Jangan Menjilat Karena Ingin Mendekat

26

Ada yang berebut kekuasaan, ada yang berebut pengaruh supaya dekat dengan pemilik jabatan. Tak jarang untuk meraih kedekatan itu harus mengorbankan keyakinan, atau harus berhadapan melawan kebenaran. Ini karena manusia memandang bahwa kemuliaan terdapat pada jabatan dan kekuasaan, dan kedekatan dengan penguasa dianggapnya numpang mulia.

Di zaman Nabi Musa alaihissalam, mereka yang berani menghadapi mukjizat Nabi Musa alaihissalam dari pihak Fir’aun itu punya pamrih. Dan Fir’aun tahu apa pamrih mereka itu, maka ia pun menjadikannya sebagai iming-iming dan hadiah yang dijanjikan. Dan pamrih itu adalah beruapa kedekatan posisinya dengan Fir’aun. Allah kisahkan tentang hal ini,

Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, mereka bertanya kepada Fir’aun: “Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?” (QS. Asy Syu’araa’: 41)

Fir’aun menjawab: “Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku).” (QS. Asy Syu’araa’: 42)

Maka sepanjang sejarah ketika ada penguasa yang tidak pro kepada kebenaran, berseberangan dan berhadapan dengan Islam dan kaum muslimin, maka ia akan memberikan tawaran yang sama bagi siapapun yang dipandang mampu menahan arus dakwah kebenaran. Tak peduli dari pihak manapun asalnya. Inilah yang menarik orang-orang munafik untuk tampil menyambut tawaran. Yang dalam bahasa kasarnya adalah penjilat. Disebut penjilat karena kehinaannya mengorbankan prinsip demi kemengan orang lain, sementara ia hanya sekedar dekat dengannya. Bahkan ada yang rela menjilat hanya demi sekedar dekat atau dianggap kenal dekat dengan seseorang yang punya nama atau wibawa.

Orang-orang munafik mengira menjadi mulia dengan itu, padahal hakikatnya itu adalah kehinaan yang paling hina.

Ketika Imam Malik ditanya, “Siapakah orang yang hina itu?” Beliau menjawab, “Yakni orang yang mencari makan dengan menjual (mengorbankan) agamanya.” Beliau ditanya lagi, “Lantas siapakah orang yang paling hina di antara yang hina?” Beliau menjawab, “Orang yang mengorbankan agamanya demi dunia orang lain.”

Ketika Imam Malik ditanya, “Siapakah orang yang hina itu?” Beliau menjawab, “Yakni orang yang mencari makan dengan menjual (mengorbankan) agamanya.” Beliau ditanya lagi, “Lantas siapakah orang yang paling hina di antara yang hina?” Beliau menjawab, “Orang yang mengorbankan agamanya demi dunia orang lain.”

Sedang kemuliaan sesungguhnya adalah ketika seseorang berada di pihak Allah, Rasulullah dan membela orang-orang yang beriman. Firman Allah Ta’ala,

“Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Jika orang-orang munafik berlomba mendekat kepada para raja dengan menghalalkan segala cara, maka orang beriman berusaha mendekat kepada Pencipta para raja yang Mahakuasa lagi Mahamulia. Jika ada orang yang berbangga menjadi keluarga para raja, maka ahlul Qur’an berlomba menjadi keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya. Ahlul Qur’an hum ahlullah wa khaashatuh, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Muhasabah