Islam Sebagai Kekuatan Orang Aceh Melawan Portugis

33

Sulit untuk mendapatkan karya ulama Aceh abad 16 yang membahas respons mereka terhadap penjajahan Portugis di beberapa wilayah Nusantara. Di India, misalnya, reaksi terhadap penjajahan Inggris diekspresikan dalam karya-karya ulama seperti Shah Abdul Aziz (meninggal 1824 M). Ia menulis beberapa karya tentang masalah-masalah agama dan mengembangkan konsep pandangan politik Islam tentang Darul lslam dan Darul Harb dalam fatwa-fatwanya. Di Aceh, ada beberapa ulama yang menulis sejumlah besar karya penting tentang masalah agama dan memainkan peran penting dalam urusan agama maupun politik. Sebut saja misalnya Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatranï (meninggal 1039 H), Syaikh Nuruddin Ar-Raniri (meninggal 1068 H), dan Syaikh Abdurra’uf Singkil (meninmggal 1106 H). Sayangnya, tidak ada satu pun karya mereka yang menunjukkan reaksi mereka terhadap penjajahan barat.

Meskipun demikian, ada beberapa petunjuk yang mengukuhkan bahwa Islam menjadi kekuatan bagi orang Aceh dalam melawan Portugis. Seperti dikemukakan oleh Sartono Kartodirdjo, tujuan utama kehadiran Portugis di Nusantara adalah untuk mendapatkan rempah-rempah. Sebagai reaksi terhadap para pengacau Eropa itu, semangat “pan-lslamisme” di Nusantara menyebar dari Aceh ke Ternate. Orang Aceh juga memanfaatkan ibadah haji. Saat menunaikan ibadah ini, mereka bertemu dengan kaum Muslim dari daerah lain. Kesempatan ini menghasilkan hubungan yang baik dan juga memberi semangat baru untuk berperang melawan penjajah kafir.

 

Kebijakan yang Gagal

Orang Portugis sangat membenci umat Islam. Perasaan ini merupakan kelanjutan dari semangat perang salib. Oleh karena itu, Alfonso de Albuquerque berencana untuk menaklukkan Mekah. Pasukan Portugis membunuh 300 orang Aceh dan 40 orang Arab di kapal mereka di dekat Aceh dalam perjalanan pulang dari Mekah. Kaum Muslim di Asia Tenggara menyadari tindak kejahatan Portugis itu. Dari seringnya berhubungan dengan orang-orang Muslim dari daerah lain, mereka juga belajar lebih banyak tentang perasaan dan perilaku Portugis.

Kebijakan-kebijakan Portugis yang penuh permusuhan secara tidak sengaja memperkuat posisi Islam di Nusantara. Beberapa penguasa Hindu memilih masuk Islam dan segera bergabung dalam barisan persatuan umat Islam untuk melawan Portugis. Pertahanan Islam dan perlawanan yang kuat terhadap Portugis di antaranya ditunjukkan oleh kegagalan Portugis untuk menyebarkan agama Kristen di negeri-negeri Muslim yang mereka tempati. Konversi ke Kristen di Malaka tidak berhasil. Malaka hanya merupakan pusat administrasi untuk upaya misionaris ke bagian timur Nusantara, Filipina, Kamboja, Jepang, dan Cina.

Baca Juga: Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

Kegagalan yang sama juga terlihat di Hormuz. Kekuatan Islam di wilayah ini cukup kuat untuk mencegah Portugis menghancurkan semua masjid, seperti yang mereka lakukan di tempat lain ketika memiliki kesempatan. Gambaran ini jauh berbeda dari daerah-daerah non-Muslim dimana para misionaris Kristen mencapai sukses besar, seperti di beberapa bagian timur Nusantara, Goa, dan daerah-daerah lain yang telah disebutkan di atas.

