Serangan Setan Menjelang Kematian

31

Secara naluri, tentunya kita berharap kehidupan kita berakhir dengan happy ending, akhir yang bahagia. Bukan kematian yang tragis dan menyedihkan. Untuk akhir sebuah novel, bisa jadi ending tragis digemari oleh sebagian orang, tapi bukan untuk kehidupan nyata. Bolehlah ada riak gelombang duka dan lara saat mengarungi hidup sebagai bumbu yang pasti ada, tapi sebagai penutupnya, kebahagiaanlah yang kita harapkan. Sebuah husnul khatimah. Yaitu akhir hidup yang baik dengan keimanan di dada dan kondisi terpuji saat ajal tiba. Sayangnya, karena menjadi impian yang paling kita harapkan, setan pun telah siap mengubah impian ini menjadi mimpi buruk yang mengakhir semua. Sebuah su’ul khatimah.

Oleh karenanya, Rasulullah mengajarkan kepada kita agar memohon perlindungan kepada Allah dari su’ul khatimah. Memohon agar jangan sampai setan menguasai kita saat ajal tiba, padahal sebelumnya kita telah berusaha untuk melawannya dengan sekuat tenaga. Salah satu doa yang beliau ajarkan adalah;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّى وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرَقِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِى الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِى سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا

“ Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari –mati karena- tertimpa,aku berlindung kepadamu dari  jatuh dari ketinggian atau ke jurang, dari tenggelam, terbakar dan renta, aku berlindung kepadamu dari setan yang menggangguku saat maut datang, aku berlindung kepadamu dari mati saat lari dari medan perang dan mati tersengat binatang.” (HR. Abu Daud dan an Nasa’i).

Seperti apa godaan setan saat manusia menjelang ajal? Imam al Khatabi memberi penjelasan, maksud berlindung dari takhabbut (gangguan) setan saat maut adalah berlindung agar jangan sampai setan menguasai diri saat ajal menjelang hingga setan dapat menyesatkan. Atau menghalanginya dari taubat, menghalang-halanginya untuk melakukan kebaikan atau meninggalkan kejahatan yang dia lakukan, membuatnya putus asa dari rahmat Allah, benci terhadap kematian, merasa sayang dengan kehidupan dunianya dan tidak tidak ridha dengan keputusan Allah yang memang membuat dunia ini fana dan pasti akan berganti.

Akhirnya, Ia pun menutup hidupnya dengan keburukan dan bertemu dengan Allah dalam kondisi jengkel kepada Allah. Diriwayatkan bahwa godaan setan paling dahsyat atas anak Adam adalah saat menjelang ajal. Ia berkata kepada kawan-kawannya, “Inilah saatnya. Jika kalian melewatkan saat ini, kalian tidak akan bertemu dengannya lagi.” (Aunul Ma’bud IV/287)

Ternyata, permusuhan dengan setan benar-benar sampai pada titik darah penghabisan. sebelum nyawa benar-benar meninggalkan badan, permusuhan itu akan terus berkobar. Dan menjelang ajal, pertempuran ini mencapai klimaknya. Bagi manusia, situasi saat itu benar-benar kritis. Fokusnya harus terbelah. Di satu sisi, kematian yang mengerikan tengah menyedot segala keberanian, kebahagiaan dan membekapnya dengan ketakutan dan sakit tak terperi.

Dan di sisi lain, ia juga harus bertahan dari serangan setan yang secara licik memanfaatkan situasi kritis tersebut untuk mencuri imannya. Jika setan berhasil, keburukan hati dan iman yang tercuri pun menjadi gong penutup kehidupannya di dunia, sekaligus menjadi kondisi yang mengawali perjalanan akhiratnya. na’udzubillah min dzalik.

Sangat tepat jika Rasulullah ﷺ bersabda;

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Hanyasanya, amal-amal itu tergantung apa yang mengakhirinya.” (HR. Bukhari)

Di sinilah istiqomah dalam beramal menunjukkan peran pentingnya. Kita tidak bisa menentukan akhir hidup kita seperti apa, tapi kita bisa memilih jalan hidup yang kita lalui. Apakah dalam ketaatan atau kemaksiatan. Hingga ketika ajal menjelang, di jalan itulah tapak kaki kita berpijak. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kalian mati kecuali dalam kondisi muslim.”(QS. Ali Imran; 102). Yang harus kita lakukan adalah terus berusaha menjadi muslim dan menjaga iman dalam hati agar ketika ajal tiba, Islam masih melekat di dada.

Husnul khatimah lebih mengarah pada kondisi iman dan amal seseorang saat ajal tiba. bukan dari segi cara dan faktor yang membuatnya kehilangan nyawa. Mati karena sebab apapun, asalkan tengah melakukan ketaatan dan berhasil mempertahankan iman hingga nyawa meninggalkan badan, insyaallah husnul khatimah dapat diraih.

Hanya saja, dalam hadits di atas Nabi juga berdoa agar terhindar dari beberapa faktor-faktor penyebab kematian seperti tenggelam dan terbakar. Uniknya, beberapa faktor atau kondisi terakhir seseorang kala menjemput ajal ini justru merupakan kondisi yang beliau sebut sebagai “mati syahid” yang memiliki keutamaan. Misalnya meninggal karena tenggelam dan tertimpa sesuatu. Kontradiktif? Tidak.

Imam ath Thayibi menjelaskan,  Beliau berlindung dari beberapa kondisi yang justru dengan kondisi tersebut orang akan mendapat kesyahidan karena pada dasarnya kondisi tersebut merupakan musibah dan bala’. Sama dengan beberapa penyakit yang beliau juga berlindung darinya. Adapun kesyahidan dalam kondisi-kondisi tersebut bukan lain karena Allah memang akan memberi balasan atas musibah yang menimpa seorang mukmin, bahkan musibah kecil berupa tusukan duri sekalipun.

Inilah perbedaan syahid hakiki (di medan jihad) dengan syahid-syahid tersebut. Syahid hakiki harus diburu dan menjadi cita-cita setiap mukmin, sedang kesyahidan seperti mati karena tertimpa, jatuh, terbakar dan tenggelam harus dihindari. bahkan jika ada yang nekat memburunya, dia justru bermaksiat kepada Allah. (Faidhul Qadir II/148).

Imam al mabarkafuri menjelaskan, Beliau ﷺ berlindung dari sebab-sebab kematian yang justru dapat menyebabkan kesyahidan seperti yang disebutkan adalah karena kondisi-kondisi tersebut merupakan bala’ yang memberatkan jiwa dan hampir tak seorang pun bisa bertahan darinya. (Aunul Ma’bud IV/287).

Begitulah. Usaha menjaga iman adalah perjuangan yang harus paripurna hingga ajal tiba. Semoga Allah memberkahi hidup kita dan melindungi kita saat ajal tiba. Semoga, ketika kelak masa itu tiba, kita tengah berada dalam masa keemasan dalam naungan ketaatan dan ridha-Nya. Aamiin.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Muhasabah