Menjadi Muslim Serba Bisa

274

Sebagai pekerja di sebuah perusahaan, seseorang dituntut untuk memiliki suatu keahlian yang memang ia lihai dibidang tersebut. Agar menunjang keberhasilan pekerjaan yang ia geluti. Ia harus fokus, telaten dan cekatan di bidang itu dan tidak perlu memperhatikan bidang lainnya.

Tapi di sisi lain, ada orang yang susah untuk menemukan bakat dan potensinya, akan tetapi ia bisa melakukan berbagai bidang pekerjaan, meski tidak 100% hasilnya seperti orang yang ahli dalam bidangnya.

Itulah orang yang disebut Multi Talent. Menulis bisa, berniaga bisa, ketika harus mengisi kajian dia juga mahir menyampaikannya.

BACA JUGA: MENJADI MUSLIM YANG SEHARUSNYA

Saat kita menyadari potensi, kewajiban kita selanjutnya adalah berkontribusi dengan skill dan potensi yang kita miliki untuk agama Islam. Sekecil apapun bakat dan kerja yang kita miliki hendaknya kita berikan untuk kemajuan islam dan kaum muslimin. Siapa yang memiliki kepiawaian dalam berdagang, maka sedekah harus lebih digalakkan daripada mereka yang menjadi sopir. Bagi yang pintar menulis, maka tulislah buku-buku yang bermanfaat bagi ummat. Insyaallah di setiap sisi positif akan ada pahala masing-masing.

Ketika setelah digali kita menemukan ada sekian potensi yang bisa kita lakukan, maka ledakkan semuanya. Kita pun akan menjadi manusia multi bisa yang luar biasa dan kita bisa memberi kontribusi kepada Islam dalam setiap lini.

Meneladani para Ulama, kita punya Abdullah bin Mubarak. Seorang Ulama Multi talent alias serba bisa yang lahir pada tahun 118 H. ibarat gunung, beliau menyimpan lebih dari satu unsur tambang berharga dan mampu didulang seluruhnya. Selain saudagar kaya yang gemar menggelontorkan dana untuk berinfak dan perjuangan, beliau sendiri juga seorang Mujahid dan petempur ulung. Tenaga, waktu, dan skill tempurnya juga disumbangkan untuk Islam. Luar biasanya lagi, beliu juga salah seorang ulama’ yang luas pengetahuan agamanya juga ahli di bidang hadits. Sampai para ulama menjuluki beliau “dokter” karena kecerdasannya mengenali hadits.

Ketika kita hanya memiliki satu kemampuan yang bisa kita sumbangkan, jangan tinggalkan yang satu itu. Karena kita ingat ungkapan ushul fikih, “Kalau tidak mendapatkan semuanya, jangan tinggalkan semuanya.” Syaikh Hasan al-Banna bukanlah orang yang pandai mengarang kitab sebagaimana Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar dll. Akan tetapi dengan potensi ta’liful qulub (menyatukan hati) orang-orang, beliau sangat handal, terbukti berapa ribu orang yang menyatu dalam visi menegakkan agama Allah.

Maka mari, kenali diri dan gali potensi. Semakin banyak potensi yang kita miliki, semakin banyak lini dalam Islam yang mampu kita isi.