Sayang Anak, Antara Tabiat dan Ujian

9

Anak adalah anugerah sekaligus amanah yang Allah hibahkan kepada orangtua. Keberadaan anak sangat dinanti-nantikan oleh orangtua sebagai penyempurna kebahagiaan dalam keluarga. Sudah lumrah ketika orangtua itu mencintai dan menyanyangi anaknya. Buah hati termasuk di antara deretan perhiasan dunia sebagaimana firman Allah Ta’ala,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّـهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ ﴿١٤

“Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali-Imran: 14)

Sebagai perhiasan dunia, keberadaan anak juga sekaligus menjadi ujian bagi orangtuanya. Kecintaan orangtua kepada anaknya pun akan dinilai kadar, sebab maupun bagaimana cara orangtua menyanyangi anaknya.

Dengan cinta yang benar, maka anak bisa menjadi penyejuk pandangan mata orangtua, sebagaimana cita-cita seorang muslim yang tersirat dalam doa,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿٧٤

“Wahai Tuhan kami, anugerahkan kepada kami pasangan kami dan anak keturunan kami sebagai penenang hati.” (QS. al-Furqon: 74)

Imam Hasan al-bashri ketika ditanya makna penyejuk pandangan mata dalam ayat ini beliau berkata, “Yakni ketika Allah memperlihatkan kepada hamba-Nya yang muslim di mana istri, saudara dan anaknya dalam keadaan taat kepada Allah.

Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketika ia melihat anaknya, cucunya, saudaranya atau istrinya mentaati Allah Azza wa Jalla.”

Anak bisa menjadi ‘mesin produksi’ pahala bagi orangtuanya. Yakni ketika orangtua mendidik anaknya dengan keshalihan, maka orangtua yang mendidiknya mendapatkan pahala setiap amal shalih yang dikerjakan anaknya. Sebagimana ia juga mendapat keberuntungan doa yang dipanjatkan anak yang shalih untuk orangtuanya.

Bahkan karenanya, orangtua diangkat derajatnya di jannah kelak, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

إنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي اْلجَنَّةِ, فَيَقُوْلُ: أنَّي لِي هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” Dari sebab istighfar anakmu kepadamu”. (HR. Ibnu majah dan Ahmad)

Begitu pula orangtua akan dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan anaknya, di tempat paling tinggi levelnya di antara mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ﴿٢١

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS Ath Thur:21).

Mereka akan disatukan di level yang sama, sedangkan Allah berjanji tak akan mengurangi sedikitpun keutamaan mereka, maka mereka ditempatkan di level tertinggi yang diraih dalam anggota keluarga, sebagaiman pendapat dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.

Begitulah ketika orang tua mencintai anaknya dengan tulus dan benar, ia menjadi anugerah dan pahala bagi orangtua. Akan tetapi, ia juga bisa menjadi sumber petaka dan musuh bagi orang tua. Cara mencintai yang salah, bisa memposisikan anak sebagai musuh yang akan mencelakakan orangtuanya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١٤

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka.” (QS. ath-Thagabun 14).

Menjadi musuh yang dimaksud bukan berarti bermusuhan atau saling berhadadapan untuk saling mencelakakan secara fisik. Bisa jadi keduanya sejalan dalam kebiasaan dan kesenangan. Tetapi
maksudnya ketika anak membujuk, mengajak atau meminta kepada orangtuanya untuk memberikan fasilitas kemaksiatan, maka dalam kondisi seperti ini, anak adalah layaknya musuh yang mencelakakan orangtuanya. Bukankah banyak di antara orangtua gemar memperturutkan setiap keinginan anak dengan alasan sayang, padahal apa yang diminta itu sesuatu yang merusak agamanya.

Allah Ta’ala juga mengingatkan agar anak-anak tidak melalaikan kita dari mengingat-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّـهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. al-Munafiqun: 9)

Walhasil, anak adalah aset bagi orangtua. Lantas orangtua memiliki obsesi yang berbeda bagi anak-anaknya. Ada yang menginginkan anaknya kelak menjadi orang kaya, ini yang menjadi prioritasnya.
Padahal, belum tentu ketika kelak anaknya menjadi orang kaya orangtua masih hidup. Atau taruhlah ketika orangtua masih hidup saat anaknya menjadi orang kaya, tanpa didikan takwa maka anak takkan berbakti kepadanya.

Begitupun dengan orang yang berambisi anaknya menjadi pejabat. Belum tentu orangtua masih hidup saat anaknya menjadi pejabat. Atau kalaupun masih hidup, belum tentu anaknya berbakti dan memuliakan orangtua.

Maka rasa cinta kepada anak seharusnya mengarahkan buah hati tersebut kepada keshalihan, sebagaimana doa Nabi Ibrahim, “Rabbi habli minash shaalihin, Wahai Rabbi, anugerahkanlah kepadaku seorang putera yang shalih.”

Keshalihan anak secara otomatis mengundang pertolongan Allah kepadanya. Sebagaimana janji Allah Ta’ala, “wahuwa yatawallash shaalihin, dan Dia Allah menolong orang-orang yang shalih.” (QS. al-A‘raf: 196)

Wallahu a’lam.

 

Oleh: Redaksi/Keluarga