Manusia Diciptakan dengan Berbagai Kelemahan

34

Sehebat apapun manusia, ia memiliki sisi lemah, lemah kekuatan fisiknya, lemah jangkauan akalnya dan lemah pula tekad dan kemauannya. Karena itulah,apa yang Allah syariatkan hakikatnya telah sesuai dengan kondisi manusia. Tak ada kewajiban yang Allah gariskan kecuali apa yang disanggupi oleh manusia. Pun itu juga demi kebaikan dan kemaslahatan manusia, bukan semata- mata supaya manusia lelah dan mencurahkan pengorbanan.  Allah Yang Maha Bijaksana menurunkan kepada manusia sesuai dengan tabiat manusia yang lemah hingga Allah turunkan syariat yang ringan dan mudah. Allah Ta’ala berfirman,  

Allah bendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. 4:28)” (an-Nisaa’: 26-28)

Fisik manusia lemah, maka beban fisik dalam setiap syariat tidak melebihi kekuatan yang dimampui manusia. Dan manusia tidak selalu dalam kondisi sehat dan fit. Maka syariat memberi keringanan bagi yang tak mampu berdiri boleh mengerjakannya dengan duduk. Yang tidak mampu boleh dengan duduk. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

 

صَلِّ قَـائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.

“Shalatlah sambil berdiri. Jika engkau tidak bisa, maka (shalatlah) sambil duduk. Jika tidak bisa, maka (shalatlah) dengan (tidur) miring.” (HR Bukhari)

Bagi yang sakit di bulan Ramadhan diperbolehkan baginya berbuka dan menggantikannya di hari lain.

Baca Juga: Sukses dengan Keterbatasan

Adapun tentang lemah jangkauan akalnya, karena ilmu manusia tidak mampu menjangkau segala hal. Hanya sedikit yang bisa diketahui oleh manusia,

 “dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

(QS. Al Israa  85)

Seringkali manusia menyangka sesuatu sebagai hal yang mendatangkan maslahat, tapi ternyata yang dihasilkan dengannya adalah kemadharatan. Ilmu yang sedikit itupun masih sering terkontaminasi dengan hawa nafsu. Hingga tak sedikit manusia yang memperturutkan nafsunya namun dibungkus dengan alasan yang tampak logis, padahal sebenarnya itu hanyalah dalih demi membenarkan kemauan nafsunya. Maka Allah menetapkan rambu-rambu yang pasti baik dan benar, sesuai dengan akal yang sehat, tanpa tercampuri oleh hawa nafsu manusia. Karena syariat digariskan oleh Dzat Yang Mahatahu; apa yang baik dan tidak baik bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman,

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Banyak versi para ulama ketika menjelaskan maksud dari firman Allah Ta’ala, “dan manusia dijadikan bersifat lemah,”, masing-melengkapi makna yang lain.

Thawus bin Kaisan berpendapat bahwa maksud lemah di sini adalah lemah dalam menghadapi wanita. Ini adalah kelemahan yang dimiliki laki-laki, meskipun maknanya tidak sebatas ini. Namun tidak disangsikan bahwa nafsu terhadap wanita adalah ujian yang berat bagi kaum laki-laki sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

 

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

 Ibnu al-Jauzi menjelaskan bahwa sisi lemah manusia itu meliputi tiga sisi,

Pertama, bahwa manusia itu lemah di awal penciptaan. Tafsiran ini dinukil dari pendapat Imam Hasan al Bashri rahimahullah, karena manusia diciptakan dari air yang hina. Karena itulah, ketika ada seseorang hendak menyombongkan diri di hadapan seorang salaf dengan berkata,”Kamu tahu siapa saya?” Maka dijawab, “Ya, saya tahu siapa Anda; berasal dari air mani yang hina, kesana kemari membawa kotoran di perutnya, dan kelak menjadi bangkai yang tak berguna.” Maka disifatinya manusia sebagai makhluk yang lemah supaya ia tidak menyombongkan diri, dan menyadari bakal kemana akhir perjalanan setelah di dunia.

Baca Juga: Kisah-kisah Menggugah dalam Menjalankan Sunnah

Kedua, manusia lemah dalam menghadapi wanita, sebagaimana pendapat Thawus dan Muqatil

Dan ketiga adalah lemah dalam tekad dan mengendalikan hawa nafsu. Banyak yang telah mengetahui sebuah kewajiban, bahwa itu berbuah kebaikan di dunia dan akhiratnya, namun ia lebih mengutamakan nafsu malasnya. Pun sebaliknya; ia tahu sesuatu sebagai maksiat dan dampaknya adalah keburukan di dunia dan akhiratnya, namun ia tak mampu mencegah kemauan hawa nafsunya.

Ibnul Qayyim berkata dalam Thariqul Hijratain setelah menyebutkan beberapa perkataan para salaf tentang tafsir ayat tersebut, “Yang benar adalah kelemahan manusia yang mencakup semuanya, bahkan sisi lemahnya lebih banyak lagi dari ini, manusia memiliki sisi lemah dalam hal fisik, kekuatan, kemauan,pengetahuan, kesabaran. Dengan kelemahan ini bahaya yang mengancam manusia  datang dari segala penjuru. Banyak pula target yang diharapkan oleh manusia yang terancam gagal. Maka sikap terbaik bagi manusia adalah menyadari kelemahannya, bukan supaya minder tapi supaya bersandar kepada Yang Mahatahu lagi Mahakuat. Mengikuti Yang Mahatahu sehingga ia akan mendapatkan kemaslahatan yang hakiki, dan tak mungkin ia akan tersesat. Bersandar dan berlindung kepada Yang Mahakuat agar ia terhindar dari segala marabahaya. Selebihnya manusia harus berikhtiar sesuai kemampuannya. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Motivasi