Khutbah Jumat: Pejabat, Orang yang Paling Butuh Nasehat

26

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ

اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ

ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji milik Allah Rabb semesta Alam. Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunahnya sampai hari kiamat.

 

Jamaah Jumat rahimakulullah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bertakwalah kamu di manapun kamu berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan amal shalih niscaya akan menghapus dosanya, dan berakhlaklah yang baik dalam bergaul dengan masyarakat.” Takwa di mana pun kita berada. Takwa di masjid adalah beribadah dengan ikhlas dan benar, takwa di tempat kerja adalah bekerja dengan penuh amanah dan tidak membuang-buang waktu, takwa di pasar adalah melakukan transaksi dengan jujur sesuai syariat, takwa di sekolah adalah belajar dengan baik dan meniatkan ilmunya kelak bisa memberi kontribusi untuk Islam.

Takwa memang harus ada di segala tempat. Senantiasa menemani kita, bahkan saat kita sendiri sekalipun. Oleh karenanya, Rasulullah senantiasa menasehatkan takwa dalam setiap khutbahnya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Nasehat takwa adalah kebutuhan pokok bagi seorang mukmin. Siapapun membutuhkan nasehat ini, agar selalu ingat bahwa takwa adalah jati diri kita di hadapan Allah, nilai kita di hadapan Allah. Namun, kata Shahabat Ali Radhiyallahu ‘anhu, ada orang yang paling butuh terhadap nasehat takwa melebihi seluruh kaum muslimin. Siapakah dia?

Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai raja, kamu adalah manusia yang posisinya paling tinggi dibanding umat manusia, oleh karena itu, kamu adalah manusia yang paling dituntut untuk bertakwa kepada Allah.”

Perkataan ini dinukil oleh Imam al-Mawardi dalam kitabnya Nashihatul Muluk. Lebih lanjut, dalam kitab yang sama, al-Imam al-Mawardi memberikan penegasan bahwa orang yang paling butuh nasehat adalah para pejabat negara. Mengapa? Ada enam alasan yang beliau sebutkan.

Pertama, Pemimpin negara harus senantiasa menaikkan derajat diri dan tidak boleh menyamai perilaku orang-orang bodoh dan manusia yang rendah moralitasnya.

Pejabat haruslah menjaga martabat. Jauh dari perilaku rendah tapi juga tidak sombong. Jaga image dalam arti positif harus  diilakukan, tapi jaga image atau Jaim dalam arti angkuh dan sok, harus dihindari. Perbuatan-perbuatan yang bisa merendahkan martabat juga harus dihindari. Misalnya, ikut berjoget saat menghadiri acara yang menyuguhkan musik merupakan perbuatan yang tak patut dilakukan pemimpin. Nah, untuk ini, mereka membutuhkan banyak nasihat dan arahan dari para ulama.

Kedua, nasihat kebaikan adalah hal penting dalam menentukan sikap yang tepat. Seorang pemimpin harus membawa rakyatnya agar selamat dunia akhirat. Bukan sejahtera dunia saja, tapi akhiratnya sengsara. Dan untuk mewujudkannya, mereka benar-benar membutuhkan nasihat dari para shalihin dan orang-orang mukmin.

Ketiga,  jabatan akan menyibukkan diri dan memberi banyak tekanan pada jiwa. Hal ini sering membuat seorang pejabat sulit menilai diri sendiri dengan jujur. Berat mengakui kesalahan dan meminta maaf saat salah. Jabatan dapat membuat seseorang merasa benar dan sulit diarahkan, kecuali oleh orang yang jabatannya lebih tinggi. Padahal, ada kalanya rakyat lebih memahami realita daripada pejabat. Oleh karenanya, para khalifah di Zaman dahulu sering mengunjungi ulama untuk meminta arahan dan nasehat.

Kejernihan hati para ulama dapat membuka tabir kesombongan yang menyelimuti hati hingga mampu melihat diri sendiri dengan jujur.

Keempat, mereka adalah orang yang paling jarang hadir di majelis pengajian, bermajelis bersama ulama dan forum tausiyah. Sebuah jabatan, jika dilaksanakan dengan benar, amanah dan jujur, pastilah akan menguras waktu dan tenaga. Oleh itulah mereka jadi sering absen dari majelis-majelis ilmu. Jika seorang pejabat menyadari hal ini dan merasa butuh terhadap ilmu dan nasehat, tentulah ia akan mengusahakan beragam cara agar bisa tetap mendapat nasehat meski sedang bekerja. Namun jika tidak sadar, maka kehidupan mereka akan kosong dari ilmu dan sepi dari nasehat.

Kelima, mereka adalah orang yang paling sulit mengamalkan nasehat saat nasehat tersebut bertentangan dengan nafsu. Status, harta, keamanan yang didapatkan, kewenangan, kebahagiaan dan kenikmatan hidup membuat hati mereka keras.

Semakin tinggi jabatan, semakin wah fasilitas yang didapatkan. Materi dunia akan memanjakan nafsu dalam diri dan membuatnya kuat dan mendominasi. Akibatnya, nasehat-nasehat yang berusaha mengekang nafsu akan diabaikan. Di sinilah titik paling kritisnya. Jika nafsu sudah berkuasa, nasehat kebaikan akan diabaikan begitu saja.

Keenam, mereka adalah orang yang paling kering dari nasihat. Bodiguard, menteri, dan bawahan mereka tidak ada yang berani berbicara kecuali yang sesuai hawa nafsu pemimpinnya, demi keselamatan jabatan dan pekerjaan masing-masing. Orang-orang yang mendatangi mereka pun kebanyakan adalah pemburu dunia dan penjual harga diri.

Beginilah yang sering terjadi. Para pejabat dikelilingi oleh para pejabat bawahan yang mencari makan di bawah jabatannya. Siap berebut jabatannya saat dia tinggakan. Maka wajar jika Imam al-Mawardi berkata bahwa bawahan hampir mustahil berani memberi nasihat yang jujur. Kebanyakan hanya akan diam melihat kemaksiatan atasannya dengan alasan tidak mampu melawan. Dan inilah yang membuat seorang pejabat menjadi kering dari nasehat. (diringkas dari Nasihatul Muluk, Imam al Mawardi, hal. 39-40)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

berangkat dari nasehat Ali bin Abi Thalib dan juga Imam al-Mawardi ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Marilah kita belajar menerima nasehat dan masukan. Apapun jabatan kita di dunia, semuanya pastilah membutuhkan masukan dan nasehat dari orang lain. Bahkan jabatan kita sebagai ayah dalam rumah tangga pun tetap membutuhkan nasehat dari siapapun, bahkan kadangkala nasehat dan teguran itu datang dari anak kita yang masih kecil.

Harus senantiasa kita ingat, menerima nashet adalah ciri khas orang mukmin. Alah berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan ingatkanlah karena peringatan itu bermanfaat bagi orang mukmin.” (QS. adz Dzariyat: 55).

 

 

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Khutbah Jumat

 

Materi Khutbah Lainnya: 

Sabar dan Syukur; Dua Tali Pengikat Nikmat

Takwa, Pondasi Paling Paripurna

Mendulang Manfaat Kala Sakit dan Sehat