Khutbah Jumat: Rugi Nian Ibadah Di Tepian

7

 

Khutbah Jumat:
Rugi Nian
Ibadah di Tepian

 

الْحَمْدُ للهِ الكَرِيمِ المَنَّانِ، صَاحِبِ الفَضلِ وَالجُودِ وَالإِحْسَانِ، يَمُنُّ وَلا يُمَنُّ عَلَيْهِ، سُبْحَانَهُ لا مَلْجَأَ مِنْهُ إِلاَّ إِلَيْهِ، أَحْمَدُهُ بِمَا هُوَ لَهُ أَهلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، حَثَّ عِبَادَهُ عَلَى الإِخْلاصِ فِي العَطَاءِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ المَنِّ وَالرِّيَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، قَدَّرَ نِعَمَ اللهِ حَقَّ قَدْرِهَا، وَأَجْهَدَ نَفْسَهُ بِالقِيَامِ بِشُكْرِهَا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللهُ عَنِ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:131)

Jamaah Jumat rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia-Nya. Allah menempatkan kita di sebuah negeri yang dianugerahi banyak keistimewaan. Tanahnya mudah ditanami, banyak jenis pepohonan yang dapat tumbuh, hawa yang baik dan perairan yang luas. Sebuah nikmat yang luar biasa yang harus senantiasa kita syukuri. Syukur dalam arti mengguna kian nikmat itu untuk taat kepada-Nya, bukan hanya untuk memenuhi kesenangan nafsu pada kenikmatan dunia. Sebuah kenikmatan yang jika kita kufuri, akan berubah menjadi bencana yang membinasakan kita.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ keluarga dan juga orang-orang yang senantiasa teguh membela sunahnya hingga akhir zaman.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Telah jelas dalil-dalil syar’i tentang perintah masuk Islam secara kafah, tentang keharusan mengisi hidup hanya untuk ibadah, juga tentang larangan mencampuradukkan yang benar dengan yang bathil.

Tapi sayang, tidak semua orang yang mengaku dirinya beriman lantas menerima seluruh totalitas syariat secara integral. Bukan karena tidak mampu, tapi karena memiliki pilihan lain. Dia hanya mengambil sebagian, lalu membuang sebagian yang lain.

Allah berfirman,

 

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّـهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ ﴿١١﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”(QS. al-Hajj: 11)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Mujahid dan Qatadah berkata ketika menafsirkan firman Allah yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi..” “Maksud ‘ala harfin adalah di atas keraguan.” Ulama yang lain berkata, “berada di tepian, yakni masuk agama di tepian, jika sesuai dengan seleranya dia ikut, tapi jika tidak maka dia menghindar.”

Kedua makna tersebut saling menguatkan satu sama lain. Ketika seseorang ragu, maka ia tidak total dalam melangkah, iapun memilih berjalan di tepian. Ketika datang kepadanya suatu aturan syar’i, ia memilah dan memilih. Seakan pada syariat itu ada sisi kekurangan. Atau ada kesalahan yang tersisipkan.

Padahal Allah yang menciptakan manusia beserta alam semesta, Dia pula yang paling tahu, mana yang baik dilakukan manusia, mana pula yang berbahaya bagi mereka. Karena itu Allah memberikan rambu-rambu untuk manusia secara sempurna dengan syariat-Nya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Adapun manusia, dengan kelemahan logika, hipotesa dan analisanya, kerap kali keliru. Menyangka sesuatu sebagai hal yang bermanfaat, padahal sejatinya adalah madharat. Atau menyangka seseuatu sebagai keburukan, ternyata selaksa manfaat terdapat di dalamnya,

Allah Berfriman,

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٢١٦﴾

 “…boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah 216)

Contoh sebentuk ibadah di tepian adalah orang yang tak mau meninggalkan adat syirik, atau tradisi yang mengandung dosa, demi menjaga kelestarian adat leluhurnya. Mereka itulah kaum yang disindir oleh Allah dalam firman-Nya,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّـهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ ﴿١٧٠﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS al-Baqarah: 170)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dia menjalankan sebagian aturan syariat, tapi juga mengambil kebiasaan nenek moyang meskipun bertentangan dengan syariat, atau bahkan tradisi syirik yang menyebabkan hapusnya seluruh amalan.

