Khutbah Iedul Adha 1440 H: Kebahagiaan Butuh Pengorbanan

50

Khutbah Iedul Adha 1440 H

Kebahagiaan Butuh Pengorbanan

DOWNLOAD PDF KLIK DI SINI!

 

إنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ

فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ؛

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Merayakan Iedul Adha kita mengenang kembali pengorbanan Nabi Ibrahim untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Sebagai bukti iman dan ketundukan hamba kepada Rabbnya. Kita berusaha mewarisi jiwa pengorbanan beliau sebagaimana para shahabat Rasulullah rela mengorbankan harta, tenaga, dan nyawanya untuk Islam.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Dalam kitab ar-rahiq Al-Makhtum, Syaikh Shafiyur Rahman Mubarakfuri menceritakan banyak sekali kisah pengorbanan para shahabat Rasulullah pada masa awal dakwah Islam di Makkah. Salah satu yang beliau kisahkan adalah shahabiyah Sumayyah binti Khayyat, istri dari Yasir radhiyallahu ‘anhuma. Dia adalah hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah.

Ketika mengetahui keislamannya, Musyrikin Quraisy tidak rela jika keluarga ini mengenyam manisnya Islam, hingga Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari Islam, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir saat terik matahari panas menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan sebongkah batu besar di atas dadanya. Akan tetapi, tiada terdengar rintihan atau pun ratapan, melainkan ucapan, “Ahad … Ahad ….

Saat Rasulullah ﷺ menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa dengan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru,

صَبْرًا آلَ يَاسِرٍفَإِ نِّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.” (HR al-Hakim)

Mendengar seruan Rasulullah ﷺ maka Sumayyah binti Khayyat bertambah tegar dan optimis. Dengan kewibawaan imannya, dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Baginya kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para tagut yang zhalim; mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya, sekalipun hanya satu langkah semut.

Hingga tatkala musuh-musuh Allah telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah binti Khayyat maka Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah binti Khayyat. Terbanglah nyawa beliau dari raganya, dan beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau syahid setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan pengorbanan.

Beliau relakan nyawanya demi meraih puncak kemuliaan. Beliau jual nyawanya untuk mendapatkan ‘barang dagangan’ yang paling berharga dari Allah, yakni jannah.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Surga itu mahal. Surga itu istimewa luar biasa nilainya. Kebahagiaan tiada tara, kemewahan tiada banding, kemuliaan tiada tanding, dan kenikmatan yang tak ada akhirnya. Tak terselip sedikit pun derita atau kesusahan di dalamnya. Maka siapapun yang ingin mendapatkannya hendaknya sadar, bahwa ia hendak memiliki sesuatu istimewa tiada tara. Selayaknya ia mengorbankan apapun yang ia punya untuk mendapatkannya dan membayarnya dengan seberapapun harganya.

Rasulullah bersabda,

أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ

Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan. Dishahihkan Al-Albani)

Jika kita rela berpayah-payah sepanjang hari untuk bisa membeli rumah, memeras keringat demi mendapatkan kendaran roda empat dan mengorbankan waktu dan harta agar bisa menjadi seorang pejabat, lantas dengan apa kita hendak membeli Jannah? Dengan apa kita hendak mendapatkan rumah yang panjangnya 60 mil dengan batu bata terbuat dari emas dan perak di jannah. Dengan apa kita hendak memperoleh kendaraan yang terbuat dari Yaqut dan bisa terbang kemana pun kita suka?

Sangat mengherankan bila ada orang yang hendak membayar sesuatu yang luar biasa berharga hanya dengan sisa receh di sakunya. Mengherankan jika ada orang yang menyumbangkan sisa-sisa waktu dan tenaga lalu berharap menempati kedudukan mulia di surga. Alangkah percaya dirinya seseorang yang merasa cukup dengan ibadah-ibadah yang dilakukan dengan tergesa-gesa dan jauh dari sempurna, lalu mengharapkan ganjaran yang tiada tara.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Ada pelajaran menarik dari kisah seorang shalih. Suatu kali ia melakukan suatu perjalanan dan di tengah perjalanan ia mencari tempat untuk menunaikan hajatnya. Tampak seorang pemuda berjaga di tempat tersebut, lalu mengatakan, “jika kamu mau masuk ke tempat ini, maka kamu harus membayarnya.” Mendengar ucapan tetersebut orang shalih tadi terdiam dan menitikkan air mata. Pemuda itu pun heran dan berkata, “Jika kamu tak punya uang, carilah tempat lain.” Laki-laki itu berkata, “Aku menangis bukan karena tidak memiliki uang. Aku menangis karena merenungi, jika tempat sekotor ini saja harus membayar untuk memasukinya, apalagi surga yang begitu indahnya.”

