Diri Celaka Saat Ulama Dicela

367

Para ulama mereka adalah “jembatan” syariah. Mereka tempat bertanya untuk berbagai permasalahan syar’i. Mereka pula yang menjelaskan makna firman Allah dan mensyarah hadits-hadits Nabi saat didapati ada yang belum jelas dalam keduanya. Merekalah yang membela agama Allah dari berbagai syubhat yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan agama Allah. Mereka yang menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Mereka adalah para pembela syariah dan oleh karena itu mereka disebut waratsatul anbiya` (para pewaris nabi-nabi). Para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirhan. Mereka mewariskan ilmu.

Belakangan ini ada beberapa golongan, bahkan kaum mulimin sendiri yang mencaci dan merendahkan para ulama kerena lagi-lagi masalah dunia. Iming-iming dunia memang menyilaukan mata, sampai pada akhirnya membutakan hati dan pikiran. Karena fatwa yang dianggap tidak sesuai dengan kemauan mereka, mereka mencari kekurangan dan aib-aib dari para ulama, sungguh menyesakkan dada.

Baca juga : Anjing pun Tak Rela Nabi Dihina

Belum lagi kepanikan para penguasa yang mencoba membenturkan masyarakat dengan para ulama, dengan pencitraan negatif dan penciptaan opini buruk pada pribadi ulama tersebut, akhirnya masyarakat mencaci, menghina dan menganggap ulama sesat, ulama bayaran dan lain semisalnya.

Related Posts

Syaikh Utsaimin berkata, Menghina ulama adalah dosa paling besar, karena bukan hanya menghinanya tapi juga menghina ilmu yang dia bawa. Secara tidak langsung dia akan menghina agama dan menghina syariat agama, kumpulan ilmu yang ulama bawa adalah risalah agama, bukan perniagaan dunia.
Ibnu Asaakir berkata,

إن لحوم العلماء مسمومة، وسنة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة، فمن أطلق لسانه في العلماء بالانتقاص والثلب، ابتلاه الله عز وجل قبل موته بموت القلب

“Sesungguhnya daging para ulama itu beracun. Permusuhan Allah terhadap orang yang melecehkan kehormatan para ulama juga sudah maklum. Dan, barangsiapa yang menyibukkan lisannya untuk menjelek-jelekkan para ulama, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya sebelum kematiannya dengan kematian hati”.

Betapa mulia para Ulama dan begitu rendahnya orang yang menghinanya, sampai Allah mengancam bagi para pencela Ulama dengan mematikan hati mereka, dengan begitu husnul khatimah hanyalah ilusi belaka karena hatinya mati tiada menginggat illahi. Mari kita berlindung kepada Allah agar melindungi lisan kita dari perkataan buruk, cacian dan umpatan.