Perang Uhud

310

Rasulullah berangkat dari Madinah bersama pasukan Muslim menuju Uhud. Sesampainya di suatu tempat yang bernama Syaikhan, Beliau melihat pasukan yang identitasnya belum diketahui. Akhirnya diperoleh informasi bahwa pasukan tersebut adalah orang-orang Yahudi sekutu dari Abdullah bin Ubay. Rasulullah pun memerintahkan pasukan Yahudi tersebut untuk kembali ke Madinah, Rasululah berkata, “Jangan meminta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang-orang musyrik sebelum mereka masuk Islam.”

Pagi berikutnya, Rasulullah dan pasukan Muslim melanjutkan perjalanan menuju Uhud. Sesampainya di Uhud, Rasulullah segera mengatur barisan kaum Muslim. Lima puluh pemanah ditempatkan di lereng-lereng Uhud, dan pemanah-pemanah tersebut diperintahkan untuk tidak meninggalkan pos mereka apapun yang terjadi.

Pasukan Quraisy pun sudah menyusun barisan, pasukan di sisi kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedang di sisi kiri dipimpin oleh Ikrima bin Abu Jahl. Bendera pasukan Quraisy diserahkan pada Talhah bin Abi Talhah. Wanita-wanita Quraisy, yang dipimpin oleh Hindun, berjalan di tengahtengah pasukan Quraisy sembari memukulmukul genderang dan meneriakkan katakata penyemangat.

Kedua pasukan telah berhadap-hadapan dan siap bertempur, masing-masing sudah mengerahkan pasukannya. Di kepala pasukan Quraisy selalu terbayang dendam dan kekalahan di perang Badar, sedangkan pasukan Muslim selalu terbayang janji-janji Allah dan pertolongan-Nya. Rasulullah berpidato dengan mengobarkan semangat menghadapi peperangan itu, Beliau mengingatkan bahwa janji-janji Allah itu pasti dan mereka akan meraih kemenangan bila mereka tabah.

Di antara pasuka Quraisy, ada seseorang dari Bani Aus yang bernama Abu Amir bin Shaifi al-Ausi. Abu Amir sengaja pindah dari Madinah ke Makkah dengan tujuan membakar semangat Quraisy supaya memerangi Muhammad. Dia belum pernah terjun di perang Badar, sekarang ia menerjunkan diri di perang Uhud dengan membawa lima belas orang dari Bani Aus. Ia mengira nantinya apabila ia memanggil-manggil pasukan Muslim dari Bani Aus, mereka akan berpihak padanya dan membantu pasukan Quraisy.

“Saudara-saudaraku dari Aus, saya adalah Abu Amir!” teriaknya memanggil-manggil

Ternyata Muslimin dari Bani Aus membalas, “Allah takkan memberi kesenangan padamu penghianat!”

Perangpun lalu pecah. Budak-budak Quraisy serta Ikrima bin Abu Jahal yang berada di sisi kiri berusaha menyerang pasukan Muslim dari samping, tapi pasukan Muslim menghujani mereka dengan batu sehingga Abu Amir dan kawan-kawannya lari tunggang langgang.

Baca juga : Penentuan Strategi

Pasukan Qurasiy pun menyerbu ke tengah-tengah pertempuran tersebut. Darah mereka sudah mendidih hendak menuntut balas atas saudara dan pemuka mereka yang tewas di perang Badar. Dua kekuatan yang tak seimbang, baik jumlah pasukan maupun perlengkapannya, saling beradu senjata. Kekuatan dengan jumlah yang besar ini bermotif balas dendam yang terus mereka pupuk semenjak kekalahan di Badar. Sedang kekuatan yang lebih kecil bermotifkan mempertahankan akidah dan agama Allah.

Gugurnya Singa Allah

Tak sedikit di antara pasukan Quraisy yang membawa budak-budak mereka dan menjanjikan hadiah yang besar apabila budak-budak tersebut dapat membalaskan dendam kematian ayah, saudara, suami atau orang-orang tercinta lainnya yang terbunuh di perang Badar. Hamzah bin Abdul Muthalib adalah salah seorang pembela agama Allah yang paling berani. Ketika terjadi perang Badar, Hamzah lah yang menewaskan ayah dan saudara Hindun. Seperti halnya dalam perang Badar, di perang Uhud pun Hamzah adalah Singa Allah yang pemberani. Di tangannya, nyawa dari setiap musuh yang dijumpainya tak lepas dari renggutan pedangnya.

Sementara itu, Hindun telah menjanjikan kepada Wahsyi, orang Habsyi dan budak milik Jubair bin Mut’im, hadiah yang besar apabila ia berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib. Begitu pula Jubair bin Mut’im, yang pamannya terbunuh di perang Badar, berkata pada Wahsyi, “Kalau Hamzah bin Abdul Muthalib kau bunuh, kau akan kumerdekakan.”

Wahsyi sendiri dalam bercerita sebagai berikut: “Kemudian aku berangkat bersama rombongan. Aku adalah orang Habsy yang mahir melempar tombak, jarang aku meleset jika melemparkannya. Ketika terjadi pertempuran, kucari Hamzah dan kuincar dia. Kemudian kulihat dia di tengahtengah orang banyak seperti unta abu-abu yang lincah, ia mengobrak-abrik pasukan Quraisy. Lalu tombak kuayun-ayunkan, ketika aku telah yakin akan mengenainya, kulemparkan ke arahnya. Tombakku tepat mengenai sasaran di bawah perutnya, dan keluar dari antara dua kakinya. Kubiarkan tombak itu begitu sampai dia mati. Sesudah itu kuhampiri dia dan kuambil tombakku, lalu aku kembali ke tenda dan aku diam di sana, sebab sudah tak ada tugas lain selain itu. Kubunuh dia hanya supaya aku dimerdekakan saja dari perbudakan. Dan sesudah aku pulang ke Makkah, ternyata aku dimerdekakan.”

Setelah peperangan usai, Rasulullah berdiri beberapa saat di samping jenazah Hamzah, yang telah terkoyak-koyak oleh Hindun, dan berkata, “Jibril datang di sisiku dan memeberikan kabar bahwa diantara penghuni tujuh lapisan langit tertulis, Hamzah bin Abdul Muthalib asadullah wa asadur rasuluhu (singa Allah dan singa Rasul-Nya).