Selayaknya kita merenungi, apa yang telah kita lakukan untuk mendapatkan jannah. Berapa durasi waktu yang kita sediakan kemudian kita bandingkan dengan waktu dan usaha yang kita habiskan ketika hendak memperoleh sebagian dari kenikmatan dunia. Kita mengetahu surga itu mahal, tapi seringkali kita menghargainya terlalu murah.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Allah telah menawarkan ‘barang dagangannya’ kepada hamba-Nya dengan harga yang telah ditetapkan. Sebagaimana firman-Nya,

 إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga, lantaran mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. Ini merupakan karunia, kemuliaan dan kemurahan-Nya.”

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Basyir bin al-Khashashiyyah Radhiyallahu ‘Anhu sebagiamana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam mustadraqnya menuturkan, “Aku pernah mendatangi Rasulullah untuk bersyahadat. Maka beliau mensyaratkan kepadaku:

تَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَتُصَلِّي الْخَمْسَ ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ وَتُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Engkau bersaksi  tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, engkau shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah.

Dia melanjutkan, “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ada dua yang aku tidak mampu; pertama zakat, karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sepuluh ekor unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Kedua jihad, karena orang-orang yakin bahwa yang lari ketika perang maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin (menyelamatkan) diriku.”

Kemudian Rasulullah menggenggam tangannya lalu menggerak-gerakkannya sembari bersabda,

لَا صَدَقَةَ وَلَا جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟

Tidak shadaqah dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?

“Lalu aku berkata kepada Rasulullah,” kata Basyir, “Aku berbaiat kepadamu, maka baiatlah aku atas semua itu.”

Pertanyaan Rasulullah, “dengan apa engkau hendak masuk surga” menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang ingin mendapatkan surga dengan harga yang murah. Seakan jannah bisa dimiliki hanya dengan sedikit pengorbanan. Atau hanya dengan mendermakan sisa-sia miliknya yang tidak lagi berharga. Sedangkan sesuatu yang berharga miliknya justru dia belanjakan untuk memenuhi keinginan nafsunya. Mereka merasa cukup menggunakan modal yang kecil untuk mendapatkan jannah…” Dengan modal apa engkau hendak masuk jannah?”

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Kemuliaan seseorang, juga kenikmatan yang akan diraih seseorang tergantung pada pengorbanan yang ia curahkan. Namun, banyak orang yang belum memahami makna pengorbanan tersebut.

Secara bahasa, at-tadhhiyah atau pengorbanan adalah ketika seseorang mendermakan dirinya, ilmunya, dan hartanya tanpa imbalan. Adapun pengorbanan yang dituntut secara syar’i adalah mendermakan jiwa, waktu maupun harta demi tujuan paling mulia, untuk target yang paling diharapkan di mana pengharapan itu tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengorbanan bisa dilakukan dengan harta. Yakni ketika dia mendermakan hartanya di jalan Allah tanpa mengharap apapun selain Allah. Baik mendermakan sebagai bentuk ibadah seperti udhhiyah (menyembelih hewan qurban), berhaji, berzakat, dan semisalnya, maupun terkait dengan sedekah kepada sesama dengan mengharap imbalan kepada Allah. Begitupun mendermakan harta untuk kepentingan jihad fi sabililah. Bahkan, ketika seseorang rela keluar dari pekerjaan yang haram karena mengharap ridha Allah, maka dia telah berkorban dengan hartanya.

SUDAH PUNYA MAJALAH AR-RISALAH EDISI TERBARU? KLIK DI SINI UNTUK MENDAPATKAN

Pengorbanan juga bisa dilakukan dengan mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menuntut ilmu syar’i, mengamalkan dan mendakwahkannya. Dan sesuatu yang paling berharga untuk dikorbankan adalah nyawa yang dipersembahkan di jalan Allah.

Generasi pilihan di kalangan para sahabat memahami konsekuensi untuk meraih jannah. Bahwa ia harus ditebus dengan sesuatu yang paling berharga miliknya. Seperti Mush’ab bin Umair setelah keislamannya, ia rela diboikot keluarganya demi keimanannya. Yang semula dimanja dengan kemewahan, pakaian indah nan wangi harus memakai pakaian yang kasar. Dia habiskan masa mudanya untuk berdakwah ke Madinah dengan dakwah yang begitu berkah, hingga pada akhirnya dia gugur sebagai syahid, beliau korbankan nyawanya untuk Allah.

Setidaknya kisah hidup beliau menjadi cermin bahwa kita belum apa-apa, belum seberapa pula pengorbanan kita untuk Pencipta. Sekaligus menjadi pengingat bahwa pengorbanan kita mestinya fokus demi penghambaan kita kepada Allah Ta’ala. Bukan demi pujian atau kenikmatan dunia yang sementara. Agar terwujud ikrar yang kita ucapkan, “Inna shalaati wa nusuki wamahyaaya wa mamati lilahi Rabbil ‘alamin”, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah bagi Rabb semesta alam.

Baarakallahu lii walakum fil quraanil kariim wa nafa’ani wa iyyaaku bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim, innahu huwal ghafuurur raahiim.

Marilah kita akhiri khutbah Ied ini dengan berdoa kepada Allah:

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَىخُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمْسُلْماتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

 

DOWNLOAD PDF KLIK DI SINI!