Gila Hormat Hina Didapat

362

Adalah Umar bin Hubairah Al-Fazari, seorang gubernur Irak hingga Khurasan di masa khalifah Yazid bin Abdul Malik. Gubernur ini merasa adakalanya mendapat perintah yang tidak sejalan dengan kebenaran dari atasan. Iapun merasa galau dan kemudian berkonsultasi dengan dua ulama besar, yakni al-Auza’i dan Hasan al-Bashri rahimahumallah. Ia berkata, “Sesungguhnya Amirul Mukminin, Yazid bin Abdul Malik telah diangkat oleh Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya sehingga wajib ditaati dan aku diangkat sebagai walinya di negeri Irak hingga Persia. Dia selalu menulis surat perintah yang adakalnya kupandang tidak adil. Menurut kalian apa yang harus saya lakukan? haruskah saya harus mentaati perintah-perintahnya yang bertentangan dengan agama?”

Kemuliaan yang Dicari

Ketika itu Asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban standart dan cenderung mengikuti alur yang sekiranya sesuai alur pikiran gubernur itu, sedangkan Hasan Al-Basri hanya diam. Hingga Umar menoleh kepadanya dan bertanya, “Wahai Abu Sa’id, bagaimana pendapatmu?”
Beliau berkata, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah Ta’ala bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkanYazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabbnya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid yang kau jumpai hanya amalanmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabbmu dan Rabb Yazid.

BACA JUGA:

Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepadaNya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu di dunia dan akhirat. Namun jika Anda lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah, wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan bagi makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah.”

Umar bin Hubairah menangis hingga basah jenggotnya karena tersentuh mendengar nasihatnya. Setelah kedua ulama itu keluar dan menuju ke masjid, orang-orangpun datang berkerumun ingin mengetahui berita pertemuan mereka dengan amir Irak tersebut.

Asy-Sya’bi rahimahullah menemui mereka dan berkata, “Saudara-saudara, barangsiapa mampu mengutamakan Allah atas makhluk-Nya dalam segala keadaan dan masalah, maka lakukanlah. Demi jiwaku di tangan-Nya, semua yang dikatakan Hasan Al-Basri kepada Umar bin Hubairah juga aku ketahui ilmunya. Tapi yang kusampaikan kepadanya adalah untuk wajahnya, sedangkan Al-Basri menyampaikan kata-katanya demi mengharap wajah Allah Ta’ala. Maka aku disingkirkan Allah dari Ibnu Hubairah, sedangkan Al-Basri didekati dan dicintai.”

Ini sepenggal kisah yang dicatat oleh DR. Ra’fat Basya dalam kitabnya Shuwar min Hayaatit Tabi’in, tentang kemuliaan yang didapat justru dengan konsisten terhadap kebenaran, mendahulukan keridhaan Allah daripada makhluk.

Gila Hormat, Nista Didapat

Jika sebaliknya, seseorang menghiasi ucapannya kepada atasan, sekedar mencari aman atau yang dalam istilah sekarang ‘Asal Bapak Senang’, ia akan menjadi rendah di hadapan Allah. Dan kemudian akan menjadi rendah juga di hadapan orang yang disanjungnya. Dia akan remeh di hadapan Allah karena tidak menjadikan aturan Allah sebagai acuan nasihat, tidak juga mengedepankan penilaian Allah atas dirinya. Justru lebih berharap penilaian dan balasan dari makhluk daripada penilaian dan balasan dari al-Khaliq. Dan jika Allah sudah menghinakan seseorang, siapa lagi yang akan memuliakan ia?

“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Hajj: 18)

Dia juga akan menjadi rendah di hadapano rang yang disanjungnya karena gelagatnya akan tampak oleh sanjungannya. Bahwa yang dimintai nasihat hanya mencari perhatian, atau hanya berharap upah, sehingga posisinya tak lebih sebagai penghibur daripada penasihat.

