Sukses dengan Keterbatasan

86

Cacat fisik merupakan takdir Allah yang tidak bisa dielakkan. Namun, kondisi fisik yang serba terbatas bukan akhir segalanya. Orang cacat masih punya hak dan kesempatan mengukir prestasi, bahkan kadang melebihi orang yang sehat.

Adalah Sugeng Siswoyudono seorang difabel yang kehilangan sebelah kakinya karena suatu kecelakaan dalam usianya yang masih muda, 19 tahun. Kecelakaan itu mengubur cita-citanya. Namun ia bangkit, dan mulai belajar berjalan dengan kaki palsu. Keterbatasan fisik menempanya menjadi kreatif. Kemudian ia belajar membuat kaki palsu dan membuka bengkelnya sendiri. Uniknya, “ilmu” ini tidak ia monopoli sendiri tapi diajarkannya kepada orang lain. Tak hanya itu, ia kerap membantu orang yang frustasi karena cacat dan memotifasinya untuk bangkit. Semua itu ia lakukan agar orang-orang cacat dapat mandiri, tidak menyerah dan tahan banting.

Baca Juga: Bila Mengaku Muslim, Buktikan!

Orang cacat seperti Sugeng tidak sedikit. Diperkirakan tiga juta penduduk Indonesia mengalami cacat fisik yang diakibatkan berbagai sebab. Ironisnya hanya 15 persen dari mereka yang memiliki keterampilan atau kemampuan teknis. Namun, ada beberapa orang membuktikan bahwa orang cacat tidak berbeda dari orang yang fisiknya sempurna. Bahkan prestasi yang diraih melebihi orang yang sehat.

Kisah di atas cukup populer dan telah menginspirasi banyak orang cacat untuk bangkit. Bahwa di balik setiap musibah dan kesulitan ada kemudahan. Bukankah Allah tidak membebani hamba melebihi kemampuannya? Namun, janji Allah ini seakan terkubur oleh pemikiran yang menganggap diri sendiri lemah dan tak berguna. Banyak yang merasa minder lalu menarik diri dari pergaulan. Larut dalam kesedihan hingga mengakibatkan frustasi. Bahkan, menyalahkan takdir atas kemalangan yang menimpanya. Padahal jika musibah ini dilihat sebagai ujian dan bisa bersabar, akan bernilai pahala. Seberat apapun, kondisi itu perlu disyukuri karena mengajarkan pasrah kepada Allah dengan tawakkal yang sesungguhnya. Bagi Allah cacat fisik lebih ringan daripada cacat aqidah atau iman.

Bagi orang yang sehat, melihat kondisi orang cacat akan menyuburkan rasa syukur atas nikmat yang selama ini terabaikan. Gerakan tangan, langkah kaki, kedipan mata, telinga yang mendengar suara, merupakan hal sepele bagi orang sehat. Tapi, bagi orang cacat itu merupakan anugerah tak tergapai yang sangat bernilai. Karena itu gunakanlah nikmat ini dengan benar, karena kelak akan diminta pertanggungjawabannya.

Baca Juga: Muslim itu Harus Multi Talenta

Pada kenyataanya orang-orang cacat membutuhkan support (dukungan) kita. Paling tidak dengan meniadakan diskriminasi dan menghilangkan anggapan miring atau merendahkan. Hal itu membuat mereka merasa diterima dan tidak “berbeda”. Selain itu, mereka membutuhkan bantuan finansial yang layak dan  pengajaran skill atau keterampilan khusus agar dapat hidup mandiri. Bahkan hal ini terbukti sangat efektif. Kita berharap tidak ada lagi orang cacat yang terlantar, terbuang di bawah kolong jembatan atau mengemis di jalan-jalan. Ini tidak mustahil jika semua elemen masyarakat bahu membahu meringankan beban saudara-saudara kita yang diuji dengan cacat fisik.

Cacat fisik mengajari kita banyak hal, diantaranya; sabar dan syukur, membangun solidaritas dan charity (kedermawanan), serta keterbatasan bukan alasan untuk tidak berbagi.

 

Oleh: Redaksi/Motivasi