Bijak Menasihati Tidak ‘Menelanjangi’

93

Kita sering menjumpai seseorang menasihati saudaranya, baik secara langsung maupun melalui sarana media. Sayangnya, caranya menasihati justru terkesan mengkritik, menghina, atau ‘menelanjangi’ kesalahan saudaranya. Ia tidak sungkan menyatakannya di depan umum, atau dibeberkan melalui media sosial yang bisa dilihat banyak orang. Niatnya ingin menasihati, tetapi hati justru tersakiti. Bukan cinta yang ia dapat, tetapi benci yang kemudian melekat.

Nasihat seharusnya menghadirkan kebaikan kepada orang yang diberi nasihat, bukan malah mendatangkan keburukan. Al Khaththabi mengingatkan, “Nasihat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasihati.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1:219).

 

Mengikat Hati dalam Menasihati

Setiap insan bisa berbuat kekeliruan, kesalahan, atau tersesat karena salah jalan. Hal ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat dari kesalahannya.” (HR. At Tirmidzi no. 2499, Hasan)

Kesalahan adalah keniscayaan, dan bertaubat darinya merupakan keharusan. Proses itu mungkin butuh nasihat, perlu diingatkan agar tidak bermaksiat. Memberi nasihat bukan sekedar memberikan penjelasan mengenai aturan dan konsekuensinya. Bukan pula menyatakan bahwa ia harus begini dan begitu, tidak boleh ini atau itu.

Ia harus dilakukan dengan cara yang bijak, sehingga hati bisa menerima dengan baik. Cara yang bijak akan memperindah nasihat itu sendiri. Tersebut dalam atsar, “Barangsiapa memerintahkan kebaikan, hendaklah memerintahkannya dengan cara yang baik.”

Ada dua cara menasihati dengan bijak.

Pertama, menasihati dengan perkataan yang lembut. Dari Abdurrahman bin Abi Uqbah, dari ayahnya yang pernah menjadi budak orang Persia bahwa ia berkata, “Aku turut berperang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Uhud, lalu aku memukul seseorang dari kalangan kaum musyrikin. Aku katakan kepada orang musyrik itu, ‘Ayo kalau berani, aku adalah seorang pemuda Persia!’ Rasulullah kemudian menoleh kepadaku dan berkata, “Mengapa tidak kamu katakan saja, aku adalah seorang Anshar, putra dari saudari mereka?” (HR. Abu Dawud)

Inilah nasihat yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak langsung menghardik, tetapi justru memberikan nasihat yang menarik. Sebuah cara yang indah, namun tetap terkesan gagah. Cara yang tidak menyalahkan, tetapi mengarahkan.

Kedua, menasihati dengan memberikan teladan melalui perbuatan. Dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan seorang anak yang sedang menguliti seekor kambing, namun keliru dalam melakukannya. Beliau bersabda, “Menyingkirlah dulu, akan aku perlihatkan kepadamu cara menguliti yang benar.” Beliau kemudian memasukkan tangan di antara kulit dan daging lalu menyusupkannya hingga masuk ke bagian ketiak. Sesudah itu beliau berlalu untuk melaksanakan shalat bersama para sahabat tanpa berwudhu lagi.” (HR. Abu Dawud)

Cara menasihati ala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan cara yang cukup efektif. Lembut dan tidak menyakiti, namun justru mengikat hati. Beliau juga memilih bahasa yang bisa diterima, susunan kata yang tepat untuk diungkap. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah engkau berbicara dengan suatu kaum dengan bahasa yang tak terjangkau akal pikiran mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” (HR. Muslim)

 

Menasihati Bukan ‘Menelanjangi’

Sebagian orang merasa tidak bersabar ketika menjumpai orang lain melakukan kesalahan atau kelalaian dalam berucap dan bersikap. Dengan spontan mereka langsung menghina, mencaci dan menghakimi. Hal semacam ini merupakan kesalahan dalam menasihati.

Menasihati tidak dilakukan dengan menghina dan mencaci. Tidak perlu pula mengungkapkan kesalahan itu di depan orang lain, karena seharusnya kita menutupinya. Membuka kesalahannya di depan orang sama seperti ‘menelanjangi’ saudara kita, membuka aib yang semestinya kita tutupi.

Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 225).

Imam Syafii rahimahullah mengajarkan agar kita tidak menasihati seseorang di depan umum. Ia berkata, “Tutuplah kesalahanku dengan menasihatiku seorang diri dan janganlah menasihatiku di depan banyak orang. Karena sesungguhnya menasihatiku di hadapan banyak orang adalah bagian dari menjelekkanku. Aku tidak ridha mendengar seperti itu. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku, maka jangan marah jika nasihatmu tak kuikuti.”

Baca Juga: Kesempatan Berharga Bersama Orang Tua

Menyalahkan bukan sikap yang baik untuk memberi nasihat. Apalagi jika dilakukan dengan membuka aib saudara kita di depan orang lain, hakikatnya sama dengan menelanjanginya. Jika hal itu dijadikan kebiasaan, maka nasihat yang diberikan tidak akan menjadi kebaikan, bahkan cenderung menyebabkan kebencian. Maksud hati hendak merangkul, tetapi justru memukul, dan pada akhirnya nasihat menjadi tumpul.

Ikutilah teladan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan nasihat. Beliau pernah mengingatkan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma yang pada saat itu masih kecil dan tidak menjaga pandangannya. Beliau bersabda kepadanya, “Nak, sesunggunya pada hari ini (Arafah), siapa saja yang bisa memelihara pandangannya, maka ia akan mendapatkan ampunan.”

Betapa indahnya cara yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meluruskan kesalahan. Beliau menunjukkan kesalahan tersebut dengan nasihat, sehingga anak yang mendapat teguran dapat langsung memperbaiki kesalahannya. Begitulah seharusnya kita, menasihati dengan mengikat hati, bukan dengan membuka aib saudara sendiri.

Oleh: Ust. Asadullah al-Faruq/Fadhilah Amal