Khutbah Jumat: Ketika Amanah Bertemu Pundaknya

13

:Khutbah Jumat
Ketika Amanah Bertemu Pundaknya

Oleh: Majalah ar-risalah

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

JAMAAH JUMAT YANG DIMULIAKAN OLEH ALLAH,

Menjadi kewajiban kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, atas segala limpahan dan karunia yang tak terhingga. Sungguh, kenikmatan itu datang karena syukur, dan syukur itu akan mengundang hadirnya  tambahan nikmat. Tambahan karunia dari Allah tak akan berhenti, kecuali jika hamba itu menghentikan syukurnya.

Di antara ulama mengartikan syukur dengan tarkul ma’aashi, meninggalkan maksiat. Maka barang siapa yang bermaksiat kepada Allah, dia telah menanggalkan syukurnya kepada Allah, sesuai dengan tingkat dosa yang dilakukannya. Namun, dengan kasih sayang Allah atas hamba-Nya, Dia memberikan kesempatan kepada setiap orang yang berdosa untuk bertaubat. Taubat yang sempurna tak hanya menghapus dosa, bahkan bisa jadi keadaan orang yang bertaubat lebih baik dari keadaannya sebelum berbuat dosa.

 

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

Abdullah bin Mubarak pernah bercerita tentang kejadian yang ia alami, “Di Syam aku meminjam pena. Aku berniat mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya, tapi pena tersebut terbawa saat perjalananku sudah berada jauh di kota lain, yakni kota Marwu. Akhirnya akupun kembali ke Syam untuk mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya.” Begitulah penghayatan beliau terhadap amanah yang harus ditunaikannya.

Sebagaimana firman Allah,

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,” (QS. an-Nisa’: 58)

Jika dalam urusan pena saja amanah harus dijaga, apalagi amanah lain yang lebih besar dan penting. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Amanah yang tersebut dalam ayat ini bersifat umum, meliputi semua amanah yang wajib ditunaikan oleh manusia. Macamnya ada dua; yang terkait dengan hak-hak Allah seperti shalat, shaum dan lainnya, dan yang kedua berkaitan dengan hak-hak makhluk seperti titipan dan yang lain.”

Amanah adalah beban tanggung jawab yang harus dijaga hingga aman berada pada posisi yang seharusnya. Sedangkan lawan dari sifat amanah adalah khiyanat. Begitu krusial sifat amanah ini hingga menjadi sifat wajib yang harus ada pada diri Rasulullah. Beliau digelari al-amiin (orang yang amanah) sebelum diangkat menjadi nabi, dan sifat khiyanat adalah mustahil saat beliau menjadi nabi dan rasul. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Apakah kalian tidak mempercayai aku padahal aku adalah orang yang paling amanah di kolong langit, di mana berita langit mendatangiku di waktu pagi dan sore hari.” (HR. Bukhari).

 

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

Tak hanya Nabi yang diperintahkan untuk menjaga amanah, namun umat manusia juga memiliki kewajiban untuk menunaikan amanah. Dari sekian banyak amanah, tak ada yang lebih agung dari amanah berupa agama (Islam) dan syariatnya. Sehingga para ulama mengistilahkannya dengan amanah al-‘uzhma, amanah yang agung.

Allah berfirman,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا ﴿٧٢

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab: 72)

Imam al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat tersebut, “Amanah yang tersebut dalam ayat ini meliputi seluruh tugas-tugas yang berhubungan dengan agama ini.” Maka tugas manusia adalah menegakkan syariat yang telah Allah gariskan untuk manusia.

Termasuk di dalamnya amanah dakwah yang menjadi keniscayaan. Sebagaimana Nabi shalallahu alaihi wasallam telah memerintahkan umatnya,

“Sampaikanlah apa-apa yang datang dariku, meskipun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

 

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

Termasuk amanah yang harus dijaga adalah segala nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Mata adalah amanah, telinga juga amanah. Begitu juga dengan kaki, lisan dan harta adalah amanah yang wajib dijaga dan dipergunakan sesuai kehendak Yang Memberi amanah. Termasuk kehormatan dan kesucian kemaluan juga merupakan amanah.

Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Termasuk amanah yang harus dijaga adalah amanah bagi wanita untuk menjaga kemaluannya agar tidak terjerumus kepada zina.”

Maka alangkah pentingnya kewajiban amanah ini diingatkan kepada umat di segala lininya. Terlebih saat kebanyakan manusia menggunakan amanah untuk kepentingan pemuas nafsu, bukan sesuai kehendak yang menitipkan amanah kepadanya. Banyak amanah yang wajib ditunaikan terlantar. Pun begitu masih berambisi untuk memburu amanah yang sebenarnya tidak wajib atas dirinya. Bisa jadi pula, bukan dirinya yang berhak untuk mengemban amanah ini. Yakni amanah jabatan dan kekuasaan.

Hari ini, betapa amanah itu diperebutkan laksana roti kecil yang diperebutkan banyak anak-anak. Dan karena ambisinya, merasa dirinyalah yang paling berhak mendudukinya. Sementara di sudut lain ada yang memiliki keinginan lain. Bukan untuk menjalankan amanah, tapi menggunakan amanah sebagai kendaraan untuk memburu popularitas diri, atau demi mengenyam lebih banyak lagi kenikmatan duniawi.

Karena itulah, amanah kepemimpinan di dalam Islam tidak didasarkan atas pengajuan dan pencalonan diri. Karena berpotensi membuka peluang menyimpangnya maksud dan tujuan sebuah amanah diemban. Hingga, ketika sahabat Abu Dzar yang memiliki kedekatan dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam meminta beliau supaya mengangkatnya menjadi gubernur, beliau bersabda,

“(Jabatan) itu adalah amanah. Ia hanya menjadi kehinaan dan penyesalan pada Hari Kiamat, kecuali orang yang benar-benar mengambilnya dengan cara yang benar dan menunaikan amanahnya.” (HR. Ahmad).

 

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

Tampaknya Kiamat memang sudah semakin dekat. Banyak orang memuji diri sendiri untuk dipilih sebagai pemimpin. Banyak pula acara yang tidak benar dilakukan demi mendapatkan amanah yang dilirik sebagai lahan basah untuk kenikmatan duniawi. Hingga kepemimpinan jatuh pada orang-orang yang bukan ahlinya. Persis seperti gambaran Nabi, “Apabila amanah telah ditelantarkan, maka tunggulah saatnya Kiamat.” Lalu beliau ditanya, “Bagaimana amanah itu ditelantarkan wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ketika amanah dipikul oleh orang yang bukan ahlinya, maka tungguhlah saat datangnya Hari Kiamat.” (HR. Bukhari)

Sungguh indah tatkala amanah itu jatuh kepada orang semisal Umar bin Abdul Aziz, yang tidak berambisi menjadi khalifah dari awalnya. Namun tatkala beliau diangkat, ia benar-benar menjaga amanah itu sesuai dengan haknya. Itulah amanah tatkala menemukan pundaknya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة