Penentuan Strategi

21

Dua anak dari bani Fudzala, Anas dan Mu’nis, ditugaskan oleh Rasulullah untuk menyelidiki keadaan pasukan Quraisy. Menurut pengamatan mereka, ternyata pasukan Quraisy sudah mendekati Madinah. Mata-mata lain yang disebar oleh Rasulullah pun terus mengabari perkembangan pasukan Quraisy. Berita terakhir yang disampaikan adalah barisan depan pasukan Quraisy sudah hampir memasuki daerah Madinah.

Mendengar berita tersebut, sudah tentu semua penduduk Madinah merasa kuatir sekali terhadap serbuan ini, yang dalam sejarah perang, pasukan Quraisy belum pernah mengadakan persiapan sebaik itu. Pemuka-pemuka Muslimin dari penduduk Madinah malam itu berjaga-jaga dengan senjata guna menjaga keselamatan Rasulullah. Sepanjang malam itu suasana Madinah dalam keadaan yang mencekam.

Rasulullah segera menggelar majelis permusyawaratan militer, untuk menampung berbagai pendapat dan menetapkan sikap, bertahan di Madinah atau menghadapi musuh di luar. Rasulullah berpendapat untuk bertahan di Madinah berdasar ta’wil mimpi beliau di tidurnya. Abdullah bin Ubay bin Salul mendukung pendapat Rasulullah dengan berkata, “Rasulullah, biasanya kami bertempur di tempat ini, kaum wanita dan anak-anak sebagai benteng kami lengkap dengan batu. Kota kami sudah terjalin dengan bangunan sehingga merupakan benteng dari segenap penjuru.

Apabila musuh sudah muncul, maka wanita-wanita dan anak-anak melempari mereka dengan batu. Kami sendiri menghadapi mereka di jalan-jalan dengan pedang. Rasulullah, kota kami ini masih perawan, belum pernah diterobos orang. Setiap ada musuh menyerbu kami ke dalam kota ini kami selalu dapat menguasainya, dan setiap kami menyerbu musuh keluar, maka selalu kami yang dikuasai. Rasulullah. Ikutilah pendapat saya dalam hal ini. Saya mewarisi pendapat demikian ini dari pemuka-pemuka dan ahli-ahli pikir golongan kami.”

Sekumpulan sahabat yang belum pernah ikut serta  dalam peperangan lebih suka keluar Madinah menghadapi musuh daripada bertahan di Madinah. Mereka khawatir akan disangka segan keluar dan bertahan di Madinah karena takut menghadapi pasukan Quraisy. Di antara mereka ada yang berkata, “ Wahai Rasulullah, sejak dulu kami sudah mengharapkan hari yang seperti ini dan kami selalu berdoa kepada Allah. Keluarlah untuk menghadapi musuh kita, agar mereka tidak menganggap kita takut pada mereka.”

Selanjutnya, tiap-tiap sahabat yang menghendaki untuk keluar Madinah, menyampaikan pendapat masing-masing secara bergiliran. Mereka semua berpendapat  bila Allah memberikan kemenangan kepada mereka atas musuh, itulah yang mereka harapkan. Kalaupun mereka mengalami kekalahan dan kematian, mereka akan mendapat surga seperti janji Allah dan RasulNya. Kata-kata mereka menanamkan semangat keberanian dan mati syahid.

Baca juga : Bara Dendam Kafir Quraisy

“Semoga Allah memberikan kemenangan kepada kita, atau sebaliknya kita mati syahid,” ujar Khaithama Abu Sa’d bin Khaithama. “Aku sangat mendambakan syahid, sehingga aku ikut dalam perang Badr bersama anakku. Tapi anakku lebih beruntung, ia gugur dalam perang Badr, mati syahid. Semalam aku bermimpi bertemu dengan anakku, dan dia berkata: Susullah kami, kita bertemu dalam surge, sudah ku terima apa yang dijanjikan Allah. Ya Rasulullah, sungguh rindu hati ini, aku ingin menemuinya dalam surga. Aku sudah tua, tulang sudah rapuh. Aku ingin menghadap Allah.”

Hari itu hari jum’at, dan Rasulullah mendirikan shalat jum’at bersama kaum Muslim Madinah. Rasulullah menyampaikan nasihat dan perintah dengan penuh semangat, mengabarkan bahwa kemenangan pasti di tangan selagi mereka sabar, serta memerintahkan untuk bersiap-siap menghadapi musuh.

Ketika Rasulullah memasuki rumah untuk memakai baju besi dan bersiap perang, para sahabat yang menunggu di luar rumah ramai kembali. Usaid bin Hudzair dan Sa’ad bin Mu’adh, keduanya termasuk yang berpendapat bertahan dalam kota, berkata kepada golongan menyerang musuh di luar, “Rasulullah berpendapat untuk bertahan dalam kota, kemudian kalian berpendapat lain dan memaksa Rasulullah untuk mengikuti pendapat kalian. Serahkanlah persoalan ini kepada Rasulullah. Apa yang diperintahkan, jalankanlah. Apabila Beliau berpendapat, taatilah!”

Mendengar hal tersebut, mereka yang berpendapat untuk menyerang menjadi lebih lunak. Mereka beranggapan telah menentang Rasulullah mengenai sesuatu yang mungkin berasal dari Allah. Ketika Rasulullah datang kembali dengan telah memakai baju besi dan persiapan perang, mereka berkata pada Rasulullah, “Rasulullah, bukan maksud kami hendak menentang dan memaksa engkau. Lakukanlah apa yang engkau kehendaki, kami akan mentaatinya.”

Rasulullah menjawab, “Tidak selayaknya bagi seorang nabi untuk menanggalkan kembali baju besi yang telah dikenakannya, hingga Allah membuat keputusan antara dirinya dan musuhnya.”