Identitas agama yang hadir di kerajaan-kerajaan Muslim di kepulauan itu cukup kuat untuk meniadakan aktivitas orang Portugis. Sebuah aliansi Muslim yang dibentuk pada 1560-an dan 1570-an dipandang oleh para sejarawan Asia dan Barat sebagai reaksi keagamaan. Anthony Reid menegaskan bahwa “Islam adalah satu-satunya dasar untuk aliansi semacam itu.” Ia juga menyatakan bahwa kekuatan Muslirn di Asia Tenggara yang tampaknya rentan terhadap idealisme pan-lslam adalah Atjeh, Japara, Ternate, Grisek, dan sampai batas tertentu Johor.”

 

Karakter Orang Aceh

Perhatian khusus perlu diberikan atas respon Aceh terhadap penjajahan Belanda kelak. Dalam studinya tentang masyarakat Aceh, T. Roddel mengategorikan orang Aceh sebagai ras Melayu. Dia menulis bahwa orang Melayu memiliki karakter sebagai orang yang berani, sangat sopan, perhatian terhadap kebenaran, dan tidak mudah lelah. Di sisi lain, harus diakui bahwa mereka mudah temperamen, tidak sabar di bawah penghinaan, dan cepat membalas cedera. Selain itu, orang Aceh adalah Muslim ortodoks dan kepatuhan terhadap Islam merupakan faktor utama dalam identifikasi diri seseorang sebagai orang Aceh.

Karakteristik ini dapat dianggap sebagai faktor penting dalam perlawanan masyarakat Aceh terhadap invasi Barat. Perlawanan yang kuat dari orang Aceh terhadap ekspansi militer Belanda pada akhir abad 19 dan awal abad 20 akhirnya memaksa Belanda untuk mengirim C. Snouck Hurgronje ke Aceh. Dia ditunjuk sebagai penasihat pemerintah di Hindia Belanda, khususnya di Jawa dan Aceh, antara 1889-1936. Setelah mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Muslim, Snouck Hurgronje tinggal di Aceh selama beberapa tahun untuk mempelajari keadaan penduduk. Menurut Snouck, agama Islam telah melahirkan kebencian terhadap kafir. Akibatnya, orang Aceh sering melakukan tindak kekerasan terhadap orang Eropa.

Baca Juga: Strategi Portugis Melumpuhkan Islam Di Nusantara

Kebencian terhadap orang Belanda kafir, yang mereka sebut Kaphe (pelafalan bahasa Aceh dari kafir), diekspresikan dalam jihad yang dipimpin oleh ulama. Ulama memainkan peran penting dalam struktur politik dan di lembaga-lembaga Islam. Ulama merupakan tokoh spiritual yang menstimulasi murid-muridnya untuk mengobarkan jihad melawan penjajah Barat.

Sikap religius orang Aceh terhadap Belanda kemungkinan besar tidak jauh berbeda dengan yang ditunjukkan kepada Portugis. Perbedaannya, reaksi orang Aceh terhadap Belanda lebih canggih daripada reaksi terhadap Portugis. Pada abad 16, Aceh hanyalah negara pelabuhan. Sebaliknya, selama perjuangan melawan Belanda, Aceh adalah negara yang lebih terstruktur dan terkonsentrasi di kedua pelabuhan dan daerah pedalaman. Posisi ulama di pengadilan dan masyarakat jauh lebih jelas. Oleh karena itu, tidak mungkin menilai tanggapan Aceh terhadap Portugis hanya dengan melihat tanggapan mereka terhadap Belanda. Sejak periode awal, Islam telah memainkan peran penting dalam memobilisasi komunitas Muslim Aceh melawan Portugis, karena konsep jihad juga ditekankan pada saat itu. (disadur dari Aceh and The Portuguese; Studi of The Struggle of Islam in South East Asia 1500-1579 karya Amirul Hadi, hlm. 81-87)

 

Oleh: M. Isa Anshari/Sejarah Islam Nusantara