Etika Bersosial Media

341

Sepuluh tahun silam, orang masih awam mendengar kata-kata Whatsapp Messenger, Instagram, Facebook, twitter, Path, Line dan yang semisalnya. Tapi dewasa ini, hampir semua orang mengenal dan memakai aplikasi-aplikasi tersebut. Atau yang lebih populer kita kenal dengan istilah Sosial Media (Medsos/sosmed). Dengan segala fitur canggihnya, sangat membantu kita berinteraksi dengan teman, keluarga dan sanak saudara.

Dari semua kemudahan yang disuguhkan, Sosial Media berperan dalam kebaikan dan keburukan, seperti bilah pisau yang bermata dua, tinggal siapa punggawanya. Oleh karena itu, hendaknya kita mempunyai etika saat memainkan jari-jemari dan kata-kata kita agar menjadi pahala dan menjauhkan kita dari dosa. Karena seorang muslim adalah mereka yang membuat saudaranya merasa aman dari lisan dan tangannya.

BACA JUGA: MENYIKAPI BERITA DUSTA (HOAX)

Diantara etika yang menjadi rambu-rambu kita saat bersosial media antara lain,

1.Jadikan Sosial Media Ladang Pahala

Setiap saat hampir tangan kita tak pernah lepas dari memegang gadget. Artinya setiap saat ada banyak kebaikan yang bisa kita sebarkan lewat sosial media. Tadzkirah, dzikir dan berbagai doa. Jadikan setiap status dan tulisan kita sebagai saksi nanti di akhirat bukan yang akan menghisab kita. Semakin banyak follower yang mengikuti kita, sebanyak itu potensi pahala yang seharusnya kita terima.

2.Hindari Setiap Potensi Maksiat dan Dosa

Related Posts

Banyak sekali hal positif yang bisa kita dapatkan dengan bersosial media, akan tetapi setan tak mungkin diam melihat kebenaran. Ia akan menemani siapa saja di dunia maya agar orang tersebut menebar kata-kata keji, menggunjing satu sama lain, membuat berita dusta, melihat aurat wanita, menghina ulama, merendahkan sesama saudara dan berbagai kemaksiatan lainnya. Jangan biarkan potensi ini terjadi, caranya kita harus selalu merasa diawasi oleh Allah.

3.Tinggalkan Berita Meragukan, Ambil dari Sumber Terpercaya

Dalam bersosial media seringkali kita menyebarkan berita yang belum tentu kebenaran dan sumbernya. Ketika ada hal menarik serta merta langsung kita share ke beberapa akun sosmed kita. Setelah ditelusuri ternyata beritanya dusta, dan kitalah yang akhirnya menyesal. Hal inilah yang harus kita perhatikan, semakin menjamurnya media dan portal berita yang ada, tidak selalunya berita yang mereka sampaikan benar adanya. Terkadang ada pengurangan, penambahan atau sengaja di buang. Oleh karena itu, ketika mengambil dan menyebar berita, pastikan sumber rujukan kita terpercaya dan kita tahu keadilan media tersebut dalam menyajikan sebuah berita.

4.Belajar Bukan Dengan Sosial Media

Dengan mudahnya kita mendapat pengetahuan agama dari sosial media, seringkali membuat seseorang mencukupkan belajar dari gadgetnya. Memang tidak salah membaca dan merenungi setiap tadzkirah yang ada, akan tetapi menuntut ilmu agama tetap harus dengan pembimbing yaitu seorang ustadz atau pengampu, agar tidak salah dalam mengambil sebuah kesimpulan agama.

5.Bila Tidak bermanfaat, Tinggalkan Saja

Salah satu cara setan menggoda manusia adalah dengan membuat waktunya berlalu tanpa nilai pahala. Memanjakan manusia dengan perkara sia-sia, mubadzir dan tiada guna. Maka apabila sosial media yang kita punya menjadikan kita lalai dari mengingat Allah, menggiring kita berlama-lama menatapnya sehingga lupa waktu shalat dan membaca al-Quran, sebaiknya kita tinggalkan saja. Karena Nabi bersabda, “Diantara tanda kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.” Apalagi tidak mendatangkan manfaat untuk dunia bahkan akhirat.

Demikian etika bersosial media, semoga bisa menjadi rambu-rambu kita agar tidak berlebihan menggunakannya. Dan dari segala kemudahan yang kita dapatkan, semoga menjadikan kita semakin dekat kepada Allah dengan menjadikannya wasilah dakwah. Wallahu a’lam