Ajarkan Muraqabah Pada Anak, Agar Selamat Dunia Akhirat

83

Salah satu hal terpenting yang perlu diajarkan orang tua kepada anak adalah perasaan selalu dilihat oleh Allah atau muraqabah. Muraqabah merupakan landasan keshalihan seorang anak. Oleh karena itu, Luqman memberikan nasihat kepada anaknya, “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Luqman:  16)

Salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam adalah menumbuhkan perasaan diawasi oleh Allah. Perasaan bahwa Allah dengan ilmu dan kekuasaan-Nya senantiasa melihat dan memberikan balasan sesuai dengan yang dikerjakan.

Dalam sebuh hadits diceritakan bagimana Rasulullah mengajarkan tentang muraqabah ini kepada Abdullah bin Abbas. “Suatu hari,” kata Abdullah bin Abbas, “saya diboncengkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda kepadaku, “Nak, maukah aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat:  Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Baca Juga: Beberapa Kiat Agar Anak Berbakti Kepada Orangtua

Dengan perasaan bahwa Allah selalu mengawasi, anak akan dengan mudah memutuskan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Anak akan terjaga dari kemaksiatan dan senantiasa dalam ketaatan baik saat ia sendiri maupun saat bersama orang lain. Anak akan senantiasa istiqamah di atas jalan Allah baik saat senggang maupun saat sibuk.

Dengan menanamkan sifat ini, muncullah pribadi-pribadi kuat layaknya Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Usaid bin Zhahir, Al-Bara bin Azib, Zaid bin Arqam, dan yang lainnya. Kita lihat bagaimana Ali bin Abi Thalib pada usia 10 tahun telah beriman kepada Rasulullah sehingga ia mengalami berbagai gangguan dan intimidasi dari kaum kafir. Meskiun demikian, ia tetap berpegang teguh pada prinsip yang ia pilih.

Mendidik anak untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah akan memunculkan ruh untuk senantiasa terkait dengan Allah di setiap keadaan. Apabila orang tua berhasil menanamkan  perasaan ini insyaallah anak akan terjamin keistiqamahan dan keselamatannya dari penyimpangan meskipun jauh keberadaannya jauh dari orang tua.

Ketika anak telah dapat membedakan baik dan buruk, orang tua perlu mengaitkan segala aktivitas anak dengan Allah. Bahwa manusia memiliki tanggung jawab di hadapan Allah dan kewajiban kepada Allah. Ketika anak melakukan kewajiban berupa melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya maka Allah akan memberikan balasan berupa kebahagiaan. Sebaliknya, ketika anak melakukan hal yang dilarang oleh Allah maka Allah akan memberikan ganjaran yang buruk. Sedangkan manusia tidak bisa bersembunyi dari Penglihatan Allah.

Dalam hal ini orang tua dapat memotivasi anak dengan memujinya ketika si anak melakukan kebaikan. Misalnya dengan mengatakan, “Masyaallah, pinternya anak abi. Semoga Allah memasukkan kamu ke surga.” Selain itu, orang tua juga perlu mengingatkan anak bahwa Allah marah kepada orang yang melakukan keburukan. Untuk memperkuat hal tersebut, ajarkan kepada anak ayat dan hadits tentang surga dan neraka. Carilah waktu yang tepat untuk menyampaikannya, misalnya dalam perjalanan mengantarkan mereka ke sekolah. Orang tua dapat menyampaikan hadits dan ayat tersebut dengan penjelasan yang baik dan mudah diterima.

Baca Juga: Kenangan dan Bekas yang Baik Pada Anak

Orang tua dapat mengajarkan sifat ini dengan memberikan contoh dari kisah para orang shalih terdahulu. Seperti penjual susu yang tidak mau mencampur dengan air karena takut kepada Allah atau penggembala yang tidak mau menjual dombanya karena merasa diawasi oleh Allah.

Orang tua juga harus memberi teladan. Jangan sampai apa yang disampaikan orang tua bertolak belakang dengan perbuatannya. Karena anak akan selalu melihat dan meniru perilaku orang dekat, dan orang tualah orang yang paling dekat dengan mereka.

Penanaman perasaan muraqabah ini mencakup 4 hal, mengacu pada pendapat Syeikh Dr. Abdullah Nasih Ulwan, dalam kitabnya, “Tarbiyah Ruhiyah.”

1. Muraqabah dalam ketaatan kepada Allah. Orang tua menanamkan keikhlasan dalam diri anak saat menjalankan segala perintah-Nya. Seperti benar-benar menfokuskan tujuan amal ibadahnya hanya kepada Allah dan karena Allah dan bukan karena faktor-faktor lainnya.

2. Muraqabah dalam kemaksiatan. Orang tua mengajarkan bahwa Allah murka pada orang yang berbuat maksiat sehingga ia harus menjauhi kemaksian, bertaubat, menyesali perbuatan-perbuatan dosa yang pernah dilakukannya dan lain sebagainya.

3. Muraqabah dalam hal-hal yang mubah. Orang tua menanamkan adab-adab terhadap Allah, bersyukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan-Nya pada kita, dan melakukan amalan kebaikan untuk mendapatkan pahala dari Allah.

4. Muraqabah dalam musibah yang menimpanya, yaitu dengan ridha pada ketentuan Allah serta memohon pertolongan-Nya dengan penuh kesabaran. Ia yakin bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang datang dari Allah dan menjadi hal yang terbaik bagi dirinya, dan oleh karenanya ia akan bersabar terhadap sesuatu yang menimpanya.

Semoga bermanfaat.

 

Oleh: Redaksi/Parenting


Baca juga artikel islami menarik penyubur iman dan penguat ketakwaan hanya di majalah islam ar-risalah. Segera miliki majalahnya dengan menghubungi agen terdekat atau kunjungi fanspage kami di FB: Majalah ar-risalah