Ghirah Cemburu Karena Allah

730

Di jaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa yang mungkin dianggap kecil saja. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, ia duduk menunggu. Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak. Tanpa sepengetahuanny a, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.

Itulah ghirah, yang diterjemahkan oleh Buya Hamka sebagai “kecemburuan”, yakni cemburu karena Allah.

Siapapun yang menempuh jalan sebagai penghamba Allah, pasti mengalami fase tumbuhnya ghirah (rasa cemburu) seiring dengan bertambahnya cinta kepada Allah. Karena kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.

Sebelum memahami seperti apa cemburu yang semestinya dimiliki seorang hamba, perlu dipahami bahwa Allah pun memiliki sifat cemburu.

Allah Cemburu Terhadap Hamba-Nya

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Madaarijus Saalikin berkata, ghirah itu ada dua; ghairatul Haq Ta’ala ala ‘abdihi (kecemburuan Allah atas hamba-Nya) dan ghairatul abdi Lirabbihi (kecemburuan hamba karena Allah).

 

Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Negeri Palestina Begitu Mulia dan Harus Dibela

 

Adapun kecemburuan Allah atas hamba-Nya yakni Allah tidak mau disekutukan dengan makhluk dan makhluk hanya boleh beribadah kepada-Nya semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ، فَلِذَلِكَ حَرَّم الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَر مِنْهَا وَمَا بَطن

“Tiada yang lebih besar cemburunya daripada Allah, dan di antara kecemburuan-Nya adalah Dia mengharamkan perbuatan yang keji; baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (HR Muslim)

Firman Allah Ta’ala,

“Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi,” (QS al-A’raf 33)

Seorang mukmin memahami, bahwa Allah memiliki sifat cemburu, Dia tidak ingin disekutukan dengan selain-Nya, dan tidak ingin ada yang lebih diutamakan oleh seorang hamba dari-Nya.

Jika kita takut kecemburuan atasan kita yang kita khawatiri akan marah melihat kita malas-malasan dalam bekerja, lantas bagaimana kita berani bermalas-malasan saat beribadah kepada Allah? Padahal ketika Allah marah, Dia Kuasa untuk berbuat apapun yang Dia kehendaki.

Pengetahuan akan ghirah Allah terhadap kemaksiatan yang dilakukan oleh hamba-Nya juga menjadikan orang mukmin takut berbuat maksiat meskipun dalam keadaan sendirian, karena di manapun kemaksiatan dilakukan oleh seorang hamba, maka bagi Allah itu adalah maksiat terang-terangan di hadapan-Nya. Karena tak ada yang tersembunyi sedikitpun dari Allah.

Bagaimana orang berani berzina ketika ingat kecemburuan Allah. Takkan pula seseorang nekad menjamah yang haram karena takut Allah cemburu kepadanya. Karena ia tahu, ketika ia membuat Allah cemburu maknanya mengundang kemurkaan Allah terhadapnya. Bisa saja Allah mencabut semua nikmat seketika, dan alangkah mudah bagi Allah untuk membalikkan keadaan seseorang dalam waktu sekejap mata.

Cemburu Karena Allah

Adapun kecemburuan hamba karena Allah ada dua, yakni cemburu terhadap diri sendiri dan cemburu terhadap orang lain.

Adapun cemburu terhadap diri sendiri adalah ketika seseorang tidak menjadikan perbuatan, perkataan, perilaku, waktu dan jiwanya untuk selain Allah. Inilah pengertian ghirah yang biasa diartikan dengan bersemangat dalam kebaikan. Karena ia tidak ingin terlihat cacat di hadapan Allah, dan berharap Allah memandang ridha kepadanya. Bahkan, ia berharap dan berusaha untuk menjadi orang yang paling dekat dengan Allah. Karena itulah ia siap berlomba dalam sebagala bentuk kebaikan, “wa fie dzaalika fal yatanaafasul mutanaafisuun,” dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS al-Muthaffifin 26)

Ghirah akan membuat seorang hamba bersungguh untuk terus mendekat dan mencari perhatian Allah. Ia menyadari bahwa Allah senantiasa melihat gerak gerik ia dalam ibadah, maka ia berusaha melakukan yang terbaik dan tak ingin terlihat Allah dalam keadaan lalai hatinya atau malas gerak geriknya. Firman Allah Ta’ala

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS asy-Syu’ara 218-219)

Imam al-Harawi menyebutkan di antara contoh ghirah adalah ghirahnya seorang ahli ibadah yang kecewa tatkala kehilangan suatu amal sehingga dia akan berusaha mengganti amal yang setara dengan apa yang ia tinggalkan atau berusuha menyusul apa yang ia terlambat mengerjakannya.

