Hubungan Antara Amal Dan Takdir

23

 

 وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ وَاْلأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ، السَّعِيْدُ مَنْ سَعِدَ بِقَضَاءِ اللهِ وَالشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ بِقَضَاءِ اللهِ

“Setiap orang dimudahkan untuk bagian mana (surga/neraka) dia diciptakan. Amal-amal itu tergantung kepada akhirnya. Orang yang beruntung adalah orang yang beruntung dengan qadha` Allah. Orang yang celaka adalah orang yang celaka dengan qadha` Allah.”

(Syarh Akidah Thahawiyah No.50)

 

Kemudahan dari Allah

Allah mengetahui siapa-siapa yang akan menjadi penghuni surga dan neraka, hadits di atas menerangkan bahwa setiap orang dimudahkan untuk bagian mana dia diciptakan. Jika dia bakal menjadi penghuni Jannah, Allah akan memudahkan jalan menuju jannah baginya. Begitu pun sebaliknya, jika dia bakal menjadi penghuni neraka, Allah pun memudahkan jalan menuju neraka baginya.

Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan –dalam Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dari sepuluh orang sahabat, bahkan lebih—sebuah hadits yang berbunyi,

كُلٌّ مُهَيَّأٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Setiap orang disiapkan untuk apa (jannah/neraka) dia diciptakan.”

Allah telah menyatakan hal ini dalam firman-Nya,

“Dan (demi) jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 7-8)

Baca Juga: Memaknai Islam Sebagai Rahmatan Lil ‘alamiin

Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, adh-Dhahhak, dan Sufyan ats-Tsawriy menyatakan, maksud ayat di atas adalah Allah telah menerangkan semua kebaikan dan keburukan kepada manusia. Allah telah memudahkan jalan menuju keduanya, sehingga manusia dapat memilih jalan yang hendak ditempuhnya.

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. al-Insan: 3)

Inilah makna kemudahan dari Allah. Jadi Allah sama sekali tidak mengambil alih iradah dan kemampuan manusia untuk memilih jalan kebaikan. Tidak akan ada yang merasa dipersulit oleh Allah untuk menempuh jalan; baik jalan menuju surga maupun jalan menuju neraka. Tidak akan ada yang merasa terpaksa.

 

Lihatlah Akhir Amalnya

Matan akidah Thahawiyah ke-50 ini mengandung dua pelajaran.

Pertama, kita mesti khawatir jika tidak mendapati husnulkhatimah. Yang demikan itu karena semua dosa bisa terhapus dengan taubat dan semua kebaikan bisa terhapus dengan kemurtadan; seperti orang yang berpuasa lalu berbuka sebelum waktunya, atau orang yang mengerjakan shalat lalu membatalkannya sebelum salam.

Imam al Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sungguh, ada seseorang yang mengerjakan amalan penghuni surga dalam pandangan manusia, padahal dia termasuk penghuni neraka. Dan ada pula seseorang yang mengerjakan amalan penghuni neraka dalam pandangan manusia, padahal dia termasuk penghuni surga.”

Di sini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memilih ungkapan: dalam pandangan manusia. Maknanya, seseorang yang mengerjakan suatu amalan, dipersepsi oleh orang lain sebagaimana yang terlihat. Terlihat seperti penghuni surga atau neraka. Padahal hakikatnya -sebagian orang- tidak demikian. Tampak seperti penghuni surga padahal penghuni neraka. Tampak seperti penghuni neraka padahal penghuni surga, dengan menimbang akhir hayatnya yang husnulkhatimah, misalnya.

Allah mengetahui segala yang telah dan akan terjadi. Terkait dengan ini, para ulama menyatakan bahwa lantaran adanya kemungkinan celaka, maka disyariatkan bagi setiap muslim untuk memohon keteguhan kepada Allah.

Ibnu Tamiyah menyatakan, jika seorang mukmin melakukan perbuatan buruk, maka akibatnya bisa dicegah dengan sepuluh perkara:

1. Dia bertaubat sehingga Allah menerima taubatnya -orang yang bertaubat dari suatu dosa seperti orang yang tidak punya dosa-

2. Dia beristighfar sehingga Allah mengampuninya.

3. Melakukan perbuatan baik yang dapat menghapuskan dosa -sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapuskan keburukan-

4. Saudara-saudaranya seiman mendoakannya dan memintakan ampunan untuknya, baik saat dia hidup maupun setelah dia meninggal dunia.

5. Sauadara-saudaranya menghadiahkan pahala amal mereka yang bermanfaat baginya dengan seizin Allah,

6. Dia mendapatkan syafaat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

7. Allah menimpakan kepadanya dengan berbagai musibah yang menghapuskan dosanya.

8. Dia mendapatkan musibah di alam barzakh dengan kengeriannya.

9. Ia mendapat kesulitan di padang Mahsyar pada hari Kiamat.

10. Allah merahmatinya dan mengampuninya begitu saja.”

(Majmu’ Fatawa, II/ 349)

Kedua, jangan terburu-buru menghukumi keimanan/kewalian seseorang dari tampilan hari ini. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian takjub kepada amal seseorang sampai kalian melihat akhir hidupnya!”

Barangsiapa yang dari tangannya keluar sesuatu di luar kebiasaan, sungguh itu belum tentu menunjukkan kewaliannya, berbeda dengan orang-orang Sufi yang menunjukkan bahwa hal itu adalah bukti kewalian. Masih kata mereka, jika dia bukan wali, tentu Allah tidak memberikan sesuatu yang luar biasa kepadanya.

Baca Juga:Iman, Butuh Bukti Bukan Sekedar Teori

Dalil kita adalah, kita tidak bisa mengetahui kewalian seseorang kecuali setelah diketahui dia mati sebagai seorang mukmin. Jika tidak, kita tidak bisa memastikan dia sebagai wali Allah. Sebab wali Allah sejatinya hanya diketahui oleh Allah, tidak bisa diraih kecuali dengan iman. Lantaran kita sepakat bahwa kita tidak bisa mengetahui bahwa seseorang telah memenuhi syarat-syarat iman, bahkan seseorang pun tidak bisa memastikan dirinya telah memenuhi semua tuntutan iman, kita pun tidak tahu bahwa seseorang adalah wali.

 

Yang Beruntung dan Celaka dengan Qadha` Allah

Bagian akhir matan ini menegaskan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang telah ditulis oleh Allah sebagai orang yang beruntung. Demikian pula halnya dengan orang yang celaka. Keberuntungan dan kecelakaan di sini berlaku untuk keberuntungan dan kecelakaan di dunia dan di akhirat.

Selain hadits tentang penghuni surga atau neraka di atas, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi, “Janganlah seorang perempuan meminta seorang laki-laki untuk menceraikan saudarinya supaya dia pergi dari pandangannya. Hendaklah dia menikah (tanpa mempersyaratkan yang seperti itu), sesungguhnya ia akan mendapatkan apa yang ditakdirkan untuknya.”

Ibnu ‘Abdulbarr menyatakan, hadits di atas adalah hadits terbaik mengenai takdir menurut para ahli ilmu. Sebab sekiranya seorang suami menceraikan wanita yang disangkanya akan mengurangi rizkinya, sungguh rizki yang menjadi bagiannya tidak akan bertambah baik tuntutannya dikabulkan suaminya atau tidak.

Wal Akhir, kewajiban kita adalah bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Setiap kali kita menapaki jalan kebenaran, sungguh kita sedang menapaki jalan-jalan takdir yang sedetik sebelumnya masih menjadi misteri. Wallahul Muwaffiq.

Oleh: Ust. Imtihan asy-Syafi’i/Akidah Islam