Khutbah Jumat: Persaudaraan Butuh Pengorbanan

26

:Khutbah Jumat

PERSAUDARAAN BUTUH PENGORBANAN

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Puji syukur alhamdulillahi rabbil ‘alamin kita ucapkan kepada Allah yang telah memberi kita nikmat kesehatan dan lisan. Semoga karunia tersebut dapat membuat kita bersyukur dengan sebenar-benarnya. Yaitu, menggunakan semua nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para shahabat dan ummatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Amin ya rabbal alamin.

Wasiat takwa kembali khatib sampaikan kepada para jamaah semuanya. Takwa adalah usaha kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah tidak mewajibkan sesuatu melainkan ada manfaatnya bagi manusia. Tidak pula Allah mengharamkan sesuatu, melainkan ada madharat atau bahaya bagi kita. Karena itu, takwa menjadi bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akhirat yang kekal abadi nanti.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Mengeluarkan sebagian harta demi tersambungnya silaturrahim adalah ringan bagi orang yang memahami manfaat silaturrahmi dan keutamaannya di akhirat. Begitupun jika untuk menyambungnya harus rela mengalah dalam banyak hal, juga menanggalkan rasa gengsinya. Contoh-contoh di bawah ini menyiratkan sebuah hikmah, bahwa menjalin persaudaraan menuntut adanya pengorbanan.

Suatu kali, Abdullah bin Umar keluar menuju Mekah. Beliau mengendarai seekor keledai dan mengikatkan sorban di kepalanya. Saat beliau sedang bersantai, tiba-tiba lewatlah seorang Badui dan berkata, “Bukankah Anda putera Umar?” Beliau menjawab, “Ya.” Tampak seorang Badui itu dekat hubungannya dengan ayah Ibnu Umar. Maka, Ibnu Umar menghadiahkan keledai dan sorbannya kepada orang Badui itu. Dengan heran, seorang sahabatnya bertanya, “Semoga Allah memberikan ampunan kepada Anda. Apa yang mendorong Anda menghadiahkan keledai dan sorban yang Anda kenakan kepada orang Badui itu?” Ibnu Umar menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Di antara cara berbakti yang paling baik adalah dengan menyambung hubungan kasih sayang dengan orang yang dicintai oleh ayahnya setelah meninggal.” Beliau melanjutkan, “Nah, ayah orang Badui itu memiliki hubungan dekat dengan ayahku, Umar.”

Selain dengan memberi hadiah, silaturrahim bisa dijalin dengan cara mengunjungi sanak saudara. Ini juga dilakukan oleh Abdullah bin Umar. Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwayatkan dari Abu Burdah bahwa ia berkata, “Aku tiba di kota Madinah, lalu Abdullah bin Umar menemuiku dan berkata, “Apakah engkau tahu, kenapa aku ingin menemuimu jauh-jauh seperti ini?” Aku menjawab, “Tidak.” Ibnu Umar berkata, “Karena aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Siapa yang ingin berbuat baik kepada ayahnya di kuburnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” Nah, aku mengetahui bahwa antara ayahku dan ayahmu terdapat tali persaudaraan dan kasih sayang, sehingga aku ingin menyambungnya.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Tidak sulit mengalah kepada orang yang masih terjalin kasih sayang. Tidak berat pula berkorban untuk kerabat yang memang sudah lama berhubungan dekat. Tapi, tidak mudah untuk melakukan itu semua saat tali silaturrahmi nyaris putus. Karenanya, ada keutamaan lebih bagi orang yang mampu melakukannya. Nabi bersabda,

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukannya orang yang menyambung silaturrahim adalah orang yang mencukupi kebutuhan kerabatnya, akan tetapi penyambung silaturrahim adalah ketika tali silaturrahmi terputus, lalu ia menyambungnya.” (HR. Abu Dawud)

Banyak orang-orang utama yang mampu mewujudkan keutamaan dalam hadits ini. Salah satunya adalah kasus yang terjadi atas dua putera Ali bin Abi Thalib yang berbeda ibu. Yang satu adalah Hasan bin Ali, ibunya adalah Fathimah puteri Rasulullah, dan di pihak lain ada Muhammad Al-Hanafiyyah, putera Ali dari istrinya yang bernama Khaulah binti Ja’far al-Hanafiyyah. Wanita yang dinikahi Ali sepeninggal Fathimah.

Suatu kali, terjadi ketegangan antara kedua putera Ali yang berbeda ibu tersebut, maka Muhammad bin Al-Hanafiyyah menulis surat kepada Hasan, “Sesungguhnya Allah memberikan keutamaan kepada Anda melebihi diriku. Ibumu adalah Fathimah binti Muhammad bin Abdillah, sedangkan ibuku adalah seorang wanita dari Bani Hanifah. Kakekmu dari jalur ibu adalah Rasulullah pilihan-Nya, sedang kakekku dari jalur ibu adalah Ja’far bin Qais. Jika suratku ini sampai kepada Anda, saya berharap Anda berkenan datang kemari dan berdamai, agar Anda tetap lebih utama dariku dalam segala hal.” Sesampainya surat tersebut, Hasan bergegas mendatangi rumahnya untuk menjalin persaudaraan.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Anjuran untuk menyambung silaturrahim juga berlaku bagi kerabat, atau bahkan orangtua yang belum mendapat hidayah. Asalkan, mereka tidak memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Suatu kali, Asma’ binti Abu Bakar tidak mau menerima hadiah dari ibunya yang bernama Qutailah (yang telah diceraikan Abu Bakar pada masa jahiliyyah) yang datang menjenguknya. Asma’ tidak mengijinkan ibunya masuk sebelum ia menanyakan hal tersebut terlebih dahulu kepada Rasulullah.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat dari Asma’ binti Abu Bakar, bahwa dia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku pada masa Islam mulai berkembang di Mekah, sedang ibuku adalah seorang musyrik. Aku pun pergi menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Sesampainya di sana aku bertanya: ‘Ibuku telah datang kepadaku dengan penuh antusias kepadaku. Apakah aku boleh menyambung silaturrahim dengannya?’ Beliau menjawab,

نعم صلي أمك

“Ya, sambunglah silaturrahim dengan ibumu!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara hikmah yang bisa dipetik adalah, silaturrahim kepada kerabat yang belum mendapat hidayah menjadi sarana yang efektif untuk berdakwah, mudah-mudahan mereka mendapat hidayah dari Allah.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Demikianlah khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga memberi manfaat. Akhir kata, marilah kita berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas silaturahim kita. agar persaudaraan semakin kuat dan pahala semakin banyak kita dapat. Dan kelak buahnya dapat kita panen di akhirat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

dapatkan versi PDF di Sini: Khutbah Jumat PDF (Bisa langsung diprint)