Seperti ghirahnya Umar bin Khathab radhiyallahu anhu menyedekahkan kebun yang menjadi sebab terlambatnya beliau dari shalat berjamaah. Atau seperti putera beliau, Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma yang menghdiupkan malam dengan shalat semalam suntuk lantaran tertinggal satu rekaat shalat Isyak.

Itulah ghirah karena Allah yang berhubungan dengan diri sendiri.

Adapun cemburu terhadap orang lain adalah ia akan marah ketika apa-apa yang dilarang oleh Allah dilanggar oleh manusia dan hak-hak-Nya disepelekan dan dan dilecehkan oleh manusia.

 

Baca Juga: Bila Mengaku Islam Buktikan

 

Ghirah dalam hal ini berarti kepekaan jiwa untuk menolak hal-hal yang membahayakan stabilitas keimanann seseorang. Maknanya, ketika seseorang memiliki ghirah karena Allah, jiwanya akan berontak ketika nafsu membujuk untuk maksiat. Jiwanya juga akan terusik ketika penyimpangan itu dilakukan oleh orang-orang dekatnya. Ia akan tersinggung dan bahkan marah ketika Allah, Rasul-Nya, Islam maupun kaum muslimin dilecehkan. Jiwanya juga tidak suka jika suatu kemungkaran itu tampak di hadapan mata, meskipun pelakunya bukan orang-orang dekatnya.

Inilah ghirah yang merupakan ruh atau nyawa yang menghidupi agama seseorang dan menangkis dari segala penyakit yang hendak menyerangnya. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “bara dan panasnya ghirah ini akan menyaring kejelekan dan sifat tercela, sebagaimana emas dan perak dibersihkan dari kotoran yang mencampurinya. Orang-orang mulia dan tinggi harga dirinya pasti memiliki ghirah yang besar terhadap dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya, juga terhadap orang lain secara umum.”

Maka orang yang tidak memiliki ghirah dalam hal ini, sebenarnya ia telah kehilangan agamanya. Karena itulah Buya Hamka menuliskan, “Dan apabila ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan.” Ya, karena hakikatnya ia telah mati ketika tak memiliki kecemburuan dan kepedulian.

Sebelum beliau, Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan dalam kitabnya ad-Da’u wad Dawa’, “Pokok agama adalah ghairah (cemburu). Siapa saja yang tidak memiliki rasa cemburu, maka nyaris tidak ada agama untuknya.”

Orang yang tak memiliki cemburu,, ia tak merasa memiliki, tak ada pembelaan dan tak ada kepekaan terhadap apa-apa yang membahayakan agamanya. Ini menjadi penanda akan redupnya iman di hatinya. Dan jika iman tak ada, maka jasadnya seakan menjadi kuburan baginya sebelum matinya.

Bagaimana seseorang memiliki iman ketika tak ada kecemburuan sedikitpun di hatinya. Tak ada penolakan hatinya terhadap  kemungkaran, tak ada amarah ketika agamanya dilecehkan dan tak ada pembelaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِّهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Apabila tidak sanggup, maka dengan lisan. Jika tidak bisa, maka dengan hati. Dan itulah (mengubah dengan hati) selemah-lemahnya iman” (HR Muslim)

Maka pertanyakan iman kita tatkala tidak terusik melihat kemungkaran di depan mata, tidak tersinggung ketika Allah dan Rasul-Nya dihina, dan tidak pula marah ketika Islam dinodai dan dicela, wallahu a’lam bishawab.

 

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Motivasi