Sebagian lagi beribadah dipinggiran karena orientasinya hanyalah dunia semata. Apa yang menurutnya menguntungkan dunia, dia akan memakainya, dan aturan syariat yang menurutnya merugikan dunianya, atau mengandung resiko, ia tidak mau memakainya.

Ketika dia merasa diuntungkan secara materi karena agama, dia mengatakan, “Islam memang bagus.” Tapi ketika yang dialami sebaliknya, dia berkata, “agama ini memang buruk.”

Keuntungan tersebut bisa berupa harta, jabatan atau sanjungan. Kerugian yang dimaksud juga hanya diukur dari situ. Contoh dari fenomena seperti ini banyak sekali. Seperti seseorang yang ingin mendapat pengakuan keshalihannya di lingkungan yang islami, atau situasi agamis. Tapi dia juga ingin unjuk gigi, menampakkan keberaniannya melanggar syariat di tengah situasi hura-hura atau hiburan yang mengedepankan hawa nafsu dan dosa.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Berbagai fenomena cara ibdah di tepian itu divonis Allah sebagai kerugian. Bahkan kerugian di dunia dan akhirat. Di dunia, orang yang tidak mantap dengan satu pilihan, akan didera kebimbangan. Dia akan bingung dalam menentukan pilihan yang saling berlawanan. Pilihan untuk menjalankan syariat, dan pilihan untuk memuaskan keinginannya, atau kemauan untuk mendapat ridha dari makhluk atau aneka berhala yang dipertuhankan. Keadaannya seperti yang digambarkan oleh Allah,

رَبَ اللَّـهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ الْحَمْدُ لِلَّـهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٢٩﴾

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya?” (QS az-Zumar: 29)

Kerugian lain, umumnya manusia tidak menyukai sikap ‘mendua’ seperti ini. Jarang sekali orang seperti itu memiliki sahabat atau teman yang bisa dipercaya. Orang yang baik-baik tak menyukai orang yang tidak konsisten dalam kebaikan. Begitupula, teman-temannya dalam dosa ingin pula mendapatkan loyalitas dia dalam kemungkaran. Maka orang yang beribadah di tepian justru tidak mendapatkan tempat di hati rata-rata manusia. Kerugian mana yang lebih berat dari hilangnya ketenangan hati dan keterasingan dari sesama manusia?

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Lebih mengenaskan lagi, kerugian itu tak akan terbayar di akhirat. Bahkan, kerugian yang lebih besar menunggunya. Neraka adalah tempat orang yang menduakan Allah dengan selain-Nya, tempat pengidola para pendosa, dan tempat orang-orang yang sengaja memilih maksiat sebagai jalannya. Sedangkan jannah diperuntukkan bagi orang yang tunduk dan taat terhadap syariat yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Beliau bersabda, “Semua orang akan masuk jannah, kecuali yang enggan?” Para shahabat bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى

“Barangsiapa yang mentaatiku maka dia masuk jannahm dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka dia enggan (untuk masuk jannah.).” (HR Bukhari)

 

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، تَفَضَّلَ وَأَكْرَمَ، وَأَعْطَى وَأَنْعَمَ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، عَطَاؤُهُ مَمْدُودٌ، وَنِعَمُهُ عَلَى عِبَادِهِ بِلا حُدُودٍ، وَكُلُّ شَيْءٍ مِنْهُ وَإِلَيْهِ، لا مِنَّةَ لأَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ البَشِيرُ النَّذِيرُ، أَعْطَاهُ رَبُّهُ مِنَ الخَيْرِ الكَثِيرَ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأصَحْابِهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْن، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْمًا

(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.