Munculnya Kesultanan Banjarmasin

156

            Proses awal Islamisasi Banjarmasin berjalan lambat, namun pasti. Sejak interaksi antara pedagang Muslim dari Jawa pada masa Kerajaan Negara Daha, pertumbuhan komunitas Muslim di Banjarmasin semakin menggeliat. Para pedagang tersebut kemudian membuat jaringan perdagangan yang menjadi embrio bagi munculnya Kesultanan Banjarmasin.

 

Konflik Politik di Negara Daha

            Etnis Melayu pernah mendominasi perdagangan di Kalimantan. Mereka bahkan berhasil membangun kekuasaan politik di Nusa Tanjung Nagara sejak abad 8 hingga 15 M. Akibat menguatnya dominasi Jawa, mereka kemudian menyebar ke gugusan Pegunungan Meratus dan muara Sungai Barito.

Hubungan komunitas Melayu dengan berbagai etnis Dayak di Kalimantan dalam sejarahnya menunjukkan hubungan yang harmonis dan dinamis. Sejak abad 14 hingga 15, komunitas Melayu yang berdiam di Muara Banjar telah membangun hubungan dengan kalangan istana Kerajaan Negara Daha melalui pemberian upeti setiap tahunnya. Kelompok pemberi upeti ini dipimpin oleh Patih Masih. Ia seorang saudagar yang memiliki pengaruh luas di pesisir Muara Banjar. (Yusliani Noor, Islamisasi Banjarmasin, hlm. 126-129)

Sementara itu, di istana Kerajaan Negara Daha terjadi konflik akibat perebutan tahta antara Raden Samudera dan Pangeran Tumenggung. Raden Samudera adalah cucu dari Raden Sukarama, cucu Raja Negara Daha. Sebelum wafat, Raden Sukarama berwasiat agar tahta Kerajaan Negara Daha diserahkan kepada Raden Samudera. Wasiat ini menimbulkan bibit konflik karena salah satu anak Raden Sukarama yang bernama Pangerang Tumenggung tidak menyetujuinya. Setelah Raden Sukarama meninggal, Pangeran Tumenggung merebut tahta dan mengakibatkan Raden Samudar terusir dari istana Kerajaan Negara Daha. (M. Suriansyah Ideham, Urang Banjar dan Kebudayaannya, hlm. 19)

Raden Samudera melarikan diri ke muara Sungai Barito. Di sini, ia mendapatkan perlindungan dari komunitas Melayu yang dipimpin oleh Patih Masih. Dibantu oleh Patih Muhur, Patih Balit dan Patih Balitung, Patih Masih kemudian mengangkat Raden Samudera sebagai raja di Muara Banjar. Untuk mewujudkan sebuah kerajaan baru di Muara Banjar, Patih Masih memindahkan Bandar Niaga Muara Bahan ke Muara Banjar. Selain itu, Patih Masih juga rela memberikan rumahnya untuk dipergunakan dan direhab menjadi istana raja.

Langkah berikutnya yang dilakukan Patih Masih adalah berusaha mendapatkan pengakuan politik sekaligus menguatkan legitimasi kekuasaan Raden Samudera di Kerajaan Banjarmasin yang baru saja lahir. Oleh karena itu, ia memerintahkan anak buahnya untuk memberitahu ke berbagai daerah, seperti ke Kintap, Satui, Pasir, Kota Waringin, Sukadana, Sambas, Lawai dan sebagainya. Pemberitahuan terbentuknya kerajaan baru di Muara Banjar ini penting karena sebelumnya wilayah tersebut berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Negara Daha.

Merasa kekuasaan Kerajaan Negara Daha terancam bahaya, tidak ada jalan lain bagi Pangeran Tumenggung kecuali melakukan serangan terhadap Raden Samudera dengan membawa tentaranya ke hilir Sungai Barito. Tanpa bisa dihindari, terjadilah pertempuran antara pihak Raden Samudera dan pihak Pangeran Tumenggung. Pada pertempuran awal yang terjadi di ujung Pulau Alalak, pasukan Raden Samudera berhasil meraih kemenangan. Meskipun demikian, perang belum berakhir. Kedua belah pihak berusaha saling membangun kekuatan, saling mengintai dan saling memblokade komoditas bahan makanan. Patih Masih menilai keadaan yang serba tidak menentu ini merugikan kedua belak pihak, khususnya Kerajaan Banjarmasin. Oleh karena itu, ia berinisiatif agar Raden Samudera meminta bantuan ke Jawa ke Sultan Demak. (Islamisasi Banjarmasin, hlm. 134-141)

         

Peran Kesultanan Demak

            Berangkatlah Patih Balit bersama rombongannya menghadap Sultan Trenggono di Demak guna meminta bantuan untuk menyelesaikan perselisihan antara Raden Samudera dan Pangeran Tumenggung. Sultan Trenggono bersedia memberi bantuan dengan syarat Raden Samudera harus masuk Islam. Syarat ini disetujui oleh Raden Samudera. Sultan Trenggono kemudian mengirimkan seribu orang pasukan bersenjata dan mengutus seorang penghulu untuk mengislamkan Raden Samudera.

            Menurut Hikayat Banjar, penghulu itu bernama Khatib Dayyan. Nama sebenarnya adalah Sayyid Abdurrahman. Orang Jawa menyebutnya Ngabdul Rahman. Ia adalah seorang ulama yang berasal dari negeri Arab atau keturunan Arab yang telah aktif mendakwahkan Islam di Jawa. (Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, hlm. 396)

            Ketika Raden Samudera telah mendapatkan bantuan seribu orang pasukan dari Demak, telah terkumpul pula di Banjarmasin sekitar empat puluh ribu orang serta para pedagang yang bersedia membantunya. Para pedagang itu berasal dari Melayu, Cina, Bugis, Mangkasar dan Jawa. Mereka ikut menyerang Kerajaan Negara Daha.

            Pertempuran besar terjadi di sekitar Sangiang Gantung selama 40 hari. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Agar korban tidak bertambah banyak, pihak Pangeran Tumenggung datang menemui Raden Samudera menyampaikan usulan untuk perang tanding antarraja. Usulan ini diterima oleh Raden Samudera. Saat waktu yang ditentukan telah tiba, Raden Samudera tidak mau melawan Pangeran Tumenggung karena menganggap seperti ayahnya sendiri. Ia bahkan mempersilakan Pangeran Tumenggung untuk membunuhnya. Pangeran Tumenggung menangis dan tidak tega membunuh keponakannya. Ia kemudian rela menyerahkan kekuasaan kepada Raden Samudera.

            Raden Samudera yang telah menerima kekuasaan Negara Daha dari pamannya lalu masuk Islam di hadapan Khatib Dayyan. Selanjutnya, ia mendapatkan nama Islam dengan nama Sultan Suryanullah atau sering juga disebut Sultan Suriansyah. Ia menjadikan Islam sebagai agama resmi di Kesultanan Banjarmasin. Dua tahun setelah memerintah, yaitu pada 1528, ia membangun sebuah masjid. Sementara itu, Khatib Dayyan yang memimpin pasukan bantuan dari Demak, ia angkat menjadi penasihatnya. (Islamisasi Banjarmasin, hlm. 143-181) Demikianlah rangkaian peristiwa munculnya Kesultanan Banjarmasin yang menandai periode diterimanya Islam secara resmi di wilayah tersebut. Wallahu a‘lam.

(Ust. M Isa Anshori)