bahwa maksud mendatangi dalam ayat tersebut adalah memasukinya. Hanya saja orang mukmin tak merasakan panasnya api neraka. Sulaiman bin Murah menguatkan pendapat tersebut seraya meletakkan kedua jarinya ke telinga dan berkata, “kedua telingaku tuli jika aku tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah tersisa orang baik maupun jahat melainkan akan memasuki neraka, lalu neraka dijadikan dingin dan keselamatan atas orang mukmin sebagaimana terjadi atas Ibrahim. Hingga api menjadi beku karena dinginnya. Kemudian Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim berada di dalamnya dalam keadaan berlutut.” (Ma’arijul Qabuul II/851)

Al-Hasan bin Arafah juga meriwayatkan dari Khalid bin Mi’dan, “Penduduk jannah setelah masuk jannah berkata, “Bukankah Rabb kita telah menjanjikan kepada kita bahwa kita akan mendatangi neraka?” Dikatakan, “Kalian telah mendatanginya dalam keadaan padam.”

Wallahu a’lam, kedua pendapat tersebut bisa jadi melegakan hati sebagian kita. Sebab ternyata orang mukmin ada yang tidak memasuki neraka, atau..kalaupun masuk neraka, mereka tak akan merasakan panasnya.

Tapi, jangan lantas merasa aman dan lupa diri. Sikap yang justru kita ambil adalah seagaimana sikap Abdullah bin Rawahah yang tetap takut, karena kita tidak tahu, apakah kita termasuk yang diselamatkan oleh Allah? Ataukah termasuk golongan yang dibiarkan (meskipun hanya beberapa lama) di dalam neraka dalam keadaan hina?

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam jannah, dan jauhkanlah kami dari neraka, amien.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Akidah