Taubat Adalah Obat yang Khasiatnya Bertingkat-tingkat

29

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh Allah lebih bahagia dengan taubat seorang hamba ketika dia bertaubat dari (bahagianya) seorang diantara kalian, yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di padang pasir yang luas. Tiba-tiba hewan tunggangannya itu hilang darinya. Padahal disana ada perbekalan makan dan minumannya. Hingga ia putus asa. Lalu ia menghampiri sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya. Sungguh ia telah putus asa dapat kembali menemukan hewan tunggangannya. Kemudian dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangan itu sudah berada di sisinya. Maka ia segera meraih tali kekangnya seraya berkata karena sangat bahagianya, “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.” Ia keliru bicara karena saking bahagia. (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah menegaskan kecintaannya kepada para hamba-Nya yang bertaubat dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-baqarah: 222)

Karena kecintaan-Nya maka Allah mengampuni seluruh dosa yang telah lalu. Pun begitu, taubat adalah obat bagi dosa. Khasiatnya bertingkat-tingkat sesuai kondisi.

Ada obat yang tidak menyembuhkan, baik karena obatnya yang abal-abal atau tidak sesuai dengan penyakit yang diderita. Begitupun dengan taubat yang tidak diterima, karena taubatnya abal-abal atau pura-pura. Memohon ampunan namun tak ada sesal dan tak pula berhenti mengerjakannya. Atau seseorang yang bertaubat setelah nyawa di tenggorokan.

Ada pula obat yang hanya mengurangi penyakit. Seperti orang yang berobat, namun tidak konsisten dengan seluruh aturan pengobatan. Berobat tapi masih juga mengkonsumsi sebagian pantangan.

Seperti orang yang bertaubat, atau bahkan masuk Islam dari kekafiran, namun tidak seluruh dosa-dosa dia tinggalkan.

Baca Juga: Dua Ayat Penyebab Taubat Seorang Begal

Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah! Apakah kami akan dihukum karena perbuatan yang telah kami lakukan semasa Jahiliyah?” Beliau ﷺ menjawab:

أَمَّا مَنْ أَحْسَنَ مِنْكُمْ فِي الْإِسْلَامِ فَلَا يُؤَاخَذُ بِهَا وَمَنْ أَسَاءَ أُخِذَ بِعَمَلِهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَالْإِسْلَامِ

“Barangsiapa di antara kamu yang berbuat baik setelah Islam, maka dia tidak akan dikenakan hukuman karena perbuatannya di masa Jahiliyah. Tetapi barangsiapa yang berbuat kejahatan, maka dia akan dihukum karena perbuatannya di masa Jahiliyah maupun Islam.” (HR. Muslim)

Adapun tingkatan berikutnya adalah taubat yang mampu menghapus seluruh dosa yang telah lalu. Ini seperti obat yang menyembuhkan secara total. Karena obatnya mencocoki dan dikonsumsi dengan dosis yang pas.

Yakni taubat yang memenuhi syarat-syaratnya; berhenti dari dosa, menyesal atas dosanya, bertekad untuk tidak mengulanginya, beristighfar kepada Allah dan mengembalikan hak sesama jika berhubungan dengan manusia. Itulah syarat taubat yang dijelaskan para ulama yang disimpulkan dari nash-nash yang ada.

Yakni taubat yang memenuhi syarat-syaratnya; berhenti dari dosa, menyesal atas dosanya, bertekad untuk tidak mengulanginya, beristighfar kepada Allah dan mengembalikan hak sesama jika berhubungan dengan manusia. Itulah syarat taubat yang dijelaskan para ulama yang disimpulkan dari nash-nash yang ada.

Ini adalah bentuk kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Allah menganggap orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak pernah melakukan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,
“Orang yang telah bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa.” [HR. Ibnu Majah]

Lalu apakah kemudian hitungan bagi orang yang bertaubat dimulai dari nol?

Amru bin Ash radhiyallahu anhu bercerita, “Pada saat Allah menganugerahkan hidayah Islam di hatiku, aku mendatangi Rasulullah ﷺ.

Aku mengatakan, ‘ulurkanlah tangan Anda, aku ingun membaiat Anda (masuk Islam). Rasulullah pun mengulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu mendadak kutahan tanganku hingga Rasulullah bertanya, ‘Ada apa wahai Amru?”

Kujawab, “Saya ingin mengajukan syarat.” Rasulullah ﷺ bertanya, “Syarat apa yang kamu minta?” Aku menjawab, “Agar dosa-dosaku diampuni.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu, bahwa keislaman menghapuskan dosa-dosa sebelumnya? Demikian juga hijrah menghapus kesalahan-kesalahan yang telah lalu?” (HR. Muslim)

Namun tidak cukup di sini anugerah Allah bagi orang yang bertaubat. Bisa jadi seseorang yang bertaubat telah memiliki berbagai jenis kebaikan yang pernah ia lakukan. Sehingga seorang berandai jika berbuat baik di masa lalu itu bisa bernilai sebagai amal yang dikakukan di masa Islam atau setelah taubatnya.

Ini seperti yang dirasakan oleh Hakim bin Hizam, keponakan Sayyidah Khadijah radhiyallahu anha. Meski dekat dengan Nabi sejak kecilnya, dan dikenal baik perilakunya, namun 20 tahun setelah kenabian beliau baru menyatakan keislamannya. Ia pun gelisah dan menyesal kenapa tertinggal. Hingga beliau bertanya perihal kebaikan-kebaikannya di masa jahiliyah dahulu, adakah pahala baginya. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Keislamanmu turut mengislamkan pula kebaikan yang telah engkau lakukan (sebelumnya).” (HR. Bukhari)

Artinya bahwa taubat seperti ini tak hanya menjadikan seseorang memulai dari nol dosa, namun langsung membawa poin pahala atas suatu kebaikan yang pernah dilakukan sebelum taubatnya. Siapa lagi yang lebih pemurah daripada Allah.

Baca Juga: Taubat Yang Batal & Hijrah Yang Gagal

Masih ada lagi taubat yang membawa khasiat lebih dahsyat, seperti obat yang tak hanya menyembuhkan dari penyakit, namun juga memperbaiki stamina dan imunitas setelah sembuh dari sakitnya.

Ada taubat yang mengubah keburukan dan dosa di masa lalu menjadi kebaikan dan pahala. Sesuatu yang diawal masuk ditimbangan keburukan, dipindah posisinya ke timbangan kebaikan, Allahu Akbar. Siapa mereka? Allah berfirman,

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al-Furqan: 70)

 Mereka tidak hanya berhenti dari dosa lalu berdiam, akan tetapi dia menggantikan aktivitas keburukan dengan perilaku kebaikan. Sehingga ia mendapatkan pahala kebaikan sekaligus memindah posisi keburukan di masa lalu menjadi kebaikan yang berpahala. Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Motivasi