Karena itulah, pada peristiwa yang lain, saat Salamah bin Dinar ditegur seorang punggawa lantaran dinilai keras saat menasihati Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, beliau berkata, “Allah telah mengambil janji dari para ulama agar berkata jujur sebagaimana firman-Nya, “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” ( QS Ali Imran: 187 )

Beliau melanjutkan nasihatnya kepada Khalifah, “Wahai Amirul Mukminin umat-umat terdahulu berada dalam kebaikan dan kebahagiaan selagi para pemimpinnya selalu mendatangi ulama untuk mencari kebenaran. Kemudian muncullah kaum dari golongan rendah yang mempelajari berbagai ilmu mendatangi para pejabat untuk mendapatkan suatu kesenangan dunia. Selanjutnya para pejabat itu tak lagi menghiraukan perkataan ulama, maka merekapun menjadi lemah dan hina di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ketika seseorang memandang bahwa kemuliaan itu terletak pada banyaknya harta, maka dia cenderung mendatangi orang yang bisa memberikan harta kepadanya. Atau dia akan mencari kekayaan dengan jalan apapun juga, meski dengan mengundang kemurkaan Rabbnya.

Bahkan ketika tidak mampu menjadi orang kaya, tak menutup kemungkinan ia berpura-pura kaya. Menampakkan diri seperti orang kaya, meski harus menanggung hutang dengan cara riba. Ujung-ujungnya, keinginan untuk mengejar mulia malah berujung pada kehinaan. Rendah di mata manusia, dan yang lebih menakutkan adalah hina di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitupun ketika seseorang memandang bahwa kemuliaan itu ada pada ketenaran atau pujian manusia. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan puian manusia. Semakin kuat ambisinya terhadap manusia, makin ketara pula sikap pamer dan pencitraannya. Ia menjadi orang yang serba ‘yes’ terhadap maksiat karena ingin mendapat dukungan dan pujian dari pelaku maksiat. Meskipun ia juga terkadang menampakkan sisi keshalihan di hadapan orang-orang shalih untuk mendapatkan pujian dan dukungan mereka juga.

Makin kuat ambisi, makin tampak pula aroma pamernya, hingga orang-orang pun sadar bahwa orang yang mencari dukungan itu adalah wajah bermuka dua. Hingga jadilah ia sebagai orang yang hina di mata manusia. Dan sesungguhnya itu juga balasan Allah atasnya karena meremehkan hak Allah demi mengemis balasan kepada manusia. Ia lupa bahwa tak mungkin bisa menyenangkan semua manusia. Ada ungkapan yang masyhur dari Imam asy-Syafi’i,

رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك

“Ridha semua manusia adalah target yang mustahil tercapai”

Terhormat Karena Taat

Bukan berarti kemudian kita sengaja mengundang kebencian orang kepada kita, namun poin pentingny adalah jangan sampai kita mengundang murka Allah demi mendapat keridhaan manusia. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

“Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski menimbulkan kebencian manusia terhadanya, maka Allah akan meridhainya dan Allah akan membuat manusia juga meridhainya. Namun barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan mengundang murka Allah, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut membencinya.” (HR Ibnu Hibban)

Maka hanya butuh proses dan bersabar menjalaninya. Jika kita konsisten terhadap kebenaran demi meraih ridha Pencipta, lalu beberapa orang atau bahkan mayoritas manusia tidak suka pada awalnya, kelak merekapun akan suka pada waktunya. Karena hati manusia dalam genggaman Allah. Dia Mahakuasa membolak-balikkan hati manusia sekehendak Dia. Jikalaupun tidak semua manusia menyukai, setidaknya mayoritas orang-orang baik akan respek kepadanya.

Maka seorang mukmin janganlah menjadikan pikirannya dan tujuannya kecuali mencari keridhaan Rabb-Nya dan menjauhi kemurkaan-Nya karena kemuliaan itu terletakk pada mentaati Allah dan rasul-Nya. Wallahu a’lam

(Abu Umar Abdillah)