Menahan Sendawa Meraih Pahala

72

Sendawa atau glege’en (Jawa) adalah keluarnya udara dari lambung melalui mulut. Saat menelan makanan, sedikit banyak ada udara yang ikut tertelan. Demikian pula saat merokok, minum minuman bersoda, bahkan saat stress seseorang bisa menelan udara. Sendawa adalah proses alamiah yang normal. Namun bukan berarti kita bebas bersendawa seenaknya. Menurut urf atau tata kesopanan umum, bersendawa dengan keras sangatlah tidak sopan. Apalagi dalam majelis atau jamuan makan.

Rasulullah Bersabda, 

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: كُفَّ جُشَاءَكَ عَنَّا فَإِنَّ أَطْوَلَكُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُكُمْ شِبَعًا فِي دَارِ الدُّنْيَا 

Dari Ibnu Umar berkata, ” Salah seorang lelaki bersendawa di dekat Nabi SAW, beliau berkata, “Tahan sendawamu! Karena orang yang paling sering kenyang di dunia akan menjadi orang yang paling banyak lapar di akhirat nanti.” (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ath-Thabrani, dan yang lainnya)

Nabi SAW sendiri memerintahkan agar kita menahan sendawa sebisa mungkin. Dalam Syarhu as Sunah dijelaskan, menahan artinya mengurangi. Tidak menahan atau sengaja membiarkan sendawa akan mengurangi kewibawaan seseorang, apalagi jika telah menjadi kebiasan. Tak jarang sendawa bisa membuat jijik orang lain. Sering kita melihat, ada yang seperti tak ambil peduli saat sendawa. Sendawanya begitu lepas tanpa beban. Hadits di atas adalah nash yang melarang membiarkan kebiasan buruk tersebut.

Ada dua cara mengurangi sendawa: Pertama, menghindari kebiasaan makan hingga kenyang apalagi terlalu kenyang. Sebab faktor utama penyebab sendawa adalah banyaknya udara yang ikut tertelan saat makan. Dengan makan secukupnya, lambung memiliki ruang untuk menampung makanan, air dan udara.

Dinyatakan oleh Al-Mabarkafuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, “(Hadits) itu menunjukkan bahwa kenyang adalah dilarang, karena rasa kenyanglah yang seringkali menyebabkan orang bersendawa.”

Kedua, menahan sendawa setiap kali akan keluar. Meski sulit, tapi sebenarnya hal ini tidak berbahaya. Udara dalam lambung akan diserap melalui pencernaan atau dibuang melalui anus. Tapi paling tidak, kita bisa menahan sendawa agar tidak mengeluarkan bunyi keras yang menjijikkan.

Terlalu sering bersendawa adalah fenomena yang patut diwaspadai. Bisa jadi, hal itu diakibatkan penyakit seperti radang kerongkongan (esofagitis), mag atau gastritis, serta ulkus peptikum, kerusakan mukosa (selaput lendir) lambung yang lebih berat.

Sebenarnya kita bisa berkaca pada diri sendiri. Jika perasaan kita menjadi tidak enak, jijik atau mungkin muak melihat orang lain bersendawa terlalu keras, tentunya kita tidak ingin orang lain memandang dan merasa demikian terhadap kita. (Redaksi/Fadhilah Amal)

 

Fadhilah Amal Lainnya: